Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
jaga dia baik baik ya


__ADS_3

“Zul” panggil Budi, setelah ketiga orang tadi masuk ke dalam ruang perawatan.


“Ada kabar apa?” tanya Budi.


“Eeem”


Zulfikar agak sungkan untuk menjawab pertanyaan Budi. Karena, polisi yang menjaga kamar ini, terus menatapnya. Seolah sedang mengawasi gerak-geriknya.


“Sampe sekarang mereka berdua belum mau buka suara, mas” jawab Zulfikar. Suaranya lirih.


“Apa?”


Budi terkejut, dan tak habis pikir. Dari siang sampai malam, mereka bisa bertahan tidak mengatakan jati diri mereka.


“Tapi dari beberapa asesoris, senjata, peluru, sampai gawai mereka, kita menemukan hubungan antara keduanya dengan sebuah sindikat”


“Dino?” tanya Budi.


“Belum terlihat adanya hubungan antara sindikat itu dengan Dino” jawab Zulfikar.


“Sindikat apa, tuh?” tanya Erika.


“Mereka kaya expandable, mbak” jawab Zulfikar.


Budi menoleh pada Erika. Dia teringat kata-kata Erika yang mengibaratkan dirinya seperti expandable lama, dan kelompoknya Sephia seperti expandable baru.


“Mereka bekerja pada siapa aja yang mau bayar mereka. Kebanyakan sih, mereka disewa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dengan kepresisian tinggi”


“Presisi tinggi?” tanya Budi sambil tergelak.


“Kalo memang presisi, harusnya mereka nggak sampe ngejar-ngejar si Vani. Harusnya mereka udah tahu banget tentang dongle yang mereka cari. Come on! Perintah pertama mereka kan, nyabut dongle itu di rumah orang tuanya Vani. Kalo presisi, harusnya mereka ngak perlu dateng ke rumah itu. Harusnya langsung nyamperin Vani. Itu juga mereka langsung rampas aja. Ini sih kerjaan bocah, Zul”


“Itu yang mengecoh, mas” sahut Zulfikar.


“Maksudnya?”


“Mereka yang kita temuin di markasnya itu, cuman kamuflase. Mereka bagus, mainnya. Tapi mereka bukan sindikat aslinya. Mereka sengaja dibentuk, pertama sebagai penerima klient, ke dua, sebagai pengecoh, ke tiga, sebagai tameng” jawab Zulfikar. Budi mengernyitkan keningnya.


“Mereka yang asli, belum ketahuan siapa mereka, dan dimana mereka. Jumlahnyapun belum ada yang tahu” lanjut Zulfikar.


Budi tampak termenung. Agak gusar juga dia, mendapati orang yang mencelakai adiknya hanyalah preman kelas coro. Sedangkan yang kelas kakapnya, belum ketahuan. Artinya, kejadian serupa, masih sangat mungkin terjadi di masa depan.


“Tapi ada satu bocoran dari orang dalam” celetuk Zulfikar. Sontak Budi menegakkan kepalanya kembali.


“Mereka memanggil bos mereka dengan panggilan, Nandir” lanjut Zulfikar.


“Nandir?” tanya Budi mempertegas.


“Ya. Mas Budi pernah denger nama itu?” sahut Zufikar.


Budi menatap Erika. sorot matanya tampak menuntut penjelasan atas nama yang sama seperti yang disebut Zulfikar, tapi dengan detil yang sedikit berbeda.


“Aku kan cuman katanya Rita, mas. Kalo ada detil yang disembunyiin Rita, ya mana aku tahu” kata Erika, menjawab tatapan mata Budi.


“Emang Sandi pernah kontek sama Nandir, mbak?” tanya Zulfikar.


“Nggak tahu. Aku cuman diceritain salah satu tangan kanannya Sandi, kalo Darwanto, anak buahnya mas Eko, itu cuman aktor aja. Diambil tampang doang, ganteng, gagah, kaya mas Budi. Tapi yang ngelakuin operasi, itu orang lain” jawab Erika.


“Embak pernah ketemu orangnya?”


“Eeem” Erika tampak berpikir terlebih dahulu.


“Punya kertas, sama bolpen?” tanya Erika.


“Ini, mbak” jawab Zulfikar. Dia menyerahkan buku catatannya, dan bolpennya.


Lalu Erika menggambar sketsa di halaman yang polos tanpa adanya garis. Dia menggambarkan proses pencurian BBM di sebuah gudang.


