
Seperti yang sudah mereka sepakati, keduanya bertemu di suatu toko tempat mbak Ning membeli barang pesanan. Ada beberapa tempat yang didatangi mbak Ning, dan Hendra setia menemaninya. Hampir seharian mereka habiskan berkeliling kota untuk berbelanja.
Tapi bak pasangan muda, mereka seperti tak punya rasa lelah ataupun penat. Mereka tampak happy dengan kebersamaan mereka. Sampai di hotel, mereka tidak melewatkan sedetikpun tanpa bersama. Mbak Ning langsung meminta imbalan yang sudah dijanjikan Hendra.
Melihat barang pesanannya sudah ditangan, dengan senang hati Hendra memenuhi janjinya. Entah sudah berapa kali mbak Ning dibuat Hendra terkulai tak berdaya. Sampai akhirnya dia benar-benar tak berdaya.
Hendra bangun dari tidurannya. Dia memasangkan flash disc yang dibawakan oleh mbak Ning itu ke usb port di laptopnya. Dia memulai pencariannya pada rekaman CCTV itu. Dia langsung menuju hari dimana adiknya Budi merekam suara dari kamar Stevani menggunakan stetoskop milik Zulfikar.
Mulai dari rekaman jam empat subuh dia perhatikan. Tak ada tanda-tanda mencurigakan. Semua tenang seperti layaknya waktu subuh. Paginya, sekitar pukul delapan, terlihat Stevani muncul di depan warungnya mbak Ning.
Di sini dia mengakui keunggulan perangkat kamera CCTV yang merekam gambar itu. Cukup jelas untuk jarak lebih dari dua puluh meter. Bahkan bisa menangkap detil wajah Stevani saat dia perbesar.
Dia mencatat hari tanggal, jam, menit, bahkan detik dari kemunculan Stevani dalam rekaman itu. Perhatiannya terpaut pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan Stevani, dan membawa wanita itu pergi. Dia mencatat waktu kepergian mereka, termasuk jenis mobil dan plat nomernya.
Hendra terus memperhatikan rekaman itu dengan percepatan beberapa kali. Sesekali dia menahan pemutaran video itu, saat dia melihat adanya orang yang keluar maupun masuk ke area kontrakan. Dia catat juga waktu dan ciri-ciri orangnya.
Sejenak dia menengok ke arah mbak Ning. Dia tersenyum melihat wanita itu tertidur pulas. Maksudnya untuk bertanya pada wanita itu dia tunda. Mungkin akan lebih baik kalau dia catat dulu semuanya, baru dia tanyakan sekaligus.
Tanpa dia sadari, jarum jam sudah berputar lebih dari seperempat kali putaran. Suara adzan dari sebuah masjid menyentakkan konsentrasinya. Pun juga membangunkan mbak Ning dari tidur pulasnya. Dia tersenyum saat tatapan matanya beradu dengan tatapan mata Hendra.
“Mata kamu kok merah, mas? Kamu nggak tidur, ya?”
Mbak Ning bertanya sambil beringsut ke pinggir ranjang. Lalu dia berjalan mendekati Hendra. Hendra hanya tersenyum, karena perhatiannya tersita dengan sosok tubuh yang mendekatinya itu. Ada bekas pergumulan mereka yang masih terlihat nyata di tubuh mbak Ning.
“Banyak banget catatanmu? Beneran niat ya, pengen ngelonin aku langsung di kamarku?” tanya mbak Ning lagi. Hendra tergelak dibuatnya.
“Aku nggak mau ngulangin kesalahan yang sama, mbak. Apa mbak Ning keberatan?” jawab Hendra.
“Oh, enggak. Aku malah seneng. Jadi greget, tahu. Nggak cuman modal duit doang, tapi juga modal nyali. Ha ha ha ha”
“Syukurlah” komentar Hendra.
“Embak bebersih, gih! Aku beliin kopi” pinta Hendra.
“Oke” jawab mbak Ning.
