Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
tragedi di perjalanan pulang


__ADS_3

Di dalam kantor pak Paul, keempat anak buah Dino sedang diinterogasi. Kesemuanya masih berusaha menunjukkan taringnya. Terlebih di saat Dino datang menemui mereka, dan berlagak sok garang. Teriakan dan umpatannya bahkan terdengar sampai ke kantin.


Tapi kedatangannya langsung di hadang oleh dua lelaki tinggi tegap itu. Dan pak Paul tertawa melihat lagak mereka. Tanpa basa-basi, pak Paul mengeluarkan sekian lembar foto berukuran lima R, dan melemparkannya ke meja tamu.


Keempatnya terbelalak. Foto-foto itu menggambarkan dengan sangat jelas, kalau orang yang menjadi jagoan mereka, sekarang terkurung di balik jeruji besi. Termasuk juga beberapa rekan geng mereka. Pak Paul semakin lepas tertawanya, melihat mereka menciut nyalinya.


Dino semakin keterlaluan, berulahnya. Sehingga harus dibawa keluar oleh scurity baru itu. pak Paul memberikan pilihan kepada mereka berempat. Kalau mereka tidak mau dipenjarakan, mereka harus angkat kaki hari ini juga. Sengajan pak Paul melakukan itu, karena ingin melihat, seberapa kuat dukungan yang mereka miliki di belakang mereka. Mau tidak mau, mereka memilih angkat kaki dari perusahaan ini.


Semenjak kejadian itu, Budi menjadi lebih sering termenung. Bukan tanpa alasan. Dia sedang memperhitungkan, seberapa besar kemungkinan Dino dan kroni-kroninya, akan menyasar keluarganya. Jika memetakan kelompok-kelompok lama, dengan orang-orang lama, maka kecil kemungkinannya, mereka akan membantu Dino menyasar keluarganya. Justru mereka akan melindungi ibu dan juga adiknya. Tetapi akan berbeda ceritanya, jika yang Dino ajukan untuk disasar, adalah Adel.


“Astaghfirulloh”


Budi langsung menelepon Adel untuk memastikan keadaannya. Kalau perlu, dia akan menjemputnya, dan mengawalnya sampai rumah.


“Assalamu’alaikum” sapa Adel dari seberang telepon. Terdengar juga suara musik yang cukup dominan.


“Wa’alaikum salam. Udah mulai ngejob, ta?” tanya Budi.


“Aduh, iya. Maaf bram, tata lupa ngabarin, kalo job hari ini, mulai dari pagi” jawab Adel.


“Wow, sampe malem?”


“Enggak, sih. Malemnya wayangan. Jadi yang campur sari, cuman dari pagi, sampe sore aja. Kenapa emang, bram?”


“Nggak papa. Kangen aja. He he”


Budi berusaha membuat suasana senormal mungkin. Dia tidak mau membuat Adel panik. Kepanikan justru akan membuat kemampuan berpikirnya berkurang.


“Alhamdulillah. Seneng deh, dikangenin”


“He he. Pulang jam berapa, rencananya?”


“Eh, iya. Alhamdulillah, abram nanyain”


“Ada apa?” potong Budi.


“Ini, tadi kan, tata berangkat bareng Tati. Jadinya, tata nggak diitung tuh, buat mobilnya. Eh, tahu-tahu dia dapet telpon dari bapaknya, buat jemput ke wawaran. Tata bingung, mau pulang sama siapa?” jawab Adel.


“Emang motor tata kemana?”


“Rusak”


“Rusak lagi?”


“Iya. nggak tahu, mesinnya suka ngadat. Kata orang bengkelnya, harus ganti injektor”


“Wow, lumayan juga itu, biayanya”


“Ya, lumayan sih, bram. Tapi mau gimana lagi?”


“Ya udah, tenang! Share lokasi aja! entar abram yang jemput” saran Budi.


“Beneran, bram? Terus, ibu gimana?”


“Kan ada Putri. Sekali-sekali aja, masih dimaklumi, lah”


“He he. Kalo nggak diijinin, mending jangan, bram. Mending tata ngojek, daripada dicemberutin camer”


“Ha ha ha ha. Emang pernah dicemberutin ibu?”


