Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
budi, semobil sama adel, menggigil


__ADS_3

Kang joni dan karyawannya yang mendengar perbincangan tadi, tertawa mendengar seruan Adel. Budi hanya bisa tersenyum malu. Adel pamit untuk membantu di dapur umum. Budi mempersilakan. dia juga kembali bekerja menyiapkan kursi dan meja. Dia memasangkan kain penutup untuk kursi plastik itu, sambil digoda oleh rekan – rekannya.


Tak terasa, matahari sudah lebih dari sepenggalah tingginya. Panasnya mulai terasa terik. Dan pekerjaan mendirikan tenda hajatan inipun sudah selesai. Tinggal dudukan untuk sound system yang sedang dikerjakan. Karena orang baru, Budi berinisiatif untuk membantu.


Saat dudukan sound itu selesai, Adel terlihat berjalan menuju ke arah Budi. seperti tadi, terlihatnya begitu. Itu terjadi karena Budi sedang duduk bersama orang – orang yang bekerja menyiapkan acara hajatan besok.


“Monggo, silakan minumnya”


Adel menyapa dan mengasongkan nampan berisi dua teko es teh, dan dua piring gorengan. Dia meletakkannya di meja yang di tata untuk tamu VIP.


Di belakangnya, ada seorang wanita lagi, seumuran Adel. Dia membawa nampan berisi gelas – gelas untuk minum. Di belakangnya lagi, ada Madina, yang datang membawa gorengan lagi.


“Wah, es tehnya kemanisan mbak” seru salah seorang karyawan kang Joni.


“Ha? beneran, mas?” tanya Adel.


“Iya. Abisnya yang ngasih juga manis banget, sih” jawab orang itu.


“Ciaaaaa” sorak yang lain.


“HE, wani ndisiki aku, tak jotos sampeyan” sahut Budi berlagak marah.


“Ha ha ha ha ha”


Tapi mereka malah tertawa. Karena memang maksud Budi hanyalah bercanda. Dia juga tertawa, karena leluconnya mengena, dan sukses membuat tawa.


Adel dan temannya itu kembali ke dapur umum, diikuti Madina. Semuanya mengucapkan terimakasih atas jamuan ini. Sampai Adel menghilang dari pandangan juga, mereka masih memperbincangkan candaan terhadap Adel.


“Bud, kamu balik, gih. Ambil soud system!” perintah kang Joni.


“Sendirian?” tanya Budi.


“Iya. di sana udah ada yang bantuin. Terus balik ke sini, sendirian juga. Mereka harus nyiapin sound buat tempat lain. Entar kita bantuin turunnya” jawab kang Joni.


“Oh. Oke deh” jawab Budi.


Dia menghabiskan gorengan yang dia pegang. Lalu bersiap untuk memutar balik mobil bak milik kang Joni itu.


“Bud”


Langkah kaki Budi terhenti karena ada yang memanggil namanya. Ternyata Adel yang memanggil. Dia berjalan tergopoh – gopoh menghampirinya.


“Kenapa Del?” tanya Budi.


“Kamu mau balik?” tanya Adel.


“Iya”


“Numpang, dong. Aku mau ambil kebaya. Deket kok sama rumah kamu”

__ADS_1


“Emang boleh, sama bapak kamu?”


“Boleh” jawab Adel mantap.


“Serius?”


“Iya, takut amat?” jawab Adel sambil tersenyum geli.


“Ya udah, hayu”


Mereka langsung naik ke dalam mobil. Banyak yang menggoda dan menyiuli mereka. Tapi Budi malah berlagak seperti jagoan yang menang pertandingan.


Dia melambaikan tangannya seperti lambaiannya miss universe. Adel tertawa dan geleng – geleng kepala, melihat kelucuan mereka.


Setelah lepas dari rumah itu, suasanya menjadi sama sekali berbeda. Kabin mobil terasa hening. Hanya desiran angin yang terdengar. Budi terlihat bingung dan salah tingkah. Ini memang momen pertamanya berkendara dengan orang yang memikat hatinya.


“Kamu kenapa, Bud?” tanya Adel.


“Hem? Oh, ee, enggak” jawab Budi terbata – bata. Adel tertawa kecil.


“Kenapasih? Gitu amat?” tanya Adel lagi.


“Grogi lah, Del. Nggak nyangka bisa duduk sebelahan sama kamu, begini” jawab Budi jujur.


“Hmpf. hi hi hi hi. Bohong banget, sih. Masa cuman duduk sebelahan aja grogi?” Adel tertawa dan tidak percaya jawaban Budi. budi tersenyum melihat Adel tertawa.


