
Dia memutar lagi rekaman demi rekaman percakapan telepon satelit itu. Ada nama Sekar, yang merujuk pada Frida. Ada nama ‘Indrajid’, yang selalu ditanyai tentang restoran paling enak.
Perbincangannya memang tak lebih dari soal makanan, resep, dan cara masak. Tapi di sini, Budi berpikir, kalau resep dan cara masak di rekaman ini, merujuk pada resep dalam membuat narkotika.
Dan ada nama ‘Bejo’, yang juga disebut dalam percakapan yang lain. Dengan si Bejo ini, perbincangannya lebih mengarah pada bisnis elpiji dalam kemasan kaleng untuk kompor portable.
Tapi ada nama Tarantula, sempat disebut sekali oleh camat cerbon. Yaitu, larangan untuk memberangus mereka. Jual-beli, lebih ditekankan.
“Dongle?” gumam Budi.
Budi yakin, kalau jual-beli yang dimaksud camat cerbon, adalah dongle yang sempat dikuasai Sandi. Dan memang, Luki membelinya dari Sandi.
Dia menatap Sephia lekat-lekat. Ada sekian banyak pertanyaan yang siap dia cecarkan kepada Sephia. Dan Sephia mengerti akan hal itu.
“Iya, mas tentang dongle. Dongle itu emang milik mereka” kata Sephia mengawali jawabannya. Dia menatap Budi tak kalah lekatnya.
“Benda apa, itu?” tanya Budi.
“Itu adalah kunci untuk membuka brankas elektronik mereka” jawab Sephia. Budi mengernyitkan keningnya, tanda belum mengerti.
“Aku nemu keanehan, saat aku main domino. Niatnya mau nge-cheat, tapi aku malah ngebuka sebuah proteksi”
“Proteksi?”
“Ya. Ada akun yang punya deposit sampai puluhan juta, tapi sebelum aku nge-cheat, keliatannya cuman ratusan ribu”
“Wow”
“Dan dia main setiap hari dengan deposit selalu di angka dua digit. Pernah sampai tiga digit, “
“Ratusan juta?” potong Budi.
“Ya” jawab Sephia.
“Makanya aku curiga. Setelah aku telusuri, ternyata dia juga main slot. Kalo taruhan, nggak main-main. Dia bisa habiskan ratusan juta sekali main. Seperti sebelumnya, dia juga dilindungi peroteksi yang sama. Di tampilan biasa, saldo dia cuman ratusan ribu” lanjut Sephia.
“Hem. Menarik” komentar Budi.
“Dan itu juga tiap hari, mas. Seminggu aku perhatiin, dia pasti habiskan ratusan juta buat modal. Nggak peduli uang segitu abis semua” lanjut Sephia lagi.
“Terus?” tanya Budi.
“Ya aku telusuri lagi. Penasaran banget aku, sama orang ini” jawab Sephia.
Dia mengetikkan sekian baris perintah, lalu muncullah tampilan sebuah website judi online.
“Ternyata di situs ini, ada halaman tersembunyi” lanjut Sephia.
Dia menunjukkan tampilan jika sebuah icon dia klik. Lalu dia mengetikkan lagi sekian kata perintah. Kemudian, saat salah satu icon dia klik, muncullah tampilan yang berbeda dari sebelumnya.
“Loh iya” komentar Budi.
__ADS_1
“Ternyata ini adalah jalan masuk untuk brankas elektronik. Cara aman untuk menyimpan duit, kalau tidak mau terdeteksi perbankan, dan saat penyimpaan fisik juga mengalami hambatan” kata Sephia.
“Awalannya, gimana?” tanya Budi.
“Awalannya, top up saldo untuk main judi. Akun terdaftar, akan terproteksi. Jadi, sekalipun dia top up sampai ratusan juta, yang terlihat sama pemain lain, hanya ratusan ribu”
“Oke. terus?”
“Kalo untuk penyimpanan, dia akan masuk ke sini. Dia akan pilih simpan. Penyimpanan ini akan dilindungi tiga lapis sandi. Begitu juga untuk cek saldo, dan pengambilan. Termasuk juga transfer antar akun”
“Apa aja, sandinya?”
“ID, PIN, dan kode khusus dari dongle itu”
“Kaya internet banking?”
“Ya”
“Tapi nggak ada tampilan aneh, pada dongle itu”
“Ya. Karena nggak ada input pada laman ini. Kalo kita masukkan ID dan Pin, dan keduanya benar, maka laman ini akan ngirim kode ke dongle yang bersangkutan. Dari sana, nanti kode itu harus dimasukkan ke tampilan kode itu. Kalau cocok, maka akan ada laman lain”
“Laman tampilan brankas elektronik itu?”
“Ya”
“Udah pernah nyoba?” tanya Erika.
“Omong kosong” sentak Erika.
