Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bu lusi murka


__ADS_3

Cukup lama Adel duduk di pojokan. Memperhatikan tinggi muka air banjir yang berangsur menurun. Sudah untuk kesekian kalinya, dia mencoba mengirimkan pesan melalui semua macam media. Tapi sama sekali tidak ada yang berhasil. Semua jaringan komunikasi runtuh, karena xqbanjir.


Sesekali rasa kesal akan sikap Putri kembali menyeruak. Dia ingin ikut Budi untuk mencari logistik di luaran sana. Tapi dia harus terjebak di sini, tanpa bisa melakukan apapun.


“Pengen hot choclolate?”


Sebuah suara menyentakkan lamunannya. Diamenoleh ke belakang.


“Entar ya, kalo udah ada toko buka” lanjut orang itu.


“Bram?” sapa Adel.


Ya, orang itu adalah Budi. Dia datang membawa dua nasi bungkus.


“Makan dulu, yuk!” ajak Budi.


“Ibu aja dulu. Tadi Tata cuman dapet satu doang. Dibagi tuh, berdua sama Putri” jawab Adel. Masih terdengar nada kesal pada suaranya. Budi tersenyum. Dia duduk di samping Adel.


“Tata kenapa, sih?”


“Kesel sama Putri. Apa coba maksudnya, di depan orang banyak, nyuruh Tata kaya gitu” jawab Adel.


Dia tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya. Budi tersenyum setengah tergelak.


“Ibu sama Putri udah abram kasih. Masing-masing satu. Yang lain juga udah kebagian” kata Budi.


Adel tahu apa maksud dari kalimat itu. Tapi rasa kesalnya masih membuatnya enggan untuk membuka bungkusan itu.


“Putri itu, orangnya penakut, kalo sama yang lebih tua” kata Budi. Adel menoleh. Tampak kalau dia ingin protes.


“Kalo dia udah berani ngambil resiko besar bakal dicap kurang ajar, berarti ada kehawatiran yang nggak sanggup dia tahan. Dan dia nggak sanggup ngadepin, kalo kehawatirannya itu, jadi kenyataan” lanjut Budi.


Adel terperanjat, tapi dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa memandangi wajah Budi.


“Abram pernah dimarahin Putri, karena mau tawuran. Ditampar juga pernah, waktu mau jalan sama cewek. Dia curiga banget sama cewek itu. Dan ternyata bener. Cewek itu ternyata hanya jebakan. Untung abram nggak jadi jalan sama dia”


“Tata juga, benernya ngerti, Bram” kata Adel membuka suara. Budi menoleh. Dan terlihat senyum merekah di bibir Adel.


“Cuman kesel aja. Soalnya Tata belum pernah digituin sama Madin. Seringnya sih, sama ibu” lanjut Adel.


“Tak kenal, maka tak sayang”


“Maksud Abram?"


“Ya, kenalan nama sih, udah. Tapi kenalan sifat, baru kali ini, kan?” tanya Budi.


Adel tersenyum tersipu, merasa apa yang dikatakan Budi, mengena sekali di hatinya.


“Baru Tata, lho, yang berani kesel sama ibu” lanjut Budi.


*PLAK*



“Adow”


Budi memekik karena paha kirinya mendapatkan tabokan cukup keras dari Adel. Beberapa orang sampai menoleh saking kerasnya suara Budi.


“Akk!”


Budi menyorongkan tangan kanannya yang penuh dengan nasi. Adel terkejut, dia sempat mendelik, karena masih ada orang yang memperhatikan mereka. Tapi karena Budi tidak kunjung menurunkan tangannya, terpaksa Adel menerima suapan itu.


“Cieeee”


Seorang ibu muda berseru saat melihat Budi menyuapi Adel. Sontak orang-orang di sekitarnya menaruh perhatian pada apa yang dia lihat.


Dia yang bayinya sempat ditolong Adel tadi, mengacungkan jempolnya kepada Adel, sambil tertawa. Adel menutupi mulutnya sebagai ekspresi malu-malu.


