Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bu lusi memohon ampun pada bu ratih


__ADS_3

Selepas isya’ Budi duduk termangu di teras rumahnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat siang tadi. Di dalam hati dia mengatakan, kalau dunia ini penuh dengan rahasia. Manusia sebagai hamba tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Apa yang diperkirakannya akan teramat susah, seperti sulapan saja, tiba-tiba menjadi mudah. Memang kalau Alloh sudah berkehendak, cukup mengatakan satu kata, kun! Dan terjadilah.


“Kamu kenapa, Bud?” tanya bu Ratih.


Budi menoleh ke arah datangnya suara. Dia tertarik dengan kalung yang dipakai ibunya. Bandulnya terlihat sangat mirip dengan yang dipunyai bu Lusi. Memang cocok kalau dibilang sepasang.


“Ngger, aku ibumu. Kok dipelototin kaya gitu?” tegur bu Ratih.


Dia gunakan kedua telapak tangannya untuk menutupi dadanya yang terbuka karena v-neck kaosnya yang cukup rendah.


“Astaghfirulloh” Budi menutupi mukanya.


“Bukan dada ibu, tapi bandul kalung ibu” kata Budi mengoreksi apa yang dipikirkan ibunya.


“Oh, bandul? Kenapa bandulnya ibu? Nggak ada yang aneh, perasaan” tanya bu Ratih. Dia duduk di sebelah kanan Budi.


“Emang nggak ada yang aneh sih, bu. Dari Budi kecil juga nggak berubah”


“Terus?”


“Eemm” Budi bingung bagaimana harus memulai ceritanya. Bu Ratih jadi penasaran.


“Budi liat pasangan bandul kalung itu, Bu. yang huruf VE” jawab Budi.


“Di mana?” tanya bu Ratih terkejut.


“Di puskesmas, tadi”


“Oh ya? Dokter? Apa perawat? Apa Bidan?” tanya bu Ratih antusias. Tapi Budi menggelengkan kepalanya.


“Pasien” jawab Budi.


“Pasien?”


“Ya. Pasien atas nama, Lusiana Fitri”


“Allohu Akbar. Lusiana Fitri? Di mana dia sekarang, ngger? Masih di puskesmas? Anterin ibu ke sana, ngger! Anterin ibu, cepet!” pinta bu Ratih seperti orang kebelet. Tangan Budi bahkan dia tarik, karena Budi tidak segera berdiri.


“Ibu, tunggu dulu!”


“Nunggu apa lagi? keburu pulang, Bud”


“Emang udah pulang, Bu” Jawab Budi.


“Ada apa, mas?” tanya Putri.


“Anterin ibu ke rumahnya! Kamu tahu rumahnya, kan?”


“Tahu, sih”


“Ya udah, ayo!


Bu Ratih berjalan turun dari teras. Dan langsung menuju tempat dimana motor Budi diparkir.


“Bu, denger dulu!”


“Apa lagi sih, ngger? Ibu cuman pengen ketemu. Nggak lama-lama juga nggak papa. Ibu kangen banget sama dia, ngger” tanya bu Ratih.


“Ibu janji, ibu nggak bakal ganggu istirahat dia. Ibu cuman pengen lihat dia aja” lanjut bu Ratih.


“Ketemu siapa sih, bu? Kayaknya ngebet banget?” tanya Putri penasaran.


“Kan udah ketemu, bu”kata Budi tanpa menjawab pertanyaan Putri.


“Ha? kapan? Dimana?”


“Kemarin, pas abis banjir. Yang di kejar-kejar warga” jawab Budi.


“Ha?”


“Jangan bilang, “ sahut Putri.

__ADS_1


“Ya. ibunya Adel, bu”


“Apa?” Putri memekik dengan kencangnya, mendengar jawaban kakaknya.


“Ya Alloh, Lusi. Apa yang kamu alami setelah aku tinggal, dek?” gumam bu Ratih.


Dari pelupuk matanya meluncur air mata. Putri dan Budi saling memandang. Putri bingung dengan yang dikatakan ibunya.


“Anter ibu ke sana, ngger!” pinta bu Ratih lagi.


“Tapi, bu?”


“Ibu nggak peduli, ngger” potong bu Ratih. Seolah mengerti apa yang akan dikatakan putranya.


“Monggo!” jawab Budi.


“Putri ikut” seru Putri. Dia kembali ke dalam rumah,mengambil kunci motor. Mereka bertiga langsung melucur menuju rumah Adel.


