
Madina masih terus menangis di pelukan kakaknya. Sedangkan Budi, tanpa diminta dia pergi mengurus urusan administrasi. Sudah setengah jam lewat, bu Lusi di rawat di ruang UGD. Tapi belum juga ada kabar dari dalam sana.
“Dokter, gimana kondisi ibu saya?”
Suara Adel, menyentakkan Putri. Kepalanya seketika mendongak, lalu menoleh ke arah yang dilihat Adel. Mereka berdua lantas berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
“Alhamdulillah. Masa kritis pasien sudah lewat. Beliau sedang beristirahat. Tapi pemindahannya ke ruang perawatan, menunggu pasien siuman dulu” jawab dokter itu.
“Alhamdulilah” gumam Adel dan Madina. Terlihat raut wajah lega terpancar dari keduanya.
“Ibu kami kenapa, dok?” tanya Adel lagi.
“Pasien mengalami stress berlebih. Ditambah tekanan darah yang tinggi, akibat kolesterol. Tolong dijaga ya, asupan makan pasien. Juga tolong dijaga, agar pasien tidak stress. Kalau polanya terus seperti sebelumnya, itu bisa memperburuk kesehatan pasien” jawab dokter itu.
“Baik, dok” jawab Adel.
“Bolehkah kami melihat keadaan ibu kami?” tanya Madina.
“Silakan! Dua orang saja, ya?” jawab Dokter itu.
Adel melihat ke arah Budi terlebih dahulu. Dan Budi menganggukkan kepalanya, seakan ingin mengatakan, tidak apa-apa.
“Baik, dok” jawab Adel.
Dokter itupun pergi. Tak mau membuang waktu, keduanya segera masuk ke ruang UGD. Tinggallah Budi seorang di depan puskesmas.
Di saat menunggu Adel di depan puskesmas itu, Budi mendapatkan pesan dari Erika, yang menanyakan data lembur karyawan. Karena ada karyawan yang protes mengenai perhitungan lemburnya yang berbeda dari hitungan karyawan itu sendiri.
Budi menyampaikan kondisinya yang sedang tidak di rumah, sedang tidak menghadap laptop. Tapi Erika tidak mau tahu. Ya sudah, Budi berusaha semampunya menyisir data yang dia dapatkan dari Riki. Mencocokkannya satu per satu dengan gambar scan dari surat perintah lembur. Saking fokusnya, dia sampai lupa dengan Adel dan Madina. Sudah dua jam lamanya dia tidak mendapatkan kabar dari dalam sana. Dia baru tersadar, saat kuota datanya habis.
“Hei.ngapain kamu di sini?”
Seseorang berseru kepadanya. Sontak Budi mendongakkan kepalanya. Ternyata orang itu adalah pak Fajar.
“Eem”
Budi bingung mau menjawab apa. Bukannya takut dimarahi pak Fajar, tapi situasinya tidak memadahi untuk beradu argumen.
“Heis”
Pak Fajar pergi s ambil geleng-geleng kepala. Dia langsung menemui seorang petugas puskesmas yang kebetulan melintas. Petugas itu langsung mengarahkan pak Fajar menuju ruang unit gawat darurat. Terlihat Madina keluar bergantian dengan bapaknya. Dia berjalan menghampiri Budi.
“Mas, tadi bapak bilang apa?” tanya Madina.
“Nanya doang, ngapain di sini” jawab Budi sambil tersenyum.
“Terus, mas Budi jawab apa?”
“Nggak jawab. Abis bingung mau jawab apaan. Bisa setengah jam pelajaran, jelasinnya”
“Hempf. Bisa aja, mas Budi” komentar Madina sambil tergelak.
“Tapi nggak marahin, kan?” lanjut Madina.
“Enggak. Cuman gitu doang, terus ke sana”jawab Budi. Madina mengangguk-angguk.
“Ibu gimana, Din?’ tanya Budi.
“Belum sadar, mas”
“Kamu yang sabar, ya! Doain terus, biar ibu cepet sadar!” hibur Budi.