“Justru mumpung belum pernah. Jangan sampai kena”


“Iya, ta. Tenang aja. Abram yakin, pasti diijinin”


“Amin. Makasih ya bram”


“Sama-sama. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Sejenak Budi bisa bernafas lega, setelah mengetahui kalau kekasihnya baik-baik saja. Tanpa membuang waktu lagi, Budi langsung menghubungi ibunya.


Hanya dengan sedikit penjelasan, bu Ratih langsung memberikan ijinnya. Terlebih, stok ikan yang masih tersisa, tinggal sedikit. Jadi tidak butuh tenaga banyak untuk membereskannya.


Budi menutup teleponnya, setelah mengucapkan terimakasih. Dan terakhir, dia menghubungi Putri. Dia ingin agar Putri tidak mampir-mampir setelah pulang sekolah. Walau dengan nada meledek, tapi Putri juga mengijinkan kakaknya untuk absen sehari, tidak membantu di pasar.


Setelah urusan perijinan, Budi kembali keluar dari kubiknya. Ada target yang masih tetap menjadi prioritas. Terlepas dari adanya insiden keributan yang melibatkan dirinya beberapa waktu lalu.


***


Sorenya, Budi langsung pamit, begitu bel tanda pulang telah berbunyi. Saat berpapasan dengan Stevani, dia terkejut saat diatanya mau kemana buru-buru. Dia jawab saja apa adanya, mau menjemput Adel didekat klenteng.


Sempat Budi mendengar helaan nafas berat Stevani. Dia juga sempat menoleh. Dan raut wajah cemburu itu, terlihat jelas di wajah ayu itu.


Stevani hanya bisa memandangi punggung Budi saat lelaki idamannya itu keluar dari kantor. Dia sudah bisa membayangkan betapa mesaranya mereka, berpelukan di sepanjang jalan.


*Harusnya aku yang merasakan kemesraan itu bersama Budi, bukan dia. Apa yang dia lihat dari cewek itu? Apa karena dia artis? Cih, artis, mukanya dinikmatin banyak cowok. Kalo posting foto seksi, pasti dijadiin bahan. Mendingan sama aku, Bud. Sepenuhnya jiwa-raga ini cuman buat kamu seorang*.


“Van, malah bengong di situ, ngapain?” Seseorang menegurnya. Dia tersentak mendengar teguran itu.


“Eh, mbak Farah. Enggak, tadi si budi, tumben amat buru-buru pulang. Ada apa, ya?”


“Bukannya tadi sempet ngobrol? Nggak nanya, gitu?”


“Hem. Vani sih nggak yakin sama jawaban dia. Abis selengehan sih, jawabnya” jawab Stevani sambil tergelak.


“Ya udah, ditungguin Isma, tuh. Mau nanyain berkas yang tadi”


“Oh, oke. Ini, baru Vani ambil dari mobil”


“Yuk!” ajak Farah.


Merekapun masuk ke ruang meeting untuk membahas berkas yang ditanyakan Isma beberapa waktu yang lalu.


Tanpa berganti pakaian, dia langsung melajukan motornya ke wilayah timur kota. Cukup jauh juga, jika merujuk pada lokasi yang ditunjukkan peta.


Dia mempercepat laju motornya, memampatkan waktu seefisien mungkin. Karena Adel sudah menanyakan posisinya.


Dia sempat memutar dulu, menuju tempat hajatan di dekat klenteng. Sejenak dia menyempatkan masuk ke hajatan itu, seolah dia adalah tamu.


Dalam gerakan yang wajar, dia mengedarkan pandangannya ke semua penjuru. Dia Ingin memastikan kalau dirinya tidak diikuti siapapun. Setelah merasa aman, dia segera pergi Dari hajatan itu.


Jalan baru yang lebar ini, memudahkan Budi dalam berkendara. Tidak bermaksud mendukung aksi kebut-kebutan di jalan, tapi jalanan yang lengang seperti ini, memang memudahkan. Sehingga, hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit, dari satu jam yang seharusnya, Budi sudah sampai di tempat tujuan.