Saat matahari beranjak mengejar ufuk barat, air banjir itupun kian surut. Utamanya yang berasal dari utara. Menyisakan lumpur yang menutupi hampir semua yang digenanginya.


Budi pamit untuk pulang lebih dahulu. Dia ingin membersihkan lumpur yang berada di dalam rumah. Mumpung masih ada airnya, jadi lebih mudah membersihkannya.


Adel ingin ikut. Tapi lagi-lagi, dia dicegah oleh Putri. Kali ini dia tidak pakai merajuk. Dia sudah mengerti dengan apa yang dimaksud calon adik iparnya itu.


Barulah, ketika jarum jam di ponselnya menunjukkan pukul tiga sore, banjir di lingkungan rumah bu Ratih juga surut. Adel mengajak Putri untuk membantu Budi bebersih rumah. Toh airnya hanya tinggal sepinggang. Lagipula tidak berarus seperti sebelumnya. Putri setuju.


Mereka pamit pulang kepada Bu Ratih. Sengaja bu Ratih tidak mereka ijinkan untuk ikut pulang, karena memang sebagai yang dituakan, tidak elok menurut mereka, kalau bu Ratih ikut bebersih rumah.


Melihat kedatangan adik dan kekasihnya, Budi langsung menanyakan ibunya. Mereka jawab dengan apa adanya. Langsung saja, Budi membagi tugas untuk keduanya.

__ADS_1


Budi bertugas mengambilkan air dengan ember. Dan kedua perempuan itu, bertugas untuk menyiramkan air ke lantai yang masih tertutup lumpur. Untungnya, lumpur yang tertinggal di dalam rumah, tidaklah tebal.


Setelah satu jam lamanya berjibaku berkotor-kotor ria, akhirnya rumah bu Ratih, sudah terbebas dari lumpur. Walaupun memang belum bersih seratus persen. Tapi paling tidak, untuk sementara, bisa ditempati untuk bermalam.


Setengah jam berikutnya, mereka sudah terlihat kompak membersihkan teras dan tangga. Seseorang memanggil Budi. Ternyata tetangganya mengajaknya kerjabakti membersihkan jalan lingkungan. Adel tersenyum sambil mengangguk, saat Budi menatapnya.


Karena dilakukan secara beramai-ramai, hanya dalam hitungan menit, lumpur yang menutupi jalan, sudah berhasil disingkirkan. Terlebih lagi, ada bantuan mesin pompa air berbahan bakar bensin dari warga desa sebelah.


Saat sampai di depan rumahnya sendiri, Budi minta ijin untuk sekalian membersihkan halaman depannya. Paling tidak, membuat jalan dan parkiran motor. Beberapa orang malah dengan rela membantu Budi.


“ADEL”


Terdengar suara teriakan yang cukup kencang. Membuat semua orang, bahkan yang ada di ujung jalan sana menoleh.


“Bilangnya ke rumah Tati. Ternyata nyamperin tukang ojek geblek ini, ha”


“Ibu?” gumam Adel.


Ternyata itu suara bu Lusi. Dia tampak murka, melihat anak sulungnya berada di rumah Budi.


“Jadi kamu ngilang dari subuh itu, dijadiin babu sama tukang ojek ini, ha? iya?”


“Ibu. Kalo ngomong sembarangan banget sih? Ini di kampung orang, bu” kata Adel memperingatkan. Dia turun menghampiri ibunya.


“Kenapa kalo di kampung orang, ha? ibu harus takut gitu?”sahut bu Lusi.


“Siapa yang berani marahin ibu? Ini anak ibu dijadiin babu kaya gini, kalo masih ada yang berani marah, ibu masukin penjara sekalian”


“Ibu” tegur Adel.


“Oh, kamu udah berani ngelawan sama ibu? Ini hasilnya temenan sama tukang ojek itu?”


“Kamu ya. susah-susah dicariin kenalan bonafid, malah nyari kenalan blangsak begini. Cuman dijadiin babu kan?”


“Ibu, apaan sih? babu-babu mulu. Adel cuman ngasih bantuan logistik”


“Bantuan apa? ngasih bantuan kok seharian?”


