
Magrib sudah beberapa saat berlalu, sedangkan Budi masih berada di kantornya. Dia mulai terlihat gelisah. Beberapa kali dia melirik ke arah Erika. Jam kerja normal yang telah usai, membuat Erika tak peduli lagi dengan baju seragamnya. Dia tanggalkan seragam itu, menyisakan kaos you can see berwarna putih polos. Mulusnya lengan Erika membuat darah Budi berdesir. Terlebih bulu-bulunya terbilang lebat untuk tangan wanita.
Beberapa kali juga dia memandangi layar ponselnya sambil tersenyum. Pesan singkat dari kekasihnya juga tak kalah menarik. Beberapa foto Selfie yang dikirimkan Adel, juga sukses membuat darahnya berdesir.
Lama-lama Budi merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Di dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa sore ini syahwatnya bisa menggelegak sedemikian tingginya? Bahkan pertanyaan-pertanyaan sederhana seputar pulang, makan dan mandi, bisa membuat khayalannya melayang kemana-mana.
Ditambah lagi di sebelahnya, Erika beberapa kali menguap. Dia yang meregangkan badannya, tak ayal menyuguhkan pemandangan menarik buat Budi.
Warna hitam samar-samar membayang di kaos putih polos itu. Beradu dengan warna coklat terang yang seolah tidak mau kalah. Membuat Budi semakin tak karuan. Bukannya bisa fokus untuk menyelesaikan laporan hariannya, di pikirannya justru timbul fantasi yang semakin bar-bar.
“Mbak, aku pulang dulu, ya?” kata Budi meminta ijin.
“Loh, emang udah kelar kerjaanmu?” tanya Erika.
“Belum, sih. Tapi tinggal dikit, kok. Aku lanjut di rumah aja”
“Nggak, nggak, nggak. Aku nggak mau kelabakan kaya tadi. Pokoknya harus kelar sebelum kamu pulang” kata Erika tegas.
“Huufft” Budi menghela nafas berat.
Erika tampak tidak peduli. Dia kembali fokus dengan pekerjaannya sendiri. budi hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia kembali menatap layar komputernya. Berusaha fokus agar bisa segera selesai.
“Mau kopi, nggak?” tawar Erika.
“Hem?” Budi menoleh karena kaget.
“Yang asli, apa yang pake susu?” tanya Erika lagi.
Budi tersenyum. Lagi-lagi pikirannya melayang kemana-mana. Bukannya fokus melihat kedua bungkus kopi yang diacungkan Erika, dia malah melihat bawahnya.
“Kalo susu, ada nggak, mbak?” jawab Budi.
“Haih, kenapa cowok sukanya susu?” komentar Erika.
“Usaha sendiri, lah. Males bukanya” lanjutnya.
“Ha?”
“Nih”
Erika mengeluarkan sebungkus susu sachet dari laci mejanya. Dia letakkan di pojokan mejanya, lalu beranjak dengan tertawa kecil.
“Aduh”
Erika memekik terkejut. Salah satu kopinya terjatuh. Budi mengalihkan pandangannya dari layar monitor ke sumber suara, tepat di saat Erika membungkuk untuk memungut kopinya yang jatuh.
“Wow” gumam Budi lirih.
Tanpa dia duga, kaos yang dipakai Erika tersingkap ke atas. Memamerkan kulit putih nan mulus. Pinggang ramping tanpa timbunan lemak. Tapi bukan itu yang paling menarik. Yang lebih menarik, muncul tiga utas tali berwarna merah marun menyembul dari balik celana seragamnya. Pikiran Budi traveling seketika.
Budi tertawa sambil geleng-geleng kepala saat Erika keluar untuk menyeduh kopinya. Keinginannya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, justru malah semakin ambyar. Perlu helaan nafas panjang beberapa kali untuk mengusir syahwat yang semakin menggebu.
