Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pelanggan pertama budi


__ADS_3

“Wow, kang. Cepet banget?” komentar Budi.


Adel yang telah sampai bawah terlebih dahulu, sampai menoleh mendengar komentar itu. Biasanya orang akan kagum dengan pekerjaan seseorang yang selesai lebih cepat dari jadwal. Ini si Budi malah seperti ingin protes.


“Nggak ada yang kelewat kan, step-stepnya?” lanjut Budi.


“Nggak ada, bos. Urusan mebel sih, serahin sama si Bejo” jawab kang Supri.


Adel masih belum mengerti dengan kata-kata Budi. Dia ikut memperhatikan apa yang Budi perhatikan. Setiap detil dari rangka kursi itu dia ukur kembali. Termasuk dengan ukiran kepala naga yang sudah jadi, walau belum dipasang.


Tiga rangka lain di dekat rangka panjang itu juga ikut diperiksa Budi. Tak lain adalah rangka untuk dua kursi lain dalam satu set, beserta rangka mejanya. Kang Bejo dan kang Mangil sempat berkasak-kusuk di belakang Budi.


Kang Sukron yang sedang mengebut pengerjaan dinding bangunan, sempat berseru, mencandai keduanya. Walau tahu, Adel membiarkan saja. Karena dia juga ingin mendengar sendiri apa komentar Budi.


“Good” komentar Budi, setelah selesai memeriksa. Kang mangil tergelak.


“Jangan tersinggung ya, kang! Cuman mastiin aja” lanjut Budi.


“Iya, bos. Ngerti kok” jawab kang Supri.


“Kita paham kok sama yang dimaksud juragan. Kita bisa cepet karena udah biasa. Tapi ini sebuah prestasi baru buat kita, bisa lolos inspeksi juragan” sambung kang Bejo.


“Alhamdulillah. Makasih ya, Kang”


“Jadi gimana nih, gan? Kita boleh pamit?” tanya kang Mangil.


Bang bang wes rahino, bang bang wes rahino


Ponsel Adel berdering, mengejutkan semua orang. Dan ternyata itu telepon dari salah satu pemilik resort di tepi pantai. Dari raut wajah Adel, tampaknya orang itu menyampaikan kabar gembira buat mereka.


“Kang, lembur, ya! Ada calon pelanggan pertama kita mau visit” seru Adel.


“Visit itu apa?” tanya kang mangil.


“Kunjungan, Mangil” jawab kang Bejo setengah meledek.


“Oh. Visit itu kunjungan. Aku tahunya visit itu disidak guru BP” kilah kang Mangil.


“Makanya jangan badung” sahut kang Bejo lagi.


“Lah, kaya kamu enggak aja” kilah kang Mangil.


“Udah, udah! Mau pa enggak nih?” tanya kang Supri.


“Kalo ketemu bule, ya kenapa enggak” jawab kang Mangil.


“Emang bisa ngomongnya?” ledek kang Bejo.


“Do you like iplik-iplik?” kata kang Mangil mencontohkan.


“Iplik-iplik?” gumam Budi bingung.


“Ha ha ha ha. Suek. Dasar otak mesum” komentar kang Bejo sambil tergelak.


“Oke, gan. Siap. Kasih praktek sekalian gan! Kalo ada yang cantik, kasih saya, ya!” kata kang Mangil.


“Huuu”sorak yang lain.

__ADS_1


Selepas maghrib, pemilik Resort yang tadi menelepon Adel, menelepon lagi. dia memberitahukan kalau tamu-tamu itu sudah berangkat menuju bengkel kayu Budi.


Adel langsung mengajak semuanya untuk bersiap-siap. Termasuk meminta kang Sukron untuk merapikan material yang masih belum dipakai. Adel mengutak-atik komputer di kasir. Dia mengatur deretan lampu LED di tangga depan untuk membuat tarian-tarian cahaya yang indah.


Tamu-tamu itu langsung terpukau saat menginjakkan kaki ke halaman depan bengkel kayu Budi. Tarian cahaya itu juga sempat membentuk tulisan welcome. Alih-alih langsung menghampiri Adel dan Budi, mereka malah asyik menikmati kerlap-kerlip lampu LED itu. Bisa dimaklumi, anak-anak memang suka penasaran dengan hal-hal baru.


“Good evening” sapa salah satu tamu itu.


“Good evening. Welcome to Budi Utomo’s gallery. I’m Adel, “


“And i’m Natasya” potong anak kecil perempuan yang tadi terpukau dengan lampu LED di tangga. Dia mengacungkan tangannya.