“Nah, tuh. Don juannya udah dateng” seru Tati.


Sontak Adel menoleh ke kanan. Mereka sudah berdiri di pinggir jalan. Bersama anggota rombongan yang lain. Mereka sengaja menemani Adel, sampai Budi datang.


“Aku cabut dulu, ya?” pamitnya. Begitu Budi sampai di depan Adel.


“Buru-buru amat, mbak?” tegur Budi.


“Iya, bram. Eeh, mas Budi” jawab Tati.


“Kemaruk” potong Adel.


“Ha ha ha. Iya, maaf. Ketularan” kata Tati sambil tertawa.


“Cieeeee”


Mereka bersorak saat Adel menyalami Budi, dan mencium tangannya. Berbagai candaan dan godaan mereka lontarkan. Membuat Adel dan Budi hanya bisa cengar-cengir saja.


Setelah basa-basi sejenak, saling bertanya kabar, dan lain sebagainya, mereka meminta ijin untuk pulang duluan. Tentu saja permintaan ijin itu ditanggapi beragam oeh teman-teman Adel. Tapi tanggapan itu juga masih berupa candaan.


Adel meminta Budi untuk memacu motornya sedikit lebih cepat, agar tidak seperti konvoi dengan mobil yang mengangkut teman-temannya. Budi menuruti permintaan itu.

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa mereka sudah membuat jarak aman dengan mobil itu, serta merta Adel memeluk tubuh Budi. aroma parfum Adel masih kental tercium oleh hidung Budi. Sekalipun dia telah berkeringat.


Sesekali Budi melirik Adel dari kaca spion. Di dalam hati dia memuji kecantikan kekasihnya itu. Walau dia tahu, polesan make up di wajah Adel telah terhapus. Begitupun dengan tubuh kekasihnya itu. Tidak lagi terbungkus baju kebaya, melainkan kaos dan celana jeans panjang.


Malam telah menjelang, dan mereka masih berada di jalan. Ya, Budi sempat mengusulkan untuk menunaikan sholat magrib di masjid agung. Ternyata saran itu diterima Adel. Sembari menunggu waktu magrib tiba, mereka menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di alun-alun kota.


“Bram, lewat jalur bis aja, ya!” pinta Adel.


“Loh, muter, dong?”


“Nggak papa, tata pengen lamaan dikit, meluknya” jawab Adel.


“Mending lewat utara” goda Budi.


“Mampir rumah abram, dong?”


“Ketemu camer”


“Ha ha ha. sebenernya sih, boleh juga. Cuman tadi tata juga lupa bilang sama ibu, kalo ngejobnya tadi, dari pagi”


“Kok bisa?”


“Ya, ibunya pagi-pagi keluar, sama bapak. Tahu kemana. Pulang-pulang, nelpon tata, ngomel, deh”


“Oh”


“Kalo tata pulangnya kemaleman, aduh, alamat dapet sepuluh sks sekaligus, nih”


“Ha ha ha ha. Ya udah, nggak papa. Bisa lain waktu kok, mampirnya” respon Budi.


Adel memeluk lebih erat, sebagai ekspresi senang, mendapat perhatian hangat seperti itu.


Walau magrib belum lama berlalu, tapi suasana jalan ini sudah cukup lengang. Terkesan sepi, malah.


Di beberapa titik, jalan ini terasa seperti membelah hutan antah berantah. Sejauh beberapa kilometer, sama sekali tidak ada kendaraan lain yang melintas.


Saat tiba di tengah-tengah hutan kota ini, dari arah belakang terlihat segerombolan motor mendekat ke arah mereka. Mereka datang dengan kecepatan sedang. Budi santai saja dalam melajukan motornya. Karena dugaan dia, mereka adalah klub motor dari kota lain yang habis berwisata ke kota ini.


Dan benar, mereka mendahului Budi dan Adel. Tapi Budi merasa ada yang aneh dengan mereka. Mereka tidak membunyikan klakson sebagai sapaan sesama pengendara motor. Justru mereka melihat Budi dengan tatapan memindai. Seolah ingin memastikan, siapa yang sedang mereka dahului itu.


