
Sedari pagi tadi, bu Ratih sudah terlihat lebih segar. Dari pemeriksaan pagi, dikatakan oleh dokter, kondisi bu Ratih sudah mengalami banyak kemajuan. Kalau dalam pemeriksaan nanti siang, bu Ratih kondisinya lebih baik lagi, maka beliau sudah diperkenankan untuk pulang.
“Gima kondisi ibu saya, Dok?” tanya Budi, siang ini.
Dokter yang sudah berjalan di lorong itu, menghentikan langkahnya. Dia berbalik arah dan menunggu Budi yang berjalan ke arahnya.
“Kondisi pasien sudah lebih baik” jawab dokter itu.
“Berarti ibu saya sudah boleh pulang, dok?”
“Betul. Pasien sudah boleh pulang. Nanti di rumah, jangan lupa obatnya diminum. Dan jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan juga makanan!”
“Baik, dok. Kami akan jalankan itu semua. Tapi mengenai tes laboratorium kemarin. Sudah ada hasilnya kah, dok? Ibu saya kena apa? apakah ada yang memasukkan racun ke dalam jajanan yang beliau beli?” tanya Budi penasaran.
“Dari hasil lab kemarin, menunjukkan adanya virus penyebab diare. Biasanya virus itu sudah masuk ke dalam tubuh tiga sampai liha hari sebelumnya. Karena virus yang masuk itu cukup banyak, maka peradangan yang pasien derita cukup parah. Tapi tidak ada temuan racun. Hanya tentang kebersihan saja”
“Hanya tentang kebersihan?”
“Ya, kebersihan,kehigienisan. Pedagang yang abai pada kebersihan, cenderung membiarkan konsumennya untuk memegang dan memilih jajanannya, tanpa mengunakan alat bantu. Padahal dia tidak tahu, konsumennya itu abis pegang apa. Termasuk pasien sendiri, maaf, kan pedagang ikan. Dalam bangkai ikan, berbagai bakteri dan virus kalau mau di uji, itu banyak sekali berkumpul di situ. Kalau pasien tidak bersih dalam mencuci tangan, ya virusnya pindah tuh, ke apa yang dia sentuh. Kalau itu makanan, dan dia makan, ya pindah itu virus ke tubuh”
“Oh, iya sih. Ya udah, makasih dok”
“Jaga kebersihan ya. Lebih ketat dari sebelumnya. Jadiin budaya!” saran si dokter.
“Baik dok”
Dokter itu pamit undur diri. Budi segera masuk ke dalam kamar rawat ibunya. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari ujung lorong sambil merekam pembicaraannya dengan dokter itu menggunakan sebuah ponsel.
*Rasain lu, emang enak gua kerjain? Gua nggak menghina ibu lu, ya. Gua cuman ngerjain dikit. Ha ha ha ha. Boleh juga itu dokter aktingnya. Ibu pasti seneng liat rekaman ini. Hi hi hi hi*.
Orang itu kemudian pergi meninggalkan tempatnya mengintai. Dia sibuk mengirimkan video itu ke seseorang, sampai tidak memperhatikan jalan. sehingga dia menabrak orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Tadinya dia mau sok galak. Apalagi yang dia tabrak adalah seorang perempuan. Tapi karena yang dia tabrak itu membawa rombongan, ada beberapa laki – laki gagah di situ, dia memilih diam, lalu pergi. Yang ditabrak hanya bisa tertawa sambil geleng – geleng kepala. Mereka melanjutkan perjalanan mereka.
“Assalamu’alaikum”
Terdengar sapaan dari luar kamar. Budi dan Putri saling memandang. Putri mengerti apa maksud kakaknya. Dia meletakkan perlengkapan yang akan dikemasi, lalu berjalan menuju pintu.
“Wa’alaikum salam” jawabnya.
Tampak yang di depan pintu itu adalah rombongan yang tadi.
“Maaf, apa benar ini kamar rawat pasien atas nama ibu Ratih?” tanya wanita yang paling depan.
“Benar, dengan siapa, maaf?” jawab Putri.
“Oh, kami dari PT. PRAM. Mau jenguk Bu Ratih”
“Oh, temennya mas Budi, ya? Monggo, silakan masuk” kata Putri mempersilakan.
“Eh, ya Alloh, Erika” seru Budi sambil menyalami tamunya.
