Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
mengantar erika pulang


__ADS_3

“Budi ke belakang bentar ya, bu?” ijin Budi, sesampainya di cafe itu.


“Biar muat banyak?” tanya Putri.


“He he” Budi tergelak disindir adiknya.


“Ya udah, sana!” jawab bu Ratih.


“Jangan lama-lama!” sahut Putri.


“Busyet, deh. Emang mau ngapain, Putri?” seru Budi.


“Halah, kaya nggak biasanya aja” jawab Putri.


“Emang biasanya mas Budi ngapain, Put?” tanya Erika.


“Hempf” Putri tergelak.


“Slepet, nih” ancam Budi bercanda.


Dia tarik telunjuk kanannya dengan telunjuk kirinya, dan dia arahkan ke Putri.


“Ha ha ha” Putri tertawa melihat tingkah kakaknya.


“Udah, udah. Sana!” tukas bu Ratih.


Budipun berjalan menuju toilet diiringi tawa Putri. Membuat Erika geleng-geleng kepala. Dia baru tahu, kalau Putri bisa juga bercanda dengan candaan yang menyerempet ke obrolan dewasa. Tak lama kemudian, minuman dan cemilan dihidangkan, sebagai pembuka.


“Mbak Rika” panggil bu Ratih, lembut.


“Iya, bu” jawab Erika.


“Terimakasih, ya. Selama di sana, mbak Rika selalu bantuin Budi. Terutama di saat Budi menjalani masa-masa sulit. Ibu merasa sangat terbantu dengan kehadiran mbak Erika” kata bu Ratih.


“Oh. Nggak perlu berterimakasih sama Rika, bu. Semua ini, Tuhan yang atur” jawab Erika.


Bu Ratih tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.


“Semua cewek pasti mau membantu Budi. Cuman mereka pada takut sama Rika. Jadinya, Rika yang selalu dapet kesempatan” lanjut Erika sambil tersenyum.


“Ya. Bagaimanapun juga, ibu sangat berterimakasih sama mbak Rika”


“Sama-sama, bu” jawab Erika.


“Putri juga ngucapin makasih, mbak. Mbak Rika udah sudi menggunakan previlage yang mbak Rika punya buat nyemangatin mas Budi. Putri jadi pengen ke pasar yang itu” kata Putri.


“Pasar mana? Oh. Pasar tradisional itu?”


“Iya. Lengkap banget kayaknya”


“Emang lengkap. Aku doain, mudah-mudahan Putri bisa keliling dunia. Nggak cuman ke pasar itu” kata Erika.


“Amin” kata putri dan bu Ratih kompak.


“Eh tapi, mbak. Emang nggak takut baper, apa? kalo ujung-ujungnya cinlok, gimana?” tanya Putri.


“Putri!” tegur bu Ratih.


“E eh. Maaf, mbak. Bercanda doang. Jangan masukin hati, ya!” kata Putri meralat perkataannya.


“Nggak papa. Aku malah seneng kalo Putri mau ngobrol rileks gini. Rata-rata pada takut sama aku. Apa lagi temen kantor. Hampir semua bilang aku galak. Makanya kalo ngobrol, ya sekedarnya aja. Cuman kang masmu tuh, yang kebal. Pinter banget dia, counter attacknya. Jadi berasa rileks gitu. Nyaman lah, kalo ngobrol sama dia tuh” jawab Erika.


“Cie, cie. Cinta itu berawal dari nyaman lho, mbak”


“Ya nggak secepet itu juga, Putri. Kamu sendiri nerima Zul setelah PDKT berapa bulan, hayo?” seru bu Ratih.


“Ya beda lah, bu. Putri sih, banyak yang nyetanin. Makanya banyak pertimbangannya. Kalo mas Budi sama mbak Rika kan, sekantor. Udah saling memahami, lah” jawab Putri.


“Kok malah jadi kamu yang ngebet, sih?” tanya bu Ratih.


“Ha ha ha ha. Abisnya, sedih tahu bu, liat mas Budi drop terus kaya kemarin. Biarpun kata orang kecepetan, tapi kalo itu bisa bikin mas Budi semangat lagi, why not? Ya kan?”


“Yang dipikirin tuh bukan mas Budinya, Putri. Tapi mbak Rikanya. Emangnya kang masmu sesempurna itu, main diterima aja?” seru bu Ratih.


“Ha ha ha. Iya juga, sih” jawab Putri sambil tertawa.


Erika juga tertawa. Dia juga baru tahu, kalau bu Ratih bisa menyatu juga dengan obrolan anak muda. Seperti bisa menyesuaikan siapa yang menjadi lawan bicaranya.


“Kalo misal beneran cinlok, emang Putri nggak marah?” tanya Erika.


Sontak tawa Putri berhenti seketika. Dia menatap wajah Erika beberapa saat, lalu tersenyum.


“Kenapa harus marah? Kalo mas Budinya juga suka sama mbak Rika, ya silakan aja. Toh yang lalu sudah berlalu” jawab Putri.


Erika tersenyum senang mendapat jawaban positif dari adiknya Budi. Terlebih disaat dia menoleh ke arah bu Ratih, dia juga mendapatkan senyum sumringah dari ibunya Budi itu.


