
Di bengkel kayu, tampak Aldo masih berbincang dengan Stevani. Ibunya juga masih berada di teras kamarnya Putri. Sedangkan bu Lusi, Adel dan Madina tampaknya sudah naik ke kamar atas.
Kemunculan Budi membuat Aldo sadar, kalau tuan rumah hendak beristirahat. Diapun pamit kepada Budi dan bu Ratih.
Seperginya Aldo, Budi menutup gerbang samping, tempat masuknya truk untuk bongkar muat juga gerbang seberangnya yang lebih kecil. Setelah menutup semua gerbang, Budi berjalan mendekati ibunya.
“Kok nggak istirahat, bu?” tanya Budi.
“Kamu tadi, ketemu papanya mbak Rika, ngger?”
Budi bingung, ibunya malah balik bertanya.
“Iya, bu” jawab Budi singkat.
“Terus, ngobrolin apa?”
Di sini Budi merasakan ada yang lain dari gelagat ibunya. raut wajahnya terlihat serius.
“Ya, beliau pamitan, bu. Budi dititipin Erika buat dijaga. Pak Respati bilang, dia bukan bapak yang baik, karena pergi-pergian mulu. Jadinya Erika kehilangan sosok yang bisa dibuat bersandar”
“Dan kamu mau?”
“Iya, bu. Udah Budi lamar juga”
“Loh. Kok udah ngelamar?”
Sebuah reaksi yang tidak lazim buat Budi. Baginya, reaksi ibunya itu seperti sebuah keluhan daripada kaget.
“Memangnya kenapa, bu? Apa ibu menemukan ada yang tidak baik pada Erika?” Budi balik bertanya.
Bu Ratih tidak langsung menjawab. Dia menatap mata Budi beberapa saat. Lalu menghela nafas dulu sebelum menjawab.
“Bukan mbak Erikanya, tapi papanya” jawab bu Ratih, lirih.
“Papanya?”
Budi bingung dengan jawaban ibunya. Hanya dengan sekali pertemuan, dari mana ibunya bisa menyimpulkan sesuatu tentang papanya Erika.
“Ada apa dengan papanya Erika, bu? Ibu kenal dengan pak Respati?” tanya Budi lirih.
“Kalo kenal sih baru kemarin, ngger. Tapi ibu baru keinget, bapak pernah nyebut nama ‘Respati’ saat bapak dirawat”
“Sebelum meninggal?”
“Bukan. Dulu, waktu kamu masih dalam kandungan”
“Oh”
Hanya itu yang keluar dari mulut Budi. Dia melihat kalau ibunya sedang mengingat-ingat kejadian di masa lalu. Dan mungkin akan ada lagi yang ingin dia sampaikan. Tapi sampai beberapa saat, ibunya tak kunjung meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
“Memang bapak kenapa dirawat, bu?” tanya Budi hati-hati.
“Entahlah, ngger. Ibu dikasih tahu pak Sigit, waktu di pasar. Katanya, bapakmu terluka, ditemuin tak berdaya di lokasi penggerebekan bandar narkoba"
“Ha? kok bisa, bu?” taya Budi kaget.
“Entahlah. Bapak belum mau cerita sampai akhir hayatnya. Mungkin itu yang tersimpan di kotak yang kamu sembunyiin itu, ngger”
“Kalo begitu, Budi ambil sekarang juga ya, bu?”
“Jangan, ngger! keberadaanmu di sini jauh lebih penting” tolak bu Ratih.
“Tapi itu juga penting bu, untuk mengetahui, apakah kasus ini ada hubungannya sama kita atau tidak”
“Ibu rasa tidak ada, ngger. Ibu cuman teringat sama nama yang disebut bapak saat mengigau. Respati”
“Lagian, kalau memang bapakmu itu dulunya jahat, bapak udah menebusnya dengan tanggungjawabnya selama ini. Apa yang kita makan, semua dari uang halal, ngger” lanjut bu Ratih.
Budi masih belum berkomentar. Dia masih setengah syok, mendengar apa yang ibunya katakan. Dan dia masih penasaran dengan apa yang almarhum bapaknya simpan dalam kotak itu.
“Terus, Budi harus gimana, bu?” tanya Budi.
“Ya sudah, jalani aja dulu! Ibu cuman baper aja, keinget bapak” jawab bu Ratih.
Budi termenung menatap kesedihan di wajah ibunya. Seolah ibunya kembali ragu untuk memulai lembaran hidup baru dengan orang lain.
