Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kembali atau bertahan


__ADS_3

Seperti hari sebelumnya, setelah sholat berjamaah di mushola, Budi menyibukkan diri dengan menulis surat lamaran pekerjaan. Beberapa sudah dia poskan, ke perusahaan yang dulu menjadi vendor tempat dia bekerja. Pada dasarnya, Budi tidak mematok diri ingin menjadi apa dan gaji berapa. Yang penting bekerja, ada pemasukan. Ibarat kata diposisikan di bagian produksi juga dia tidak menolak.


“Klung”


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Budi. Ternyata dari Liza. Dia mengirimkan sebuah foto, yang menggambarkan kalau rivalnya di perusahaan kemarin, mendapat teguran keras. Belum jelas, mengapa sampai orang itu ditegur sedemikian kerasnya di depan umum.


“Si tukang plagiat kena batunya. Ketahuan kalo dia nyolong ide kamu, mas”


Sebuah pesan teks muncul di bawahnya. Budi mengangguk – angguk mengerti. Memang dia suka mendegarkan apa yang sedang dia rundingkan dengan anggota timnya. Dan dia menirunya. Memodifikasinya sedikit, dan mengajukannya ke management. Seolah – olah itu adalah murni ide dari dia.


Itulah yang membuat Budi dianggap tidak bisa menemukan hal – hal kecil yang berpotensi untuk dimaksimalkan. Bukan tidak menemukan, tapi temuan yang belum matang itu, dicuri.


Di satu sisi, dia senang kalau orang itu akhirnya ketahuan. Berarti kesempatannya untuk kembali ke sana, dan memperoleh kepercayaan, semakin besar. Tapi Budi juga bimbang. Harapan yang dulu ditimpakan kepadanya sangatlah besar. Setelah menjauh dari liza, dia tidak bisa menjawab harapan itu dengan semestinya.


“Jangan lewatin kesempatan emas ini, mas. Kak Armita udah bukain jalan selebar itu. Jangan disia – siain!” kata Liza lagi.


Dia bimbang, apakah tanpa mengulangi ritualnya dulu, dia bisa menjawab harapan besar itu? Apakah otaknya sanggup melihat hal – hal kecil di tempat kerja, tanpa harus bercinta rutin setiap hari?


“Aku belum yakin Liz” jawab Budi.


“Mas, aku ngajakin kamu, bukan semata aku pengen seatep lagi sama kamu. Aku sayang banget sama kamu. Aku nggak mau kamu terpuruk begini. Dan juga nih ya, kata simbahku, apa yang kamu alami dulu, itu wajar bagi semua orang. Orang yang baru meninggal memang masih ada di sekitaran rumah, atau di sekitaran keluarganya, sampai empat puluh hari. Setelah itu, ya yang meninggal itu akan pergi ke alam baka”


“Masa? Beneran?”


“Coba dulu aja, sayang. Perkara nggak kuat, itu urusan belakang. Kalaupun nggak bisa satu atap, kan bisa sebelahan. Ya nggak?”


“Bener juga, sih”


“Itu. Aku rela kok, lembur tiap malem, buat bikin kamu cerdas lagi. Kalau perlu, aku kasih nih, yang belum pernah kamu cicip. Dijamin deh, otakmu bakal cemerlang”


“Hem, sekarang malah ditawarin”


“Demi kamu, mas. Aku rela berkorban apa aja”


“Makasih ya Liz. Aku pikirin mateng – mateng dulu. Emang sih, kalo kepikiran ibu, pengen banget malam ini juga aku balik ke sana. Tapi kalo inget bapak, suer, aku takut banget”


“Ya kalo emang mas Budi ketakutan, nggak perlu kok ketemu aku. Yang penting balik aja. Kan demi ibu juga”


“Kalo cuman setahun, sama aja. Nggak bisa nutupin utang ortu”


“Ya mending, lah. Daripada nggak ada sama sekali” jawab Liza.


“Gimana kalo kita nikah siri?” lanjut Liza.


“What?”


Budi terkejut. Ide yang dilontarkan temen ibunya beberapa waktu lalu, kini malah dilontarkan Liza sendiri.


“Apapun akan aku lakukan buat kamu, mas”


“Liz, makasih banget ya, kamu selalu ada buat aku. Jadi ngerasa bersalah aku, sama kamu"


“Nggak usah gitu, mas. Aku iklas kok ngelakuin semua itu. Ya udah, pikirin dulu mateng – mateng, ya. Abis itu, kabarin aku”


“Iya, makasih ya Liz”


“Sama – sama”


Budi meletakkan ponselnya. Cukup lama dia merenung. Tapi belum juga dia mendapat keyakinan dari dua pilihan utama. Cukup banyak turun dari pilihan pertama yang diberikan Liza, tapi tetap juga, dia masih takut dengan kehadiran suara Bapaknya.