“Nggak haram kan, buat mas Budi nyari kebahagiaannya sendiri?” tanya Putri. Pertanyaan yang sangat dalam menurut Erika.


“Halal, dong” jawab Erika mantap.


“Itu” komentar Putri.


Tak lama kemudian, Budi kembali dari toilet. Godaan dan candaan Putri kembali meramaikan suasana. Tentu saja Budi menolak semua godaan Putri. Sekian alasan dia keluarkan untuk melawan godaannya Putri. Erika hanya tertawa saja. Dan merekapun memulai acara makan siangnya.

__ADS_1


Selama acara makan siang, Budi beberapa kali mengeluh kepanasan. Kontan saja keluhan itu membuat Erika tertawa. Baru sebulan saja di eropa, sudah merasakan kepanasan saat kembali ke Indonesia. Putri jadi punya bahan untuk menggoda kakaknya lagi. Dan selama makan, mereka hampir tidak berhenti saling menggoda. Bahkan disaat acara makan siang sudah selesai mereka lakukan.


“Mau nambah, mbak Rika?” tanya bu Ratih.


“Sudah bu, terimakasih. Sudah kenyang” jawab Erika.


“Uuuh, perut udah kenyang, anginnya semilir begini, alamat ngantuk deh, bentar lagi” komentar Budi.


“Iya, bener. Ketemu kasur, pasti langsung merem” sahut Erika.


“Pengen rebahan?” tanya Budi.


“Sini!” lanjutnya, sambil menepuk-nepuk paha kirinya.


“Jangan mau, mbak! Belum suci. Pasti bau-bau apa, gitu” seru Putri.


“Bau apa? Hayo, udah pernah nyium, ya?” sergah Budi.


“Putri!” tegur bu Ratih.


“Kayaknya si panjul perlu aku interogasi, deh” kata Budi.


“Zulfikaaaar” seru Putri sambil mencubit lengan Budi.


“Sakit, Put” keluh Budi.


“Biarin. Nyebut nama orang sembarangan”


Erika tertawa melihat tingkah kakak beradik itu. Dia merasa rindu dengan kehangatan keluarga seperti ini.


“Nuwun sewu mbak Rika, mohon maaf. Ini, acara makan siangnya kan sudah selesai. Bukannya ngusir. Tapi kalau mbak Rika pengen istirahat, kami tidak menahan” kata bu Lusi.


“Kita tuh, siapa bu?” tanya Budi.


“Ya kita, lah. Siapa lagi” jawab bu Ratih agak bingung.


“Aku enggak. Aku mau nahan dia. Sepi kalo nggak ada dia” kata Budi. sontak suasana berubah menjadi kaku.


“Kita bawa pulang aja, yuk!” kelakar Budi sambil tertawa.


“Woooo. Sembarangan. Mas pikir souvenir, dibawa pulang?” seru Putri rame.


“Ha ha ha ha”


Budi tertawa lagi. Bu Ratih menghela nafas lega. Dia sudah memikirkan sesuatu yang buruk. Erika ikut tertawa dan memukul manja pundak Budi.


“Tapi memang bener sih, bu. Rika pengen pulang, pengen rebahan” kata Erika.


“Anterin, mas Bud!” pinta Putri.


“Dih. Ibu biar di sini dulu, mas. Panas, tuh” kilah Putri.


“Terus, siapa yang jadi saksinya?” tanya Budi.


“Kok saksi segala? Mau ngapain, emang?” Putri malah balik bertanya.


“Mau nemuin penghulu” jawab Budi sambil cengengesan. Tapi saat dia menoleh ke kiri,


“Aduh. SP, nih” gumam Budi.


Dia bertingkah seperti orang yang takut, karena melihat mata Erika yang melotot seperti orang yang marah besar.


“Hempf”


Tapi melihat ekspresi Budi, sontak Erika tergelak dan tertawa lepas. Putri yang semula juga takut, kini dia menghela nafas lega. Ternyata Erika hanya bersandiwara.


“Anterin, ngger! ibu tunggu di sini” perintah bu Ratih.


“Nggeh, bu” jawab Budi.


Budipun berdiri untuk mengantarkan Erika. Sedangkan Erika berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada bu Ratih atas jamuan makan siangnya. Bu Ratihpun menyampaikan harapannya, agar Erika tidak kapok berteman dengan Budi.


Budipun mengantar Erika pulang. Dilihat sekilas, seperti pasangan yang baru saja pulang camping. Beberapa orang yang mengenali motor Budi, sampai memutar Badan, saat melihat motor itu membonceng wanita lain.


Sampai di depan rumah Erika, Budi masih tampak bingung. Halaman rumah itu terlihat kotor oleh dedaunan. Juga debu yang cukup tebal menempel di lantai keramik teras rumah itu. Seperti sama sekali tak dijamah manusia dalam waktu yang cukup lama.


Seseorang datang memberikan sebuah kunci kepada Erika. Dan menyampaikan pesan bahwa orang tua Erika pergi ke manado, sampai batas waktu yang belum ditentukan.