“Hai, Bud”
“Monggo silakan” kata Budi mempersilakan Erika untuk bertemu ibunya.
“Allohu Akbar, ada pak Paul juga. Silakan, pak!” kata Budi sambil menyalami pak Paul.
“Kamu sehat, kan?”
“Alhamdulillah, sehat, pak. Monggo!”
Pak Paul masuk ke dalam ruang perawatan, mengikuti Erika yang sudah lebih dulu masuk. Tampak Erika cepat mengakrabkan diri dengan Bu Ratih.
“Selamat siang Bu Ratih. Gimana kabarnya?” tanya pak Paul sambil menyalami bu Ratih.
“Ini Pak Paul, kepala parik PT. PRAM” kata Erika mengenalkan atasannya.
“Oh, atasannya Budi ya, pak? Alhamdulillah, sudah enakan, pak” jawab bu Ratih.
“Syukurlah. Maaf ya bu, saya baru bisa nengokin. Kemarin ngepasin ada Tamu”
“Oh, nggak papa, pak. Ini ditengokin saja, saya sudah seneng”
Di luar ruangan, ternyata masih ada beberapa orang lagi yang ikut serta. Mereka sengaja tidak ikut masuk, memberikan kesempatan kepada yang paling dituakan di perusahaan.
“Eh, Vani. Ikut juga?” seru Budi kaget, saat melihat Stevani di luar.
“Iya, Bud. Semalem udah kecapekan, akunya. Pulang kerja langsung tidur” jawab Stevani.
“Nggak mandi, dong?” tanya wanita di sebelahnya.
“Ratna, ngapain pake dibahas, sih?’ tanya Stevani dengan suara agak digigit.
“Ha ha ha ha” Ratna tertawa.
“Pa kabar, Rat?” tanya Budi.
“Baik” jawab Ratna sambil menerima uluran tangan Budi.
“Ibu, gimana kondisinya?” tanya Stevani.
“Alhamdulillah, udah banyak perkembangan. Cuman ya, butuh istirahat dulu” jawab Budi.
“Iya, jangan boleh dagang dulu, Bud. Istirahat dulu”
“Rencananya emang gitu”
*Huwannuru yahdil kha irina dziya uhu*...
“Sebentar ya, aku terima telepon dulu” ijin Budi.
“Silakan”
Budi agak menjauh dari para tamunya. Diiringi tatapan Stevani yang tak mau lepas. Di dalam ruangan, pak Paul dan Erika sudah mulai bercanda dengan Bu Ratih. Termasuk dengan Putri juga.
__ADS_1
“Kalo nanti, Budi dapat tawaran di sana, saya mohon, bu. Bantu saya buat minta sama Budi, agar tetap di sini bantu saya. Terus terang, bu. Saya merasa sangat terbantu dengan kinerja Budi” kata pak Paul.
“Iya pak. Lagi pula, Budi sudah bertekad untuk berkarya di sini saja. Biar selalu dekat dengan ibunya” jawab Bu Ratih.
“Syukurlah. Saya senang kalau Budi punya angan – angan begitu. Saya punya harapan besar sama Budi”
*Tok tok tok*
Semua pandangan sontak tertuju pada intu depan yang diketuk seseorang. Dan orang itu adalah Budi. Dia masuk sambil membungkuk, isyarat memohon waktu untuk berbicara dengan ibunya.
“Kenapa ngger?” tanya Bu Ratih.
“Bu, pak Imam, nggak jadi jemput kita. Mobilnya mogok. Budi udah hubungi yang lain, tapi masih pada jauh. Kalo pake mobil mas Eko aja, gimana?” kata Budi.
“Ya nggak papa. Pake motor Putri juga nggak papa kok. yang penting sampai rumah” jawab Bu Ratih.
“Loh, sama kita aja, bu!” tawar pak Paul.
“Pak, maaf, bukannya bapak ada jadwal meeting?” potong Erika, dengan suara lirih.
“Ada Stevani kan? Minta dia coba, buat anter bu Ratih!” jawab Pak Paul.
“Aduh, nggak usah repot – repot, pak! Kita pake mobil sodara kita aja” tolak bu Ratih halus.
“Nggak papa, bu. Itu Stevani udah dari kemarin pengen ke sini terus. Tapi saya cegah. Harusnya sih, nggak keberatan” jawab pak Paul.
