Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
di bawah guyuran hujan sore


__ADS_3

Sore ini, rasa lelah menyelimuti sekujur tubuh Budi. Setelah harus berjibaku dengan target yang semakin meningkat, dan juga ikan – ikan dagangan ibunya yang juga sudah berangsur normal.


Walau tidak sendirian, tapi tetap saja Budi merasa tenaganya seperti hampir habis terkuras. Dia sampai merasa nyaman ketika duduk di teras toko yang sudah tutup.


Tak peduli mentari sore menyorotkan sinarnya menerpa wajahnya. Dia bahkan bisa memejamkan matanya, menikmati semilirnya angin.


Damainya suasana, dan perasaan lega karena semua pekerjaan telah selesai dengan baik, membuat Budi terbuai, hingga tak sadar dia mulai masuk ke alam mimpi.


Nikmatnya istirahat dikala penat membuat Budi tidak mendengar ada suara kendaraan mendekat. Adel tersenyum saat mengetahui Budi tertidur di teras toko.


Dia geleng – geleng kepala, tak habis pikir, mengapa Budi tidur di situ. Tapi dia bisa menebak, kalau Budi baru saja selesai membantu ibunya. Mungkin ibunya sedang berbelanja kebutuhan rumah. Mengingat masih ada lapak yang buka di jam segini. Adel memarkir motornya tepat di sebelah motor Budi. Lalu dia menghampiri dan duduk di sebelah Budi.


Sepinya suasana jalan membuat Adel tak canggung untuk memandangi wajah Budi. lagi – lagi dia tersenyum. Dia juga tak habis pikir, disaat Budi sedang dalam kondisi yang tak sedap dipandangpun, di matanya malah terlihat gagah. Bulir – bulir keringat di kening Budi, seolah menghipnotisnya. Mengundangnya untuk menyeka. Adel mengambil tisue wajah di dalam tasnya, lalu menyeka keringat yang sudah hendak meluncur jatuh itu.


“Astaghfirulloh”


Budi terbangun dan malah terkejut, menyadari ada seorang wanita di sebelahnya. Dia yang masih mengantuk, tidak langsung mengenali siapa yang ada di dekatnya itu.


“Ini aku, Adel” kata Adel memperkenalkan diri.


“Huuft. Kamu to Del. Kirain siapa” jawab Budi sambil menghela nafas lega.


“Emang kamu kira siapa?” goda Adel sambi tergelak.


“He he, kirain sih, kunti” jawab Budi.


“Dih, mana ada kunti cantik begini?”


“Ha ha. Abisnya aku tadi mimpi serem”


“Mimpi apa?”


“Itu, aku kaya ada di sebuah rumah tua gitu, udah nggak layak huni, lah. Aku ngeliat ada yang seliweran di belakang aku. Nggak jelas apaan. Terakhir sih, dari cermin aku ngeliat ada kunti deketin aku. Tapi ngilang pas aku noleh ke arah dia. Eh, pas bangun, ada cewek di samping aku. Ya kagetlah aku” jawab Budi.


“Ha ha ha. Aduh Bud, masih sore ini. Udah ngimpiin kunti aja” komentar Adel.


“Yah, siapa yang mau? Emang ngimpi bisa minta?”


“Ha ha ha ha”


Mereka diam sejenak. Masing – masing masih sibuk dengan pikirannya.


“Kamu darimana, Del?” tanya Budi.


“Oh, dari kampus” jawab Adel.


“Kamu nggak kerja?” lanjut Adel.


“Udah pulang, dong. Karyawan spesial gitu loh” jawab Budi.


“Maksudnya?"


“He he, tadi abis meeting sama kepala pabrik, di luar kantor. Biasa, dia minta laporan khusus yang nggak boleh diketahui karyawan lain”


“Terus?”


“Abis meeting aku malah disuruh pulang aja”


“Kok Bisa?”


“Kayaknya, sebelumnya sempet main ke pasar, deh. Abisnya dia tahu kalo dagangan ibu lagi banyak. Terus aku disuruh bantuin ibu aja”


“Ada gitu atasan malah nyuruh anak buahnya ngerjain yang bukan kerjaannya?”


“Nyatanya gitu. Dilarang nolak perintah langsung, katanya. Ya ikut, lah. He he”


“Jangan – jangan, bos kamu suka lagi sama ibu?’


