
Hari ini adalah hari kedua pasca kecelakaan itu. Pak Fajar tidak jadi melaporkan kejadian pembegalan putri sulungnya ke polisi lantaran istrinya takut, kalau ada preman yang ditangkap polisi, preman lainnya akan mencari mereka. Itu jauh lebih berbahaya dan merugikan daripada membiarkan mereka.
Awalnya pak Fajar menentang ide istrinya. Tapi saat bu Lusi mengingatkan akan nama-nama geng berbahaya yang disebutkan ojol kemarin, pak Fajar akhirnya mengalah.
Siang ini Tati menyempatkan diri untuk mampir sebelum berangkat memenuhi undangan menyanyi. Segala doa dia panjatkan agar sahabatnya segera pulih ingatannya. Walau belum ingat, tapi Adel merasa sangat senang, mendapat doa yang sangat tulus dari Tati.
“Ati-ati ya, nduk. Bawa helm, kan?” tanya bu Lusi.
“Bawa, bu” jawab Tati.
“Saya berangkat ya, Bu. Assalamu’alaikum” pamit Tati sambil cium tangan.
“Walaikum salam” jawab bu Lusi dan Adel.
Tati pergi, setelah tentunya menyalami sahabatnya. Selepas kepergian Tati, Adel kembali melihat foto-foto dalam album yang ditunjukkan oleh bu Lusi. Tapi sama sekali belum bisa memantik ingatannya untuk kembali.
“Ya udah, nggak usah dipaksa! Kamu istirahat dulu, gih! Ibu mau nemenin bapak”
“Iya” jawab Adel.
Bu Lusi meninggalkannya sendiri di teras. Tak seberapa lama, Adel melihat Madina sudah pulang dari sekolah. Dia sempat mendengar Madina berbincang dengan bu Lusi. Kata Madina, gurunya ada rapat, sehingga murid-murid dipulangkan lebih awal.
“Assalamu’alaikum” sapa Madina
“Wa’alaikum salam” jawab Adel.
“Rapat apa, gurunya?” lanjutnya.
“Mana Madin tahu. Kan Madin murid” jawab Madina.
“Ha ha ha. Masa nggak dapet bocoran?”
“Bocoran dari siapa?”
“Masa sih, cewek secantik kamu nggak masuk radarnya guru muda?” goda Adel. Senyumnya mengandung maksud terselubung.
“Ada sih, yang caper gitu. Tapi Madin takut, mbak”
“Takut kenapa? Kan bagus, ada yang ngajarin privat. Bisa jadi paling ngerti pelajaran itu”
“Takut ibu ngamuk lagi”
“Kenapa ngamuk? Harusnya ibu berterimakasih, dong?”
“Bukan masalah pelajarannya, tapi soal kantong cowok yang ngedeketin Madin”
“Hem?”
“Kalo levelnya guru muda di sekolah Madin sih, auto diusir sama ibu. Minimal ya, kaya mas Luki, anaknya pak Imam Pratama”
*Luki? Imam Pratama*?
Mendengar nama itu disebut, mendadak dia merasakan keanehan. Langit mendadak gelap, dan orang yang ada di sampingnya, bukanlah Madina, melainkan seorang laki-laki. Dia merasa, kalau dirinya sedang asyik berbincang dengan laki-laki itu.
*Karena papa juga usahanya di bidang mebel, jadi ya nyambung. Apalagi bapaknya Adel kan produknya berkelas semua, tuh. Pelanggannya papa pada puas sama kualitasnya. Jadi kalau ada pesanan mebel, pasti minta dari maker yang sama. Itu artinya, ya harus ke bapaknya Adel lagi*
*Dengan kata lain, papanya mas luki kasih market dong buat bapak aku*?
*Ya, kurang lebihnya begitu*
*Wah, keren tuh*
Adel merasakan kepalanya berputar-putar, antara gelap dan terang. Dia sampai tidak mendengar saat Madina memanggil namanya. Bahkan saat Madina menggoyang-goyangkan tubuhnya, dia juga tidak merasakan.
*Oh ya, mas Luki sendiri, sekarang sibuk apa*?
*Oh, aku lagi kuliah bisnis, di solo. Aku juga pegen jadi pengusaha seperti papa*
*Wah, keren tuh. Prospeknya tinggi tuh. Apalagi udah punya jalan dari papanya*
*Ya, gitu deh. Adel sendiri, ngambil jurusan apa*?
*Ya, kurang lebihnya sama, sih*
*Oh*.