Meski begitu, Budi tidak ambil pusing. dia kembali menikmati kebersamaannya dengan Adel.


“Bram, bram. Mereka ngapain, itu? kok jalannya dipenuhin sendiri gitu?” tanya Adel.


“Oh, iya itu, ta. Ngapain, ya?” respon Budi.


“Bram, puter balik aja, yuk! Takut, tata” ajak Adel.


“Tenang dulu!” pinta Budi.


Budi tetap melajukan motornya dengan perlahan. Dia bersikap biasa. Tidak menunjukkan sikap waspada, apalagi takut.


“Braam” panggil Adel.


Ternyata, dari arah belakang, datang lagi beberapa motor. Mereka juga memenuhi badan jalan. Bukan sepertinya lagi, sudah jelas terlihat mata, mereka mengepung Budi dan Adel.


“Kamu Budi, ya?”


Salah satu dari pengendara motor di depan, turun dan menghampiri Budi. Pakaiannya jelas sekali menggambarkan kalau mereka itu adalah preman. Dia bertanya dengan wajah dibuat segarang mungkin.


“Budi siapa?” tanya Budi.


“Budi Utomo, anak PRAM” jawab orang itu.


“Iya, mas. Ada apa, ya?”


“TURUN LO!” bentak orang itu.


Beberapa orang ikut turun dari motor dan ikut mengerumuni Budi dan Adel. Budi tidak langsung menuruti perintah itu. Dia menyebarkan pandangannya dulu ke sekitarnya.


“Oi mulusnya, cewek ini” seru salah seorang dari arah belakang.


“BRAAM” pekik Adel takut. Budi langsung memutar tubuhnya ke kiri.


*PLAAAKKK*


Sebuah tamparan tangan kanan Budi, mendarat tepat di muka orang yang berseru tadi. Dia langsung terhuyung-huyung, lalu terjatuh karena pingsan.


“AN****”


“BRAAAMM”


Preman yang ada di depan motor Budi, bersiap untuk memberikan tinjunya. Tangan kanannya sudah melayang mengambil ancang-ancang. Budipun memutar kepalanya kembali ke depan.


*DAAAK*



*GRAAAKKKK*


Tepat disaat tangan preman itu melesat ke depan, Budi memutar tubuhnya, kembali menghadap ke depan. Lalu dia miringkan tubuhnya ke kiri.


Setelah pukulan itu meleset, Budi mengunakan kedua tangannya untuk menjepit tangan preman itu. satu di dekat telapak tangan, dan satu di sebelah siku. Dan sebuah hentakan keras dari tangan kirinya, membuat suara engsel siku yang beradu.


“AAAAAA”


Kalaupun tidak sampai patah, paling tidak pemilik tangan akan merasa sangat kesakitan.


*DUAAAKK*


Dan sebuah tinju dia lancarkan, menyasar leher preman itu. Seketika, preman sok jago itu melayang di udara.


*BRUAAAAKKKK*


Dia jatuh di atas motor-motor yang berjajar itu. Budi langsung menyetandarkan motornya.


*TRIIIING, TING TING TING TING*


Tedengar suara besi beradu dengan aspal jalan. Budi bersiaga menyambut kumpulan preman itu. Dia menempel pada Adel. Menjaganya, agar tidak disakiti oleh mereka.


“HYAAAAA”


Preman yang memegang besi panjang itu berlari menyerang. Budi mengambil ancang-ancang. Dia membawa serta Adel untuk mundur dua langkah ke belakang.


Ketika preman itu mengangkat pipa besinya, bersiap untuk mengayunkan, Budi menyatukan kedua telapak tanganya di depan wajah, dia julurkan ke depan sampai maksimal, lalu dia maju selangkah, mengambil sikap seperti seorang atlit renang yang akan melompat ke dalam air.


*BRUUKK*


Budi menabrakkan tubuhnya ke tubuh penyerangnya. Tepatnya di lengan kanan preman itu.


