
Putri sedang asyik menyantap soto di kantin bersama Madina. Dia memang suka makan soto, tapi kali ini jauh lebih awal. Itu karena dia memang tidak sarapan. Demi rasa setia kawannya kepada sahabatnya, yang mogok sarapan karena kakak sahabatnya itu masak sarapannya dibantu suaminya.
“Put” panggil Madina.
“Hem”
Putri yang sedang mengunyah, hanya menyahut singkat. Tapi matanya menatap serius ke arah sahabatnya itu. Menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir tipis tanpa polesan gincu.
“Kemarin aku lihat mas Budi jalan sama mbak Rika” kata Madina.
“Ha? Dimana?” tanya Putri agak terkejut.
“Di resepsinya Tya. Kan aku datengnya juga malem” jawab Madina.
Putri bingung harus bicara apa. Memang begitu adanya. Dia ingin mengutarakan isi hatinya, tapi dia tahu, itu pasti akan menyinggung perasaan sahabatnya.
“Serasi banget, keliatannya. Batiknya aja bisa senada gitu” kata Madina lagi.
“Eeem. Ya. nggak sengaja ketemu di sana. Ternyata mbak Rika itu masih sepupuan sama Tya”
“Oh” respon Madina pendek.
Putri semakin tak tahu harus mengatakan apa. Dia merasa kikuk dengan suasana kaku saat ini.
“Aku nggak ikut-ikutan kalo soal itu. Perkara kita baik sama dia, itu karena ada kepentingan lain juga”
“Ya. Aku tahu itu. Tapi di sisi lain, keliatan banget kalo mbak rika tuh, ngejar-ngejar mas Budi”
“Ya wajarlah. Jangankan dia. Aku aja yang adiknya, suka baper”
“Aku jadi curiga. Jangan-jangan, justru dia, dalang dari semua ini” kata Madina, tak menanggapi kelakar Putri.
“Hempf. Perasaan kamu nggak laku di pengadilan. Harus ada bukti, Madin. Jangan asal ngomong!” komentar Madin sambil tergelak.
“Iya, sih. Tapi nggak tahu kenapa, feeling aku berasa kuat banget, Put”
“Kamu mau nggak, jadi kakak aku?” tanya Putri.
Sontak Madina terkejut, dan menatap Putri dengan tatapan bingung. Dia terdiam tak langsung menjawab.
“Ah. Udah, fix. Itu sih jealous, namanya. Kamu suka kan, sama mas Budi?” tembak Putri.
“Ha?”
__ADS_1
Untuk kedua kalinya Madina terkejut. Dia merasa terjebak dengan situasi ini. Inginnya dia bilang tidak, tapi dia sendiri bingung, mengapa bibirnya tidak bisa dia gerakkan.
“Ha ha ha ha. Aku sih woles aja, kalo emang harus jadi adek kamu. Buat aku sekarang, yang penting mas Budi bisa kembali ceria. Kalo mas Budi nanti ternyata suka sama kamu, ya silakan jadian!” kata Putri.
Madina tersenyum malu. Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia tidak bisa menyembunyikan kebenaran perasaan hatinya di hadapan sahabatnya itu.
“Iya deh, Put. Kayaknya aku emang jealous” kata Madina. Putri tertawa mendengarnya.
“Abisnya kaya belum iklas aku liat mereka bubaran. Aku udah cocok banget tahu, mbak Adel dimilikin mas Budi. Dan kalo kalo nanti kebukti, bubarnya mereka karena ulah mbak Rika, sampe kiamat aku nggak bakal maafin dia. Bakal aku sumpahin seumur-umur” lanjut Madina.
“Hei hei hei. Urusan belum iklas, aku nggak komen. Aku juga sama. Tapi jangan su’udhon sama orang, apalagi nuduh! Bahaya. Udah gitu dasarnya cuman feeling, lagi. Bisa kena pasal berlapis, Din. Ngeri, ah” tegur Putri.
“Iya, Put. Sorry, terlalu sakit hati aku ngeliat mas Luki manja-manjaan sama mbak Adel”
“Jodoh itu di tangan Gusti Alloh, Din. Kaya kata ustadz aja, gampang kok bagi Alloh jodohin kita sama orang yang kita suka. Tapi kalo ternyata berjodohnya sama orang lain, berarti Gusti Alloh punya rencana lain”
“Ya, tapi kenapa gantinya nggak mutu kaya gitu, sih?”
“Ha ha ha. Ya, mungkin itu ujian buat mbak Adel”
“Terus, kalo mas Budi jadian sama mbak Rika, sampe nikah, terus kebukti mbak Rika pelaku semua ini, apa itu juga ujian?”
Putri terdiam.
Tapi bagaimanapun juga, dia sudah kapok untuk menuduh tanpa bukti. Dia tidak mau merasakan perasaan bersalah dan malu, karena ikut-ikutan tidak suka terhadap Stevani. Dan belakangan terbukti kalau Stevani tidak bersalah.