Hatinya tersentak, saat angannya memutar sebuah ingatan, dimana dia menyebutkan nama Luki yang merujuk kepada laki-laki itu, untuk kedua kalinya.
Eh, pak RT. Ada yang bisa Adel bantu, pak?
Sebuah ingatan lagi berputar di angannya. Dia menyebutkan nama Adel, untuk merujuk dirinya sendiri. Dan sesosok laki-laki, yang membawa sebuah buku catatan.
Luki? Adel. Terus, bapak-bapak itu, siapa?
Adel bertanya dalam hati. Dia merasa, masih membutuhkan kepingan lain, untuk merasa pasti dan yakin, kalau dirinya adalah Adel.
“Mbak, kita ke kamar dulu yuk!" Ajak Madina.
“Ha, apa?”
Kali ini Adel mendengar suara Madina. Dia tidak menolak saat Madina memapahnya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Dengan perlahan, dan setapak demi setapak, Adel berusaha menaiki setiap anak tangga. Madina terlihat sabar, dan tidak tergesa-gesa. Madina meletakkan Adel di tepi ranjang.
“Tiduran dulu, mbak!” pinta Madina.
Madina sendiri langsung membuka lemari pakaian milik Adel. Dia bermaksud untuk mengambil minyak aroma terapi.
Dia tidak menyadari kalau kakaknya ternyata tidak melakukan apa yang dia sarankan. Dia masih duduk sambil memegangi kepalanya. Di saat Adel melihat ke depan, terlihatlah gaun hitam yang tergantung sendirian, tanpa ada pakaian lain yang menemaninya. Posisinya juga melintang memenuhi ruangan.
Hai, kok bengong
Sebuah kepingan ingatan kembali melintas di angannya. Dia melihat, gaun di lemari itu sedang melekat di tubuhnya. Dan di depannya, terlihat seorang laki-laki sedang duduk sambil termenung memainkan ponselnya.
*Oh, maaf, ini kursi anda ya? Saya tidak tahu kalau ada tas di situ. Saya pikir kosong. Saya pindah deh*
Laki-laki dalam kepingan ingatan itu, tersentak, dan hendak pindah. Adel merasakan kalau dirinya dalam kepingan ingatan itu tersenyum melihat reaksi lelaki itu.
*Eh, nggak usah. Nggak papa kok. Emang kosong. Aku cuman pinjem aja. Biasa, kalau aku lagi ngejob di sini, aku pinjem kursi ini buat naruh tas. Tapi kalau rame begini, ya aku yang pindah*
Mendengar kata ‘ngejob’ dan ‘kursi’, membuat Adel merasa mengingat sesuatu. Tapi masih terlalu dalam untuk dia angkat ke permukaan.
*Alhamdulillah. Terimakasih ya. Penuh semua kursinya*
Hahaha. Ngomong – ngomong, sendirian aja nih? Bengong lagi. Abis putus ya?
Adel mulai memasrahkan tubuhnya. Dia berharap, dengan menenggelamkan dirinya dalam kepingan ingatan yang sedang diputar oleh otaknya ini, dia bisa menemukan jati dirinya yang sebenarnya.
*Iya*
*Ha, serius*?
*Putus kontrak*
*Oh, gitu. Emang kerja dimana, tadinya*?
*Di seputaran jabotabek, astr*\* \*\*\*\*\*\*\*
*Loh, itu kan nama spare part motor kan*?
*Iya. Aku kerja di salah satu pabriknya. Kemarin*
*Oh, gitu*
Adel tersentak saat nama itu di sebut. Kepala berdenyut lebih keras, dan memutar kepingan-kepingan ingatan dengan lebih cepat. Adel berusaha menahan denyutan itu, sampai agak redaan. Kembali lagi otaknya memutar kepingan ingatan sebelumnya. Disaat dia menerima uluran tangan lelaki itu.
*Adel*
Untuk ke sekian kalinya, dia mendapati dirinya sendiri mengucapkan nama yang sama. Tapi dia belum sepenuhnya yakin kalau itu adalah namanya. Karena kebenaran sejatinya, belum muncul ke permukaan.
*Adelia wilhelmina*
Lelaki dalam kepingan ingatannya itu menyebutkan sebuah nama lengkap.
*Adelia fitri*
Adel terkejut saat mendapati dirinya dalam ingatan itu mengoreksi pernyataan lelaki itu. dan dia menyebutkan sebuah nama lain. Mendengar nama yang dia sebutkan sendiri dalam kepingan ingatan itu, otaknya memutar lagi banyak sekali ingatan lain. Mulai dirinya yang belajar membaca, mempunyai adik, belajar menuliskan namanya sendiri.
