Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
dongle


__ADS_3

Hari ini Putri sibuk dengan kegiatan di kampus. Walau kegiatan ospek ditunda sementara waktu, tapi ada beberapa berkas legalitas yang harus dia lengkapi.


Oleh karena itu, dari pagi dia sudah mondar-mandir mengurusi kekurangan dokumennya. Dan sampai jam makan siang ini, dia masih sibuk mengurus beberapa dokumen yang harus dia fotokopi.


Walau begitu, dia tetap semangat. Sambil berdendang lirih, dia berjalan kembali ke kampusnya. Tempat fotokopi yang dia tuju tadi berada lumayan jauh dari kampusnya. Karena yang dekat sudah sangat ramai. Walau harus berjalan kaki, tapi dia tetap bersemangat.


*Diiing*


“Aww”


Suara besi tiang listrik di seberang jalan mengejutkannya. Seperti dipukul orang, tapi saat dia menoleh, tidak ada siapa-siapa di seberang kanan jalan.


*Bruaakkk*


“Aduuh”


*Grubuk grubuk grubuk*


Tanpa dia duga, dari gang di sebelah kiri, ada orang yang menabraknya. Otomatis dia terjatuh ke jalan raya. Termasuk orang yang menabraknya, juga ikut terjatuh. Beruntung sedang tidak ada kendaraan yang melintas.


“Putri?” gumam orang yang menabrak.


“Vani?” gumam Putri.


*Tak tak tak tak tak tak*


“AWWW”


Aspal jalan yang keras itu tiba-tiba memercik bagai botol kaca yang pecah karena dijatuhkan dari atas. Stevani reflek menutupi wajahnya. Tapi Putri, yang reflek menoleh ke kanan, melihat ada dua orang laki-laki di gang sana. Salah satunya mengacungkan sesuatu ke arah mereka.


*Tak tak tak*


“Awww”


Stevani memekik semakin kencang. Kali ini putri juga memekik. Percikan aspal itu kali ini sangat dekat dengan pahanya.


“Ikut aku!”


Putri menarik tangan Stevani.


“Kejaar!”


Dengan agak terhuyung-huyung keduanya berlari, menghindari kedua laki-laki yang kini mengejar mereka.


“Kamu kenapa bisa dikejar mereka?” tanya Putri sembari terus berlari.


“Nggak tahu” jawab Stevani singkat.


Nafas Stevani sudah tampak tersengal. Putri menduga kalau Stevani sudah berlari cukup jauh.


“Gimana bisa nggak tahu?”


“Ya emang aku nggak tahu. Tiba-tiba aja mereka datang ke kontrakan, terus mereka maksa aku buat nyerahin dongle”


“Dongle apa?”


“Mana aku tahu?”


“Masuk sini!”


Putri menarik tangan Stevani untuk masuk ke sela-sela antar rumah. Celah yang hanya muat satu orang itu mereka lewati untuk memutar ke belakang, berlindung pada bangunan rumah yang lebar itu.


“Astaghfirullohal’adhim, astaghfirullohal’adhim”


Stevani mengucap istighfar saat merasakan nafasnya semakin tak karuan. Dia merasakan tenggorokannya kering.


“Kamu tahu siapa mereka?” tanya Putri.


Stevani menggelengkan kepalanya. Tapi Putri seperti tidak langsung percaya.


“Put. Aku nggak pernah berurusan sama preman manapun selain Dino” kata Stevani menanggapi tatapan mata Putri.


“Jangan-jangan itu tadi orangnya Dino?”


“Nggak mungkin. Kakaknya sudah bebas. Mana mungkin Dino punya kuasa lagi?” jawab Stevani.


Putri masih menatap Stevani dengan tatapan aneh. Dan Stevani paham arti tatapan mata Putri itu.


“Ya udah, Put. Makasih udah nyelametin aku. Selanjutnya, biar aku sendiri yang mikir. Kamu bisa balik ke aktivitasmu. Mumpung mereka cuman ngenalin aku” Kata Stevani.


“Justru itu yang bahaya” sahut Putri.


“Maksud kamu?”


“Mereka bukan orangnya mas Sandi. Kalo orangnya mas Sandi, mereka pasti dikasih tahu tentang aku. Sekalipun mas Sandi lagi bertengkar sama mas Budi, tapi mas Sandi tetep nganggep aku sebagai adiknya. Dan nggak ada yang berani nyolek aku. Apalagi mberondong peluru kaya tadi” jawab Putri.


“Terus?” tanya Stevani bingung.