“Gimana Er?” lanjutnya.
“Mau, pak. Seneng malah, dia” jawab Erika.
“Tu kan, Bu. Apa saya bilang”
“Waduh, jadi ngrepotin nih, pak” kata bu Ratih”
“Ngrepotin itu kalo yang disuruh nggak mau. Ini dianya malah seneng kok, bu” sahut Erika.
“Itu, sudah dijawab. Ha ha ha”
Mereka segera bergegas untuk keluar kamar rawat. Suster yang menangani bu Ratih datang membawakan kursi roda. Walau bu Ratih bilang sudah kuat jalan, tapi prosedur di rumah sakit ini, pasien harus diantar degan kursi roda. Jadi, akhirnya bu Ratih menurut. Suster tadi juga mengantar Bu Ratih sampai ke parkiran.
“Bu Ratih, mohon maaf banget. Sebenarnya saya pengen nemenin ibu sampe rumah. Tapi saya ada tamu mendadak. Jadi, saya nggak bisa nganter” kata pak Paul.
“Oh, tidak apa – apa pak. Terimakasih banyak, sudah dijenguk. Apalagi ini, sampai diberi tumpangan segala. Semoga bapak sehat selalu, dan diberikan kelancaran atas semua urusan bapak” jawab Bu Ratih mendoakan.
“Amin. Terimakasih doanya, bu. Silakan, bu. Naik ke mobil!” kata pak Paul.
Bu Ratih mengangguk sambil tersenyum. Beliau naik ke mobil dibantu Budi. Erika dan Ratna menyusul dari sisi seberang, lalu mengambil posisi di baris belakang. Putri memilih duduk di samping ibunya.
“Terimakasih pak, atas bantuannya. Entah gimana saya harus membalasnya” kata Budi.
“O, jangan dibalas! Nanti pahala saya ilang. Ha ha ha” jawab pak Paul sambil tertawa kecil.
“Sekali lagi, terimakasih, pak”
“Ya udah, aku pamit ya, Bud. Ibunya dijaga, ya!”
Pak Paul segera melajukan mobilnya mendahului mobil Stevani. Lalu Budi mengambil posisi di baris paling depan, di sebelah Stevani.
Stevani terlihat senang, melihat Budi duduk di sampingnya. Tadinya dia berpikir, kalau Putri akan menghalangi kakaknya. Ternyata tidak. Sepanjang jalan, Stevani tak hentinya mengajak Budi berbincang. Walau topiknya tidak jauh – jauh dari pekerjaan.
Setelah sekitar lima belas menit berkendara, sampailah juga mereka di desanya Budi. Ratna mengatakan kalau dia punya mantan orang sini. Dan langsung ditimpali Erika dengan candaan.
Stevani membelokkan mobilnya ke jalan yang ditunjuk Budi. Melewati jalan lingkungan yang lebih sempit dari jalan utama. Budi meminta Stevani untuk menurunkan kaca mobilnya, dan menyapa tetangga yang sedang melintas.
Mereka yang melintas, dan juga melihat dari rumah masing – masing, masih merasa asing dengan stevani. Tapi saat melihat Budi, mereka baru paham, siapa yang datang itu.
Bagi mereka yang simpati dengan keluarga Budi, mereka langsung tergopoh – gopoh mendekat. Mereka menanyakan kabar, meminta maaf karena belum sempat menjenguk, dan juga membantu membawakan perlengkapan dari rumah sakit tadi ke dalam rumah.
Teman sebaya Putri langsung membantu Putri membuatkan minum bagi semua tamu yang datang.
Bu Ratih terlihat senang mendapat perhatian besar dari tetangga – tetangganya. Walau dia juga sedih, yang masih ada ikatan keluarga dengannya malah tidak terlihat batang hidungnya.
Dengan sabar bu Ratih dan Budi menjawab setiap pertanyaan dari tetangganya. Termasuk ketika mereka menanyakan tentang teman – teman Budi ini. Stevani tersipu saat ada yang menyeletuk, mengatakan kalau yang menyetir mobil tadi, pastinya calon menantunya bu Ratih.
“Bud, aku boleh minta waktu sebentar, nggak?” tanya Erika.
“Mau ngapain?” sahut Stevani, yang langsung disambut candaan para tetangga. Dia dibilang cemburu.
