
Pagi ini, Adel sudah bersiap-siap. Walau hanya memakai kaos, celana jeans tiga per empat, dan sepatu kets, tapi Adel terlihat sangat cantik. Polesan wajahnya tipis natural. Tapi memancarkan aura semangat pada setiap orang yang memandang.
“Kencan kemana, sih?”
“Haa”
Adel terkejut mendengar teguran itu. Dia yang sedang membungkuk menalikan tali sepatunya tidak meihat kalau ada orang yang datang mendekatinya.
“Ibu. Bikin kaget aja” komentar Adel.
“Ha ha. Kirain udah denger suara kaki ibu” sahut bu Lusi.
“Sarapan dulu! Nih bubur ayam” lanjut bu Lusi.
“Alhamdulillah. Baru juga mau bilang, bu. Makasih ya, bu” jawab Adel.
“Loh, mau dimakan di mana?” tanya bu Lusi bingung.
“Di depan aja. Kali aja mas Budi terus dateng. Udah mau jam tujuh, bu”
“Hem. Anak muda. Masih pagi udah ngajak pergi” komentar bu Lusi.
“Ha ha ha. Kalo siang panas, bu” jawab Adel sambil berlalu.
Madina yang hendak ke dapur, geleng-geleng kepala mendengar percakapan kakak dan ibunya. Sontak Adel tertawa lagi.
Hawa semilir cenderung dingin di teras depan, membuat bubur ayam yang masih mengepul itu terasa nikmat di mulut Adel. Belum juga habis, Budi sudah keburu datang. Adel terpana melihat penampilan Budi kali ini.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi.
Tapi Adel tidak langsung menjawab. Dia masih terpana dengan penampilan Budi pagi ini. Sederhana memang. Kemeja putih lengan Panjang yang digulung ke atas siku, celana jeans biru, dan sepatu sport. Dengan ukuran yang fit dengan tubuh, Budi terlihat seperti eksekutif muda.
“Assalamu’alaikum” kata Budi mengulangi salamnya.
“Eh, ee. Wa, wa’alaikum salam” jawab Adel tergagap. Budi tergelak melihat Adel salah tingkah.
“Kenapa, Ta?” tanya Budi saat Adel menyalaminya.
Lagi-lagi Adel tidak menjawab. Dia malah menyebar pandangannya dari ujung rambut Budi sampai alas sepatu sport itu. Bu Lusi yang hendak keluar rumah, terhenti karenanya. Dia tersenyum melihat putri sulungnya mengagumi penampilan lelaki di depannya.
“Ehm”
“Ah”
Suara deheman bu Lusi sukses menyentakkan keterpukauan Adel. Dia jadi semakin salah tingkah, menyadari dirinya tertangkap basah bengong oleh ibunya.
“Bu Lusi” sapa Budi. Dia salami dan cium tangan bu Lusi.
“Kamu mau ngedate apa mau ketemu investor, Bud?” goda bu Lusi.
“He he. Salah kostum ya, Bu?” sahut Budi juga salah tingkah.
“Enggak salah kok. Nilai plus malah, buat kamu. Liat kan, Adel aja sampe bengong gitu?” jawab bu Lusi. Pipi Adel bersemu merah karena malu.
“He he. Iya, bu. Makasih” kata Budi.
__ADS_1
“Abisin dulu sarapannya!” pinta bu Lusi.
“Oh. Iya, bu” jawab Adel tergagap.
“Ibu mau ke rumah simbah dulu. Kalo entar pulang rumah masih kekunci, ke rumah simbah aja” kata bu Lusi lagi.
“Oh. Iya, bu”
“Jaga anak ibu, ya! jangan sampe lecet! Apalagi,” bu Lusi tidak meneruskan kalimatnya.
“Ibu?” tegur Adel.
Gerakan tangan bu Lusi membentuk gembungan di depan perutnya seolah menjadi tuduhan baginya.
“Ha ha ha. Iya, ibu percaya, kok” kata bu Lusi sambil berlalu pergi.
Tinggallah Adel dan Budi berdua di teras dengan perasaan kikuk. Adel masih salah tingkah, seperti baru pertama dikunjungi lelaki.
“Duduk dulu, mas! Eeeh, Bram” kata Adel mempersilakan duduk, tapi salah ucap. Sontak Budi tertawa.
Adel membawa buburnya yang belum habis itu ke dalam rumah. Dia habiskan memang, di dapur. Masih dengan salah tingkah, dia ke atas mengambil tas slempangnya. Teman setia saat bepergian.
