Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sama sama terpedaya


__ADS_3

Di tempat lain, Adel terlihat gelisah duduknya. Setelah membeli minuman rasa coklat di kedai pinggir jalan, tubuhnya merasakan sesuatu yang aneh.


Walau matahari belum terik, walau pendingin udara sudah lumayan kencang, tapi dia masih merasakan kegerahan. Tidak hanya itu, dia merasakan sesuatu yang hanya dia rasakan saat disentuh oleh lelaki. Seperti saat dia berciuman mesra dengan Budi, tadi.


Gila, kenapa sih, tubuh aku? Kenapa panas dingin kaya gini? Tapi ini sih bukan meriang. Ini kaya kebelet. Kalo tadi sih, wajar. Karena aku lagi dicumbu sama abram. Itu juga nggak segila ini, rasanya. Ini kaya udah kebelet banget. Udah kaya nonton film itu berapa judul aja. Astaga, apa jangan-jangan minumannya dicampuri obat, ya? sialan banget penjualnya. Minta dipidanain, kayaknya.


Perlahan, dia juga merasakan gatal yang menjalar di sekujur segitiga emasnya. Semakin lama semakin menjadi-jadi. Membuat duduknya tidak lagi nyaman.


Dengan kedua kakinya, dia berusaha menyentuh bagian yang gatal itu. Tapi tidak kunjung mendapatkan kelegaan. Yang ada malah rasa gatal itu kian menjalar sampai di dadanya. Terasa keras ujung dadanya, dan terasa sangat sensitif. Dia seolah merasa cup penopangnya berubah menjadi kasar.


“Kamu nggak papa, Del?” tanya Luki.


“Emh, nggak tahu, mas. Badan aku tiba-tiba nggak enak” jawab Adel.


“Kita ke dokter dulu kalo gitu, ya?” tawar luki.


“Emm, nggak usah, mas” tolak Adel.


“Kan biar cepet dapet sehat lagi”


“Adel pengen istirahat dulu mas. Adel pengen rebahan dulu, sepuluh menit juga boleh”


“Dimana? Hotel?” tanya Luki bingung.


“Boleh Deh” jawab Adel sekenanya.


“Serius?”


“Ada masker nggak?”


“Ini” jawab Luki, sambil membuka laci dashboard.


“Ya udah, cariin tempat deh, mas! Adel pengen rebahan dulu”


Luki memenuhi permintaan itu. dia membelokkan mobilnya menuju salah satu hotel di tepi pantai. Bukan kaleng-kaleng, hotel berkelas yang merupakan yang terbaik di kota ini.


Luki memberikan jaket dan topi pada Adel untuk menutupi identitasnya. Termasuk masker tadi yang sudah dia pakai. Luki memesan satu kamar. Petugas hotel memberikan kunci kamar, yang kebetulan berada di lantai paling atas. Di dalam lift, Adel semakin tidak tenang. Keringat mulai menutupi keningnya.


“Adel!”


Luki terkejut melihat Adel tiba-tiba ambruk. Beruntung dia masih sempat menangkapnya. Tapi dari gerakan reflek itu, terjadi sebuah insiden yang mengenakkan. Tanpa sengaja tangan Luki malah mendarat di dada Adel. Tentu saja itu berkah yang langka.


“Kamu nggak papa?” tanya Luki.


Dia bingung. Saat dia hendak memindahkan tangannya dari tempat yang tidak semestinya itu, Adel malah memeganginya. Dengan mata yang masih terpejam terpejam, Luki mengira, gerakan Adel itu hanya reflek saja, karena takut terjatuh.


“Del, aku bopong, ya?” tanya Luki.


Adel tidak menjawab. Tanpa menunggu jawaban lagi, Luki langsung membopong Adel begitu pintu lift terbuka.


“Mas”


Adel memangil Luki, saat Luki meletakkannya di atas ranjang.


“Ya?”


Luki yang hendak turun, terhenti karena panggilan itu. Dia tersenyum melihat Adel membuka matanya.


“Jangan pergi, mas! Di sini aja! peluk Adel, mas!” pinta Adel setengah merengek.


“Hem? Kamu nggak papa, Del?” Luki balik bertanya. Dia memegang kening Adel yang penuh keringat.


“Bicaramu mulai ngawur” lanjut Luki.


“Sini, mas! Peluk Adel!” pinta Adel lagi.


