Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pemilik asli 'son of pegassus'


__ADS_3

Erika bertanya-tanya dalam hati, sudah berapa lama Budi ada di belakangnya? Apakah Budi mendengar semuanya? Mereka saling menatap untuk beberapa lama.


“Identifie your self!” kata Budi.


Erika mengernyitkan keningnya. Putri dan Madina juga bingung dengan pertanyaan Budi. Tapi kemudian dia paham. Budi menanyakan jati dirinya. Tapi dia masih ragu, apakah ini waktu yang tepat untuk memberitahukan siapa dia sebenarnya?


“Erika Tungga Dewi” jawab Erika.


Budi tersenyum. Bukan itu yang dia maksud. Tapi dia paham, Erika masih belum mau jujur.


“Brigadir polisi kepala”


Budi terpana mendengar jawaban itu. Tapi Erika juga terkejut. Karena bukan dia yang menjawab, melainkan Sephia.


“Intelejen polri, bagian narkotika” lanjut Sephia.


Sephia datang dari arah kiri rumah. Putri dan Madina tidak kalah kagetnya. Madina bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangannya. Saking tidak percayanya.


Melihat gelagat aneh adiknya, Adel yang sedang makan, berlari menghampirinya.


“Phia?” tegur Erika.


“Dilatih khusus, untuk melindungi keluarga Abdul Rouf” lanjut Sephia.


“Hem? Bapak? Kenapa?”


Adel yang baru mendekat, tertarik dengan apa yang dikatakan Sephia. Tapi dia kehilangan kalimat pertama.


“I don’t know. Nggak dikasih tahu alasannya. Tapi kayaknya sekarang udah jelas kenapanya” jawab Sephia.


Budi tidak menyahut. Dia menatap Erika dengan lekat. Banyak sekali bayangan berkelebat di kepalanya.


Adel hanya bisa bertanya-tanya, tentang kata ‘dilatih khusus’. Dia belum berani bertanya.


“Her ID”


Sura Sephia menyentakkan lamunannya. Diapun menoleh ke arah Sephia. Sebuah kartu, diacungkan padanya.


Bersamaan dengan itu, Erika seperti kehilangan sesuatu. Dia meraba-raba kantong belakang celananya. Tak dia temukan dompetnya di kantong itu.


“Phia?”


Sephia hanya tersenyum menanggapi protes dari Erika. Budi manggut-manggut, membaca kartu anggota polri milik Erika.


Di belakang Budi, Adel bertanya-tanya tentang kartu yang dibaca Budi. Tapi dia bisa melihat, ada lambang bhayangkara di kartu itu.


Astaga. Apa Erika itu sebenernya polisi?


Adel hanya bisa membatin, tanpa bisa melihat lebih jelas ke arah kartu itu.


“Jadi semua geger yang terjadi antara aku sama Adel, itu operasi intelejen?” tanya Budi.


Erika terkesiap. Dia tidak menyangka Budi akan menanyakan hal itu. Adel juga tersentak mendengar pertanyaan Budi. Dia menatap Erika tajam.


“Yang enak-enak juga”


Suara Sephia menarik perhatian keduanya.

__ADS_1


“Excuse me?” tanya Budi bingung.


“Yang dikantor itu. Bukan semata-mata Erika godain kamu, mas” jawab Sephia.


Budi kembali menatap Erika. Dia mengernyitkan keningnya, tanda dia bertambah bingung.


Adel terbelalak mendengar ucapan Sephia. Rasa cemburunya kembali menggelegak, saat ingat apa yang diceritakan Budi tentang kekhilafannya di kantor, dulu.


“Udah dari awal kamu pulang mas, kamu diincar sama si Bejo” kata Sephia. Perhatian Budi teralihkan.


“Untuk?”


“Direkrut, lah. Sandi kan udah dari dulu. Kalo mas Budi masih berseberangan sama Sandi, berpotensi akan jadi hambatan. Makanya harus direkrut dua-duanya”


“Kalo aku nolak?”


“Paksa”


“Paksa? Aku belum pernah ngerasa dipaksa”


“Ya. Karena Erika udah lebih dulu pontang-panting” jawab Sephia. Budi belum mengerti.


“Jangan dikira temuan narkoba di pick up sepupumu cuman sekali kemarin itu, mas! Tiap mas Budi bawa mobil itu, selalu ada narkobanya di ikan muatannya. Bahkan dari pertama bawapun, sebenernya ada. Mas Budinya aja yang nggak perhatian. Ikan itu jebakannya, mas”


“Nice story” komentar Budi.


“This is not story, i tell the truth” sahut Sephia.


Matanya melotot pada Budi. Tampak dia tersinggung dengan komentar Budi.


“Ada yang lebih penting buat aku kerjain, Phia. Aku harus ke sana” jawab Erika.


“You will get no respect, baby” tegur Sephia.


“I never eat respect. Chicken geprek is better” jawab Erika.


“What's your plan?”


Pertanyaan Budi mengalihkan perhatian mereka berdua. Erika sempat tertegun beberapa saat.


Untuk kesekian kalinya Budi memberikan kepercayaannya, di saat orang lain mungkin sudah tidak mau melihatnya lagi.


“Nungki leave me a laptop. Show me that house!” perintah Erika pada Sephia, sambil menunjuk ke dalam rumah.


Sephia tidak langsung menjawab. Dia menatap Budi dengan tatapan kesal. Hatinya masih dongkol mendengar komentar Budi, tadi.