“Ha ha ha. Ya biarin aja. nggak ada yang ngelarang”


“Kamu nggak marah, kalo ibu nikah lagi?”


“Kenapa mesti marah? Yang penting orang itu mandiri, ngerti agama, nggak jadi beban. Silakan”


“Tunggu, tunggu! Ngobrol sama kamu selalu ada yang menarik. Kok bisa kamu segampang itu ngerelain posisi bapak kamu digantiin orang lain?” tanya Adel penasaran.


“Orang yang udah meninggal, itu hanya butuh doa. Yang masih hidup, kebutuhannya banyak. Umur empat puluh, itu masih muda, Del. Aku nggak bisa dong, maksain ibu buat sendiri terus. Eem, gimana bilangnya, ya?


“Oke, aku ngerti. Kamu mau jelasin kebutuhan batin,kan?” sahut Adel


“Ya begitulah. Nah loh, udah ngerti tentang begituan. Udah pengen, ya?” goda Budi.


“Suek” komentar Adel, sambil mencubit penggang Budi. Budi menggelinjang kegelian, ketika bagian sensitif tubuhnya disentuh Adel.


Bu Ratih muncul dari dalam pasar bersama Putri. Beliau membawa tas tempat perlengkapan dagang, dan sekantong plastik belanjaan. Putri juga membawa sekantong plastik lagi belanjaan yang lain.


“Eh, ada mbak Adel. Udah lama?” sapa Bu Ratih.


Adel langsung menghampiri beliau. Disorongkanlah tangannya untuk salaman.


“Belum, bu. baru aja” jawab Adel. Dia mencium punggung telapak tangan bu Ratih.


“Hai Put” sapa Adel pada Putri.


“Hai, mbak. Dari mana, tadi?” tanya Putri sambil salim pada Adel.


“Dari kampus. Bapak sama ibu lagi ke solo. Aku pikir, pulang cepet juga nggak ada temennya di rumah. Jadi aku main dulu deh, ke sini” jawab Adel.


“Oh, gitu” respon Putri singkat.


“Ganti baju dulu gih, pada!” perintah bu Ratih pada kedua anaknya.


“Males ah, Bu. Nggak bau ini” tolak Putri.


“Iya. Budi juga. Bauan Putri” sahut Budi.


“Sembarangan. Tapi iya sih, bener. Ha ha ha ha” kilah Putri. Tapi kemudian membenarkan. Membuat semuanya tertawa.


“Biarin, lah. Mau pulang ini” lanjut Putri.


“Bud!” tegur bu Ratih.


“Iya deh” jawab Budi.


Budi pergi sambil geleng – geleng kepala. Tidak bisa menolak kalau ibunya sudah mengeluarkan hak vetonya. Tak perlu waktu lama, Budi sudah kembali dengan pakaian seragamnya. Tentunya dia sudah cuci tangan dan kaki. Menghilangkan aroma ikan yang menempel.


“Nah, kalo gitu kan ganteng” komentar Bu Ratih.


“Iya ih. Mau dong dipacarin” Putri ikut berkomentar.


“Hus, sembarangan. Kakakmu, itu” tegur bu Ratih.

__ADS_1


“Ha ha ha ha. Iya, bercanda Bu” jawab Putri. Adel tertawa mendengan kelakar Putri.


“Ya udah, makan bakso, yuk!” ajak bu Ratih” wajah beliau menghadap langsung ke Adel.


“Waduh, makasih, bu. Adel cuman mau mampir aja, kok” tolak Adel halus.


“Nggak baik nolak rejeki, mbak” sahut Putri.


“Ya kan embak kesini cuman buat ketemu mas Budi, Put”


“Mbak Adel mau ikut, atau terima amplop ini?” tanya bu Ratih sambil mengacungkan sebuah amplop putih.


Adel bingung dengan pilihan yang diberikan Bu Ratih. Amplop apa yang beliau acungkan itu. Dia menatap wajah Budi, wajahnya menyiratkan kalau dia bertanya kepada Budi.


“Uang transport yang kamu talangin kemarin, di rumah sakit” kata Budi.


“Astaghfirulloh. Jangan, bu! Ya Alloh, ibu ih” respon Adel.


“Terus?” tanya Bu Ratih setengah memaksa.


“Ya udah deh, bu. Adel ikut” jawab Adel.


“Alhamdulillah” kata bu Ratih mengucap syukur.