Luki tidak segera menjawab. Dia merasa sikap Adel kali ini aneh sekali. Dia merasakan ada yang tidak beres dengan wanita ini. Tapi dia masih belum tahu, ada apa dengan Adel.


“Ya udah, kalo nggak mau. Jangan pernah temuin Adel lagi!” kata Adel mengagetkan Luki. Lalu dia berbalik arah memunggungi Luki.


Luki merasa, kalau ancaman Adel bukanlah gertak sambal. Kalau papanya saja bisa dia tolak, tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi keputusannya.


Menurutnya, lebih baik menurut saja dengan apa yang Adel mau. Toh, permintaannya bukan sesuatu yang susah. Sesuatu yang enak, malah. Lukipun merebahkan tubuhnya di belakang Adel. Lemudian memeluknya seperti sepasang suami istri.


“Tolong pijitin punggung Adel dong, mas!” pinta Adel.


Tubuh Adel mulai terlihat menggigil. Luki masih bertanya-tanya, ada apa dengan Adel.


“Begini?” tanya Luki.


Dia mulai memberikan pijatan ringan di pundak kanan Adel.


“Iya, emh” jawab Adel.


Dia tampak menikmati setiap tekanan jari-jemari Luki. Tak hanya di pundak, Luki memberikan pijatan juga di tengkuk Adel. Lalu turun ke punggung. Adel menggeliat saat merasakan geli. Sesekali ujung jari Luki menyenggol ketiak Adel.


Dari tengah, pijatan itu menjalar ke bawah. Adel memposisikan tubuhnya lebih miring lagi. Tujuannya agar lebih banyak bagian punggungnya yang terpijat. Dia sendiri memijat-mijat kepalanya sendiri. Membuat bagian samping kanan tubuhnya terbuka dengan bebasnya.


Walau agak terangsang, tapi Luki masih mencoba untuk bersikap kalem. Dia tidak ingin dicap lelaki yang suka memanfaatkan keadaan. Dia malah lebih fokus untuk mengulang kejadian demi kejadian sejak meninggalkan rumah Sinta.


Sebelum membeli minuman itu, Adel tampak biasa saja. bahkan terkesan cuek. Tapi setelah membeli minuman itu, Adel jadi aneh begini.


“Aww”

__ADS_1


Luki terkejut mendengar Adel memekik.


“Essstt, emh”


Kali ini Adel malah mendesah, seperti keenakan. Luki belum sadar dengan apa yang terjadi. Dia hanya merasa aneh dengan suara yang dikeluarkan Adel. Itu bukan suara orang yang keenakan karena dipijit.


“Astaga”


Luki terkejut bukan main. Dia baru menyadari, apa yang sebenarnya dia pijat. Itu bukan punggung. Ya, tadi dia memang memijat punggung, sejajar dengan ketiak. Tapi saat dia merenung, dan tangannya mengambang di udara, dia tidak sadar kalau yang punya punggung memutar badan ke kanan. Dan disaat dia memijat lagi, bukan punggung lagi tempat tangannya mendarat, melainkan payu**** Adel.


Tapi karena dasarnya Adel sedang eror otaknya, dia bukannya menolak, tapi malah menahan tangan itu. Dan terjadilah apa yang diinginkan banyak lelaki.


Setelah hampir satu jam bergumul saling menikmati, tibalah mereka dipenghujung acara. Adel terlihat semakin seksi saat wajahnya berlepotan krim isian lolipop. Sangat menggoda. Adel tak menghiraukan krim di wajahnya itu. Dia langsung berguling ke samping, dan menikmati sisa-sisa permainan mereka.


“Mas, jangan! Aku nggak mau”


Ternyata pemandangan Adel dengan krim di wajahnya, sukses membangkitkan gairah Luki. Dia mulai memposisikan tubuhnya di antara kedua kaki Adel. Tapi Adel menolak kehadiran Luki.


“Demi Tuhan, mas. Aku nggak akan ijinkan kamu ngelakuin itu. Kalo kamu nekat, aku akan bertindak kasar” ancam Adel.


*Sepertinya dia sudah sadar. Efek obat perangsang tadi sepertinya sudah hilang. Sudah dua kali dia dapat. Aku nggak boleh gegabah. Aku nggak mau namaku jadi buruk di mata orang tuanya*.