“Ibu istirahat dulu, ya?” pamit bu Ratih.
“Sini! Ambil bantal sama selimut dulu, kalo mau tidur di teras”
“Iya, bu”
Budipun mengambil bantal dan selimut untuk dia pakai tidur di teras kamarnya Putri.
***
Di tempat lain, Erika baru saja selesai mandi. Air hangat yang dia pakai membuat tubuhnya terasa rileks. Kini dia rebahan di ranjangnya.
Matanya terpejam tapi bibirnya senyum-senyum sendiri. Dia mengingat kembali momen dimana dia dilamar Budi. Dia sungguh tak menyangka, Budi akan seberani itu melamar dirinya seorang diri. Tapi bayangan Adel membuatnya bimbang.
*Aku pasrah ya Alloh. Semoga Engkau membuatkan jalan yang tidak terlalu berat untukku, jika cintaku ini tidak mungkin memiliki*.
Tiba-tiba saja lamunan Erika buyar oleh suara dering ponselnya. Sontak saja Erika mencari keberadaan ponselnya, lalu meraihnya. Sebuah panggilan video dari nomor yang tidak dia simpan, tapi dia tahu itu siapa.
*Ngapain malam-malam video call*?
Dia biarkan dulu panggilan itu. Dia menyibak selimutnya, beranjak dari peraduannya, lalu berpakaian sopan.
Sampai panggilan itu habis masa tunggunya, Erika tidak meresponnya. Dia sibuk mematut diri. Di panggilan kedua, dia merasa sudah siap dengan pakaian yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
“Halo. Ada apa?” tanya Erika tanpa basa-basi, begitu mengangkat panggilan itu.
“Weiss. Selalu to the point. Ha ha ha”
“Buruan! Gua ngantuk” perintah Erika.
“Oke, oke. Pindah skype ya? gua mau nunjukin sesuatu”
“Apa tuh?”
“Buka laptop deh, biar jelas!”
“Oke”
*Tuuut*
Erikapun mematikan telepon itu tanpa salam. Dia membuka laptopnya, membuka aplikasi skype, dan menautkan panggilan dengan orang yang baru saja meneleponnya. Dari seberang sana, langsung ada tampilan layar laptop lain yang dibagi dengannya.
“Wow. Makin canggih aja, lu” komentar Erika.
“Demi mendukung Erika gua term*nt*k. Gua harus update, kan?” sahut penelepon tadi.
“Gua nemu ada seseorang yang ngumpet di bak sampah, di belakang bengkel itu, Ka. Siapa dia? Seberapa kemampuannya?” lanjutnya.
Orang yang meneleponnya tadi bertanya dari seberang laptop sana. Erika tak segera menjawab. Dia sedang mengamati dengan serius, siapa yang tertangkap pada layar itu.
“Gua nggak kenal siapa dia. Ngapain ya, dia ngumpet di situ?” sahut Erika kemudian.
“Lah. Lu gimana, Ka? Itu orang udah dari tadi ngumpet di situ. Harusnya dia tahu celah buat masuk ke sana. Masa lu nggak tahu seluk-beluk bengkel itu?”
“Itu dia. Ada mafia yang bermain di bengkel itu”
“Kaya yang di Efa mebel?”
“Iya. Kalo di EFA mebel kan, mafianya yang masuk ke rumah itu. Nikahin anak yang punya mebel, “
“Kata gua sih, lu terkecoh, Ka. Udah dari pertama dibangun, itu bengkel jadi sarang” potong penelepon itu.
“Huuuffft. Bisa jadi. Banyak peristiwa yang nyita perhatian gua” komentar Erika.
“Terus, ini gimana?”
“Orang lu dimana?” Erika balik bertanya.
“Masih dua ratus meter dari target”
“Seperti rencana semula. Ikuti, identifikasi apa yang orang itu lakuin, kalo dia naruh apa ngambil narkoba, lumpuhkan dan bikin keributan!”
“Tapi mereka itu, gimana? Siapa mereka?”
__ADS_1
Kali ini layar yang dibagi dengan Erika menampilkan citra kamera satelit dengan posisi yang berbeda. Di hutan di belakang bengkel kayu Budi, terlihat ada tiga orang sedang bersembunyi di balik pepohonan. Citra infra merah dari satelit itu cukup jelas dari angle itu. Penelepon itu juga menunjukkan ada dua orang lagi di kiri dan kanan bengkel, dan ada dua lagi, sekitar tiga puluh meter di depan galeri.
“Astaga. Siapa lagi, sih?” gumam Erika.