
Sampai malam menjelang, acara kunjungan tamu dari malaysia ini belum juga selesai. Saking besarnya orderan yang mereka persiapkan untuk PT. PRAM, mereka menanyakan banyak hal mengenai proses produksinya. Satu hal yang mereka jaga, jangan sampai ada ketelatan pengiriman.
Setelah selesai dengan acara formal teknis, bukan berarti rangkaian acaranya berakhir begitu saja. Masih ada acara ramah tamah, yang entah sampai jam berapa. Hal ini membuat Stevani sedikit gusar. hatinya sudah mulai tidak tenang. Dia ingin secepatnya menemui Budi.
“Kamu kenapa, Van?” tanya seseorang.
“Eh, mbak Farah. Ngagetin aja” komentar Stevani.
Mereka saat ini sedang berada di sebuah vila di pinggir pantai. Acara makan malam sudah dilaksanakan. Sekarang para tamu dan managemen PT. PRAM sedang berbincang dan berkaraoke bersama.
“Kamu kok kaya gelisah. Ada apa?” tanya Farah lagi.
“Ini, mbak. Tadi aku kan nganterin Budi, pake mobil. Terus aku tinggalin di sana. Sampe sekarang aku belum tahu kondisinya” jawab Stevani.
“Video call aja dulu! Kalo emang butuh bantuan kan, banyak rekan kita yang dikota. Ratna kan juga deket rumah sakit, rumahnya. Bisa lah, dia bantuin” saran Farah.
“Oh, iya. kenapa aku nggak kepikiran video call, ya? Aku boleh make a call dulu, mbak?”
“Ya udah, boleh. Sono noh, yang terang”
Stevani pergi ke arah yang ditunjuk Farah. Sebuah tiang lampu penerangan. Sinarnya yang menghadap ke bawah, cukup terang untuk melakukan panggilan video.
TUUUUT
“Hai, Bud. gimana kondisi ibu?” tanya Stevani tanpa salam.
“Hai, Van. Alhamdulillah, udah baikan. Ini udah pindah ke ruang rawat” jawab Budi. Dia menunjukkan ibunya yang sedang makan disuapi Putri.
“Nah, ini bu, teman Budi yang anterin Budi kemari” kata Budi memberitahu ibunya.
“Oh, ini. Terimakasih ya, nduk. Udah nganterin Budi” kata Bu Ratih.
“Sama – sama, bu. Vani seneng kok, bisa bantuin Budi. Ibu, gimana sekarang perasaannya, udah enakan? ” kata stevani.
“Alhamdulillah, udah jauh lebih baik. udah mulai bisa makan” jawab bu Ratih.
“Syukurlah. Semoga cepet sembuh ya bu. Maaf nih, belum bisa nengokin ibu”
“Iya, nggak papa. Emang masih kerja, ya?”
“Iya, bu. Ada tamu dari malaysia. Dari siang sampe sekarang belum beres acaranya”
“Oh, keren tuh. Tamunya dari luar negeri”
“Ya, pangsa ekspor bu. Perusahaan sih yang keren, bukan Vani. Hehe”
“Ya tetep aja, kamu bagian dari perusahaan itu kan? Keren juga namanya”
“Budi juga nggak kalah keren. Kerenan Budi malah, bu. Kalau aja dia nggak sukses blusukan. Wah, bakal berat deh, ngerayu calon pelanggan dari malaysia ini”
“Oh ya? Kan Budi orang produksi”
“Yang bikin orang produksi jadi gesit kan Budi, bu. Nggak tahu dibilangin apaan, bisa jadi gesit gitu”
“Oh, alhamdulillah. Ikut seneng, nih, ibu”
“Ee, tapi maaf, bu. Saya udah dikode lagi, nih. Saya harus kembali ke barisan”
“Oh, iya. monggo, silakan. Ibu balikin ke Budi, ya”
“Makasih, bu. Cepet sembuh ya, ibu”
“Eh, kamu lagi dimanna, sih?” tanya Budi, begitu ponselnya dikembalikan.
“Tebak, lagi dimana aku!”
“Oh, aku tahu. Kok nyampe situ sih?”
“Ya, namanya juga intertaint. Sory ya Bud, aku cabut dulu”
“Oke. Makasih ya”
TUUUUT
Sambungan telepon langsung diputus tanpa salam. Ini menjadi penilaian tersendiri buat Putri. Tapi pastinya Stevani tidak mengetahui itu. Dia sedang fokus untuk bersiap dengan acara selanjutnya.