Dia menggambarkan juga profil orang yang dipanggil Nandir itu. Tidak terlihat wajahnya memang, karena posisi yang digambar itu adalah posisi membelakangi.


Tapi Erika menambahkan gambar detil tentang ciri-ciri khusus yang bisa dia lihat pada diri orang yang dipanggil Nandir itu. Salah satunya adalah tato di lengan sebelah kanan.


“Aku Cuman tahu itu. Itu Nandir. Yang tiga orang itu, kaleng, palu, sama Rita” kata Erika, setelah dia selesai menggambar sketsa itu.

__ADS_1


“Info yang sangat berharga, mbak. Saya akan teruskan ke tim saya” jawab Zulfikar.


“Huff”


Erika terdengar mendengus, membuat Budi dan Zulfikar menatap ke arahnya. Tapi ternyata bukan sketsa tadi yang membuat Erika mendengus, melainkan ada dua orang yang sedang berjalan mendekati mereka.


“Assalamu’alaikum”


Terdengar suara Madina memberi salam.


“Bener kan, apa yang aku bilang” gumam Erika.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi sambil tersenyum geli.


“Putri udah siuman, mas?” tanya Madina saat salaman dengan Zulfikar.


“Udah. Alhamdulillah” jawab Zulfikar.


“Maaf ya mas, baru bisa ke sini lagi” kata Madina, saat salim pada Budi.


Erika melotot saat Madina mencium tangan Budi. Walau dia tahu kalau maksud Madina hanya untuk menghormati Budi, tapi Budinya jadi termenung, itu yang membuatnya cemburu.


“Aduh” keluh Budi, saat mendapat cubitan di pinggang.


“Iya. Nggak papa. Orang tua sendiri lebih wajib untuk didahuluin” jawab Budi.


Sempat Madina melirik ke arah Erika. Dan keduanya seperti beradu tatapan sinis.


“Tapi gantian ya, masuknya. Masih ada Farah CS di dalem” lanjut Budi.


“Oh. Ada mbak Farah, mas?” celetuk Adel.


Walau tidak menyalami Budi, tapi pertanyaan Adel sudah menjadi bara tersendiri, yang sanggup mengobarkan rasa cemburu di hati Erika.


“Ada” jawab Budi singkat.


“Aduh”


Budi terkejut mendapat injakan di kakinya. Ternyata senyumnya pada Adel membuat Erika tak tahan lagi untuk berdiam diri.


“Boleh kan, Madin nemenin Putri di dalem?” lanjut Madina.


“Boleh, lah. Cocok banget, malah. Kalo si panjul macem-macem sama Putri, tabok aja!” jawab Budi.


“Hempf. Ha ha ha”


Madina tertawa mendengar kelakar Budi. Zulfikar tampak mau protes, dipanggil sembarangan oleh Budi. Tapi dia tidak berani menyatakannya.


“Udah belum, yang?”


Seseorang berseru dari kejauhan. Sontak semua mata tersita padanya. Ternyata itu adalah Luki. Erika segera mengalihkan pandangannya ke arah Budi. Dan terlihat perubahan di wajah Budi, sekalipun kali ini sudah jauh berkurang dari sebelumnya.


“Belum” jawab Adel.


“Mas, ibu ada?” tanya Adel pada Budi.


“Ada. Mau dipanggilin?” jawab Budi.


“Boleh” sahut Adel.


Budipun beranjak mendekati pintu masuk. Sedangkan Erika, dia masih terus mengawasi gerak-gerik Adel.


“Ada perlu apa sama ibu?” tanya Erika.


Sontak suasana menjadi kaku. Untuk beberapa saat, Erika dan Adel hanya saling menatap.


“Oh. Cuman mau nyampein titipan dari ibukku” jawab Adel sambil tersenyum. Dia menunjukkan tas slempang yang dia bawa.


“Eh. Ada mbak Adel. Madin mana?” seru bu Ratih, saat keluar dari ruang rawat.


“E eh. Di sini ternyata” serunya lagi, saat Madina mengulurkan tangannya, tepat di samping kiri bu Ratih. Madinpun sungkem pada bu Ratih.


“Ibu nggak ikut?” tanya bu Ratih.

__ADS_1


“Enggak, bu. Kita ada perlu soalnya” jawab Adel, sambil salim dan cium tangan pada bu Ratih.


“Kasihan kalo mesti ikut kita dulu. Paling besok pagi baru saya anter ke sini. nggak papa kan, bu?” lanjut Adel.