“Adel”


Budi bergumam menyebut nama penyanyi cantik itu, saat sikunya secara tak sengaja menyenggol layar ponselnya yang masih menyala. Dan foto wanita itu yang kemudian memenuhi layar ponselnya.


Ya, baru saja ada notifikasi masuk, yang memberitahukan kalau Adel baru saja menambahkan sebuah foto baru. Karena tersenggol siku Budi, notifikasi itu langsung menampilkan foto yang dimaksud.


Sekarang dia malah senyum – senyum sendiri. Sorot matanya kini tak lagi menatap layar ponselnya. Tidak juga menatap kertas folio, tempat dia menuliskan biografinya. Angannya melayang, ada wanita cantik juga di sini, yang mampu menggetarkan hatinya.


"Liza apa Adel, ya?"

__ADS_1


Entah mengapa, dia merasa dia juga punya harapan bertahan, setelah berkenalan dengannya. Hati yang sedetik lalu sudah condong untuk kembali ke perusahaan sebelumnya, sekarang menjadi bimbang kembali.


Dia buka kumpulan foto di akun Adel. Banyak sekali foto yang Adel bagi, dengan berbagai macam aktivitasnya.


"Nggak ada obat" komentarnya.


Semakin dia gulung ke atas, foto – foto Adel justru semakin menenggelamkan Budi.


Sejenak dia lupa dengan masalah hidupnya, lupa dengan surat lamaran pekerjaannya. Sosok Adel dalam balutan kebaya hijau, dan rambut disanggul, terlihat sangat seksi dan mempesona. Membuat Budi semakin merasa ingin memilikinya.


“Wajahnya kalem, orangnya ramah. Tapi bodinya, hem”


Budi masih asyik melihat – lihat foto – foto Adel. Pastinya semuanya menarik. Apalagi buat orang yang jatuh cinta kepadanya.


"Eh, kan aku harus ngelarin ini. Besok udsh ada janji"


Tersadar kalau dia harus menyelesaikan surat lamaran kerja itu, dia mengunci ponselnya. Tapi bayangan sosok Adel dalam balutan kebaya hijau itu, masih lekat di pelupuk matanya. Apakah yang akan terjadi kalau Adel dalam balutan kebaya hijau itu datang, dan menemaninya?


Berapa lama dia mampu menahan diri untuk tak menyentuhnya? Memikirkan itu, Budi jadi senyum – senyum sendiri.


“Senyam – senyum sendiri. Ada apa to?”


Sebuah suara dari belakang mengejutkannya. Sontak dia menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata orang itu adalah bu Ratih, ibunya sendiri.


“Eh, ibu. Enggak, siapa yang senyum – senyum sendiri” kilah Budi.


“Ya kamu. Orang ibu merhatiin kok. Mikrin apa sih?” tanya ibunya lagi.


“Enggak mikirin apa – apa, bu”


“Mikirin Adel, ya?” tebak ibu.


“Emang cantik, sih” lanjut ibu bu Ratih.


“Ibu, apaan sih” Budi masih berkilah.


“Dia tadi juga liatin kamu, lho. Sampe bengong juga, sama”


“Tuh kan, bener. Kata ibu juga apa” goda ibunya.


“Ah, ibu. Bisa – bisanya godain Budi. Gelitik nih” kata Budi. Dia melancarkan gelitikan ke pinggang ibunya.


“Aduh. Ha ha ha, iya, iya, ampun” bu Ratih tertawa geli mendapat gelitikan dari anak sulungnya. Tapi itu tidak lama. Budi hanya bercanda saja.


“Eh, tapi yang ibu bilang barusan itu, bener lho. Bengong lho dia, liatin kamu. Ibu sampe bingung”


“Bingung kenapa bu?”


“Ya bingung aja. Kan kamu lagi ngurusin ikan, ya. Belepotan jeroan segala macem. Ganteng dari mananya coba. Sampe bengong begitu liatinnya” jawab bu Ratih.


“Weh, malah ngeledek, sekarang. Budi sih tetep ganteng, bu. Mau belepotan apa juga. Gelitik lagi nih, ibu”


“Eh eh, jangan. Geli, ngger, geli. Ibu nggak kuat. Ampuun”


Bu Ratih berusaha menghindar saat anaknya melancarkan gelitikannya lagi. Tapi lagi – lagi, itu hanya sebentar saja.


“Minta doanya ya bu” kata Budi.


“Doa? Kamu mau nembak dia, ngger?” tanya ibunya.


“Nembak dia? Ngelamar kerja, bu” jawab Budi.


“Ha ha ha ha ha”


Bu ratih tertawa terbahak – bahak, mendengar jawaban anak sulungnya. Saking kencangnya tawa itu, sampai anak perempuannya keluar dari kamar. Dia menanyakan ada apa, sampai tertawa kencang begitu.