“Nih Bud, kopi susu”
Suara Erika mengalihkan perhatiannya. Secangkir kopi susu terhidang manis di sudut meja kerjanya.
“Ya Alloh, beneran dibikinin. Nyogok, ceritanya?” komentar Budi.
“Nyogok? Ha ha ha. Itu penyemangat aja. Kan, karena perintahku kamu nggak bisa langsung pulang” jawab Erika.
“Yang kopi tadi juga belum lama, abisnya”
“Justru itu, makanya aku bikinin kopi susu. Kopi itemnya buat aku. He he”
“Udah, buruan diminum! Biar tambah fokus” lanjut Erika.
Budi mengangguk. Dia pikir ada benarnya juga. Barangkali dengan menyeruput kopi panas, pikirannya jadi fresh, syahwatnya bisa mereda.
“Makasih ya, mbak” ucap Budi.
Erika tersenyum saat melihat Budi menyeruput kopi buatannya. Dia juga ikut menyeruput kopinya sendiri. Kembali mereka fokus kepada layar monitor masing-masing. Tapi Budi merasa kalau kopi itu tidak cukup kuat untuk meredakan syahwatnya. Beberapa kali malah dia hilang fokus. Matanya meleng ke samping. Pemandangan itu sungguh sangat menggoda jiwa kelelakiannya. Takut khilaf, dia mencoba mengalihkan perhatiannya pada layar komputernya lagi.
“Alhamdulillah”
Erika tersentak mendengar Budi mengucap syukur sambil menggeliat. Sendi-sendi tubuhnya gemeretak. Lalu dia membuang nafas lega.
“Udah kelar, Bud?” tanya Erika.
“Udah, mbak. Udah aku submit” jawab Budi.
“Coba liat” Erika beranjak dari duduknya, dan menghampiri Budi.
__ADS_1
“Kan di laptop mbak Rika bisa” kata Budi.
“Haih, monitorku penuh, Bud. Banyak banget yang aku buka. Sampe lemot itu laptop” jawab Erika.
Budipun tidak protes lagi. dia membuka aplikasi yang sudah dia tutup. Lalu menunjukkan hasil kerjanya.
Erika berdiri di sebelah Budi sambil membungkukkan tubuhnya. Tangannya bertumpu pada meja, tepat di depan kepala Budi. Tujuannya agar mudah memainkan keyboard dan mouse.
Entah kemalangan atau kemujuran sebutannya buat Budi, efek dari membungkuknya Erika. Warna hitam yang tadi membayang samar-samar, sekarang jauh lebih jelas. Hanya beberapa senti di depan wajahnya. Darah Budi berdesir lagi. Sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak gelap mata.
*KREEEEEK*
“AWWW”
“MBAAAKK”
Niat hati mau menjauhkan diri dari tubuh yang sangat menggoda itu, tapi naas. Erika yang ternyata menyandarkan keseimbangan tubuhnya pada hand rest kursi Budi, menjadi limbung. Tubuhnya berputar dan nyaris jatuh ke lantai.
Beruntung Budi reflek memajukan tangannya. Tubuh semampai itu berhasil dia tangkap. Dengan gerak reflek juga, Budi menarik tubuh Erika mendekat padanya.
“Aduh”
Erika memekik saat kursinya Budi menabrak dinding tembok, dan tubuhnya mendarat di kursi Budi. Lebih tepatnya, dia mendarat di antara kaki Budi. Untuk beberapa saat mereka seperti mematung. Mereka masih tertegun akibat kejadian tak terduga itu.
“Bud”
Suara Erika menyentakkan Budi.
“E eeh”
Dia tersadar, dan memindahkan tangannya dari tempat yang tidak menjadi haknya untuk menjamahnya.
“Ma, maaf mbak. Aku nggak sengaja” kata Budi. Erika terlihat merajuk.
“Ya udah, kita pulang aja” jawab Erika.
“Mbak, aku beneran nggak sengaja” kata Budi lagi. Dia berdiri dan menghampiri Erika.