Merekapun berjalan menuju warung bakso. Tempat dimana Adel pernah makan siang dengan budi. adel mengajak semuanya duduk di kursi yang yang pernah dia duduki bersama Budi. Bu Ratih sampai bingung melihat Adel senyam – senyum terus. Tapi Adel mengelak saat ditanya kenapa.


“Oh iya, Dina lagi di mana?” celetuk Budi.


“Ish” tegur Putri.


“Kenapa sih, Put? Pake injak kaki segala?” tanya Budi bingung.


“Mas Budi apa – apaan, sih? Malah nanyain cewek lain ke mbak Adel. Keterlaluan” jawab Putri.


“Hmpf. Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengarnya. Adel juga ikut tertawa.


“Kok mas Budi malah ketawa, sih?” tanya Putri bingung.


“Mbak Adel juga, bukannya ngambek, malah ikut ketawa” lanjut Putri.


“Yang ditanyain mas Budi itu, adek aku. Madinatul Munawaroh. Panggilannya Dina” jawab Adel.


“Itu. Kan tadi mbak Adel bilang, bapak-ibunya pergi ke solo. Terus, bilang juga kan tadi, kalo pulang cepet juga, nggak ada temennya. Nah, adeknya kemana tuh? Gitu, Putri” kata Budi setengah mengomel. Membuat ibunya dan juga Adel tertawa.


“Tunggu, tunggu! Madinatul Munawaroh? Anak SMK3? Tata boga?” tanya Putri menyelidik.


“Putri kenal?” tanya Adel setengah terkejut.


“Itu Adeknya mbak Adel?” tanya Putri lagi.


“Iya” jawab Adel pendek.


“Dunia emang sempit ya” komentar Putri.


“Maksudnya” tanya Adel.


“Dia itu teman sebangku Putri” jawab Putri.


“What? Seriously?” tanya Adel tidak percaya.


“Ya serius, mbak. Tanya aja kalo nggak percaya!”


Adel penasaran juga rupanya. Dia langsung mengambil ponselnya. Tapi sayang, bakso pesanan mereka sudah keburu datang. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk menelepon adiknya.


Sejenak adel tertegun. Tampak dia sedang mencerna apa yang dikatakan bu Ratih. Karena dia tidak merasa membantu. Atau lebih tepatnya, help and forget.


“Ada juga Adel yang berterimakasih sama ibu. Sudah dibolehin temenan sama mas Budi” jawab Adel.


Untuk beberapa saat, Adel dan Bu Ratih saling memandang. Seolah ada yang ingin masing-masing sampaikan, tapi saling menunggu.


“Mas Budi tuh, udah bikin Adel heppy di tengah keterpaksaan” lanjut Adel.


“Keterpaksaan apa?” tanya Bu Ratih.


“Kuliah” jawab Adel pendek. Bu ratih dan Putri saling pandang.


“Adel pasionnya di seni, tapi dipaksa kuliah Bisnis” lanjut Adel.


“Kan nyambung, mbak. Kata Budi, bapaknya mbak Adel punya usaha mebel?” tanya Bu Ratih.


“Tapi pusing, bu. Adel lebih nyaman sama dunia seni. Nyanyi, paling suka”


“Ada masanya nanti, mbak adel pensiun jadi penyanyi. Dan bergerak di belakang layar”


“Maksud Ibu?”


“Ya masa mau nyanyi terus sampai tua? Emang nggak pengen, tinggal terima telepon, catet jadwal, terus, terima hasil deh?” goda bu Ratih.


“Ya tapi masa harus kuliah sampe njlimet gitu, bu? nggak perlu, kan?”


“Kata siapa? Emang mbak Adel udah ngerti caranya bikin OE sendiri?”


“EO ibu” koreksi Putri.


“EO. Event organizer” lanjut Putri.


“Oh, kebalik, ya? Ha ha ha” bu Ratih tertawa menyadari kekeliruannya.


“Belum semuanya sih, Bu” jawab Adel.


“Nah, itu,mbak. Coba Budi disuruh bikin EO. Paling, milih ngajak ribut” kata bu Ratih menggoda putranya.


“Bikin sim aja banyak calonya. Nggak nembak nggak jadi. Apalagi bikin EO, bu. Budi sih, seksi huru-hara aja” jawab Budi.


“Ha ha ha ha”


“Ya udah. Kalo emang Budi bisa jadi penyemangat mbak Adel, silakan aja. Ibu juga jadinya seneng”


“Kenapa, Bu?”