*SREEEETT*


Pipa besi itu hanya sliding di sepanjang lengannya, tanpa memberikan benturan sedikitpun. Lalu Budi menelikung lengan preman itu dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menjambak baju preman itu.


*BUUKKK, BUKKK, BUKKK, BUKKKK*


Budi menghujani perut preman itu dengan lututnya. Lima kali lututnya mengenai perut, preman itu terlihat kepayahan.


“AAAAA”


Budi mundur dua langkah sambil menjepit pipa besi itu. Tak ayal, pipa besi itu kini berpindah ke tangannya.


*BAAAKKK*


Satu kali pukulan di tengkuk, membuat preman itu tergeletak tak sadarkan diri.

__ADS_1


“HYAAAAA”


Satu lagi, preman yang mencoba peruntungannya. Dia membawa golok. Tapi Budi sama sekali tidak gentar. Dia hanya mundur dua langkah, hanya untuk membawa Adel sedikit menjauh. Lalu dia maju lagi.


Preman itu mengayunkan sepenuh tenaga, golok itu. Budi maju selangkah secara diagonal ke kanan. Memutar tubuhnya ke kiri, sambil memposisikan pipa besinya secara horizontal di depan wajahnya. Pingiran telapak tangan kirinya, dia tempelkan di tengah-tengah pipa besi itu.


TAAAAANG


Terdegar suara besi beradu. Pertanda serangan preman itu berhasil di tangkis oleh Budi.


*BAAKK, BAAAKKK, BAAAKKK*


Dua kali pukulan diagonal, membentuk huruf ‘X’, di tambah satu pukulan pamungkas, sukses menumbangkan preman itu. Dia meringkuk di atas tubuh temannya.


“BRAAAAMM”


Budi terkejut mendengar teriakan Adel. Ternyata salah seorang preman itu menarik Adel menjauh dari Budi. Sudah terbuka jarak sekitar lima meter dari Budi, dan terus menjauh.


*WWUUUUUKK*


Budi melemparkan pipa besinya ke arah preman itu. Gaya lemparannya seperti melempar tongkat lembing.


*DAAKKK*


“AAAA”


Pipa besi itu mendarat tepat di wajah preman yang menarik Adel. Seketika Adel lari menghampiri Budi.


“HYAAAA”


Seorang preman lagi berlari mengejar Adel sambil mengacugkan sebilah samurai. Adel tidak menyadari hal itu. Yang dia tahu, tiba-tiba Budi berlari ke arahnya. Langkah kakinya terhenti, untuk menoleh ke belakang.


“AAAAA”


Dia berteriak melihat kilatan samurai hanya berjarak tak lebih dari satu meter darinya. Budi menyatukan kembali kedua telapak tangannya di depan wajah. Dia majukan lengannya sampai maksimal. Lalu dia melakukan gerakan diving,


*DUUKKK*


Dia menabrakkan tubuhnya ke tubuh preman itu. Dengan cepat dia telikung tangan kanan preman itu.


*BUUKK, BUUKK, BUUKK*


Dua kali tendangan lutut ke perut dan satu kali tendangan kuat ke ************ preman itu, membuat preman itu meringis kesakitan. Tak cukup sampai di situ, Budi sedikit memutar tubuhnya ke kanan, sambil bergerak ke kiri selangkah.


“AAAAAA”


Preman itu kesakitan, merasakan efek dari gerakan Budi. Tangannnya seperti diungkit kuat, hingga tanpa sadar dia melepaskan samurainya.


*BAAAKKKK*


Satu tonjokan keras, membuat preman itu pingsan seketika.


“HYAAAAA”


Satu lagi preman maju menerjang. Dia membawa golok. Budi langsung bersiaga lagi. Karena preman yang pingsan itu masih dia telikung tangannya, sekalian saja, Budi menjadikannya sebagai tameng.


*CRAAK, CRAAKK, CRAAKK*


Tiga sabetan golok, praktis membuat preman yang pingsan itu berdarah-darah.


“AAAHHH”


Setelah tiga kali mendapat sabetan, Budi mendorong tameng hidupnya ke arah penyerangnya. Sehingga membuat penyerangnya hilang keseimbangan dan jatuh. Budi mendapatkan kesempatan untuk menghindar sesaat.