“Iya, mas. Makasih ya, udah mau nolongin Madin sama mbak Adel”
“Iya”
Di dalam sana, pak Fajar tampak sedih melihat istrinya terbaring tak berdaya. Dia duduk di sampang ranjang. Dia raihnya tangan kanan bu Lusi, lalu dia bawa ke bibirnya. Dia kecup dengan sepenuh hati. Setelah sekitar sepuluh menit mencium jemari itu, pak Fajar tersentak, merasakan adanya kedutan di bibirnya.
“Ibu?” gumamnya lirih.
Perlahan, satu kedutan itu berubah menjadi dua kedutan. Dua kedutan bertambah menjadi tiga kedutan. Lama-lama berubah menjadi gerakan kompleks.
“Bu?” panggil Adel lirih.
Gerakan di jemari tangan itu berlanjut, dan menular ke anggota tubuh lain. Kening bu Lusi mengernyit. Lalu perlahan dia membuka kedua matanya.
“Ibu? Ibu sadar?”
Ada senyum mengembang di bibir pak Fajar. Dia merasa lega, saat istrinya sudah kembali membuka matanya, dan menoleh ke arahnya.
“Bapak?” kata bu Lusi lirih.
“Panggilin dokter, nduk!” pinta pak Fajar.
Adel keluar dari ruang unit gawat darurat. Setengah berlari dia menuju ruang dokter. Madina dan Budi terkejut melihat Adel berlari-lari. Bahkan Madina sempat menduga kalau terjadi hal buruk kepada ibunya.
“Ibu sadar, dek” kata Adel menenangkan Madina.
“Alhamdulillah, ya Alloh”
Serta merta tubuh Madina merosot ke tanah. Dia rendahkan kepalanya sampai menempel ke tanah. Ya, dia sedang melakukan sujud syukur. Sebagai wujud kelegaan dalam hatinya.
Dokter memeriksa tubuh bu Lusi. Meski dinyatakan sudah lebih baik, tapi dokter belum mengijinkan bu Lusi dipindah ke ruang perawatan. Dokter masih perlu melakukan observasi lagi agar lebih yakin.
Pak Fajar dan Madina tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan mereka meminta dokter untuk melakukan yang terbaik untuk bu Lusi. Dokter hanya meminta kepada mereka untuk membiarkan bu Lusi beristirahat, dan tidak banyak diajak bicara.
__ADS_1
“Siapa yang bawa ibu ke sini, nduk?” tanya bu Lusi.
Adel tersentak mendapat pertanyaan menurus seperti itu. sejenak dia menatap wajah bapaknya. Tak ada kode yang diberikan bapaknya. Adel jadi bertambah bingung mau menjawab apa.
“Adel sama Madin, bu” jawab Adel akhirnya.
“Nggak mungkin. Kan kamu belum berani bawa mobil di jalan depan rumah” tolak bu Lusi.
“Namanya juga kepepet, Bu” sahut Adel bersikukuh. Bu Lusi tersenyum.
“Ibu tahu kamu boong. Jujur aja nduk! Siapa yang bawa ibu ke sini? Ibu mau bilang terimakasih” pinta bu Lusi. Adel semakin bingung.
“Emm. Budi, bu” jawab Adel berhati-hati.
“Budi?” tanya bu Lusi terkejut.
“Bu, udah! Nggak penting siapa yang bawa ibu ke mari. Yang penting, ibu udah ditangani dokter” potong pak Fajar.
“Panggilin dia, Nduk!” pinta bu Lusi.
“Bu!” tegur pak Fajar.
“Ibu nggak mau punya hutang, pak” jawab Bu lusi. Pak Fajarpun mengijinkan Adel untuk memanggilkan Budi.
Budi masuk dengan mengucapkan salam. Beruntung bu Lusi mau menjawabnya. Adel lupa, kalau di dalam ruangan itu hanya boleh untuk dua orang. Tapi dia malah ikut masuk bersama Budi.
Pak Fajar menggeser posisinya, agar Budi bisa lebih dekat dengan istrinya. Walau ada kursi di depannya, tapi Budi memilih berdiri saja. Itu juga karena tidak dipersilakan duduk.