“Mungkin” jawab Putri pendek. Jawaban itu membuat Madina mengernyitkan keningnya.
“Din, kita ini cuman wayang. Kita nggak bisa nolak kehendak Tuhan. Fir’aun aja, yang udah jelas-jelas menuhankan dirinya, berhubung Gusti Alloh berkehendak, masih dikasih lho, kesempatan bertobat. Apalagi manusia akhir zaman macam kita-kita” lanjut Putri. Madina semakin tak mengerti.
“Kalo emang mas Budi nikah sama mbak Rika, dan mbak Rika beneran seperti apa yang kamu bilang, “
“Kamu mau bilang kalo mas Budi itu adalah orang yang dikirim Alloh buat nobatin dia?” potong Madina.
“Ya” jawab Putri singkat.
“Ha?”
“Itu juga kalo mereka sampe nikah. Kalo enggak? Ya udah, lah! Ngapain juga dipikir?”
“Oh. Iya juga, sih”
“Udah! Buruan abisin! Katanya mau belajar buat masuk kampus”
__ADS_1
“Iya” jawab Madina.
Di pabrik, Budi sedang serius menjelaskan ide barunya kepada Erika. Dia menyampaikan idenya kepada Erika dalam kapasitas Erika sebagai sekretaris bos besar pabrik ini.
Di jalur anyaman, Budi menjelaskan pemanfaatan lahan yang masih cukup luas itu untuk membangun minimal satu jalur baru. Bukan untuk anyaman rotan, melainkan untuk produksi masker. Seperti di jerman, dia menduga penggunaan masker akan segera melonjak tajam.
Erika mendengarkan dengan serius. Dia merasa seperti sedang mendengarkan omongan seorang peramal yang menjabarkan ramalannya di masa depan.
Itu karena Budi memaparkan idenya dalam beberapa grade yang berbeda. Dari masker medis, masker kain, sampai dia terpikirkan untuk membuat masker serupa medis tapi dengan kualitas di bawahnya, untuk menekan harga jual. Tapi tergantung dari regulasi yang berlaku.
Mendengar kata regulasi, Erika seperti terpantik. Ada banyak hal mengenai legalitas yang harus dia kerjakan, jika ide dari Budi itu disetujui oleh bos besar.
“Mas. Entar makan siang bareng, ya? Aku traktir. Bonus ekspo udah turun” ajak Erika.
Tapi Budi tak langsung menjawab. Dia tidak begitu memperhatikan ajakan Erika. Pikirannya justru terpaku pada sapaan di awal kalimat.
“Hei. Kok malah bengong?” tegur Erika.
“Mbak Rika tadi manggil aku apa?” tanya Budi.
“Mas” jawab Erika.
“Salah, ya?” lanjutnya.
Budi tergelak melihat raut wajah Erika. Tidak pernah terlintas di pikirannya, kalau Erika yang terkenal galak, akan memasang wajah imut seperti itu.
“Ini aku bicara dalam kapasitas sebagai temen kamu” kata Erika. Budi menaruh perhatian.
“Semenjak ketemu sama ibu, rasanya kok nggak sopan manggil kamu cuman pake sebutan nama. Sedangkan kamu manggil aku pake sebutan, mbak. Ya, paling enggak aku manggil kamu juga dengan sebutan, mas” lanjut Erika. Budi tersenyum lebar.
“Jangan bikin aku baper, deh! Sakit yang kemarin belum sembuh, nih” komentar Budi.
“Gimana kamu bisa sembuh kalo kamu menutup diri?” tanya Erika.
Budi terkesiap. Pertanyaan yang sangat berbobot untuk dipertimbangkan. Budi teringat saat dia di rumah sakit. Tanpa dokter, tanpa perawat, dan tanpa keluarganya, bagaimana dia bisa sembuh? Pun sekarang, memang tidak butuh dokter. Tapi menyembuhkan hati tanpa bantuan orang lain, akan jadi pertanyaan juga, kapan sembuhnya?
“Oke. Pake motor, ya?” kata Budi, menjawab ajakan makan siang tadi. Erika tersenyum senang.
“Tapi jangan nyesel, kalo aku kelepasan baper! Lagi galau begini, malah diajak berduaan” lanjut Budi. senyum Erika semakin mengembang.
“Aku nggak bakal nyesel” jawab Erika.
Mereka saling melempar senyum. Hati Erika sedang berbunga-bunga. Dia tetap tersenyum walau perjumpaan mereka harus berakhir karena pekerjaan. Dia tetap di tempatnya, menatap punggung Budi yang berlalu pergi karena dipanggil Aldo.
__ADS_1
Senengnya bisa manggil kamu, mas. Dan kamu nggak marah aku panggil begitu. Rasanya makin nggak sabar aja buat jadi istri kamu. Nggak usah lama-lama, mas! Aku rela walaupun separuh hatimu masih menyimpan namanya. Akan aku buat kamu nyaman sama aku, sampai kamu ikhlas buat ngelupain dia.