
Saat baru melajukan motornya keluar dari halaman rumahnya, Budi dicegat gerombolan orang yang tidak dikenalnya. Tapi ada satu yang dia kenal. Tak lain dan tak bukan adalah Adi, sepupunya sendiri.
“Weis, mau kemana master? Udah rapi banget” tanya si Adi. Budi tidak menjawab.
“Guys, ini master pencak silat yang aku omongin tadi. Dia yang nantangin perguruan silat kalian” lanjut si Adi.
“Hmpf”
Budi tergelak mendengar perkataan Adi yang sudah jelas itu fitnah. Keempat orang yang bersama Adi menjadi bingung.
“Eh, curut. Jangan ketawa lo. Turun! Kita buktiin, siapa ya jagoan!” teriak salah satu lelaki itu.
“Iya, brengsek banget lo. Sok jagoan” sahut yang lain. Mereka menarik Budi sampai terlepas dari motornya. Dan motornya terjatuh karena belum distandarkan.
“HYAAA”
WUUUS
BUUKKK
Salah satu dari mereka langsung menyerang tanpa bertanya terlebih dahulu. Bahkan tidak memberi kesempatan kepada Budi untuk bangun dari terjatuhnya.
*wuss
Wuss*
Sebuah tinju melayang tepat mengarah ke wajah Budi. Tapi dengan sigap Budi menangkis serangan itu, hanya dengan merendahkan tubuhnya ke kanan, memasang tangan kirinya untuk melindungi wajahnya.
Buukkk
Dan dengan tangan kanannya, dia meninju perut penyerangnya. Orang itu langsung terpental ke belakang. Budi langsung bangkit dan berdiri.
“HYAAAAAT”
Ketiga orang lainnya langsung menyerang bersamaan. Tapi main keroyokan bukianlah masalah buat Budi. Dengan gesitnya dia menangkis semua serangan yang datang. Sebagian energi dari serangan itu dia pakai untuk menjatuhkan penyerang itu sendiri.
BAK BUK BAK BUK
Sesekali Budi juga terkena pukulan ketiga orang itu. Terlebih saat yang pertama jatuh tadi ikut mengeroyok. Bu Ratih dan putri berteriak histeris, meminta tolong warga untuk melerai mereka. tapi tidak ada satu wargapun yang berani masuk dalam kancah pergulatan para jagoan bela diri itu. Gerakan mereka terlalu cepat dan berbahaya.
BAKK BUUKK BAAKK
“AAAAHHH”
BRAAAK
“HAAAAHHH”
Hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka berempat sudah tumbang di tangan Budi. Dan bergegas melarikan diri.
Dari suaranya, sepertinya ada yang mengalami patah tulang. Entah tangan, entah rusuk.
Di sisi lain, mereka berempat hanya sukses menyarangkan dua pukulan telak ke perut dan dada Budi. Tapi wajahnya sama sekali tidak berhasil mereka sentuh. Sehingga, hanya butuh sedikit pembersihan dan pembenahan, Budi sudah kembali terlihat keren.
“Ngger, kamu nggak papa?” tanya Bu Ratih.
Beliau mendekat dengan tergopoh – gopoh. Warga yang melihat juga baru berani untuk mendekat. Tergopoh – gopoh juga mereka mendekati Budi.
“Nggak papa, Bu. Budi baik – baik aja”
“Tadi kamu kena pukulan, mas. Beneran nggak papa?” tanya Putri juga hawatir.
“Enggak papa Put. Kencengan juga pukulan kamu” jawab Budi.
“Laporin aja mas. Ngandang lagi tu anak” seru salah seorang kakek – kakek.
“Iya, nggak tahu terimakasih, dia. Udah baik dibebasin dari penjara, malah bikin kacau lagi. Laporin aja mas, biar ndekem sana, bareng tukang jagal” sahut yang lain.
“Udah, nggak papa kok mbah, pak. Itung – itung olah raga” jawab Budi.
“Ngger, ngger. Dikeroyok kamu bilang olah raga” kata kakek – kakek tadi.
“Nuwun sewu, mohon maaf. Saya ada jadwal malam mingguan. Kencan pertama nggak boleh telat. Jadi, mohon maaf, saya tinggal dulu. He he” kata Budi memohon ijin.
__ADS_1
“Oh, ha ha ha ha. Mau ngedate to? Ya udah sana, berangkat!” jawab salah seorang ibu – ibu. Bu Ratih tergelak mendengar kata – kata anaknya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” jawab para warga.