*Nama? Itu namaku*?
Benak Adel bertanya-tanya. Karena nama yang dia tuliskan dalam kepingan ingatan yang lain, sama persis dengan nama yang dia sebut dalam ingatannya bersama lelaki itu.
*Kamu, Budi Utomo*?
Kini otaknya kembali memutar kepingan ingatannya bersama lelaki yang mengaku bernama Budi. Gantian kini dirinya mengucapkan sebuah nama lengkap.
*Kok tahu? Wah, kamu punya six sense ya*?
*Ih, enggak. Aku cuman asal kok. Emang itu nama lengkap kamu*?
*Iya. pemberian almarhum bapak. Biar kaya pahlawan. Yang berjuang tak kenal menyerah. Hahaha*
*Betul itu, jangan pernah menyerah. Jadi cowok harus tahan banting. Masa baru putus kontrak aja, bengongnya ampe nggak merhatiin aku*
Kata ‘merhatiin’, seolah menjadi kata kunci. Dimana otaknya kembali memutar kepingan ingatan lain secara acak, dan cepat.
Ingatan saat dia bernyanyi di sebuah kafe, berbagai macam hajatan, ingatannya saat bergoyang heboh, lalu bertemu sosok lelaki itu lagi.
Ingatan saat dia memacu motornya menuju sebuah pabrik, masih dengan kebaya lengkap.
Ingatan tentang suasana pasar, dengan seorang ibu pedagang, yang mengaku sebagai ibu dari laki-laki itu. Dan kenangan saat dia jadian dengan seorang laki-laki.
“Mbak, embak nggak apa?”
“Haah”
Suara Madina menyentakkan angannya. Kini dia melihat kamar, tempat yang sebenarnya dia berada saat ini.
__ADS_1
“Mbak, dihirup dulu gih, aromanya! Biar agak rileks” saran Madina.
Tapi Adel tidak segera menerima minyak aroma terapi yang diberikan Madina.
“Hape” katanya lirih.
“Hem?” Madina tidak mendengar dengan jelas.
“Hape embak mana, dek?” tanya Adel lagi.
“Allohu Akbar. Mbak? Embak udah pulih?”
Adel tidak menjawab. Dia celingukan mencari ponselnya. Tapi dia tidak menemukannya.
“Mbak, mbak Adel. Lihat Madin dulu, mbak!” pinta madina. Adelpun berhenti mencari ponselnya, lalu melihat ke arah Madina.
“Apaan sih kamu, dek? Bukannya bantuin nyari, malah disuruh ngeliatin kamu. Iya, kamu cantik. siapa juga yang ragu sama kecantikan kamu?” jawab Adel. Dia kembali mencari ponselnya ke lemari pakaiannya.
“Mbak, siapa nama aku?” tanya Madina.
Adel balik kanan, dan tergelak mendengar pertanyaan itu. Tapi melihat sorot mata Madina yang fokus, Adel jadi teringat, kalau dirinya baru saja lupa ingatan. Wajar kalau adiknya ingin memastikan kondisinya.
“Madinatul Munawaroh” jawab Adel.
“Bapak?”
“Eka Fajar”
“Ibu?”
“Lusiana Fitri”
Seketika madina merangsek maju dan memeluk tubuh kakaknya. Tangisnya pecah tak terbendung. Untuk beberapa saat lamanya, Adel membiarkan Madina menumpahkan rasa gembiranya.
“Udah, udah. Nangisnya udahan dong! Entar cantiknya ilang lho, kalo nangis mulu” hibur Adel. Dia berikan juga seulas senyum untuk Adiknya itu.
“Adek tahu, hape embak dimana?” tanya Adel. Madina tidak langsung menjawab. Dia menunduk sebentar.
“Hape embak ilang” jawab Madina dengan raut wajah menyesal.
“Loh? Yah” keluh Adel.
“Hapenya ilang, sih. Tapi nomornya, udah berhasil Madin Backup” kata Madina. Dia menyerahkan ponsel baru kepada Adel.
“Akun medsos mbak Adel juga udah Madin amanin. Nggak ada yang ngebobol, kok” lanjutnya.
“Alhamdulillah. Tapi ini hape siapa, dek?”
“Udah pake aja. jangan liat kelasnya ya, mbak!” jawab Madina sambil tersenyum.