“Biar Budi nggak kepikiran lagi sama yang di sana” jawab Bu Ratih.


“Yang di sana? Siapa Bu?” tanya Adel cemburu.


“Ya tempat kerjanya yang dulu. Kalo Budi udah nyaman di kampung, kan nggak kepikiran bakal balik merantau lagi” jawab Bu Ratih.


“Oh, kirain”


“Mantan? Ha ha ha ha” goda Bu ratih. Membuat wajah Adel memerah karena malu.


“Monggo, silakan. Baksonya udah dingin, nih” kata Bu ratih mempersilakan.

__ADS_1


“Ibu, sih. Ngajak ngobrol” sahut Putri berlagak merajuk.


Adel dan Budi tertawa kecil, tapi tidak menanggapi. Mereka sibuk dengan santapan mereka masing-masing.


Selesai makan bakso, mereka langsung kembali ke parkiran pasar. Hari yang sudah sangat sore membuat mereka bergegas untuk pulang.


Tapi di sini ada sebuah masalah. Ternyata Putri tidak membawa motor, karena bannya bocor. Dari rumah dia naik angkot, dan mampir ke pasar ini, membonceng temannya.


Budi sempat menghela nafas, karena merasa tidak diberitahu dari awal. Menurut Budi, kalau memang tidak membawa motor, kan bisa langsung pulang saja. Toh sendiri juga bisa membereskan lapak ibu. Putri meminta maaf.


“Del, boleh minta tolong, nggak?” tanya Budi.


“Bawa Putri? Hayu!” jawab Adel.


“Tuh, Put. Sama mbak Adel !” kata Budi. Dia masih agak kesal sama Putri.


Putri tidak langsung menjawab. Dia masih terdiam. Dia mau menolak ide kakaknya, tapi dia takut kakaknya marah.


“Kok Diem?” tanya Budi.


“Em, kenapa nggak mas Budi aja yang sama mbak Adel. Putri sama ibu aja?” respon Putri.


“Apa bedanya?” tanya Budi.


“Putri males ganti baju, mas. Tanggung banget. Mas Budi kan udah ganti baju, tuh. Ya udah, sekalian aja sama mbak Adel. Kalo putri yang mbonceng, entar yang ada aromanya nempel ke mbak Adel” jawab Putri.


“Ya Alloh, Putri. Kaya apa aja, deh. Biasa aja kali!”


“Putri benar, mbak Adel. Nggak semestinya kita ngerepotin mbak Adel. Mbak Adel udah mau bantuin aja udah terimakasih banget, ibu. Jangan sampai kita ninggalin kesan nggak enak” sahut bu Ratih bijak.


“Nggak papa, bu. kaya nggak bisa dicuci aja”


“Kalo boleh, ibu mau minta tolong, mbak Adel boncengin Budi. Biar Putri sama ibu” pinta bu Ratih.


“Iya, boleh, bu. Tapi kalo ibu ngendikan sama Adel, jangan halus gitu dong, bu! jadi takut, Adel”


“Loh, kenapa?” tanya bu Ratih.


Adel tak segera menjawab. Dia bingung harus menjawab bagaimana.


“Takut kalo sebenernya ibu tuh nggak suka sama mbak Adel” sahut Putri.


“Sok tahu” tukas Budi.


“Kan ciri orang yang akrab itu, kalo ngomong suka nggak aturan. Kaya kita aja, mas. Sekalipun Putri kadang ngomongnya nggak sopan, tapi mas Budi asik aja, kan?”


“Iya juga, ya. Tapi kalo kamu sih bukan akrab, Put" jawab Budi.


"Dol" lanjutnya


“Asem. Malah ngeledek Putri”


“Ha ha ha ha” mereka semua tertawa.


“Ya udah, maaf ya, kalo ibu bikin mbak Adel nggak nyaman. Ya seperti yang Putri bilang, ibu memang belum akrab sama mbak Adel. Ibu yang takut, kalo mbak Adel tersinggung”


“Ya Alloh. Ibu baik banget sih” komentar Adel.


“Udah mendung” tegur bu Ratih.


“Oh, iya. Ayo mas!” ajak Adel.


Adel menyerahkan kunci motornya kepada Budi. dengan senang hati Budi menerima. Sebagai laki-laki, sudah sewajarnya kalau dia yang membawa motornya. Budi memberikan kesempatan untuk Putri jalan terlebih dahulu.