“Ya kan jalannya ketutup banjir. Baru juga Adel nyampe, dari kali sana luber airnya. Gimana Adel mau pulang, coba?”


“Ya terus, yang nyuruh kamu ngelayap subuh-subuh ke sini siapa? Bilang dulu nggak, sama ibu?”


“Berani ngelawan sekarang, ya?”


“Maaf, ada apa ya bu?” sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.


“Apa? anda mau marah sama saya? Saya perkarain anda” sahut bu Lusi sambil mengacungkan jarinya.


“Maaf, saya Ratih, ibunya Budi. Yang punya rumah ini. Ada apa ya bu?” kata bu Ratih.


“Oh, rupanya anda ibunya si tukang ojek sialan itu?” tanya bu Lusi.


Merah mata bu Ratih mendengar anaknya dikatai, sialan.


“Bu, bilangin tuh, sama anaknya! Miskin sih miskin aja! Jadi tukang ojek, jadi tukang ojek aja! nggak usah belagu! Nggak usah sok-sokan deketin anak saya!” kata bu Lusi, sambil menunjuk-nunjuk wajah bu Ratih. Budi mulai emosi.


“Ibu!” tegur Adel.


“Apa?”


“Ini nih, ini hasilnya. Temenan sama orang miskin, nggak pernah dapet apa-apa, malah makin ancur otaknya. Udah berani ngelawan orang tuanya. Gara-gara anak ibu nih” kata bu Lusi lagi.


Tidak ada yang menyadari kalau Budi sudah berada di belakang bu Ratih. Matanya juga memerah, melihat ibunya ditunjuk-tunjuk.


“Maklumin aja bu, janda” suara lain menambah panas suasana.


“Bapak!” tegur Adel.


Ternyata itu adalah pak Fajar. Jauh di persimpangan jalan sana, terlihat bu Kusno sedang cekikikan bersama beberapa ibu-ibu segengnya.


“Oh, ibu janda? Pantes” tanya bu Lusi.


Gigi Budi sudah gemeretak. Tangannya sudah mengepal. Matanya sudah terfokus kepada dua orang yang melecehkan ibunya. Sosok Adel perlahan menghilang dari pandangannya.


“Bu, kalo ibu pengen kaya, ibu sendiri dong, yang harus usaha. Cari sono, duda kaya! Jangan anaknya didorong-dorong buat deketin anak saya! Nggak level bu, najis” lanjut bu Lusi.


“Budi, jangan!” pekik bu Ratih.


Dia memasang badan, menghalangi tubuh Budi, yang mulai berlari ingin menyambar bu Lusi.

__ADS_1


“Jangan, ngger! Eling! Itu ibunya mbak Adel” bisik bu Ratih di telinga Budi.


“Ternyata, suka sama anaknya, berani sama ibunya. Laki-laki macam apa kamu?” komentar pak Fajar, sambil tersenyum sinis.


“Bapak!” tegur Adel.


“Liat Del. Yang kamu bela-belain sampe jadi babu, berani sama ibu. Beda sama Luki. Hormat banget sama ibu. Dasar Manusia sampah” komentar bu Lusi.


*TREEEEEEENGGG*


Terdengar suara plat besi beradu dengan jalanan. Kerasnya bunyi itu, membuat semua mata tertuju ke sumber suara. Tampak ibu muda yang punya bayi tadi, berjalan mendekati mereka dengan menyeret sekop. Matanya tajam menatap bu Lusi.


Di belakangnya, seorang laki-laki, ditengarai sebagai suaminya, juga melakukan hal yang sama. Melihat mereka berdua ingin melakukan konfrontasi dengan bu Lusi dan pak Fajar.


Seorang kakek-kakek, yang tadi dievakuasi dengan perahu karet, ikut serta di belakang kedua suami istri itu. warga lain juga ikut-ikutan. Beramai-ramai mereka mendekat dengan tatapan mengintimidasi.


“Pak, mereka mau ngeroyok kita, pak” kata bu Lusi.


“Lari bu!” perintah pak Fajar. Dan dia ternyata sudah lari duluan.