“Kita ke kampusku dulu, yuk! Kita cari minum. Nggak jauh, kok. Lewat kebun ini juga bisa” ajak Putri.


“Put. Kamu nggak harus terlibat dalam masalahku. Kamu aja yang ke kampus! Jangan lupa, telepon mas Budi! Biar ada yang jagain kamu” tolak Stevani halus.

__ADS_1


Putri terdiam. Dia tampak berpikir beberapa saat.


“Oke. Kalo itu mau kamu” jawab Putri.


Gantian Stevani yang terkesiap. Karena sebenarnya dia masih butuh bantuan perlindungan. Hanya saja dia malu untuk meminta. Mengingat mereka pernah berseteru.


“Tapi apa yang akan aku katakan sama mas Budi, kalo kamu kenapa-kenapa? Dan kalo sampe kamu almarhum, sampe kapan aku harus nanggung rasa bersalah?” lanjut Putri.


“Ha?”


“Udah, ayo!” ajak Putri.


Dia menarik tangan Stevani untuk pergi. Mau tidak mau, kebun yang tampak tidak terawat, dan dijadikan tempat membuang sampah itu, harus mereka lewati. Tapi tidak seperti kalau lewat jalan utama, lewat kebun ini lebih mempersingkat waktu.


“Kamu ada ide, kamu mau kemana?” tanya Putri.


“Hem?” Stevani menoleh.


Dia menggelengkan kepalanya. Dia tidak punya ide, kemana harus bersembunyi sementara ini.


“Ya udah. Tetep waspada, tapi jangan keliatan panik!” pinta Putri.


“Kalo ada yang nanya, kenapa kita lewat kebon, gimana?”


“Ya bilang aja motong jalan. Orang kita jalan kaki” jawab Putri.


Mereka terus berjalan. Nafas Stevani masih terengah-engah. Selain lelah, dia juga masih merasa takut. Putri membawa Stevani ke sebuah kafetaria di depan kampus.


“Kamu di sini aja dulu! Aku udah pesenin minuman” kata Putri, lirih.


“Kamu mau kemana?” tanya Stevani, sama lirihnya.


“Aku mau ambil motor dulu. Abis itu, kita ke galeri aja dulu. Barangkali mas Budi ada ide, gimana ngamanin kamu dari orang-orang itu” jawab Putri.


“Mas Budi?”


“Iya. Kenapa?”


“Nggak papa. Aku, aku, aku belum siap ketemu kangmasmu, Put” jawab Stevani.


“Mending aku di sini aja, deh. Aku nggak mau bawa keluargamu dalam masalah lagi” lanjut Stevani.


“Hei”


Putri duduk dan memajukan kepalanya, mendekat ke kepala Stevani.


“Terlepas apapun masalah yang pernah terjadi antara kita, keselamatanmu taruhannya” kata Putri dengan suara lebih lirih lagi.


“Demi apapun Put, aku bener-bener nggak tahu, apa yang sedang terjadi sama aku” potong Stevani.


“Aku juga nggak tahu bakal ketemu kamu” lanjut Stevani.


“Oke. Aku juga nggak ngerasa ada kebohongan pada kata-katamu. Makanya, kamu tunggu di sini! Aku akan ambil motor dulu, terus kita ke galeri” ujar Putri.


“Aku berutang nyawa sama kamu, Put” sahut Stevani.


“Tunggu, ya!”


Putripun beranjak dari duduknya. Dia kembali ke kampus. Berkas untuk kuliahnya sudah tidak dia pikirkan lagi.


Sejenak bisikan setan menggema di sanubarinya. Untuk apa menolong dia? Hanya membuat repot. Begitu bisikan itu.


Tapi nuraninya membisikkan hal sebaliknya. Nuraninya mengatakan kalau Stevani bukanlah orang jahat.


Kalau dia orang jahat, anggota geng, dan ingin menjebaknya, pasti bukan tembakan peluru yang diarahkan padanya. Cukup dibawakan celurit, sudah cukup menakutkan untuk seorang wanita.


Dengan kemantapan hati, Putri mengambil motornya, lalu membawanya keluar dari kampus. Dia melambaikan tangan saat sudah tiba di depan kafetaria tadi. Tak lama kemudian, Stevani keluar.


“ITU DIA”


Suara teriakan itu sontak membuat keduanya menoleh.


“Cepet cepet cepet!” kata Putri panik”


Stevani juga tak kalah paniknya. Buru-buru dia naik ke atas motor Putri. Sedangkan kedua orang yang mengejarnya itu, kini berlari mendekati mereka.