Budi langsung mengarahkan motornya ke alamat yang dikirimkan Adel. Sebenarnya dia tahu letak rumah itu, tapi dia tidak kenal dengan nama yang disebut Adel tadi.
Saat berjumpa di depan rumah itu, Budi terpesona melihat kecantikan Adel. Penampilannya kali ini tampak lebih sederhana. Hanya dengan rok kotak – kotak panjang sebetis, dengan atasan kaos polos lengan panjang. Sangat menunjang bentuk tubuhnya yang tinggi langsing.
“Hei, segitunya ngeliatin” tegur seseorang di belakang Adel.
Wanita itu berjilbab, dan menggunakan pakaian syar’i. Budi seperti tidak asing dengan wajah itu, tapi dia lupa. Usianya juga tampak lebih tua dari Budi.
“Iya deh, aku emang bukan siapa – siapa, makanya lupa” kata wanita itu lagi.
“Aduh, maaf banget deh, aku belum inget. Tapi perasaan emang nggak asing, sih” jawab Budi.
“Yyukur deh, artinya kamu dah nggak tawuran lagi” kata wanita itu lagi.
“Hmm?” Budi tersentil mendengar kata tawuran.
“Oh, suster Feni,ya?” tebak Budi.
“Kan tadi aku juga bilang, Feni” sahut Adel.
“Ha ha ha. Inget juga, akhirnya”
Budi menyalami suster Feni. Sebagai wujud homatnya kepada orang yang lebih tua, dan orang yang telah berjasa merawat lukanya dulu.
“Tapi kok bisa temenan sama Adel?” tanya Budi.
“Panjang ceritanya” jawab Feni.
“Wah, cantik – cantik, suka tawuran juga, ternyata” komentar Budi, merujuk kepada Adel.
“Enak aja, sori ya. Aku orang yang cinta damai” kilah Adel sambil meleletkan lidah. Membuat Feni tertawa.
“Udah, sono berangkat! Jangan sampe telat!” suruh si Feni.
“Iya, baru juga jam tujuh seperempat” timpal Budi.
“Haih, aku juga pernah jadi ABG keles. Jarum speedometer nggak pernah lewat dari sepuluh”
“Buset, itu naik motor apa beko?” sahut Budi.
“Tek tek tek tek tek. Ngiiik, ngiiik” lanjut Budi menirukan suara roda excavator, dan gaya pengemudi excavator.
“Ha ha ha ha. Suek lu” komentar feni.
“Ya udah, berangkat ya, mbak” pamit Adel sambil cium tangan.
“Ya, ati – ati!” pesen Feni.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
“Berangkaaat” seru budi sambil menepuk speedometer motornya. Adel yang gemas ganti menepuk pundaknya.
Tidak seperti yang dikatakan Feni, Adel meminta Budi untuk memacu motornya dengan kecepatan normal. Adel bilang ingin makan dulu sebelum naik pentas. Karena ternyata di rumah Feni, Adel belum makan. Budi mengiyakan saja apa yang dimau oleh Adel.
Tiba di cafe, Adel tidak lantas memesan makanan seperti orang kebanyakan. Dia memesan salad buah. Katanya, dia tidak berani makan nasi kalau mau pentas. Membuat perutnya terlalu kenyang, walau hanya sedikit. Sehingga susah mengontrol pernafasan. Jadinya dia mengganti menu makannya dengan salad buah. Walau sama – sama mengandung karbohidrat, tapi tidak membuat kekenyangan. Karena Budi sudah makan, dia hanya memesan secangkir kopi.
“Bud” panggil Adel.
“Ya” jawab Budi.
“Sengaja aku ajak kamu sebelum waktunya live. Aku mau ngomongin sesuatu sama kamu” kata Adel.
Raut wajah Adel membuat Budi Cemas. Ada apakah ini? Apakah ada sesuatu yang berhubungan dengan orang tuanya? Apakah orang tuanya tahu kalau Adel menjalin kedekatan dengan lelaki miskin seperti dia? Itulah peranyaan – pertanyaan yang berseliweran di benaknya.
“Kenapa, Del? Ada apa?” tanya Budi serius”
__ADS_1
“Ha ha ha ha. Tegang amat, mukanya? Enggak, bukan masalah serius kok” jawab Adel. Budi masih belum mengerti.
“Ha ha ha ha. Kamu tu, ya. Paling bisa bikin aku nangis, bikin aku ketawa” lanjut Adel. Tapi Budi merasa belum menemukan jawaban atas pertanyaannya.