“Nah, loh. Punya saingan, si Sephia” celetuk Budi.


“Ha ha ha. Hallo Natasya. Nice to meet you” Adel menerima uluran itu. Mereka bersalaman.


“I’m Igor” anak kecil laki-laki di sebelahnya ikut mengacungkan tangannya. Dia berusia sekitar empat tahunan. Mungkin lebih muda setahun atau dua tahun dari Natasya.


“Igor, Russian hero” sahut Adel. Dia gantian menyalami si anak laki-laki ini.


“Who is this guy?” tanya anak laki-laki itu sambil menunjuk Budi.


“Igor. Don’t speak like that!” tegur seorang laki-laki dewasa.


“Ha ha ha. It’s ok. No problem” sahut Budi.


“I’m Budi. Indonesian Hero” kata Budi kepada anak laki-laki itu sambil berlutut satu kaki di depan anak itu.


“I’m black widow” kata si anak perempuan.


“Natasya Romanov” seru Adel dilanjut gelak tawanya bersama orang tua si bocil.


“He is our president, not you” seru si Igor. Sontak Budi tertawa sampai terjengkang ke belakang.


“Forgive us, mister Budi!” kata bapaknya si Igor.


“No no no. I’m sorry. I laugh too much” jawab Budi.


“Please!” kata Adel mempersilakan. Mereka berjalan mengikuti Adel.


“Hei, Igor. Is he mister Kadirov?” tanya Budi pada si anak laki-laki itu.


“No. He is Dimitry, my Dady” jawab Igor.


“Oh, super hero’s dady, ha” komentar Budi. Mereka semuapun tertawa.


“And she is, “ lanjut Igor


“Maria Sarapova” Budi memotong omongan Igor.


“NOOOO” sontak si Igor memekik.


“She is my mom, Katya” lanjutnya.


Budi tertawa, merasa sukses mengerjai si bocil imut itu. Dia gendong bocah itu untuk menaiki tangga. Tapi si Igor meminta untuk turun. Dia lebih tertarik untuk berjalan sendiri menapaki satu demi satu anak tangga yang penuh cahaya itu.


Di dalam galeri, Igor menjadi orang pertama yang terkagum-kagum. Karena dia langsung berlari masuk bahkan saat semuanya masih berada di tangga.

__ADS_1


Tapi begitu masuk, dia malah tertegun dan berputar-putar. Matanya kemana-mana. Tak hanya Igor, Natasya dan kedua orang tuanya juga ikut kagum.


Desain lantai yang baru pertama kali mereka lihat. Pun juga dengan dinding gedhek yang belum pernah mereka jumpai di negaranya. Alih-alih langsung berbelanja, Katya justru lebih banyak bertanya tentang kebudayaan. Tentang kerajinan tangan, seni, dan yang berkaitan dengannya.


Dengan antusias Adel menjawab semua pertanyaan Katya maupun Dimitri. Sedangkan Budi, sibuk bercanda dengan Igor dan kakaknya.


Merekapun semakin kagum saat melihat ke area bengkel kayunya. Katya merasa tidak percaya saat melihat bangunan bengkel kayu yang bahkan belum selesai dibangun.


Dengan kondisi seadanya saja Budi sudah bisa menghasilkan karya yang unik dan berbeda, apalagi kalau sudah sempurna, pasti akan lebih spektakuler lagi. Begitu komentar Katya.


Mereka sempat bingung melihat beberapa potongan patung yang tergeletak di sudut ruangan. Ada kepala, ada tangan, ada yang bersisik, tapi belum jelas bentuk jadinya.


Budi menjelaskan kalau itu calon maha karya dari bengkel kayu ini. Yang akan diikut sertakan dalam pameran. Dimitri tampak penasaran dan meminta Budi untuk mengirimkan fotonya jika sudah jadi. Merekapun bertukar media sosial.


Igor yang sedang aktif-aktifnya, selalu penasaran dengan peralatan yang sedang dipakai kang Supri CS. Dengan telaten, seperti ke anak sendiri, Budi menemani dan menjelaskan apa yang ditunjuk Igor. Termasuk saat ingin mencoba sendiri alat itu, Budi meminta kang Bejo untuk mengajarinya. Pastinya dengan bahan yang berbeda.


Puas berkeliling dan mencoba langsung membuat kerajinan tangan, Dimitri dan keluarganya memutuskan untuk menyudahi kunjungan malam ini. Mereka kembali ke dalam galeri.


Adel yang sudah pasrah jika mereka hanya berkunjung tanpa membeli, terkejut saat Katya menanyakan harga untuk gelang berbentuk laba-laba hitam.