“OK” jawab Sephia, kemudian. Diapun langsung masuk ke dalam rumah.


Erika beranjak mengikuti Sephia. Saat dia melewati Budi, dia terkejut, mendapati Budi merangkulnya dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.


Adel terbelalak. Rasa cemburunya membuncah. Sekuat tenaga dia menahan, karena dia teringat, siapa dia sekarang.


“Aku nggak sepenuhnya nyalahin kamu, sayang” bisik Budi sembari berjalan.


“Ceritain semuanya, saat aku udah layak untuk mendengarkannya!” lanjut Budi.


“Pasti, mas. Pasti akan aku ceritain semuanya” jawab Erika, ditengah isak tangisnya di dada Budi.

__ADS_1


“Memang, ada dosaku juga, atas berpisahnya kalian, mas. Tapi bukan semata-mata karena aku cinta sama kamu. Aku cuman mau misahin gembok, dari kuncinya. Biar aku punya waktu buat resque” lanjut Erika.


Budi menatap lagi mata Erika lekat-lekat. Dia terkejut mendengar analogi gembok dan kunci. Juga kata resque.


Artinya, si Bejo juga mengincar Adel untuk digunakan sebagai jalan masuk guna mendapatkan dirinya.


Kalau sampai dirinya terjebak perangkap Bejo, dan Adel ikut bersamanya, akan terlalu berat untuk bisa melepaskan diri. Pasti ibu atau adiknya akan digunakan untuk memaksanya juga memaksa Adel untuk tetap melakukan apa yang mereka perintahkan.


“Apapun dosa yang kamu bilang itu, “ Budi menggantung kalimatnya.


“Makasih” Lanjut Budi kemudian. Erika mengernyitkan keningnya.


“Makasih, udah nolongin aku sampe sekarang. Dan makasih, kalo kamu masih mau nolongin aku lagi” lanjut Budi, sambil menunjuk senjata Erika.


“Jangan habis manis sepah dibuang!”


Perhatian mereka teralihkan oleh seruan Sephia.


“Awas kamu, mas!” lanjut Sephia.


“Iya” jawab Budi sambil tergelak.


Sephia membuka laptop yang ditunjuk Erika. Dan Budi sempat terkejut saat dia melihat sekilas ke arah layar monitornya.


‘Son of pegassus’, begitulah tulisan awal saat program yang akan dipakai Sephia baru menyala. Lalu Sephia membuka tampilan citra satelit.


“Ini”


Suara sephia membuat Erika mendekat. Tapi tidak dengan Budi. Dia masih tertegun. Pikirannya mengembara mengingat masa lalu.


Kepalanya berdenyut lagi, seolah baru kemarin dia terjatuh dari lantai dua rumahnya Adel. Hatinya juga terasa sesak, mengingat kembali bagaimana dulu dia harus berjuang membuktikan, bahwa tuduhan yang dialamatkan padanya hanyalah fitnah belaka.


Dadanya juga mendadak terasa ngilu, seolah peristiwa tertembus peluru saat duel dengan Sandi waktu itu, baru kemarin.


Perangkat lunak mata-mata yang dibilang polisi itu, ternyata adalah milik polisi itu sendiri, dan pelakunya adalah polisi juga. Lakon macam apa, ini? Begitulah pertanyaan yang terlintas di benaknya.


“Mas”


Erika buru-buru mendekati Budi, lalu memeluknya. Dia tahu, Budi sedang menahan amarah, karena tahu semua kebenarannya.


Dan memang, Budi sedang berusaha sekuat tenaga, untuk menahan gejolak amarahnya. Walau Sephia telah mengatakan, kalau semua itu untuk melindunginya, begitupun dengan Erika, tapi masih sulit buat Budi menerima kenyataan itu.


Sekuat tenaga dia memunculkan logikanya, diantara tingginya gelombang perasaan yang mendominasi dirinya.


*Bud. Lu nggak bisa nurutin emosi lu. Gimana lu bisa tahu kebenarannya, kalo baru sedikit aja lu udah kehabisan napas*?


Budi bermonolog dengan dirinya sendiri. Seolah-olah dirinya bisa membelah menjadi dua.


*Kenyataan yang lu hadapi emang pahit. Tapi mungkin bakal lebih pahit, dan mungkin lu nggak sanggup nelen, sampe muntah-muntah, kalo lu dibiarin berjalan pada kenyataan yang satunya.


Sabar Bud! Lu harus sabar. Lu harus dengerin dulu semuanya sampe akhir. Bisa jadi, pada akhirnya lu beneran harus berterimakasih pada Sephia. Bahkan bisa jadi, lu bakal kepusingan, gimana caranya ngebales jasa pada Erika. Karena nggak ada yang sepadan dengan perjuangannya nyelametin lu, bahkan di saat lu sendiri nggak tahu. Sabar Bud! dengerin dulu sampe akhir*!


Lamat-lamat, Budi mulai bisa mendengar ada isak tangis di dekat telinganya. Dan dia mulai bisa merasakan, ada pelukan di tubuhnya. Ada getaran ketakutan dalam pelukan itu.


Ya, Erika merasa takut akan dibenci oleh Budi. Dia merasa sangat bersalah atas salah satu tindakan yang telah dia ambil, saat harus memisahkan Budi dari Adel. Cara yang terlalu kasar.


Walau pada akhirnya, cinta Budi dan Adel malah semakin besar. Hanya wasiat pak Fajarlah, yang benar-benar memisahkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2