Sesampainya rumah Adel, terlihat beberapa orang baru saja pergi dari rumah itu. Agak heran Budi dibuatnya, karena sejauh yang dia tahu, pastinya tetangga dekatnya bu Lusi enggak dekat-dekat dengan bu Lusi karena perkataannya yang kasar.


Tapi Budi segera mengelengkan kepalanya, menepis semua pikiran buruk itu. dia langsung bersiap untuk masuk. Dan meminta Putri untuk mengetuk pintu.


*Tok tok tok*


“Assalamu’alaikum” kata Putri memberi salam.


“Wa’alaikum salam”


Terdengar suara Madina yang menjawab salam Putri. Terdengar juga langkah kaki mendekati pintu.


“Allohu Akbar, Putri? Kok kamu nggak bilang, kalo mau dateng? Sama siapa?” tanya Madina heboh, saat melihat siapa yang bertamu. Putri tidak menjawab. Hanya jempol tangan kanannya dia arahkan ke sebelah kanannya.


“Eh, ya Alloh. Mas Budi, bu Ratih?”


Madina langsung berjalan mendekati Budi, lalu menyalaminya. Begitu juga kepada bu Ratih.


“Abram?”


Adel yang penasaran dengan tamu yang ditemui adiknya, ikut keluar untuk melihat siapa yang datang.


Adel terkejut melihat bu Ratih ada di belakang Budi. Serta merta dia juga ikut mendekat dan menyalami bu Ratih dan Budi.


“Ibu, udah istirahat?” tanya Budi.


“Oh, belum sih” jawab Adel.


“Oh, i see. Monggo, silakan bu!” kata Adel mempersilakan tamu-tamunya untuk masuk.


Tanpa mereka ketahui. Bu Lusi juga sedang dalam perjalanan menuju teras rumah. Dia juga penasaran saat melihat kedua Putrinya sampai keluar rumah untuk menyambut tamu yang datang. Di dalam hati dia bertanya-tanya, siapa gerangan tamu itu?


“Haa”


Bu Lusi memekik tanpa suara. Dia sangat terkejut melihat siapa yang datang. Banyak sekali kenangan di dalam kepalanya berputar dalam satu waktu. Berurutan dan mengalir begitu cepatnya. Sampai yang terakhir adalah ingatannya saat dia memaki-maki orang kini berdiri di depannya.


“Mbak Dewi” kata bu Lusi lirih.


“Lus” sahut bu Ratih.


“Mbak Dewi, ampun mbaaak”


Serta merta bu Ratih mendekat dengan tubuh dia rendahkan. Dia merendah untuk memeluk kaki bu Ratih. Bu Ratih reflek mencegah bu Lusi melakukan itu, tapi terlambat.


“Ampun mbaaaakk”


Hanya itu yang mampu bu Lusi katakan. Tangisnya sudah seperti anak kecil. Pak Fajar yang sedari tadi menuntun bu Lusi berjalan, hanya tertegun dengan sikap istrinya. Sikap yang baru sekali ini dia lihat sejak tinggal bersama.


“Lus, aku belum pantas dapat kehormatan kaya gini. Bangun, dek!” pinta bu Ratih.


“Ampuun mbaaak”


Bu Lusi masih belum mau untuk beranjak dari kaki bu Ratih. Dia masih menangis sambil meminta ampun.

__ADS_1


“Iya, Lus. Aku udah maafin, kok. Bangun yuk!” jawab bu Ratih.


Tapi tetap saja bu Lusi masih belum mau beranjak dari memeluk kaki bu Ratih. Bu Ratih mengelus-elus kepala bu Lusi. Sampai beberapa saat lamanya. Sampai bu Lusi menuntaskan gelombang rasa sedih yang memuncah dari dalam hatinya.


“Mbaak”


Bu Lusi menengadahkan kepalanya. Bu Ratih meminta bu Lusi untuk bangun, dengan gestur tubuhnya. Bu Lusipun memenuhi permintaan bu Ratih. Dia bangun dari bersimpuhnya. Lalu bu Lusi mengajak tamunya itu untuk duduk di sofa. Tak lama kemudian, Madina datang membawakan teh hangat untuk semua yang ada.


“Mbak, aku bener-bener minta maaf ya, mbak. Ampuun. Aku nggak tahu kalo kemarin itu, mbak Dewi” kata bu Lusi. Bu Ratih yang duduk di sebelahnya, tersenyum manis.