Budi sampai tertegun mendengar penuturan tetangga Erika tadi. Semudah itukah orang tua meninggalkan anaknya sendirian di rumah? Dirinya saja, yang notabene laki-laki, masih diperhatikan terus oleh ibunya.


“Mbak. Sapumu mana?” tanya Budi. Erika tersentak dari lamunannya.


“Sapu? Buat apa?” tanya Erika.


“Itu” jawab Budi sambil menunjuk halaman rumah Erika.


“Kamu tuh, ada-ada aja” komentar Erika.


Tapi Budi tidak mengindahkan komentar itu. saat dia melihat sapu ijuk di pojokan, dia langsung pergi mengambilnya. Dia sapu lantai teras rumah Erika.


“Eh, Bud. Nggak usah. Biar aku aja, entar” kata Erika. Dia hendak merebut sapu di tangan Budi.


“Tanggung. Dikit lagi” tolak Budi.

__ADS_1


Dia meneruskan sampai lantai teras itu bersih dari debu.


“Dah. Itu aja, kok. Udah sah jadi rumah mbak Rika” kata Budi.


“Emang tadi rumahnya siapa?” tanya Erika bingung.


“Mak lampir. Ha ha ha” jawab Budi sambil tertawa. Kontan Erika berkacak pinggang.


“Abisnya, tebel banget debunya. Horor aku, ngeliatnya” lanjut Budi. Erikapun ikut tertawa.


“Bisa aja sih kamu, bikin baper. Nggak aneh kalo Ratna suka sama kamu” komentar Erika.


“Ratna?”


“Iya. Buat apa coba protes mulu sama aku, kalo dia nggak suka sama kamu?”


“Akulah Arjuna, aaaaaa” budi bernyanyi lagunya dewa sembilan belas. Erika tergelak.


“Kamu siapa?” lanjut Budi.


“Suek” sahut Erika.


“Ha ha ha”


“Masuk, yuk!” Ajak Erika.


“Nggak, ah. Horor. Digrebek pak RT, beneran mampir KUA”


“Siapa takut? Berani, nggak?”


“Hiyaaa.... dikata ngurus surat nggak pake duit. Modalnya belum ngumpul, Erik Tohir”


“ERIKAAA” seru Erika meralat Budi.


“ADOOW. Iya, Erika” seru Budi kesakitan, kakinya kena injak kaki Erika, plus sepatunya.


“Aduuh. Belum apa-apa udah KDRT lu. Gimana malam pertama? Renov langsung, besoknya”


“Ha ha ha ha?” Erika tertawa geli mendengar kelakar Budi.


“Ya udah. Aku balik, ya?” pamit Budi.


“Beneran nggak masuk dulu?”


“Entar aja, malem jumat. Aku yang jaga lilin, kamu yang ngider”


“BUDIII”


“ADOOOW”


Budi sampai memekik kencang saking kencangnya cubitan Erika.


“Sakit, mbak. Dikata moci, apa?”


“Bodo” jawab Erika pura-pura merajuk.


“Ooh” komentar Budi pendek sambil tersenyum.


“Kenapa?” tanya Erika masih pura-pura galak.


“Tetep cantik, lho” gumam Budi.


“Kayaknya ibu dulu kaya gini, mudanya. Galak-galak soang. Keliatannya aja suka matuk. Tapi aslinya baik. Mana masih cantik lagi, marah juga. Masa nasib kita sama, pak? Dapet yang model begini? Ngasih warisan tuh duit, masa nasib?” lanjut Budi.


“Hempf” Erika tergelak menahan tawa. Budi menoleh.


“Ha ha ha ha ha”


Pecah juga tawa yang sedari tadi ditahan. Gerutuan Budi terlalu lucu untuk bisa dia tahan. Terlebih pada perumpamaan galak-galak soang. Biasanyakan jinak-jinak merpati.


“Ya udah. Aku pulang dulu, ya?” pamit Budi.


“Iya. Hati-hati, ya! Jangan galau lagi!” sahut Erika.


Budi terkesiap mendengar kata galau. Erika jadi salah tingkah, dan menyesal telah mengatakan kata itu.


“Iya” jawab Budi singkat.


“Kalo butuh temen ngobrol, tempat berbagi kepenatan, kamu bisa datang ke sini” kata Erika.


“Aku sih kalo galau, biasanya menjelang tengah malam” jawab Budi.


“Kamu liat, kan? Aku cuman sendirian” kata Erika sambil mengacungkan kunci rumahnya.


“Sekalian bawa lilin juga boleh” lanjutnya.


“Hempf” Budi tergelak mendengar lanjutan itu.


“Ya udah. Assalamu’alaikum” pamit Budi.


“Wa’alaikum salam” jawab Erika.


Budipun pergi meninggalkan rumah Erika. Dia kembali ke cafe tadi untuk menjemput ibunya. Dan bersama-sama, mereka pulang ke rumah tercinta.

__ADS_1


****


buat kakak-kakak pembaca setiaku, jangan ngasih batu bata ke author ya! tenang, masih berlanjut kok. kalau mau tahu siapa dalangnya dan kenapa begitu, ikuti terus ya


__ADS_2