“Sandi itu, orangnya mabuk kekuasaan. Dia sangat menghindari hal-hal yang bisa membuatnya jatuh dari kekuasaannya. Saat Luki dateng nawarin pertukaran, Sandi tidak bisa menolak. Sekalipun nominalnya nggak sebanding, tapi ancaman mereka, lebih dia takuti”
“Kan camat cerbon ngelarang buat mberangus Tarantula?”
“Ya. Bukan diberangus. Cuman nyingkirin Sandi dari tarantula, dan menggantikannya dengan mas Budi”
“Cih. Rencana macem apa itu?”
“Ya rencana beneran” jawab Sephia.
Budi mengernyitkan keningnya. Dia bingung melihat ekspresi wajah Sephia. Dia nampak serius dan terkesan khawatir.
“Ok, whatever. Then?” sahut Budi.
“Aku kehilangan informasi, semenjak masuk tahanan. Tapi melihat yang ada di sini, kayaknya sesuatu yang buruk baru aja terjadi sama mereka. Dan itu melibatkan mas Budi”
Budi tidak menyahut. Dia masih menatap lekat mata Sephia. Banyak hal yang ingin dia katakan, tapi dia masih belum yakin sepenuhnya, Sephia bisa dia percaya untuk mendengarnya.
“Lalu?” tanya Budi.
“Kalo cuman mau tahu tentang rotan itu, rasanya nggak perlu sampe nyulik aku dari tahanan” jawab sephia sambil tersenyum. Budi tidak berkomentar.
__ADS_1
Sepia kembali mengetikkan sekian baris perintah pada komputernya. Dia ternyata sedang memindai kota ini. Dia mencari sesuatu yang terlihat seperti ancaman.
Dan, ketemu.
Dia melihat segerombolan orang sedang bersiap di batas barat kota ini. Dan, dari posisi yang masih cukup jauh, tampak juga gerombolan yang lebih besar. Mereka melaju cepat menggunakan motor Sport. Tidak sampai satu jam, mereka pasti akan bertemu. Dan sudah bisa ditebak, apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Siapa mereka?” tanya Budi.
Sephia mencoba meretas ponsel dari orang-orang yang bersiaga di batas kota itu. satu persatu, identitas mereka dibuka oleh Sephia.
Dan, dari sekian banyak foto yang terbuka, ada foto Zulfikar yang ikut terbuka.
Sephia memperbesar tangkapan satelitnya. Dari arah depan, tampak seseorang yang ingin dia pastikan kebenarannya. Dan memang benar, ada Zulfikar di sana. Dia tampak berdiri di atas bukit, tak jauh dari gerombolan itu.
Sebuah transmisi komunikasi yang terdeteksi, mengalihkan perhatian Sephia. Dia segera mencegat komunikasi itu. walau suaranya disamarkan menjadi suara kartun, tapi informasi yang disampaikan sangatlah berharga. Terlebih, pemotor dari kelompok yang bergerak itu, langsung mengiyakan tanpa bertanya terlebih dulu.
“Coba pindai! Siapa aja yang ada di sekitaran galeri?” pinta budi.
“Oke”
Sephia melaksanakan perintah Budi. Dan ternyata memang ada beberapa orang yang tampaknya sedang mengintai galeri.
“Coba telepon yang ini!” perintah Budi.
Budi menunjuk salah seorang yang sedang berada di lantai dua sebuah penginapan. Orang itu seperti memegang kamera DSLR dengan lensa tele. Sephia malaksanakan perintah itu. Tak perlu waktu lama, Sephia telah terhubung dengan orang itu.
“Halo” sapa orang itu.
“Gimana kondisi?”
Budi yang menanggapi sapaan pengintai itu. Suaranya telah disamarkan oleh Sephia.
“Budi sama Bejo junior, udah balik”
JEDEEERR
Bagai disambar petir, Erika terkejut bukan main. Terlebih saat Budi menatapnya tajam.
“Kondisi pengamanan, cuman empat orang, sama empat tukang. Ada satu truk terparkir, tapi nggak keliatan, apa muatannya” lanjut pengintai itu.
“Persiapan apa yang telah mereka lakukan?” Cobra mencoba mengorek informasi.
“Secara fisik, tidak ada. Dari saya datang, keempat penjaga itu cuman patroli. Dan penghuninya masih pada di dalem. Kayaknya mereka belum sadar”
“Oke. Lanjutkan!”
Kali ini Sephia yang berbicara, karena Budi masih menatap Erika tanpa bergeming. Dia putuskan saluran telepon itu.
“Mas. Kamu nuduh papaku sebagai si Bejo itu?” tanya Erika, setelah beberapa saat saling menatap.
Budi tidak menjawab pertanyaan Erika. Dia menarik Erika untuk mengikutinya menuju galeri. Semua orang bingung melihat sikap Budi.
__ADS_1
“Mas. Lepasin!” seru Erika, sambil menyentakkan tangannya, setelah melewati pintu belakang galeri. Genggaman tangan Budi terlepas dari tangannya.