“Ya Alloh, adek buka celengan? Entar embak ganti ya”
“Nggak penting. Yang penting sekarang, embak mau telepon siapa? Ibu?”
“Bu Ratih” jawab Adel.
Madina tertegun. Dia tidak menyangka kalau kakaknya sudah teringat dengan bu Ratih. Itu artinya dia juga sudah teringat dengan Budi.
“Embak sudah inget sama mas Budi?” tanya Madina.
“Udah” jawab Adel malu-malu.
“Embak inget, apa yang terjadi malem itu?”
Gantian Adel yang tertegun. Dia berusaha mengingat-ingat mengenai kecelakaan itu. tapi belum ada satu kepingan pun yang muncul. Dia menggelengkan kepala.
“Embak baru inget, hajatan sebelumnya. Saat mas Budi liat embak goyangnya vulgar. Terus embak nyusul ke pabriknya mas Budi, terus pelukan di sana” jawab Adel.
“Menurut embak, apa yang dikatakan mbak Tati itu, ?”
“Enggak. Itu nggak bener” potong Adel. Madina terkesiap.
“Seingat embak, Mas Budi itu sedang diawasi oleh orang-orang yang nggak suka sama dia. Ada yang pernah cerita sama embak. Cuman embak belum inget siapa. Dia sebut banyak nama. Ada orang dekatnya mas Budi juga. Tapi embak juga belum inget. Ada sedikit aja kejelekan mas Budi yang terlihat, pasti heboh satu kampung. Yang baik aja dibikin jelek. Apalagi sampai masalah sebesar itu. Kalo cerita itu bener, pasti udah geger dari kemarin-kemarin” lanjut Adel.
“Alhamdulillah” Madina menghela nafas lega.
“Adek ngedukung hubungan embak sama mas Budi, ya?”
“Iya, mbak” jawab Madina.
“Ya udah, mbak mau telepon bu Ratih dulu, ya” ijin Adel.
“Tunggu!” cegah Madina.
“Menurut Madin, embak sebaiknya jangan telepon dulu deh” lanjut Madina.
“Kenapa?” tanya Adel heran.
“Madin pikir, ada orang yang sengaja pengen misahin mbak Adel dari mas budi. Jadi, sebisa mungkin, jangan banyak orang yang tahu, kalo mbak Adel sudah pulih ingatannya. Walau baru sebagian”
“Terus?”
“Kalo Madin boleh kasih saran nih, mbak Adel jangan nunjukin dulu kalo mbak Adel sudah inget madin, ibu, sama Bapak. Tetep aja berlagak, kalo mbak Adel masih belum inget. Nanti Madin yang sampein sama Putri, kalo mbak Adel sudah inget sama mas Budi. Madin takut, dalang dari semua ini, ada di sekitar kita” jawab Madina.
“Hmpf. Ha ha ha ha. Kebanyakan nonton film agen rahasia kamu, dek” komentar Adel sambil tertawa.
“Ya, emang. Kalo dokter kemarin nggak nunjukin ekspresi bingung, Madin juga nggak bakal nganggep ini sebagai sebuah konspirasi. Sebuah kecelakaan, beturan di kepala, bikin gegar otak, bikin lupa ingatan, wajar. Tapi Madin denger kasak-kusuk mereka, mbak. Buat mereka, luka ini sangat tidak mungkin kalo bikin orang jadi lupa ingatan. Lupa kejadiannya, mungkin. Tapi kalo sampe lupa siapa dirinya, keluarganya, itu belum pernah terjadi. Coba, gimana menurut mbak Adel?” jawab Madina. Adel terkesiap. Dia berusaha mencerna apa yang adiknya katakan.
“Apalagi, Madin sempet video call sama mbak Adel, pas magrib, sebelum kejadian itu. Dan mbak Adel, masih sama mas Budi waktu itu. Kalian bilang, abis sholat magrib di masjid agung. Terus, gimana ceritanya bisa balik ke JLS lagi? Time linenya itu nggak masuk, sama cerita ojol kemarin, mbak”
“Iya. Dia bilang, ngangkut embak, sore ya?” komentar Adel.
“Iya. Aneh, kan?” tanya Madina. Adel manggut-manggut, sambil berpikir.
“Terus, embak mesti gimana?”
“Ya seperti yang Madin bilang barusan”
__ADS_1
“Jangan lama-lama, ya! cepet sampein kabar tetang embak, terus kasih kabar ke embak mengenai kondisi mas Budi!” pinta Adel.
“Iya, mbak. Besok Madin sampein ke Putri”