“HYAAAAAA”


Di belakngnya, ternyata maju lagi satu preman. Dia juga membawa golok. Budi langsung balik kanan.


*WUUUS*


Budi kembali mengambil gerakan seperti sebelumnya. Bedanya, kali ini tangan kananya dia kepalkan.


*BRUUAAKKK*


Dalam sekali bergerak, Budi berhasil menabrakkan dirinya ke tubuh penyerangnya, guna menghindari sabetan golok itu, sekaligus menonjok penyerangnya. Preman itu terpelanting jauh ke belakang.


“MATI KAMU BANG***”


Budi memutar tubuhnya kembali. Terlihat preman yang baru saja terjatuh sudah melayang di udara.


*TRIIIING*


Budi meraih pipa besi, yang kebetulan tergeletak tidak jauh dari kakinya.


*TAAAAAANNGGG*


Benturan yang sangat keras. Budi bisa merasakan kuatnya hentakan dari golok itu. Dia sempat terbawa arah sabetan golok itu. tapi Budi melihat ada celah di depannya.


*BAAAK, BUUUKK, BUUAAAAKKK*


Untuk kedua lakinya, pukulan silang dia keluarkan. Diakhiri dengan pukulan pamungkas. Kali ini, preman itu terjatuh dengan telak, dan langsung pingsan.


“BRAAAMM” Adel berteriak lagi.


“EEEHHHMMM, EEEKKHHH”


Seorang preman, mencekiknya dari arah belakang. Tak tanggung-t anggung, preman itu mencekiknya menggunakan kengan kanannya, yang dikalungkan ke lehernya. Tapi tampaknya Budi tenang menghadapinya.


“HEEKK”


Budi membungkukkan punggungnya sedikit, dibarengi dengan gerakan merendahkan tubuhnya, lalu menekuk kedua kakinya, seperti posisi kuda-kuda. Hanya saja kedua kakinya dia rapatkan. Dan kedua tangan dia rapatkan di depan dadanya. Seperti pertahanan seorang petinju. Dia lakukan gerakan kombinasi itu, dalam sekali hentakan, bersamaan. Gerakan itu sukses menggeser posisinya agak ke kanan.


*PLAAAKK*


“AAAAHH”


Dia ayunkan tangan kirinya ke belakang, menampar ************ penyerangnya. Membuat preman itu kesakitan.


Setelah itu, Budi mengayunkan ke atas, menyasar mata penyerangnya. Membuat preman itu semakin kesakitan. Dia terlihat memejamkan matanya. Sebuah keuntungan baginya. Kemudian Budi meraih tangan kanan pencekiknya, sambil melangkah ke kanan selangkah.


“AAAHHH”


Dia memutar tubuhnya sambil tetap memegangi tangan pencekiknya. Perlahan tangan preman itu terpuntir ke kanan. Menyebabkan rasa sakit di sikunya. Tangan kanannya memegangi siku kanan preman itu. memastikan tangan preman itu sepenuhnya dia kuasai.


*BRUUKKK*


Dengan sekali dorong, preman itu berhasil dia jatuhkan.


“AAAAHHHH”


Sekalipun sudah jatuh, Budi tidak mau ambil resiko. Dia tetap memuntir tangan preman itu. posisiny kini lurus ke atas, tapi sudah terpuntir hampir ke belakang. Budi menindih tubuh preman itu dengan lutut kanannya, dan menindinh kepala preman itu dengan lutut kirinya.


*KRAAAAKK*


“AAAAAA”


Terdengar suara persendian beradu, saat Budi menghentakkan tangan preman itu sekali lagi.


“BRAAAAM”


Budi terkejut mendengar Adel berteriak. Dia menoleh ke belakang. Tapi Adel menunjuk ke arah depan. Budi kembali memutar kepalanya ke depan. Seorang preman yang tersisa, sedang berdiri tak jauh darinya. Dia memegang sebuah pistol, dan terarah tepat kepadanya.


“DOORR”


“BRAAAAAM”

__ADS_1


__ADS_2