“Nggak papa kok, Lus. Aku malah jadi ngerasa bersalah, ninggalin kamu di antara orang-orang nggak tahu adab itu. Pasti berat buat kamu, ngelawan mereka sendirian”


“Enggak cuman mereka, mbak. Sejauh yang aku inget, dimanapun aku berada, banyak orang yang ngebuli aku, mbak. Di setiap pertambahan umurku. Bahkan sampe aku ketemu mas Fajar, nikah, punya Adel, punya Madina. Ada aja yang ngebuli aku, mbak. Aku capek”


Adel tak kuasa menahan air matanya. Curhatan ibunya kali ini, terasa lebih menyayat hatinya daripada kemarahan yang ditunjukkan ibunya tempo hari.


Tidak ada yang berani menyela, saat bu Lusi meneruskan curhatannya kepada orang yang dianggapnya sebagai kakak itu. Dia menceritakan banyak hal. Dia menceritakan kepedihan hatinya akan sikap orang-orang di sekitarnya. Bahkan orang-orang yang menyebut dirinya saudara.


Tak kurang dari satu jam bu Lusi menumpahkan kepenatan hatinya, tanpa ada selaan sama sekali. Diakhiri dengan menyandarkan kepalanya di dada bu Ratih. Tangisnya kali ini adalah tangis kelegaan.


“Mbak Dewi sendiri, gimana kabarnya? Apa yang mbak Dewi temuin setelah pulang kampung? Pasti nggak senyaman dulu, kan?” tanya bu Lusi. Bu Ratih tergelak.


“Tuh”


Bu Ratih menunjuk Budi dan Putri, sebagai jawaban.


“Saking nyamannya, sampe punya dua” lanjut Bu Ratih.


“Ha ha ha. Itu sih emang disengaja” komentar bu Lusi tergelak. semua orang tertawa mendengar komentar itu.


“Ya. Abisnya aku kangen banget sama kamu. Punya anak cowok, rasanya tuh pengen banget punya anak cewek”


“Gustiii”


“Dan saat anak keduaku ini lahir, aku sempet minta mas Rouf buat nemuin kamu. Tapi kamu udah nggak di sana, dan nggak ada yang tahu kamu pindah kemana”


“Gusti. Beneran, mbak?”


“Bener. Sampe kasihan aku sama mas Rouf, aku paksa dia buat nyari keberadaan kamu”


“Mbaaak”


“Pada akhirnya, aku harus nerima kenyataan. Kalo aku nggak bisa berbagi rasa bahagia ini sama orang yang paling aku kangenin”


Bu Lusi hanya bisa memandangi wajah bu Ratih tanpa tahu harus berkomentar apa.


“Sebagai gantinya, sebagai obat kangenku, aku minta ijin sama mas Rouf buat nyematin nama kamu untuk anak kedua kami”


“Lusiana Putri. Jadi?” gumam Madina.


“Iya” jawab bu Ratih.


“Mbaaak”


Bu Lusi menangis lagi. Dia menangis di pangkuan bu ratih. Rasa bersalah dan malu itu muncul kembali. Orang yang pernah dia maki-maki, ternyata adalah orang yang sangat merindukannya.


“Mbak, orang kalo bersalah kan harus dapet hukuman. Kasih aku hukuman mbak, atas kelancangan mulutku yang nggak tahu etika sama keluargamu, mbak!” pinta bu Lusi.


“Yang bener aja. Aku nyari kamu dari kecil, masa sekarang mau kasih hukuman?”


“Apa kamu nggak marah sama aku, mbak? Aku kan juga, “


“Udah, jangan ngomong aneh-aneh, ah!” potong bu Ratih.


“Rasa kangenku, jauh lebih gede ketimbang marahku. Dan ketemu sama kamu, jauh lebih nyenengin dari dapet togel lima angka” lanjut bu Ratih.


“Ha ha ha ha” bu Lusi tertawa mendengar jawaban itu. Seolah ada kenangan lucu di antara mereka tentang togel.


“Walah, tehnya udah dingin. Monggo, silakan diminum!” seru bu Lusi.


Semuanya tergelak mendengar seruan itu. Madina paling kencang. Sebenarnya sudah dari tadi Madina mau bilang begitu. Tapi tidak enak menyela pembicaraan penting itu.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengamati mereka dari pintu depan. Tadinya dia hendak bertamu, tapi mendengar pembicaraan yang begitu serius, dia mencoba menahan diri. Dia tampak tidak suka dengan kehangatan dari kedua keluarga itu. Lama-lama dia tidak tahan dan memilih untuk mengurungkan niatnya bertamu. Dia pergi menuju sebuah mobil yang terparkir di luar halaman.


***


__ADS_2