*BREEEEEEMMMM*


“JANGAN KABUR LON**!”


Kedua laki-laki itu berteriak lagi. Tapi Putri sudah terlanjur jauh memacu motornya. Tak kehabisan akal, berbekal todongan pistol, kedua laki-laki itu berhasil merampas sebuah motor milik salah satu pengunjung kafetaria. Dengan bukaan gas penuh, mereka mengejar Putri dan Stevani.


“Mereka pake motor, Put?” seru Stevani.


“Apa?” pekik Putri.


“Mereka ngebut, Put. Makin deket mereka” seru Stevani lagi.


Di tempat lain, Budi sedang asyik menyantap menu makan siang. Dia tersenyum-senyum sendiri. Dia teringat sebuah momen yang sudah lama sekali. Dan kini terulang kembali, walau dengan wanita yang berbeda.


“Soto dagingnya seger deh, mas” komentar Erika.

__ADS_1


Budi hanya tersenyum mendengar komentar itu. Ingatannya melayang pada momen disuapi Stevani.


“Cobain, deh!”


Angan-angan Budi buyar saat Erika bersuara lagi. Saat dia menoleh ke kiri, tampak ada sendok melayang tepat di depan bibirnya.


“Hempf”


Budi malah tergelak.


“Kok ketawa?” tanya Erika.


“Enggak” jawab Budi.


Diapun menerima suapan dari Erika.


“Seger, kan?” tanya Erika.


Budi hanya mengacungkan jempolnya. Mulutnya sibuk mengunyah, dan bibirnya sibuk tersenyum. Mengingat seorang Erika bisa kalah cepat dengan Stevani.


“Tuh, Na. Apa gua bilang”


Sebuah komentar membuat keduanya menoleh ke belakang. Tampak Farah dan Ratna berdiri di belakang mereka.


“Kalo cinta udah merasuk ke badan, warung soto juga berasa rumah warisan”


Farah mencoba berpantun.


“Ciaaaa” seru Ratna.


“Garing” lanjutnya, sambil berlalu pergi.


“Hempf”


Budi dan Erika tergelak. Sekuat tenaga mereka menahan tawa.


“Haduh. Kalo cemburu udah lama mengendap. Udah nggak mandang, yang ngomong ini atasan” keluh Farah.


“Hem?”


“Sarap” lanjut Farah.


“Ha ha ha ha”


Budi yang awalnya merasa pantun terakhir tidak pas rimanya, jadi tertawa lepas, setelah mendengar lanjutan kata dari Farah. Satu kata yang menjadi pelengkap sajak kedua.


Erikapun ikut tertawa, meski tidak selepas Budi. Mereka berdua mengomentari tingkah Ratna dan Farah sampai beberapa saat.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Ponsel Budi berbunyi. Budi mempercepat kunyahannya. Lalu dia mengambil ponsel di saku bajunya.


“Halo. Assalamu’alaikum, Put” sapa Budi.


“MAS BUD. TOLONGIN KITA MAS, BUUUD!”


“Hem?”


Suara itu bukan suara Putri. Tapi lebih ke seseorang yang belakangan menghilang.


“Vani?” tanya Budi. Erika menoleh kearah Budi.


“Iya, mas. aku lagi sama Putri. Kita lagi dikejar-kejar orang, mas” sahut Stevani.


“Loh. Kok Bisa? Dimana?”


“KITA DI JALAN DEPAN KAMPUS, MAS. NGARAH KE STADION, MAU KE GALERI. ENTAR AJA CERITANYA. DARURAT”


Kali ini suara Putri yang terdengar di telepon.


“Oke, oke. Mas ke sana, ya. Cari kerumunan, Put!”


“OKE”


*Tuut*


Sambungan telepon diputus dari seberang.


“Kenapa, mas?” tanya Erika.


“Putri dikejar-kejar orang” jawab Budi, sembari beranjak berdiri.


“Dimana?” tanya Erika lagi.


Tapi Budi sudah beranjak menuju kasir, dan menyerahkan uang seratus ribuan. Kembaliannyapun tidak dia ambil.


“Mas” panggil Erika.


“HAYU!” ajak Budi.


Tanpa menunggu jawaban, Budi langsung berlari kembali ke pabrik. Dengan susah payah Erika mengejar Budi. Tanpa peduli tatapan orang yang melihatnya berlari bersama Erika, Budi terus berlari sampai ke pabrik. Dia juga langsung mengambil motornya.

__ADS_1


__ADS_2