***
Malam telah larut, bu Ratih telah beristirahat. Mas Eko dan istrinya, yang tadi sempat menengok juga sudah pulang. Beberapa tamu yang menjenguk juga sudah bubar. Tinggalah Budi berdua saja dengan Putri, adiknya. Mereka sedang berdiri di lorong ruang rawat. Menghadap ke sebuah lahan kosong yang berdiri menara air di tengahnya.
“Mas, yang nelepon tadi, siapa?” tanya Putri memecah keheningan.
__ADS_1
“Stevani. Tadi udah sebut nama, kan dia?” jawab Budi.
“Maksud Putri, dia itu siapanya mas Budi?” tanya Putri lagi. Budi berpikir sejenak. Membaca kemana arah pertanyaan adiknya ini.
“Keliatannya dia perhatian banget sama mas Budi. Kaya suka gitu, sama mas Budi” lanjut Putri. Budi tersenyum.
“Kalau itu mas Budi belum tahu, Put” jawab Budi.
“Jangan PHPin mbak Adel, mas. Kasihan” saran Putri.
“Tumben kamu melankolis gini? Biasanya cuek”
“Mas, mau nggak mau, kita harus ngakui, kalo mbak Adel udah berjasa banget buat keluarga kita. Mas Budi dapet kerjaan kan atas info mbak Adel, kan?”
“Iya sih. Bener itu”
“Putri mohon, mas Budi jangan mainin perasaan mbak Adel!”
“Lah, siapa yang mainin?”
“Ya, sekarang sih belum. Putri takut aja, nanti mas Budi tergoda sama cewek itu”
“Kan mas Budi belum pacaran sama mbak Adel. Mas Budi juga belum tahu, mbak Adel suka sama mas Budi apa enggak”
“Ya sih. Tapi kalo cewek tadi, udah keliatan banget dia suka sama mas Budi. Tadi siang makan sama dia, ya?”
“Loh, kok tahu? Wah, bahaya nih. Adikku punya indera ke enam” respon Budi berlagak kaget. Putri tergelak.
“Eh, kalo entar kamu liat mas Budi abis ngapa – ngapain, jangan bilang – bilang ibu, ya!” bisik Budi di telinga Putri.
“Ha ha ha ha. Itu sih nggak perlu pake indera ke enam kali, mas. Udah ketebak. Kalo nggak makan siang bareng, gimana ceritanya bisa semobil?” sahut Putri.
“Iya juga, ya. Wah, sama bahayanya nih. Gimana caranya supaya nggak kecium, ya?”
“Ya jangan begituan lah! Nikah dulu, baru begituan!” jawab Putri rame.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar sahutan adiknya.
“Nah, tinggal mas Budinya nih, gimana?” tanya Putri beberapa saat kemudian.
“Apanya yang gimana?”
“Ya, mas Budi sukanya sama siapa. Kalo sukanya sama cewek tadi, lebih baik bilang terus terang sama mbak Adel. Biar, kalo mbak Adel ternyata suka sama mas Budi, mbak Adelnya nggak sakit hati”
“Wajar, sih. Cewek tadi juga cantik, sih. Udah gitu, lebih berbentuk” kata Putri dengan mimik wajah menggoda.
“Itu dia yang bikin bingung. Sepadan gitu. Kalo sembilan – dua belas sih, gampang mikirnya ya. Ini sebelas – sebelas. Kaya maen bola dong. Ha ha ha ha”
“Pasti ada, lah, bedanya”
“Iya sih”
“Iya sih, apa?”
“Vani emang cantik sih, di atas rata – rata cewek di kantor. Tapi tiap mas Budi ngobrol sama siapa juga, itu wajah Adel suka lewat, gitu. Ucluk ucluk ucluk”
“Hmpf. Ha ha ha ha. Mana ada bayangan lewat kaya pocongan, lompat – lompat? Ha ha ha”
“Ya tapi suka lewat, gitu, Put. Hampir selalu. Tiap mas Budi mulai nyaman, gitu ya. Nongol, wajah itu. Buyar deh, nggak jadi suka”
“Serius bisa gitu, mas?”
“Serius, Put”
“Kalo sama yang tadi?”
“Nah, dia emang yang paling berat. Tapi nongol juga, tu. Wajahnya Adel”
“Terus?”
“Kalo misalkan nggak ada musibah ini, nggak tahu juga sih. Mas Budi bakal bereaksi gimana”
“Hemm” Putri tampak kurang suka dengan ending cerita tadi.
“Tapi emang mas Budi harus ngakuin, baru Adel yang bisa bikin otak mas budi kacau”
“Maksudnya?”
“Momen pertama ketemu itu, kebawa mulu dalam mimpi. Dan setelah kebangun, jadi ada rasa kangen luar biasa. Rasanya mau nelpon dia aja. Tapi kan masih tengah malem, mana mungkin?”