Mbak Ning masih menyempatkan diri menggoda Hendra saat berjalan menuju kamar mandi. Hendra hanya tergelak dan geleng-geleng kepala. Dia sendiri segera pergi ke bawah untuk membeli kopi. Jam segini sudah banyak warung kopi yang buka, melayani para pedagang dan sopir-sopir yang beraktivitas di pasar yang tak jauh dari hotel ini.
Sekembalinya ke hotel, mbak Ning sudah terlihat segar. Rambutnya basah, dan bulir-bulir air masih mewarnai tubuh polosnya. Tampak sangat menggoda. Kalau menuruti nafsu, sebenarnya Hendra ingin menerkam mbak Ning lagi. Tapi tujuan utamanya ke sini, jauh lebih penting. Jadi dia tepis saja godaan-godaan yang sengaja mbak Ning lontarkan padanya.
Sambil menikmati kopi hitam panas, bertemankan gorengan, mereka membahas temuan-temuan Hendra. Sengaja Hendra memulai dengan jangka waktu yang lebih lebar, agar mbak Ning tidak mencurigainya.
__ADS_1
Satu per satu pertanyaannya mendapatkan jawaban. Terutama orang-orang yang berlalu-lalang di saat Stevani pergi.
Mbak Ning menjelaskan satu per satu orang yang ditanyakan Hendra. Terutama selain para penghuni kontrakan. Dia menyatakan ketertarikannya pada seseorang yang masuk dengan menggenggam sesuatu.
“Oh, itu sih, si Karjo. Orangnya bu kontrakan” kata mbak Ning.
“Maksudnya?” tanya Hendra.
“Iya. Dia itu orang yang suka disuruh buat benerin kontrakan. Kalo ada air mati, genteng bocor, kunci pintu rusak, semacem itu, lah”
“Oh. Itu dia bawa apa, ya?”
“Eeemm” mbak Ning tampak memfokuskan penglihatannya pada tangan si Karjo.
“Itu sih lampu, mas. Lampu hemat daya itu, lho” seru mbak Ning.
“Oh. Iya, bener” sahut Hendra membenarkan.
“Kenapa, emang, mas?” tanya mbak Ning. Dia merasa janggal dengan komentar Hendra.
“Haih. Aku pikir dia bawa barang berbahaya. Paling aku tandain nih, dari tadi” jawab Hendra beralasan.
“Oh, ha ha ha ha. Masa segagah ini takut berantem, sih?” goda mbak Ning.
“He he. Iya. Kalo bukan orang terlatih, emang susah sih, kalo dikeroyok” komentar mbak Ning.
Hendra menanyakan sedikit lebih dalam mengenai si Karjo ini. Dengan dalih untuk memastikan kalau si Karjo ini benar-benar bukan orang berbahaya. Dan mbak Ning menceritakan semua tentang si Karjo itu.
Karena mbak ning sudah memberikan informasi berharga, Hendra merasa tidak enak kalau tidak memberikan sesuatu yang mbak Ning suka. Sembari menunggu mentari muncul dari peraduannya, mereka mengulangi lagi perbuatan mereka semalam. Dan untuk sekali lagi, mbak ning dibuat Hendra lunglai tak berdaya.
Ketika langit sudah beranjak benderang, Hendra mengajak mbak Ning untuk pulang. Dia mengatakan kalau dia punya pekerjaan yang harus dia setorkan langsung pada atasannya.
Ketika mbak Ning bertanya, apa tidak bisa disetorkan jarak jauh, Hendra bilang tidak bisa menggunakan internet, karena terlalu berbahaya. Walau tidak mengerti maksudnya, tapi mbak Ning menuruti ajakan Hendra. Baginya, semua pekerjaan ada resikonya. Sama seperti dukun, kalau kalah sakti, ya resikonya, santetnya akan kembali mengenainya sendiri.
Sesampainya di depan rumah mbak Ning, Hendra langsung pamit. Dia beralasan ingin menemui atasannya. Dan tanpa bertanya lagi, mbak Ning mengiyakan. Dia lepas kepergian Hendra dengan toa. Tujuan Hendra kali ini adalah Stevani. Dia ingin menanyakan soal Karjo.