“Ayo, mas! Eeeh, Bram” kata Adel mengajak pergi, tapi salah sebut lagi.
“Segitunya kamu gugup, Ta?” tanya Budi. Dia usap-usap kepala Adel.
“He he. Enggak tahu. Udah hayu” ajaknya lagi.
Budi hanya tertawa saja melihat tingkah laku kekasihnya itu. Di dalam hati dia bangga, penampilannya sanggup menghipnotis perhatian Adel. Bahkan sampai salah tingkah begitu. Berangkatlah meraka menuju pantai watu karung.
Dia masih terdiam sampai motor merah di depannya itu menghilang di belokan.
Hawa pantai langsung terasa meski masih beberapa puluh meter lagi. Adel membentangkan tangannya ke atas sambil menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
“Birune segoro kutho pacitan” celetuk Budi mendendangkan sepenggal kalimat sebuah lagu.
“Nggak nyambung, Abram” sahuut Adel sambil mencubit kecil pinggang Budi.
“Nyimpen janjimu sprene ra biso ilang” lanjut Budi sambil tersenyum geli.
“Nekad” komentar Adel. Budi tergelak.
“Birune segoro kutho pacitan” lanjut Budi lagi.
“Pantai opo?”
“Watu karung, seng nyimpen sewu kenangan”
“Sarap” komentar Adel.
“Ha ha ha ha” Budi tak kuat lagi menahan tawanya.
“Hoouuooo”
Meraka saling meledek di sepanjang jalan menuju pintu masuk pantai. Budi mengajak Adel menyusuri jalan aspal pantai itu dari ujung satu hingga ke ujung satunya.
__ADS_1
Adel menunjuk beberapa stand jualan yang menjual pakaian, sandal, dan makanan unik. Budi malah menunjuk sebuah resort. Sontak pundaknya mendapat tabokan dari Adel. Bagi Adel, itu artinya kode ajakan untuk berbuat nakal. Sampailah di ujung aspal, Budi mentraktir Adel es kelapa muda. Pastinya, Adel senang mendapat traktiran itu. Mereka menikmati kelapa muda itu di pinggir jalan.
“Ta” panggil Budi.
“Hem” jawab Adel. Mulutnya sedang sibuk mengunyah.
“Menurut Tata, apa yang belum ada di sepanjang jalan tadi?”
“Hem? Yang belum ada?”
“Heeh”
“Eem. Apa, ya?” adel tampak berpikir dan mengingat-ingat.
“Serba ada sih kalo menurut Tata, Bram. Tapi, “
“Tapi apa?”
“Itu semua pernak-pernik dan marchendisenya dari luar. Yang produksi lokal paling kaos dan kawan-kawan” jawab Adel.
“Emang kenapa, Bram?” tanya Adel tak mengerti.
“Yap. Belum ada hasta karya yang benar-benar mencirikan lokasi wisata ini” kata Budi.
“Papan surfing?”
“Ya. sejauh ini, baru itu yang Abram liat”
“Terus, Abram mau bikin lukisan, gitu? Emang bisa ngelukis?” goda Adel. Budi tersenyum. Dengan gemas dia mengacak-acak rambut Adel.
“Mas Budi Utomo?”
Perhatian mereka tersita oleh sebuah panggilan dari belakang. Sontak mereka menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, sepantaran Adel, berdiri di sebelah Budi. Mereka berduapun berdiri.
“Iya, saya sendiri” jawab Budi.
“Saya Mutia, anaknya pak Ahmad” kata wanita itu.
“Oh. Loh, pak Ahmadnya mana?” sahut Budi.
“Ada mas, di rumah. Bapak lagi nggak bisa jalan” jawab Mutia.
“Loh. Jadi ceritanya ini, ?”
“Iya, mas. Buat berobat bapak”
“Oh”
“Saya ditugasi bapak untuk mengantarkan mas Budi melihat-lihat lokasinya. Besar harapan kami, mas Budi cocok dengan lokasinya” kata Mutia.
“Lokasi apa, mas?” sela Adel.
“Ikut aja, yuk!” ajak Budi.
“Silakan ikuti saya, mas, mbak!” kata Mutia dengan sopannya.
__ADS_1
Adel hanya mengangguk saja, karena masih bingung. Dia mengikut saja saat Budi memintanya untuk naik ke atas motor.