“Masa sih? Tengah malem terus, mas?”
__ADS_1
“Iya. kacau kan?”
“Itu tandanya mas budi lagi jatuh cinta sama mbak Adel” komentar Putri.
“Masa sih?”
“Iya lah. Apa mau nunggu bikin teh lupa nggak kasih gula lagi, baru mau ngaku?”
“Suek, masih inget aja”
“Ha ha ha ha”
Kali ini Putri tertawa lepas. Dia memang lebih suka kalau kakaknya jadian dengan Adel daripada Stevani. Memang, tindakan Stevani mengantarkan kakaknya memang diapresiasi sama dia. Tapi cara dia menelepon tanpa mengawali dan mengakhiri dengan salam, adalah suatu kekurangan mendasar bagi Putri.
Tanpa mereka sadari, salah satu orang yang menjadi obyek pembicaraan mereka ada di dekat mereka. ya, Stevani memang dari tadi sudah datang. Maksud hatinya ingin menjenguk Bu Ratih. Tapi mendengar percakapan Budi dan putri yang membawa namanya, sontak membuatnya merubah rencana.
Dia bersembunyi di balik tembok di ujung lorong. Lalu mendengarkan setiap detil pembicaraan mereka. sempat dia tersenyum saat Budi memujinya, sebagai wanita paling cantik di kantor. Tapi dia tidak suka saat Budi mengakui kalau Adel lebih mencuri hati, daripada dia.
Siapapun dia, aku nggak akan melepaskanmu untuk dia, Bud. aku terlanjur jatuh cinta sama kamu. Aku terlanjur sayang sama kamu. Aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan hatimu. Toh, aku sama dia sebelas – sebelas ini. Apa yang dia punya, aku pasti punya.
Stevani mengurungkan niatnya untuk menjenguk Bu Ratih. Dia balik kanan, dan melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit itu.
****>>>>>>
“Ha ha ha ha, sukurin, modar sekalian deh sono. Aku sorakin sambil joget – joget. Ha ha ha ha”
“Iya bu. Kekh, kekh, kekh, ekk”
“Ha ha ha ha”
Seorang wanita paruh baya sedang tertawa terbahak – bahak bersama seorang lelaki yang jauh lebih muda. Bertempat di sebuah hotel, mereka sedang asyik menikmati minuman anggur.
“Adi, beneran kan nggak ada yang tahu? Jangan sampe jadi petaka, nih!”
“Nggak ada, bu. Aku transaksi sama pedagangnya di luar pasar”
“Tapi actingnya gimana, itu pedagang?”
“Bagus, bu. Adi liat sendiri prosesnya. Dia nawarin dagangannya seperti nawarin ke orang lain. Nah, orang ini kan dulunya temen sekolahnya bulek Ratih. Itu nilai plusnya, bu. Bulek Ratih ngerasa nggak enak waktu ditawarin, terus nggak beli. Dia juga nggak curiga waktu diambilin jajan yang itu. Jadi deh, uuk, uuk”
“Ha ha ha ha”
“Awalnya disangka hamil lagi dia, bu”
“Siapa yang bilang gitu?”
“Orangku, lah. Pedagang ayam kampung”
“Wah, itu lebih menarik, Di. Seorang janda, hamil tanpa suami. Sama siapa coba?”
“Ya kita kan nggak kepikiran sampe segitu, Bu”
“Iya, ya. Kenapa nggak kepikiran ya?”
“Kalo ibu sampe hamil, gimana bu?”
“Lah, kan masih ada bapak. Kenapa bingung? Gampang lah itu”
“Ha ha ha ha. Tega juga ibu, sama bapak”
“Siapa suruh, nyuekin ibu. Nyenggol ibu juga jarang – jarang. Ibu curiga, bapakmu punya simpanan”
“Terus?”
“Biarin aja. yang penting kamu selalu ada buat ibu. Udah cukup”
“Adi akan selalu ada buat ibu”
“Bener? Pacarmu gimana?”
“Biarin aja. asal malam minggu dikasih, kan beres. Toh, adi nggak terlalu suka sama dia”
“Loh, kenapa?”
“Dia nolak mulu kalo adi mau keluarin di dalem. Ada aja akalnya buat ngindar. Enakan sama ibu, bebas. Lebih greget, tahu”
“Ha ha ha ha. Iya dong. Ibu gitu loh”
“Eh, jangan sampe bapakmu tahu, ya. Kalo kita yang ngelakuin semua ini”
“ Aman”
__ADS_1
Dalam pengaruh minuman anggur yang sudah dikonsumsi dalam jumlah banyak, mereka melakukan apa yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh orang kebanyakan. Mereka bergumul layaknya suami dan istri.