Luki mengalah. Dia menjauh dari tubuh Adel, lalu pergi ke kamar mandi. Adel mengambil nafas lega. Beruntung Luki mau mendengarkan kata-katanya. Kalaupun Luki mau memperkosanya, Luki pasti bisa. Karena Adel sendiri sebenarnya masih lemah tenaganya.


Setelah Luki keluar dari kamar mandi, Adel bangun dari terlentangnya. Disahutnya handuk hotel untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Dia pergi ke kamar mandi. Dia nyalakan keran shower setelah melucuti pakaian atasnya.


Ada perasaan sedih yang tiba-tiba mengelayut, bersamaan dengan guyuran air dari atas kepalanya. Dia menangis sejadi-jadinya. Merasa rendah, merasa murahan. Sekian lama dia menahan godaan dari banyak pria hidung belang, tapi kini dirinya telah menawarkan sendiri tubuhnya kepada orang lain.


“Awas kamu jala**! Kalo sampe terbukti kamu sengaja naruh obat perangsang di minumanku, akan aku balas seratus kali lipat”


*BUAAAKKK*


Adel meninju tembok kamar mandi. Dia marah, dia kesal, dia juga merasa sangat malu. Dia tidak pernah menyangka kalau dia akan terkena musibah seperti ini.


“Apa yang abram bakal katakan, kalo dia sampe tahu? Apa aku sanggup buat jujur? Apa aku bakal sanggup kalo abram ingin ngebalas dengan ngelakuin kaya gini sama cewek lain?”


“Gusti”


Adel menangis lagi. Dia seolah malu melihat bayangannya sendiri di cermin. Bercak putih di wajah, yang semula terasa memabukkan, penghantar puncak kelegaan, kini di matanya, tak ubahnya seperti kotoran menjijikkan.


Berkali-kali dia sabuni wajahnya. Agar sama sekali tidak ada bercak yang tersisa di wajahnya. Sekalipun yang tidak terlihat oleh mata.


Puas menangis dan bebersih, Adel kembali mengenakan pakaiannya. Butuh beberapa saat baginya untuk siap kembali menapaki kenyataan, bahwa dia baru saja menghinakan diri di depan orang yang tidak sepantasnya mendapatkan tubuhnya.


“Mas” panggil Adel, sekembalinya dia dari kamar mandi.


“Ya?” jawab Luki. Dia yang sedang bermain ponsel, tersentak mendengar panggilan itu.


“Oh, iya. sama-sama” jawab Luki.


“Adel janji, Adel nggak akan ngerepotin mas Luki, seperti ini lagi”


Sebuah kalimat ambigu yang membuat Luki berpikir sejenak. Dia tahu, Adel hanya memperhalus kalimatnya, dari makna yang sebenarnya.


“Apapun, akan aku kasih buat Adel” jawab Luki dengan hati-hati.


“Ya. Tumpangan, mungkin” sahut Adel.


“Oh, iya. Yuk! Jangan ada yang tertinggal!” ajak Luki.


Adel kembali memakai maskernya. Juga jaket pemberian Luki. Termasuk juga topi, untuk menyembunyikan identitasnya. Adel langsung menuju mobil, sedangkan Luki melakukan check out.


***


Di rumah, di terus memikirkan kejadian tadi. Niat hati hanya ingin menolong, tapi pertolongan yang dibutuhkan darinya, justru adalah hal yang seharusnya tidak pernah dia lakukan.


Dia merasa sangat bersalah karena telah menghianati kepercayaan yang diberikan Adel. Dalam hati dia bertanya-tanya, bagaimana seandainya kalau Adel tahu?


*Bud, kamu tuh orang nggak punya, bukan orang kaya. Banyak tingkah amat sih? kalo udah gini, apalagi yang akan ngangkat harga diri kamu? Udah kamu miskin, nggak bisa dipercaya, lagi*.


“Ya Alloh, ampuni Budi, ya Alloh! Budi keterusan. Budi akui Ya Alloh, Budi belum sepenuhnya bisa istiqomah ninggalin kenakalan dimasa lalu. Budi masih suka tergoda sama kemolekan wanita. Sampai, sampai, ya, terjadilah yang begitu tadi. Budi harus gimana, ya Alloh?”


Sempat terbersit dalam pikirannya, ingin mengakui semua yang telah dia lakukan. Tapi dia masih ragu, apakah hal itu adalah yang terbaik, atau malah menjadi bom bunuh diri.kamu


*Bud, kalo kamu sendiri dapet pengakuan dari Adel, kalo dia abis mesum sama cowok lain, emang kamu bisa terima? Emang kamu bisa maafin dia gitu aja*?


