
Selepas jam sembilan pagi tadi, Budi langsung berkemas. Dan salah seorang sopir kantor datang diperintahkan pak Paul untuk mengantar mereka pulang. Dan karena sudah diberikan dispensasi untuk menemani Erika, Budi tidak masuk kerja.
Kini dia duduk di sofa tamu. Dia termenung dengan pikiran mengembara. Bukan orang tua Erika yang dia pikirkan. Karena keduanya sedang berada di luar jawa, maka mustahil untuk keduanya datang hari ini.
Dia juga bukan memikirkan ibu dan adiknya. Karena keduanya sudah tahu kondisinya saat ini. Karena tadi, sebelum pulang dari rumah sakit, mereka sempat melakukan video call. Walau sebenarnya agak keberatan, tapi bu Ratih mengijinkan Budi untuk menemani Erika. Keberatan bu Ratih sebenarnya hanya karena takut terjadi sesuatu. Karena Budi laki-laki, dan Erika perempuan.
Yang sedang mengganggu pikiran Budi saat ini tidak lain adalah info dari pak Paul tadi pagi. Dia masih merasa aneh dengan kasus pembobolan paket mebel PRAM. Belum ketemu di logikanya, sebab mengapa mebel mereka harus dibobol.
*Apa yang istimewa? Semahal apa sebenarnya di Eropa*?
“Hei”
Sebuah teguran mengejutkannya. Terlihat Erika datang dengan membawa dua gelas teh dengan nampan.
“Loh. Kapan keluar kamarnya?” tanya Budi bingung.
Dia merasa tidak melihat Erika keluar kamar, tapi ternyata sudah datang dengan membawa minuman hangat.
“Segitunya mikirin mebel? Sampe nggak liat aku keluar kamar” sahut Erika.
Dia duduk di sebelah kiri Budi. Tatapannya beradu dengan tatapan Budi.
“He he. Abis aneh aja, Ka. Seberapa mahalnya sih, mebel kita? Buat apa juga, di bobol?”
“Lah, kan emang lagi mahal, mas. Pamornya terdongkrak sama mebelmu dulu itu”
“Ya kan beda urusan, Ka. Yang kita bikin itu mebel, bukan karya seni. Kalo rotannya itu ada yang kita ganti sama emas, terus rangkanya pakai titanium, yang mana tujuannya murni buat karya seni level tinggi, aku nggak heran. Orang ini cuman stainless sama rotan biasa. Seistimewa apa, coba?”
“Orang iri sih, nggak mandang keistimewaannya, mas. Kalo orang itu udah gelap mata, ya apa aja bisa terjadi. Orang cemburu aja bisa ngancurin rumah, lho” jawab Erika.
Budi mengernyitkan keningnya. Dia tampak berpikir beberapa saat. Menelaah korelasi ucapan Erika dengan apa yang dia ungkapkan sebelumnya.
“Iya juga, sih. Tapi kan ekspo-ekspo sebelumnya juga menghasilkan kontrak yang nggak kalah banyaknya, kan? Kenapa baru sekarang? Siapapun pelakunya, kok aku ngerasa, dia melihat sesuatu yang nggak biasa di mebel kita”
“Maksudnya, mas?”
“Baru perasaan aku doang sih. Aku juga bingung, apa yang terlihat istimewa di mebel kita? Paketan yang lain ada yang dirusak juga, nggak?”
“Kan dari kemarin aku sama mas. Mana aku tahu? Kalo ditanya wajah mas tambah ganteng apa tambah jelek, aku bisa jawab. Tambah ganteng” jawab Erika.
Budi tersenyum mendapat pujian dari Erika. mereka saling menatap dalam keheningan.
“Ada juga aku yang ngegombal. Masa ini aku yang digombalin kamu? Terbang nih aku, ke Berlin” komentar Budi.
“Jangan dong! Entar siapa yang nemenin aku?” sahut Erika. Mereka kembali saling menatap dan saling melempar senyum.
*Aku juga sebenernya curiga sama pengiriman kemarin. Ini momen yang tepat, mas. Aku harap kamu jeli dengan setiap perubahan kecil di lapangan*.
“Udah, minum dulu, tehnya! Mas kan harus tetep standby, sekalipun udah dapet dispensasi” kata Erika menegur Budi.
“Boleh juga, nih”
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Tiba-tiba ponsel Budi berdering. Dia mengernyitkan keningnya, saat mengetahui siapa yang menelepon. Dengan bahasa isyarat, dia meminta ijin untuk menerima panggilan itu.
“Halo, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam, Bud. Lagi dimana?” tanya seseorang dari seberang telepon.
“Lagi di rumah Erika, Ndi. Kenapa?” jawab Budi.
“Loh. Nggak kerja? Kenapa tu bocah?”
Budi menoleh ke arah Erika. Dia bingung dengan pertanyaan Sandi.
“Emang lu kenal sama Erika?” Budi ganti bertanya.
Terlihat wajah Erika terperanjat, walau untuk sesaat.
__ADS_1
“Ha ha ha. Kepala divisi HRD, yang semok, cantik, tapi galak. Ha ha ha. Dino pernah cerita tentang dia”
“Oh. Kirain” sahut Budi.
“Eh. Tapi lu belum jawab pertanyaan gua. Lu ngapain jam segini di rumah cewek itu? Nggak kerja, lu?”
“Hari ini gua stand by di sini, Ndi. Erika kemarin masuk rumah sakit, dan tadi jam sembilan baru pulang” jawab Budi.
“Oh. Lah terus, lu ngapain jagain dia? Ortunya kemana?”