“Ye, aku mau nyampein pesennya pak Paul. Rahasia, kamu nggak boleh tahu” jawab Erika.
“Huuuuu” para tetangga menyoraki Erika. Tapi pastinya sorakan bercanda.
“Ya udah, kita ke belakang tivi aja” jawab Budi.
Erika melihat kearah yang ditunjuk Budi. Di belakang tivi itu, pastinya ada tembok. Tapi di belakang tembok itu ada ruangan lagi. Ada dapur dan ruang makan.
“Eh, eh. Inget, nyampein pesen doang, ya! Jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan!” kata Stevani berlagak posesif.
“Janur kuning belum melengkung, non” jawab Erika.
“Ciaaaaa” para tetangga kembali heboh dengan kelakar mereka.
Putri dan temannya sudah hampir selesai membuat minuman. Saat kakaknya dan Erika datang, mereka berdua sudah bersiap untuk membawa minuman itu ke depan.
Putri sempat memainkan matanya, menunjuk ke arah Erika, lalu dia kedipkan matanya sekali. Senyumnya mengembang mengetahui kakaknya bingung.
“Adekmu kenapa, Bud?” tanya Erika. ternyata dia melihat kedipan itu.
“Nggak tahu” jawab Budi sambil tergelak. Membuat Erika ikut tergelak.
“Emang suka ceng – cengan sih, kita” lanjut Budi.
“Ha ha ha. Rame, pasti” komentar Erika.
“Begitulah”
__ADS_1
“Oh, ya. Aku mau nyampein pesennya pak Paul” kata Erika memulai tujuannya.
“Apa?” tanya Budi. Erika mengeluarkan sesuatu dari tas punggungnya.
“Ini, dari perusahaan, sebagai ganti biaya berobat ibumu” jawab Erika. Dia memberikan sebuah amplop berwarna putih kepada Budi.
“Loh, aku kan belum ngasih bukti bayarnya. Dan pula, emang ibuku ditanggung?” tanya Budi.
“Bukti bayarnya, bisa besok atau lusa. Sebisanya kamu aja”
“Oh”
“Yang ini, dari pak Paul pribadi” lanjut Erika. dia memberikan sebuah amplop berwarna coklat.
“Subhanalloh” kata Budi lirih.
“Kok subhanalloh? Alhamdulillah dong, Bud” koreksi Erika.
“Aku nggak ngerti harus bilang apa, Er” jawab Budi.
Di dalam hatinya sedang berkecamuk perang perasaan. Ingin dia menolak bantuan itu. Karena dia merasa, ibunya kini menjadi obyek rasa kasihan orang.
Tapi kalau dia menolak, dia masih meyakini, kalau semua rejeki itu, Alloh yang atur. Menolak pemberian ini, Budi merasa seperti menolak rejeki dari Gusti Alloh.
“Bud, terima aja, ya. Nggak ada yang punya niatan merendahkan. Pak Paul, ngasih ini ke kamu, tulus, tanpa embel – embel apapun. Dia pernah kehilangan istri. Dan dia terpukul banget, karena anaknya, sayang banget sama ibunya. Ya kaya kamu sama ibumu” kata Erika. budi belum berkomentar.
“Itu yang bilang pak Paul sendiri” lanjut Erika.
Untuk beberapa saat lamanya, Budi belum berkomentar juga.
“Ngeliat semangat dan kelincahan kamu bekerja, bikin pak Paul keinget sama anaknya. Sayangnya anak itu juga udah nggak ada”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” komentar Budi.
“Makanya, pak paul ngasih ini. Ini sekedar untuk menjaga agar kamu tetap bisa tenang dalam bekerja” lanjut Erika dengan hati – hati. Beberapa saat kemudian, Budi tersenyum.
“Makasih ya, Er. Tolong sampein terimakasihku sama beliau” kata Budi. Dia menerima pemberian itu.
“Iya. Entar aku sampein”
Mata Budi mulai berkaca – kaca. Dia terharu mendapat perhatian sedemikian istimewanya dari atasan yang baru sebulan mengenalnya.
“Yang ini, dari teman – teman, Bud. mereka kolekan” lanjut Erika.
“Allohu Akbar”
Tak mampu Budi menahan tangisnya, begitu mendengar berita itu. Teman – teman yang baru sebulan megenalnya, sudah mau memberikan bantuan padanya.