“Ya nggak bisa, sih”


Terus, kamu mau ngakuin gitu aja? Kacau yang ada.


“Ya terus? Aku harus bohong terus, gitu?”


*Eh, Budi. Nyimpen rahasia itu beda sama boong. Boong itu, kalo kamu ditanya, jawabnya nggak sesuai kenyataan. Kalo nggak ditanya, boong dari mananya*?


“Beda tipis doang. Aku ngaku, kemungknan bakal ada prahara. Kalo aku simpen sendiri, sama aja ngantongin arang nyala. Sewaktu-waktu bisa ngebakar tanpa bisa diprediksi kapan waktunya”


*Bud, yang penting itu kamu sadar, kamu tobat, dan kamu janji, kalo kamu nggak bakal ngulangin lagi. Perkara nanti, dipikir belakangan. Logikanya, kalo Tuhanmu masih berkenan nutupin keburukanmu itu, berarti Dia masih pengen liat kamu berubah. Selagi kamu bener-bener nggak ngulangin lagi, percaya deh, nggak bakalan jadi bom waktu*.


“Kalo ternyata beneran jadi bom waktu?”


*Bud, Bud. kamu kok kaya anak SD aja. Udah berapa kali kamu main peran? Kok masih nanya? Kamu pake lah, ilmunya*!


“Ya, kan ini beda. Aku niat serius”

__ADS_1


*Udah, yang penting kamu bersikap seperti biasa! Jangan sampe keliatan aneh! Anggap aja kejadian tadi nggak pernah terjadi. Itu lebih baik daripada mikirin gimana caranya minta maaf. Mending kamu telepon dia, deh*!


“Oh, iya. Udah berangkat ngejob apa belum, ya?”


Budi meraih ponselnya. Setelah berdebat dengan hatinya sendiri, akhirnya dia telah memutuskan untuk merahasiakan kejadian tadi. Tapi dengan satu tekad, untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi namanya nurani, memang tidak bisa diajak berbohong. Rasa takut itu muncul lagi. Dan butuh beberapa saat untuk dia bisa menenangkan diri.


*Tuuuut*


Dengan membaca bismillah dalam hati, dia mulai menelepon Adel. Dia tekan tombol virtual untuk pengeras suara. Dan dia letakkan kembali ponselnya di atas meja. Panggilan pertama tak mendapatkan jawaban.


*Tuuuuut*


Dia ulangi lagi lagi menekan nomor yang sama. Dan tombol virtual pengeras suara dia tekan. Tapi tak kunjung ada respon dari pemilik nomor yang dituju.


“Lagi perform kali”


Di sisi lain, Adel tampak gelisah. Di wajahnya terlihat raut ketakutan. Seperti ditelepon seorang debt collector. Membuat Tati, yang duduk di sebelahnya, terheran-heran. Mengapa telepon dari orang paling spesial malah di abaikan begitu saja. Sampai hais waktu panggilnya. Ini bukan panggilan pertama, ini sudah panggilan yang ke dua. Tapi Adel masih juga mengabaikannya.


*Tiing*


Sebuah pesan singkat masuk. Bukannya senang, tapi Adel malah berkeringat. Tangannya sedikit bergetar disaat dia mengetahui nama yang muncul sebagai pengirim pesan singkat itu. dengan jari bergetar, dia buka isi pesan itu.


*Assalamu’alaikum. Lagi perform, ya? Kalo lagi senggang, bales, ya! abram kangen*


Seketika air mata Adel meluncur melihat kata ‘kangen’ dalam pesan itu. Dalam hati dia merasa sangat bersalah, telah mengkhianati kesucian cinta, dan kepercayaan yang diberikan oleh Budi.


Dia bingung harus menjawab apa. Dia ingin mengabaikan, tapi sudah terlanjur terbuka, pesannya. Pasti yang di seberang sana sudah mengetahui, kalau pesannya sudah dibaca penerimanya.


*Wa’alaikum salam. Maaf bram, di sini berisik banget. Tata nggak denger*.


Jawaban itulah yang terpikir dalam kepalanya. Dan jawaban itu pula yang dia berikan. Dia berharap, Budi tidak meneleponnya lagi saat ini. Dia merasa belum siap berhadapan dengan Budi, sekalipun hanya lewat telepon.