“Udah cocok lu jadi pak RT. Tinggal bawa buku panjang, keliling deh, nagih jimpitan” komentar Budi.
“Suek”
“Hempf”
Erika tergelak mendengar kelakar Budi. Diapun tertawa tanpa suara.
“Ada apa emangnya? Penting banget, nggak?” tanya Budi.
“Bisa ketemu, nggak? Gua mau nanyain mebelnya Adel” sahut Sandi.
“Ha? Kenapa emang? Soal retribusi?”
“Kalo bisa, mending kita ketemu langsung, deh. Nggak lama kok. Setengah jam, paling lama”
“Aku koordinasi dulu ya? Aku WA bisa apa enggaknya”
“Oke. ditunggu kabarnya, Bud”
“Sip”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Panggilan suara itupun terputus. Erika masih terus memandangi Budi. Sampai-sampai Budi bingung dibuatnya. Tapi kemudian dia mengerti, mengapa Erika menatapnya begitu rupa.
“Sandi, mau ngomongin sesuatu sama aku. Pengen ketemu langsung” kata Budi, menjawab tatapan mata Erika.
“Kenapa nggak di sini aja?” tanya Erika.
“Mana mungkin mau. Ngomongin kamu kok di rumah kamu kamu sendiri”
“Apa? Ngomongin aku? Apa yang mau diomongin, mas? Ngomongin si manusia tengik itu, kali”
“Manusia tengik?”
“Luki” jawab Erika.
“Tebakan yang menarik. Darimana seorang Erika bisa punya dugaan demikian?” tanya Budi sambil tersenyum.
“Eeem. Asal aja sih. Secara, yang diperistri manusia tengik itu kan mantannya Sandi”
“Oke. I’m listening”
“Kali aja, dia masih pengen dapetin sang sinden. Toh mas Budi juga udah mundur, kan?” lanjut Erika.
“Hem?”
“Aku nggak bilang kalo Sandi adalah biang semua kekacauan itu, lho”
“Terus?”
“Apalah Luki dibanding mas Budi? Main kasar juga nggak sampe tepar”
Budi manggut-manggut. Dia mengerti apa maksud Erika. Merebut Adel dari tangan Luki memang terlihat lebih gampang daripada merebut Adel darinya.
“Mas jangan mau ya, kalo diajakin Sandi aneh-aneh!” pinta Erika.
__ADS_1
Budi terkesiap. Baru kali ini dia melihat raut kekhawatiran di wajah Erika. Diapun tersenyum.
“Iya. Aku juga udah capek aneh-aneh. Mending hooh-hooh sama kamu”
Erika terperanjat mendengar jawaban Budi. Dia berkacak pinggang, pura-pura marah.
“Mas Budi ya Put” kata Erika, sambil menatap pintu depan. Budi terbelalak.
“Bukan aku” lanjut Erika.
Sontak Budi membalikkan tubuhnya, mengarah ke pintu depan. Tapi tidak ada siapapun di sana.
“Hempf. Ha ha ha ha”
Erika tertawa dengan lepasnya, melihat Budi masuk dalam tipuannya.
“Aku tadi liat swallow, mana ya?” kata Budi sambil mencari sesuatu.
“Oh, itu” lanjutnya.
“Ha ha ha ha”
Erika tertawa semakin lepas, saat Budi beranjak mengambil sandal jepit di depan sebuah kamar. Erikapun beranjak dari sofa, dan berlari menuju kamarnya.
Mereka sempat ceng-cengan di depan kamar, tapi terhalang pintu. Karena Erika tak kunjung membuka pintu kamarnya, Budi kembali ke sofa. Dia mengalihkan perhatiannya pada laptopnya. Beberapa laporan dari Aldo, dia coba untuk tanggapi.
“Mas” sapa Erika.
Dia masih cengengesan saat menghampiri Budi.
“Kamu beneran mau nemuin Sandi?” lanjut Erika.
“Kalo boleh” jawab Budi.
“Tapi kamu sendirian” lanjut Budi.
“Aku udah telpon Tya, sepupuku. Ini dia udah jalan ke sini” sahut Erika.
“Tapi pastiin, jangan lebih dari sejam, ya! Dia juga ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal lama” lanjut Erika.
“Apa yang kamu rasa, sekarang?” tanya Budi.
“Sebenernya kalo buat ketawa lepas, masih pusing, mas”
“Nah, kan. Kualat” komentar Budi sambil tergelak.
“Ha ha. Ya maaf. Abisnya aku seneng, bisa ceng-cengan kaya tadi. Aku udah lupa, kapan terakhir ceng-cengan sama papa, mas”
Budi terkesiap mendengar jawaban Erika. Dia tidak menyangka kalau jawabannya cukup dalam juga.
“Ya udah. Aku usahain, nggak lebih dari satu jam” kata Budi.
“Eh. Tapi entar malem, gimana?” lanjut Budi.
“Ya, liat entar” jawab Erika.
“Haduh. Aku mesti balik sebelum maghrib. Ikut aja, apa?” tanya Budi.
“Ha? Nggak ah. Jadi gosip, entar” tolak Erika.
“Tapi gejala tipes itu suka kambuh, kalo kamu nggak maksain diri buat disiplin”
“Ya. Semoga entar sore udah nggak pusing lagi”
Budi geleng-geleng kepala mendengar jawaban Erika. Terlalu aneh buatnya. Biasanya Erika paling anti jawaban ambigu. Selalu menuntut jawaban pasti.
Tak lama kemudian, sepupu Erika datang. Setelah bertegur sapa dan saling bertanya kabar, Budi pamit untuk menemui Sandi.
***
__ADS_1