Bu Ratih mau menjawab, tapi bibirnya ditutup sama Budi, menggunakan telapak tangannya. Al hasil, bu Ratih kembali tertawa terbahak – bahak. Pada akhirnya, Budi membiarkan ibunya bercerita kepada adiknya.


“Maksud ibu, Mbak adel, penyanyi campursari itu?”

__ADS_1


“Mungkin. Ibu baru liat tadi”


“Mana sih, mas. Liat fotonya”


“Kepo deh” kilah Budi.


“Ih, mas Budi. Kebiasaan banget, kalo sama putri”


“Iya, iya. Nih. Gitu aja ngambek” kata Budi mengalah. Dia menunjukkan foto yang tadi dia lihat juga.


“Iya, bener. Jadi kemarin, mas Budi ketemu sama dia? Hebat banget, bisa langsung kenalan. Dapet nomernya nggak mas?”


“Eh, eh. Mau ngapain?” tanya Budi kaget. Adik perempuannya lari ke belakang membawa ponselnya.


“Wuiiih, dapet nomer pribadinya lagi. Gokil” seru putri dari belakang.


“Lah, emang dia punya nomor publik?” tanya Budi bingung.


“Ada, buat urusan job. Di IG kan ada. Tuh” jawab Putri.


“Oh iya, bener” komentar Budi.


“Mas Budi sih, yang diliatin bodinya doang. Udah punya nomernya juga, masih liatin fotonya. Ajak ketemu, dong! Jangan melototin foto doang. Aduh, kurang canggih kangmasku ini” komentar Putri.


“Asem. Makin pinter, makin pedes ngeledeknya. Gelitik nih” sungut Budi.


“Aaaaww... Ampuun”


Putri berlari menghindari tangan kakaknya, yang sudah bersiap menggelitik pinggangnya. Sempat kejar – kejaran. Pada akhirnya putri bersembunyi di balik tubuh ibunya. Budi pun hanya menggelitiknya sekali. Budi menyeruput teh yang sedari tadi belum dia minum.


“Perasaan mas Budi bikin tehnya udah dari tadi deh. Nggak dingin apa?” celetuk putri.


“Namanya juga lagi jatuh cinta. Jangankan cuman dingin, nggak pake gula juga udah kerasa manis” sahut ibunya.


“Kok ibu tahu?” tanya Budi kaget.


“Ha ha ha ha”


Putri tertawa dengan lepasnya, mengetahui kakaknya tertangkap basah oleh ibunya, sedang melamun saat membuat teh. Sehingga lupa tidak menambahkan gula ke dalam minumannya. Budi hanya tersenyum malu, menjadi bulan – bulanan adiknya.


“Oh ya, mas. Tadi mas eko telepon. Mastiin, besok mas Budi bisa nggak, gantiin pak Janto?” tanya Putri.


“Loh, emang pak Janto nggak bilang ke mas Eko, ya?”


“Nggak tahu”


“Ya udah, sampein aja, mas Budi bisa” jawab Budi.


“Oke. Putri ke kamar dulu ya”


“Oke”


Putri berlalu menuju kamarnya. Bu Ratih masih tertawa mengingat candan mereka tadi. Budi pura –pura merajuk, karena merasa dari tadi dirundung terus.


Dia menggeser meja lalu duduk di lantai. Bu ratih tertawa lagi. Tapi kemudian beliu berpindah lebih dekat. Beliau ulurkan kedua tangan beliau ke kepala Budi. Sesaat kemudian, Budi berkomentar keenakan, mendapat pijatan di kepalanya.


“Semoga kamu cepat dapet kerjaan ya, ngger” celetuk bu Ratih.


Budi tidak menyahut. Dia masih keenakan menikmati pijatan di kepalanya.


“Agar kamu punya kepercayaan diri, mendekati wanita yang kamu sukai. Cantik lho, dia” lanjut Bu Ratih.


“Ya memang harus cantik. Nggak boleh kalah cantik dari ibu” sahut Budi.


“Maksudnya?”


“Kalo cewek Budi masih kalah cantik sama ibu, berarti Budi masih kalah pamor dari bapak. Itu tidak boleh terjadi”


“Hmpff. Ha ha ha ha. Dasar. Kalo soal cewek, nggak mau kalah”

__ADS_1


“Ha ha ha ha”


Malam itu, seperti kompakan, bu Ratih dan Budi tidak membahas kejadian di pasar tadi sore. Mungkin mereka tidak mau membuat putri sedih, mengetahui ibunya dikata – katai juragan ikan di pasar. Karena dia juga sayang sekali dengan ibunya. Kalau sudah sakit hati, bisa nekat juga, dia.


__ADS_2