Adel tersenyum mendapati dirinya berboncengan dengan lelaki gagah nan rupawan yang memikat hatinya. Ingin rasanya dia memeluk Budi. Tapi dia masih malu. Kan belum ada ikatan resmi.


Dia belum tahu kepastiannya, apakah Budi suka dengan dirinya, atau hanya baik saja. Sekedar mengungkapkan rasa terimakasih karena sudah dia bantu mendapatkan pekerjaan.


“Del, bawa jas hujan, nggak?” tanya Budi.


“Nggak bawa, Bud”


“Waduh” komentar Budi.


*Selow aja, Bud. Ujan air ini*.


Adel memandan ke arah langit. Memang, langit semakin menghitam. Dari arah depan, semburat sinar mentari sore berangsur tergantikan oleh awan pekat. Dan dari kejauhan sana, terlihat perbukitan seperti terhalang lembaran kain putih transparan. Dan kain itu seperti bergerak ke arah mereka.


“Del, ujan beneran. Kita kencengan, ya” seru Budi.


Belum juga menjawab, Budi sudah tancap gas. Membuat Adel terkejut. Reflek, dia memeluk tubuh Budi.


*BREEEEESSSSSSS*


Yang ditakuti datang juga. Tanpa permisi, awan hitam di atas mereka langsung menghujani mereka. Tidak pakai gerimis dulu, langsung lebat.


*Astaga, Adel meluk aku*?


Budi tertegun, dia tidak sedikitpun membayangkan akan mendapatkan pelukan ini. Dia berusaha fokus memperhatikan jalan, sementara hatinya sudah bercabang perhatiannya. Sesekali dia melihat sepasang tangan yang melingkar di perutnya.


Adel berusaha menyembunyikan wajahnya di pundak Budi. Guyuran air hujan ini terasa seperti lemparan kerikil baginya. Itu karena mereka berkendara lumayan cepat.


*Ya ampun, aku kok jadi beneran meluk dia, sih? Dia marah nggak, ya? Tapi sumpah, tubuh dia enak banget dipeluknya. Semoga dia nggak marah aku peluk*.


Adel mengencangkan pelukannya, karena Budi melewati tikungan dengan kecepatan sedang.


Ini bukan pengalaman pertama Budi dipeluk wanita. Sekelas Armita sekalipun, lebih dulu memeluknya daripada dia yang memeluk.


Tapi pelukan Adel, sanggup mengganggu konsentrasinya. Jantungnya berdegup kencang. Dia merasa seolah diberi harapan. Sebuah kode bahwa Adel juga suka kepadanya.


*Tapi itu kan pendapatmu sendiri aja, Bud. jangan kegeeran. Dia meluk tu karena kaget. Lagipula ini kan lagi ujan. Dingin kali. Kalo nggak ujan, belum tentu dia mau meluk kamu*.


Budi menyanggah sendiri pikirannya. Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.


Tapi kenyataan bahwa Adel tidak melepaskan pelukannya, adalah sebuah tanda-tanya besar.


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Budi. Bukannya mereda, hujan malah semakin lebat, bahkan bercampur angin. Bu ratih meminta Adel untuk berteduh dulu di dalam rumah.


Mau tak mau, Adel harus mau menerima permintaan itu. terlalu berbahaya juga, melanjutkan perjalanan dalam kondisi hujan bercampur angin begini.


Adel sempat canggung saat bertatap muka dengan Budi. dia takut kalau Budi akan menunjukkan sikap tidak suka, setelah dia peluk tadi. Budi juga tidak kalah kikuknya. Dia tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.


“Mbak, mandi dulu aja” pinta Putri. Putri berinisiatif meminjamkan pakaiannya. Karena ukuran mereka kurang lebih sama.


“Ibu, gimana?” tanya Adel.


“Abis mbak Adel”


“Ibu dulu aja!” tolak Adel.


“Udah, jangan mbantah, mbak!” pinta Putri dengan nada lirih.

__ADS_1


Adel paham dengan maksud Putri, Putri memintanya mandi terlebih dahulu karena perintah dari ibunya. Dia tidak mau hubungan baik ini renggang hanya gara-gara tidak mau disuruh mandi duluan. Dia mengangguk sambil tersenyum pada Putri.


__ADS_2