*Bang – bang wes rahino. Bang –bang wes rahino*


Belum juga sempat bernafas lega, Budi malah memangilnya dengan panggilan video. Adel memegangi kepalanya. Perasaan takut, serta marah pada diri sendiri, bercampur menjadi satu. Membuat Tati, yang sedari tadi memperhatikannya, menjadi semakin kebingungan.


“Kamu kenapa, Del?” tanya Tati pelan.


Dia berikan tisue pada Adel untuk menyeka air matanya. Adel tidak menjawab. Dia hanya menerima tisue itu, dan menyeka air matanya sendiri.


“Mas Budi tahu, kamu dianterin mas Luki?” tanya Tati lagi. Adel hanya menggelengkan kepalanya.


“Terus, kenapa? Kok kayaknya kamu ketakutan gitu? Ada haters yang lihat, ya? siapa? Biar aku yang urus”


Tati bertanya sambil menggulung lengan kebayanya ke atas. Seperti orang yang ingin berkelahi. Membuat Adel tergelak. Tapi dia hanya menggeleng lagi. Dia tatap mata Tati lekat-lekat, tapi dia tidak tahu harus cerita bagaimana mengenai kejadian tadi.


“Kamu sholat dulu, gih! Mumpung jatahmu masih belakangan” saran Tati. Adel tidak segera menjawab. Dia masih memandangi wajah Tati.


“Terus aku make upnya gimana, dong?” tanya Adel.


“Eem...” Tati tampak berpikir.


“Terlalu sempit waktunya, Ti” sahut Adel.


“Oke, deh. Terus?” Tati mengalah.


“Kamu nggak boleh panik gini, Del. Kamu harus tenang. Kalo kamu nggak sempet sholat, kamu cerita deh, sama aku! Ada apa sih, antara kamu, mas Budi, sama mas Luki?” lanjut Tati. Tapi lagi-lagi Adel tidak segera menjawab.


“Oh tidak. Jangan-jangan kamu tadi?”


“Apa?” tanya Adel lirih. Wajahnya terlihat tegang. Seolah dia sudah yakin kalau tebakan Tati akan benar.


“Jangan-jangan kamu dipaksa nikah, sama mas Luki” Tebak Tati.


“Eeeh”


Adel memutar bola matanya. Sebagai ekspresi kecewa. Dia sudah tegang sekali, ternyata tebakan Tati melenceng jauh. Tapi kemudian dia bersyukur, ternyata Tati belum menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi, antara dia dan Luki.


“Menanggapi permintaan shohibul hajat, kita panggilkan. Artis top kita. Adelia, Fitri”


Suara pembawa acara mengalihkan perhatian mereka. Ternyata ada perubahan rencana. Ternyata sang tuan rumah menginginkan Adel sebagai penampil berikutnya.


Tanpa pamit kepada Tati, Adel langsung beranjak menuju panggung. Hanya seulas senyum yang dia berikan. Itu juga senyum kebimbangan. Nike dan penyanyi lain langsung menanyai Tati mengenai Adel. Saking anehnya sikap Adel hari ini, sampai-sampai pimpinan campur sari ini ikut menanyai Tati.


“Tati belum tahu, om” jawab Tati menanggapi pertanyaan mereka.


“Ya masa kamu nggak tahu? Kan kamu orang kepercayaannya Adel” tanya nike.


“Kalo dia belum cerita, tahu dari mana?”


“Nggak ada yang kamu sembunyiin, kan?” tanya om Diki.


“Demi Alloh, om, nggak ada yang Tati sembunyiin. Emang dia belum cerita. Biasanya juga kalo ada yang rahasia, Tati juga bilang. Ada masalah, confidential” jawab Tati penuh kesunguhan.


“Iya, om Diki percaya. Sori, bukannya mau kepoin urusan orang. Tapi ini udah nggak kaya biasanya Adel. Kalo emang om Diki bisa bantu, pasti om Dik bantu” kata om Diki.


“Iya, om. Entar kalo dia udah cerita, dan Tati dapet ijin buat ngomong, pasti Tati kasih tahu”


“Ya udah, makasih ya”


“Sama-sama, om”


Di dalam kamarnya, Budi merasa sedikit lega. Dia bisa sedikit mengatasi rasa gelisahnya. Dia sudah membulatkan niat untuk merahasiakan kejadian tadi. Dengan satu janji, dia tidak akan mengulangi itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2