“Erika, dia sempet telepon aku, beberapa hari lalu” kata Adel memulai jawabannya.
“Erika?”
“Ya. Erika HRD tempat kerja kamu. Dia itu temen aku. Dia yang kasih info loker itu”
“Oh” jawab Budi sambil mengangguk – angguk.
“Dia bilang, kamu luar biasa. Belum ada sebulan, kamu udah bikin perubahan besar di perusahaan. Itu prestasi luar biasa, Bud” lanjut Adel.
Oh, begitu ternyata. Pantes. Belakangan ini, Erika jarang ngajak aku ngobrol seperti awal – awal dulu. Paling pol cuman tegur sapa dan nanya sekedarnya. Itu juga terkesan basa – basi. Tapi, kan aku belum jadian sama Adel. Kenapa menjauh, ya? Adel bilang apa ya? Apa cuman inisiatif Erika aja, karena sungkan sama Adel?
“Aku sampe nangis tahu, saking bahagianya”
“Masya Alloh. Sampe segitunya, Del. Padahal kamu belum aku kasih nafkah lho” komentar Budi.
Gantian Adel yang terdiam. Mendengar kata nafkah, angannya langsung membumbung tinggi, melayang terbang ke angkasa.
“Hei” tegur Budi.
“Eh. Hem?”
“Hmpf. Ha ha ha ha”
Budi tertawa melihat Adel tertegun. Adel menutupi wajahnya karena malu. Dia lanjutkan acara makan yang belum selesai.
Itu dia. Suara tangismu mampu bercerita jauh lebih banyak dari yang bisa kamu ungkapin. Siapapun yang mengenalmu, pasti akan mundur halus. Bukan cuman karena ketenaranmu, tapi aku yakin, mereka juga segan padamu, karena kemuliaan hatimu.
“Wah, nyesel aku datang lebih cepet” sebuah suara menyita perhatian mereka.
“Tadinya pengen curhat, eh ada mas ganteng. Alamat jadi obat nyamuk deh” lanjut orang itu.
“Ha ha ha. Kamu kenapa sih, Ti?” tanya Adel. Ternyata itu adalah Tati.
“Huft, besok aja deh” jawab Tati.
“Kenapa nunggu besok?”
“Ya kan, aku mau curhat sama kamu”
“Sekarang juga bisa keles”
“Terlanjur ada mas ganteng. Sekalian aja besok, di pasar”
“Kok di pasar?”
“Ya sekalian aja, curhatnya sama mas ganteng. Kan jelas, kamu nggak lagi sama dia. Ha ha ha ha” jawab Tati sambil berlalu.
“Sembarangan. Awas lu ya!” komentar Adel.
“Ha ha ha ha ha” Tati malah tambah lepas, tertawanya. Tanpa melihat ke belakang, lagi.
Budi juga tertawa geli mendengar kelakar sahabatnya Adel ini. Lawakan yang tidak terduga. Walau setengah absurd, tapi masih terdengar lucu buat Budi.
Adel sempat menunjukkan ekspresi merajuk. Budi menghentikan tawanya, dan meinta maaf. Seraya merayu Adel agar tidak merajuk lagi. Setelah sekian rayuan Budi keluarkan, Adelpun mau tersenyum lagi.
“Bud, aku ijin ke ruang ganti dulu, ya” kata Adel.
“Loh, mau ganti baju lagi?” tanya Budi.
“Enggak. Mau touch up dulu. Tadi kan aku dandannya bukan buat pentas” jawab Adel. Budi tertegun.
Kalo dandanan itu khusus buat aku, kamu sukses, Del. Aku suka banget sama dandanan natural begini. Lebih adem diliatnya. Apalagi kamu udah cantik dari lahir. Nggak pake dandan juga udah cantik.
“Hei, malah bengong” tegur Adel.
“Eh, apa? Oh, iya. Monggo” jawab Budi tergagap.
“Hi hi hi” Adel cekikikan, merasa lucu, melihat ekspresi tertegunnya Budi.
__ADS_1
Mata Budi tak bisa lepas dari sosok tinggi semampai itu. Rambut yang berkibar di terpa angin malam, menjadi pemandangan indah baginya.
Tapi perhatiannya tersentak oleh suara berdenging dari arah pentas. Ternyata orang sound systemnya sedang melakukan persiapan untuk live music malam ini. Kru musisi juga sedang mempersiapkan alat musik mereka. Mencoba setiap instrumen yang akan mereka mainkan. Pikiran Budi sejenak terfokus pada aktivitas di atas panggung itu.