Stevani tampak kusut dan kurang bersemangat saat dia muncul dari balik tembok. Hendra menyadari, dia terlalu lama mengumpulkan informasi. Tampak di raut wajah Stevani, rasa geram, sedih, lega, dan banyak lagi rasa bercampur menjadi satu.
“Apa kabar, mbak Vani?” tanya Hendra sembari menyalami Stevani.
“Apa ada kabar Baik?” Stevani balik bertanya.
__ADS_1
“Ya. Aku bawa sesuatu. Dan aku butuh informasi dari sudut pandang mbak Vani” jawab Hendra.
Dia mengeluarkan tablet dari dalam tasnya. Dia memutarkan rekaman CCTV pada hari Putri main ke kontrakan Zulfikar.
“Nah, kan. Apa aku bilang? Bener, kan? Ini. Ini, mas” seru Stevani. Matanya berkaca-kaca saat melihat sosok dirinya tertangkap kamera CCTV itu.
“Ya. ini yang aku cari beberapa hari ini, mbak” jawab Hendra.
“Nah, mbak Vani kenal orang ini, nggak?” tanya Hendra.
“Oh, iya. Ini si Karjo” jawab Stevani.
“Kenapa, dengan dia, mbak?” tanya Hendra menyelidik.
“Hari itu, dari subuh, lampu kamar dalemku mati. Aku kan nggak bisa gantiin. Aku minta bu kontrakan buat gantiin” jawab Stevani.
“Emm. Menarik” komentar Hendra.
“Terus?” lanjutnya.
“Ya itu, dari abis subuh, aku tungguin nggak dateng-dateng. Karena aku udah punya janji, ya udah kan, aku berangkat. Aku udah bilang sebelumnya sama bu kontrakan, buat masuk aja kalo mau ganti lampunya” jawab Stevani. Hendra manggut-manggut.
“Si ibu sih emang kebiasaan, lelet. Sembarang hal disepelein. Diminta dari subuh, itu datengnya jam berapa, coba? Tuh, tengah hari baru nyuruh si karjo” lanjut Stevani.
“Klop kalo gitu. Yang dibawa si Karjo itu, sepertinya juga lampu. Sepertinya. Kurang jelas tangkapan gambarnya” komentar Hendra.
“Ya. lampu, mas. Pasti itu lampu. Apa lagi warnanya putih, bentuknya bulat mengklat kaya kaca gitu?” sahut Stevani.
“Tapi pernyataan mbak Vani akan lebih kuat kalau dibarengi sama bukti otentik semacam ini, mbak” kata Hendra pelan.
“Whatsapp, mas. Percakapanku aku cadangkan secara berkala. Pasti masih ada cadangannya di g-drive. Coba mas Hendra back up ke ponsel mas Hendra, atau ponsel lain. Ini akun dan kodenya” Stevani menuliskan alamat email dan kode passwordnya.
“Ada video yang aku kirim ke bu kontrakan, mas. Aku ngerekam kondisi lampu yang mati itu. Kayak laporan, gitu. Aku nyebut namaku dan bu kontrakan. Pasti ID videonya juga khas banget” kata Stevani. Hendra manggut-manggut.
“Buruan temuin, mas! Aku udah nggak tahan dituduh kaya gini” perintah Stevani.
“Baik, mbak. Saya usahakan secepat mungkin” jawab Hendra. Diapun pamit undur diri.
Saat kembali ke sel tahanannya, dia kembali menjadi pusat perhatian para tahanan laki-laki. Pastinya dia sudah hafal dan tidak peduli dengan semua komentar yang mereka lontarkan. Hanya ada satu hal yang menyita perhatiannya.
Di sudut salah satu sel, terlihat Dino tergolek lemas dengan beberapa luka lebam di wajahnya. Tanpa dia tanya, salah seorang tahanan lelaki di sel yang sama memberitahunya kalau si Dino habis diinterogasi penyidik. Dan dia kembali dengan kondisi babak belur begitu.
__ADS_1
Seulas senyum tersungging di bibirnya. Dalam hati dia mengucap syukur, karena dia tidak sampai mengalami kekerasan fisik semacam itu setiap kali menjalani interogasi.