“ADEL, PULANG!” teriak bu Lusi sambil berlari.


*SREEEEEEEENGG*


Ibu muda tadi berlari mengejar bu Lusi. Kontan, bu Lusi lari terbirit-birit.


“ADEL, PULAAAANG!” teriak bu Lusi lagi.


Untung ada pak Kusno yang berjalan ke arah persimpangan jalan. sehingga ibu muda tadi berhenti mengejar bu Lusi.


“Bu, maafin ibu-bapaknya Adel ya, bu” pinta Adel. Dia merendahkan tubuhnya hendak mencium kaki bu Ratih.


“Mbak, mbak. Jangan mbak!” tolak bu Ratih.


“Nggak papa, kok. Ibu ngerti. Sekarang, mbak adel pulang dulu, ya! inget, sama orang tua tetep harus pake cara yang lembut, ya!” lanjut bu Ratih. Dia berikan seulas senyum, walau matanya masih tampak merah.


“Sekali lagi, Adel mohon maaf ya, Bu” kata Adel sambil menangis.


“Iya, mbak Adel. Jangan kapok ya, kenal sama Budi!”


“Ya Alloh, ibu”


Adel memeluk bu Ratih serta merta. Dia tahu, itu adalah sindiran buatnya. Seharusnya dia yang mengatakan kalimat itu. Tapi malah bu ratih yang mengatakannya.


“Bram”


Adel sudah tidak tahu lagi, harus bilang apa kepada Budi. Dia sangat takut kalau Budi akan membencinya.


“Maafin aku, ya! Aku kebawa emosi” kata Budi.


“Bram?”


Semakin takutlah dia, mendengar permintaan maaf Budi. Dia memeluk Budi dengan eratnya. Dia tumpahkan segala rasa di hatinya. Dia sedang mempersiapkan diri jika perjumpaan kali ini, adalah untuk yang terakhir kalinya.


“Hei, Ta. Meluknya kaya udah nggak ada hari esok aja” tegur Budi.


Adel tersentak. Dia baru teringat, kalau dia sedang berada di tengah-tengah kerumunan warga. Dia lepas pelukannya seketika. Dia mencoba memberanikan diri untuk menatap mata Budi.


Kali ini, mata itu sudah terlihat memutih. Sudah tidak ada lagi warna merah yang sebelumnya terlihat mengerikan.


“Cepat atau lambat, aku pasti akan ngalami hal ini” kata Budi. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Adel belum mengerti apa maksud Budi.


“Seperti tadi, kamu yang kesal, karena baru pertama lihat aslinya ibu, aslinya Putri. Aku juga begitu” lanjut Budi. Adel belum berani berkomentar.


“Sekarang aku udah kenal. Dan aku yakin, aku bisa ngeluluhin hati mereka. Ya, meskipun aku belum kepikiran, gimana caranya” kata Budi lagi.


Dia tergelak. Matanya lurus menatap ibunya. Adel ikut menatap ke arah bu Ratih. Bu Ratih menghela nafas berat.


“Like father, like son” kata bu Ratih kepada Putri.


“Hem?”


Putri yang berada di sampingnya, tidak mengerti apa yang dimaksud ibunya. Dia menatap wajah ibunya sambil mengernyitkan dahinya. Bu Ratih malah tergelak.


“Aku turunin motornya, ya?” kata Budi kepada Adel.


“Aku bantuin, Bud” seru salah seorang tetangganya.


Budipun menerima bantuan itu. bersama beberapa orang lainnya, mereka berjalan menuju gedung serbaguna.

__ADS_1


Sekali lagi, Adel memeluk bu Ratih, untuk meminta maaf. Adel tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sepertinya apa yang baru saja dia pikirkan, teralu jauh dari kenyataan. Karena pada kenyataannya, Budi dan Bu Ratih sekalipun, tidak menjadikan kata-kata menyakitkan dari bapak-ibunya tadi sebagai alasan untuk membencinya. Budi malah tertantang untuk meluluhkan hati kedua orang tuanya.


__ADS_2