Begitu Adel menyebutkan harga, tanpa menawar Katya langsung memborong empat biji, dengan dua ukuran berbeda. Igor langsung heboh saat Budi memberinya gelang pesanan ibunya.


Dimitry membeli pen holder yang biasa diletakkan di meja kerja. Pen holder itu berupa ukiran berbentuk landscape pantai watu karung. Dan penanya sendiri berbentuk pohon kelapa.


Tak tanggung-tanggung, sepuluh unit yang tersedia dia borong semuanya. Termasuk tambahan tiga unit pen holder dengan bentuk wanita dan pria bugil sedang begituan. Karya isengnya kang Bejo.


Rupanya Katya belum puas memborong gelang laba-laba. Dia tampak antusias saat mencoba gelang lain berbentuk kepiting. Tidak jelas memang, kepiting apa. Tapi yang jelas, totol-totol putih sekecil ujung jarum, ternyata bisa mengeluarkan cahaya berwarna merah. Dan totol-totol itu bisa memberitahukan waktu, hari, suhu dan kelembapan.


Bahkan dia sangat tertarik saat Budi mengatur ulang gelang tersebut menggunakan komputernya. Karena gelang kepiting itu bisa menampilkan running light.


C-001


INDONESIA,


BUDI UTOMO’S GALERY,


THE FIRST EVER BUYER,


KATYA MILANOVA


Katya langsung membeli empat biji, dengan nomer registrasi berurutan. Igor sempat heboh karena berebut angka tiga dengan Natasya. Tapi pada akhirnya Natasya mau mengalah. Dia mau menerima urutan ke empat.


Belum cukup dengan semua itu, Katya masih mengajak suaminya untuk melihat-lihat produk lain. Dia melihat ada sebuah hard cover untuk buku. Hard cover itu penuh dengan ukiran bertemakan kehidupan di sekitar pantai. Beraneka flora dan fauna tergambar dalam ukiran itu. Karena ukiran di hard cover itu dibuat sampai tembus, maka di bagian dalamnya diberikan lapisan akrilik. Dengan tujuan supaya si pengguna hard cover itu tidak mengalami kesulitan selama menulis.


Sejauh ini, harga yang ditetapkan Budi untuk karya yang satu itu masih menjadi yang tertinggi. Dia hargai sampai lima juta rupiah. Tapi Katya tampak tidak mempermasalahkan harga itu. Dia cukup terpesona dengan keindahan ukiran itu.


Setelah pembayaran selesai dilakukan, Budi memberikan mereka bonus sebuah meja belajar lipat. Meja belajar yang biasa dipakai oleh anak-anak sambil duduk lesehan. Sama dengan hard cover tadi, meja belajar lipat itu juga penuh dengan ukiran. Dan pastinya, dengan alas akrilik di atasnya. Igor senang sekali mendapat hadiah itu.


Adel awalnya bingung dengan sikap Budi. Meja itu dia hargai mahal,tapi diberikan dengan Cuma-Cuma. Tapi saat Budi berbincang dengan Dimitri dan Katya, akhirnya Adel paham.


Ya, Budi memberitahukan kalau kamera CCTV yang terpasang di beberapa tempat di bengkel ini, mampu merekam suara juga. Nah, Budi menanyakan, apakah boleh kalau perjalanan semenjak tadi itu dia pakai untuk media promosi.


Tanpa Adel duga, ternyata Dimitry dan Katya mengijinkan. Bahkan mereka jua ingin melihat hasil rekaman perjalanan mereka. Tapi Dimitry meminta agar Budi mengirimkan dulu filenya kepada mereka untuk mendapatkan persetujuan dari mereka. Budi setuju. Dia paham, barangkali ada beberapa hal dari tindakan mereka yang mereka tidak ingin diketahui publik.


Mengetahui kalau pelanggan pertamanya kesulitan membawa barang belanjaannya, Adel berinisiatif mengajak Budi untuk mengantarkan belanjaan itu ke resort tempat Katya menginap. Pemilik Resort itu sampai geleng-geleng kepala mendapati tamunya berbelanja pernak-pernik kerajinan sampai sebegitu banyaknya.


Saat tiba kembali di bengkel kayunya, tubuh Budi serasa lemas. Turun dari motor Adel, dia langsung merosot ke bawah. Adel sampai terkejut melihat Budi berlutut. Dia kira Budi sakit. Tapi bukan, dia bukan sakit, melainkan ingin mengucapkan syukur dengan merendahkan kepalanya, rata dengan tanah yang dia pijak.

__ADS_1


***


__ADS_2