“Jangan dilihat nominalnya ya, Bud. ini tanda rasa sayang mereka padamu. Sehari nggak ada kamu, mereka ngerasa kaya ada yang ilang”
“Subhanalloh, walhamdulillah, wala illaha illalloh wallohu Akbar. Wala haula, wa la quwwata illla billah”
Budi tidak pernah menyangka, kalau curhatannya semalam langsung didengar oleh Alloh. Padahal dia tidak meminta untuk diberikan ganti atas apa yang telah dia korbankan untuk perawatan ibunya.
Dia hanya mengucapkan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan untuk merawat ibunya. Dan dia hanya meminta petunjuk, kemana harus melangkahkan kaki menjemput rejeki. Ternyata Alloh mendatangkan rejeki itu, bahkan sebelum Budi memulai langkah kakinya.
“Itu aja, Bud” celetuk Erika.
Budi terkesiap. Buru – buru dia menghapus air matanya. Dia masih tidak tahu harus bicara apa. Memang, akan banyak tanggungan yang harus dia selesaikan. Tadinya Budi berencana menambah jam kerja, dengan kembali kerja serabutan di tempat sepupunya. Tapi ternyata Alloh memudahkan jalannya.
“Makasih ya Er. Tolong sampaikan salam dan terimakasihku buat teman – teman semua. Semoga Alloh membalas kebaikan mereka semua dengan jauh lebih baik” kata Budi.
“Iya, entar aku sampein” jawab Erika.
“Udah dong, jangan nangis lagi. Entar calon istrimu marah lagi, sama aku” lanjut Erika.
“Hmpf, calon istri?” tanya Budi sambil tergelak.
“Ha ha ha ha. Halu, dia. Hi hi hi” Erika tertawa tanpa suara. Membuat Budi juga ikut tertawa.
Budi menyimpan pemberian Erika di kamar. Lalu kembali ke ruang makan, untuk bersiap kembali ke ruang tamu.
“Tu, kan. Ngambil kesempatan dalam kesempitan. Lama bener?” celetuk Stevani. Membuat orang – orang di sekitarnya tertawa.
Mereka masih terus bercanda untuk beberapa saat. Kemudian, Erika mengajak Ratna dan Stevani untuk kembali ke pabrik. Karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Lagi – lagi Stevani berlagak seperti orang yang cemburu kepada Erika. Karena Erika, sehabis berbicara berdua dengan Budi, langsung mengajak pulang. Kontan saja kata – katanya membuat para tamu yang lain tertawa lagi.
“Pamit ya, Bu. Cepet sembuh” kata Erika meminta ijin undur diri.
“Makasih ya, nak. Ati – ati di jalan!” pesan bu Ratih.
“Put, embak pamit ya. Jaga ibu baik – baik ya”
“Iya mbak. Makasih ya”
“Kapan – kapan main dong ke rumah!’ pinta Erika.
“Ngapain? Lu mau nikung Gua, ya?” sahut Stevani.
“Ha ha ha ha”
Semuanya tertawa kembali. Sambutan berbeda ditunjukkan Putri saat Stevani pamitan padanya.
Walau dia tahu, Stevani berjasa mengantarkannya dan ibunya pulang, tapi dia tetap tidak setuju kalau dia yang menjadi pacar kakaknya. Dan itu tersirat pada jawabannya yang terkesan basa – basi. Tidak los seperti saat Erika yang berpamitan. Budi mengantarkan mereka sampai ke halaman depan.
“Aku pulang ya, Bud” pamit Stevani.
“Makasih ya Van. Lemah teles” jawab Budi.
“Ha, apa tuh?” tanya Stevani tidak mengerti.
“Gusti Alloh yang bales” jawab Budi.
“Oh, gitu. Amin” komentar Stevani sambil tertawa, menyadari ketidaktahuannya.
__ADS_1
Merekapun melambaikan tangan sembari mengucap salam, saat Stevani mulai melajukan mobilnya.
Kepergian mereka seperti menjadi teguran buat para tamu yang lain, kalau bu Ratih butuh istirahat. Mereka langsung berpamitan dan membubarkan diri. Tak lupa Budi dan Bu Ratih mengucapkan terimakasih tanpa kecuali, atas kehadiran mereka menjenguk.