“Iya, aku tahu”
Erika menjawab tanpa melihat ke arah Budi. Dia sibuk membenahi peralatan kerjanya. Termasuk mengenakan kembali baju seragamnya.
“Yuk, pulang!” ajaknya.
“Enggak. Aku takut khilaf aja” jawab Erika. kali ini ada senyum mengembang di bibirnya.
“Kamu tahu kan, aku nggak punya cowok. Kalo sampe khilaf sama kamu, bisa jadi gosip. Kamu mending, punya Adel” lanjutnya.
“lah, emang kita begituan, apa?” kilah Budi.
“Halah, kita udah sama-sama dewasa, Bud”
“Yuk!” ajak Erika.
“Oke”
Budi kembali ke mejanya. Membereskan komputer dan berkas-berkas yang dia input tadi. Lalu beranjak dari duduknya sambil menenteng cangkir kopinya. Berdua mereka keluar dari kantor HRD. Kondisi lorong antar kantor dan antar kubik sudah lengang tak berpenghuni, dan juga gelap.
“Janjian dimana?” tanya Erika.
“Ha? Sama siapa?” Budi bingung dengan pertanyaan Erika.
“Ya Adel, lah”
“Enggak janjian”
“Oh, kirain udah janjian. Makanya ngebet pengen pulang cepet”
“Emang kalo pengen pulang cepet harus selalu diasosiasikan dengan janjian?”
“Abisnya celana kamu nggembung sih” jawab Erika. Budi tersentak mendengar jawaban itu.
“Keras, lagi” lanjut Erika dengan berbisik.
Budi sampai terhenti langkahnya mendengar bisikan itu. Dia tidak percaya kalau Erika ternyata sesantai itu berbicara tentang keintiman.
Erika tertawa melihat Budi tertegun mendengar ucapannya. Dia bahkan menunggu di pintu tembus menuju lobi. Di depan lobi, Budi menghentikan langkahnya. Menunggu Erika mengunci pintu tembus.
“Udah pulang bareng aja sama aku!” kata Erika, saat budi mengeluarkan kuci motornya. Budi menoleh.
“Sambil aku bantuin” lanjutnya berbisik.
Bisikan itu membuat Budi tertegun lagi. Beberapa saat lamanya mata mereka beradu pandang. Jarak mereka sangat dekat. Hembusan nafas mereka bisa saling mereka rasakan.
__ADS_1
“Tapi boong. Ha ha ha ha” kata Erika kemudian.
Dia berlalu mendahului Budi yang masih tertegun. Tawanya menggema memecah keheningan. Budi hanya bisa geleng-geleng kepala.
Dua kali Erika berhasil mengerjainya. Sampai mereka berpisahpun, Erika masih saja tertawa. Sampai-sampai scurity yang berjaga di pos kebingungan dibuatnya.
Sampai di rumah, dia melihat ada satu motor lagi yang dia belum kenal. Di dalam hati dia bertanya-tanya, siapa gerangan yang bertamu malam-malam begini? Tapi melihat tetangganya masih pada di luar, Budi menduga kalau tamu yang datang itu bukanlah laki-laki. Dia langsung melangkah menaiki tangga rumahnya.
“Assalamu’alaikum” sapanya memberi salam.
“Wa’alaikum salam” jawab yang di dalam rumah, kompak.
“Loh, Tata” komentar Budi kaget. Ternyata tamunya adalah kekasih hatinya. Agak janggal buat Budi.
“Bram” sapa Adel, sambil beranjak menyalami Budi. seperti biasa, dia cium tangan.
“Eh, ada Madina juga? Udah lama, dek?” seru Budi lagi.
Ternyata, di ruang keluarga, selain ibu dan adiknya, ada satu tamu lagi bersama mereka.
“Iya, mas Budi” jawab Madina.