“Nggak papa. Memang sebaiknya begitu” jawab bu Ratih.


“Madina gimana?” lanjutnya.


“Madin mau nginep bu. Sudah dari sore uring-uringan terus, pengen ketemu Putri” jawab Adel.


“Oh, ya Alloh. Nggak papa nih, tidur sama tiker doang?” goda bu Ratih.


“Ya Alloh, bu. Emangnya pas nungguin bapak, pake kasur? Kan sama ibu juga, tidurnya. Ngampar pake tiker doang” jawab Madina. Ada air mata yang meluncur membasahi pipinya.


“Iya, iya, iya. Makasih ya nduk. Lemah teles, ya” kata bu Ratih, sembari merengkuh Madina ke pelukannya.


“Bu, ada titipan dari ibuk” kata Adel, memecah keheningan.


“Oh. Apa?” tanya bu Ratih, sembari melepaskan pelukannya dari Madina.


“Maaf bu, Adel nggak tahu. Adel hanya dipesenin, buat ngasih tas ini pada ibu” jawab Adel, sembari menyerahkan tas slempang kain berwarna putih pudar itu.


“Ya Alloh Lus, ini kan tasnya mamak. Masih kamu simpen aja. Masih bagus, lagi” komentar bu Ratih.


“Ini tasnya mbah Ratmi, Bud” kata bu Ratih pada Budi, merujuk pada ibunya bu Ratih.


“Ya masa?” komentar Budi, kurang percaya.


“Beneran. Ini dulu ibu kasih sama Lusi, waktu main sekolah-sekolahan” jawab bu Ratih.


“Bukannya dipake, dianya malah masuk ke sini. Masih kecil, sih” lanjut bu Ratih.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Budi tertawa mendengar kelakar ibunya. Dia merasa lucu, membayangkan bu Lusi masuk ke dalam tas itu. Semuanya ikut tertawa mendengar tawa Budi yang terdengar lucu.


“Saya terima ya, mbak Adel? Sampaikan terimakasih ibu, buat ibumu!” pinta bu Ratih.


“Baik, bu. Nanti saya sampaikan” jawab Adel.


“Kalau begitu, Adel pamit ya bu?” lanjut Adel.


“Loh. Kok buru-buru?” sahut bu Ratih.


“Ambilin minum dulu dong, Bud!” pinta bu Ratih.


“Nggak usah, bu. Terimakasih. Mohon maaf ya bu, kami sudah ada janji. Nggak enak kalau nggak ditepati. Saya wakil sama Madina ya, bu?” tolak Adel halus.


“Oh, begitu. Iya, deh. Terimakasih ya, mbak Adel” jawab bu Ratih.


“Sama-sama, bu. Adel pamit ya, bu” sahut Adel, sambil salim lagi.


“Semoga Putri cepet sembuh ya, bu” doa Adel.


“Amin. Makasih doanya” jawab bu Ratih.


Adelpun menyalami mereka satu per satu. Dan berpesan pada Madina untuk jaga kesehatan juga. Saat bersalaman dengan Erika, terjadi ketegangan di sana.


“Jaga dia baik-baik, ya! Semoga langgeng” kata Adel lirih.


Entah mengapa, wajah Erika berubah menjadi sendu. Rasa cemburu yang sejak tadi dia ungkapkan, seolah luruh, saat berdekatan dengan Adel. Erika mengangguk. Adelpun melepas salamannya, dan beranjak menjauh.


“Assalamu’alaikum” kata Adel, sebelum pergi.


“Wa’alaikum salam” jawab mereka.


Adelpun balik kanan, diiringi oleh Luki. Mereka beranjak pergi.


“Hei” panggil Erika. Tak hanya Adel dan Luki, semua orang juga menoleh padanya.


“Watch your back!” seru Erika.


“Hem?” Adel tidak mengerti maksud Erika.

__ADS_1


Tapi, meski tidak mengerti, Adel tetap menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum seolah mengerti. Sambil menahan anggukan kepalanya sekali, dia pamit undur diri.


Tak lama kemudian, Farah dan yang lain keluar untuk berpamitan. Kecuali Aldo. Dia tetap tinggal, karena dia merasa sebagai bagian dari Stevani. Setelah mereka pergi, Zulfikar meminta ijin untuk menemui kekasihnya. Budi dan bu Ratih mengijinkannya.


__ADS_2