“Aku juga bingung. Baru ini aku berasa kaya anak smp. Dari jauh, kaya udah paling pede aja. Giliran ketemu, malah menggigil”


“Emang lucu, sih. Tapi beneran, kamu cewek pertama yang bikin aku grogi begini, Del” lanjut Budi.


Adel terkesiap. Dia jadi bingung ingin merespon apa. Dia takut salah bicara dan membuat Budi tersinggung.


“Kamu juga cowok pertama yang bikin aku ngefreeze, Bud” kata Adel.


Budi termenung sesaat mendengar pernyataan itu. Dia cari kesungguhan di mata Adel. Walau beberapa kali mereka bertatap mata, Budi tidak menemukan tanda – tanda kebohongan di mata itu.


Artinya Adel jujur mengatakan kalau dirinya, laki – laki pertama yang membuat Adel tertegun untuk beberapa saat. Budi tersenyum senang. Senyumnya itu ternyata menggelitik hati Adel, hingga dia tertawa.


****


Pagi ini, Budi merasa lega. Karena bisa memberikan uang yang cukup untuk adiknya berbelanja ke pasar.


Dia lega, masih bisa memberikan menu yang layak untuk ibu dan juga adiknya. Sekalipun hanya dengan lauk tempe dan sayur bening.


Terasa begitu nikmat, karena sarapan pagi ini, berlandaskan rasa syukur yang mendalam. Dalam segala keterbatasan, Alloh masih memberikannya jalan untuk mendapatkan rezeki.


Dari upah pasang tenda kemarin, Budi merasa cukup untuk belanja dapur selama beberapa hari ke depan.


“Terimakasih ya, ngger” celetuk bu Ratih.

__ADS_1


“Terimakasih buat apa, bu?” tanya Budi bingung.


“Ya buat semua usahamu ini” jawab Bu Ratih.


“Yang masak sih, Putri, bu. Nggak mungkin ini masakan Budi” elak Budi.


“Mas Budi sih, suka kebalik – balik. Sayur bening rasanya asem, sayur asem rasanya tawar. Ha ha ha” sahut Putri.


“Tu kan, Bu. sekalipun ngeselin, tapi bener” kata Budi. Bu Ratih tergelak.


“Jadi, kalo mau berterimakasih, ya sama Putri” lanjut Budi.


Mata bu Ratih berkaca – kaca. dia terharu mendengar ketulusan putranya. Yang bahkan tidak mau diberi ucapan terimakasih.


Dia melanjutkan makannya, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur. Bahkan bu Ratih juga menambah nasi dan sayurnya. Beliau makan dengan lahap, walau air matanya tidak sanggup beliau bendung. Meluncur membasahi pipinya. Budi menyeka air mata ibunya.


“Mas, itu ibu, bukan mbak Adel” tegur Putri.


“Lah, yang bilang mbak Adel juga siapa?” kilah Budi


“Ya itu, nyeka air matanya romantis banget. Pelan, pelan, pelan. Kaya sama orang yang dicintai, gitu” goda Putri.


“Ya masa pakai kain lap? Emangnya kaca nako? Ada – ada aja”


“Ha ha ha ha”


Bu Ratih tertawa mendengar kelakar putra – putrinya. Suasana yang semula haru, mendadak berubah menjadi ceria. Dan itu modal yang bagus untuk memulai aktivitas.


Sehabis makan, Budi bersiap berangkat mengantar ibunya. Dan Putri, bersiap melanjutkan tugas paginya, beres- beres rumah.


Seperti biasa, Budi disambut dengan hangat oleh rekan – rekan kerjanya. Terutama para wanita. Dari yang masih gadis, sampai yang sudah ibu – ibu, selalu saja ada yang menyambutnya dengan dengan obrolan hangat.


“Hai Bud, ceria banget pagi ini?” sapa seseorang.


“Hai, Stev. Enggak kok, biasa aja” jawab Budi.


“Kirain, abis dapet apa, gitu”


“Belum dapet sih, baru mau”


“Wah, apa tuh?” tanya Stevani penasaran.


“Itu, ada ibu – ibu pengen ngenalin aku sama anak gadisnya. He he”


“Widih, mau dapet perawan nih"


“Aku juga masih perawan” sahut Erika.


“Huu, main nyahut aja, kaya bensin”

__ADS_1


komentar Stevani. Erika hanya tertawa sambil berlalu.


__ADS_2