Budi berlutut di depan bu Ratih. Dia salim seperti orang sungkeman. Itu terjadi karena bu Ratih sedang dalam posisi duduk di lantai. Putri dan Madina bergantian salim dan cium tangan kepada Budi.
“Belajar apa?’ tanya Budi.
“G-sheet lagi, mas” jawab Madina. Dia menunjukkan buku tulisnya.
“Oh, yang itu Putri udah bisa kan?” tanya Budi kepada adiknya.
“Udah. Ini juga lagi ngejelasin sama Madina” jawab Putri.
“Ya udah, lanjut dulu, gih. Aku mau mandi dulu” kata Budi.
“Ya, mas” jawab Madina.
Budi pamit untuk mandi. Adel sempat menggodanya dengan berbicara tanpa suara. Budi hanya tersenyum menyanggah godaan Adel.
Di tempat lain, Hendra kembali menghubungi mbak Ning. Dia menanyakan apakah mbak Ning sudah berhasil mendapatkan kopian rekaman CCTV di toko itu apa belum. Mbak Ning mengatakan kalau penjaga toko yang tahu tempat penyimpanan rekamannya sedang cuti. Kalau tidak besok, ya lusa baru kembali bekerja.
Dia sudah menelepon orang itu. Dan orang itu bersedia untuk dimintai tolong. Tapi dia mengajukan bayaran. Hendra mengatakan kalau dia sanggup membayar sebesar yang diminta orang itu. Dia berdalih, demi bisa meniduri janda tercantik, apapun akan dia lakukan.
Untuk mengobati kekecewaan Hendra, mbak Ning menawarkan untuk menginap di hotel seperti sebelumnya. Tapi Hendra menolak. dia beralasan sedang memiliki pekerjaan yang harus segera dia selesaikan.
Di rumah Budi, perbincangan antara tuan rumah dan tamu itu terdengar semakin seru. Saking serunya sampai tidak memperhatikan, sudah berapa lama Budi pamit meninggalkan mereka. Saat Budi kembali, Adel tergelak tanpa suara. Bu Ratih menyarankan Budi untuk mengajak Adel untuk berbincang di teras depan.
“Lama amat Bram, mandinya? Ngapain hayo?” goda Adel, begitu mereka sudah duduk di teras depan.
“He he. Aduh, ketebak, ya?”
“Makanya, buruan halalin Tata!” bisik Adel di telinganya.
“Oh, iya. ngomongin halal, jadi keinget. Bapak nggak ngomel, Tata ajak Madin ke sini?” tanya Budi.
“Enggak. Ibu malah, yang nyaranin” jawab Adel.
“Loh, kok bisa?”
“Ya, kan kemarin udah islah, Bram”
“Eemm” Budi tampak berpikir.
“Tata juga masih antara percaya sama nggak percaya, sih. Tapi, bukannya ini justru awal yang bagus, Bram?” potong Adel. Budi tersenyum mendengar kalimat itu.
“Iya juga, ya? Alhamdulillah, ya?”
“Tapi nggak ada salahnya juga, kalo Abram mulai merintis sesuatu”
“Merintis apa?”
“Eeem. Apa kek. Jualan ikan goreng juga boleh. Udah mulai banyak kan, yang masarin lewat aplikasi ojek online?” jawab Adel.
“Eeem. Ya, boleh juga”
“Ibu tuh, udah nggak masalahin hubungan kita, Bram. Tapi bapak, saat ini dia lagi terpuruk. Dia masih sensi sama yang namanya harta. Abram tetep harus terus waspada” kata Adel. Budi fokus menyimak.
“Kalo abram punya usaha sendiri, paling tidak Tata bisa nunjukin kalau Abram tuh, sedang di posisi bapak dulu, di waktu awal menikah. Sedang merintis” lanjut Adel.
“Iya, iya, iya” jawab Budi.
“Abram juga ada impian ke arah situ, sih. Abram pikir dulu ya, apa yang sesuai dengan pashion abram”
“Iya, Bram”
__ADS_1