“Terimakasih ya, Bud. Kamu udah nolongin ibu” kata bu Lusi. Budi terkesiap.
Dia bingung dengan perubahan sifat bu Lusi. Di satu sisi dia senang, kalau bu Lusi bisa kalem seperti ini. Tapi tetap saja, baginya itu membingungkan.
“I,iya bu. Sama-sama” jawab Budi agak tergagap.
Entah mengapa, berhadapan dengan bu Lusi yang dalam versi kalem itu, malah membuat dia grogi. Saking groginya, dia sampai menyikut lemari kecil di samping kirinya.
CRIIING
Terdengar sebuah benda logam terjatuh ke lantai. Budi menoleh untuk melihat, benda apakah yang terjatuh itu. setelah dia pungut, ternyata benda itu adalah sebuah kalung emas dengan bandul berwarna putih mengkilat.
“Hem?”
Budi terkejut setelah melihat bandul itu secara utuh. Dia merasa tidak asing dengan bandul itu. tapi ada detil yang seingatnya berbeda.
“Kenapa, Bram?” tanya Adel.
“Ha?” Budi tergagap. Wajahnya masih menyiratkan ketidak mengertian.
“Iya, kamu kenapa, Bud? Itu kalung ibu. Apa ada yang aneh dari bandul itu?” tanya Bu Lusi. Budi belum langsung menjawab.
“Emang sih, itu bukan emas. Itu semacam besi” lanjut bu Lusi.
“Apa?”
“Ya, setengah hati begini, Bu. Tapi seperti sisi sebelahnya. Kalau ini tulisannya VE, punya ibu saya tulisannya LO” jawab Budi.
“Nggak, enggak. Nggak mungkin” tolak bu Lusi. Pak Fajar mulai terlihat tegang. Tapi Adel mencegahnya untuk marah.
“Dari mana ibumu dapetin bandul itu?” lanjut bu Ratih. Budi melihat ke arah Adel. Adel mengangguk memberi persetujuan.
“Ibu bilang, bandul itu bikinan simbah kakung. Terbuat dari kawat las anti karat, yang dilelehkan dengan bantuan sinar laser. Dan di bangun selapis demi selapis. Kata ibu, kalung ini dibuat sewaktu ibu masih kecil. Usia enam tahunan. Bilangnya sih ada sepasang. Tapi sebelah lagi, ibu kasihkan kepada seseorang” jawab Budi.
“Enggak. Nggak mungkin. Siapa nama ibu kamu?” tanya bu Lusi lagi.
Budi mengernyitkan keningnya. Dia bingung. Itu karena sebelumnya, bu Lusi kan sudah pernah bertemu ibunya.
“Dewi Kamaratih” jawab Budi.
“GUSTIIIIIIII”
Bu Lusi sontak menangis begitu nama lengkap ibunya, Budi sebut. Suara bu Lusi yang cukup kencang tak pelak mengagetkan semua yang mendengarnya. Tak terkecuali dengan dokter yang bertugas.
Dia dan seorang perawat masuk untuk mencari tahu apa yang terjadi. Adel mengajak Budi keluar dari ruangan itu.
“Mbak, ibu kenapa?” tanya Madina cemas.
“Nggak papa kok, dek” jawab Adel kalem.
“Tapi kok bisa nyebut sekenceng itu? ibu kenapa, mbak?” tanya Madina lagi.
“Nggak papa dek. Ibu tadi kayaknya cuman kaget aja”
“Kaget? Kaget kenapa?”
“Embak juga belum ngerti, dek. Tadi kan mas Budi ngejatuhin kalung ibu. Nah, diambil tuh, sama mas Budi. Eh, mas Budinya kaya kenal sama bandul kalung ibu. Ditanya kan, sama ibu. Nah, mas Budi cerita tuh, kalau bandul itu mirip banget sama punya ibunya. Pemberian dari simbahnya. Dibuat dari kawat las, yang dilelehin pake sinar laser. Kalo punya ibu ada hururf VE, punya ibunya mas Budi tulisannya LO”
“Love?” potong Madina.
“Ya, love”
“Hubungannya?”
“Itu dia yang embak belum ngerti”
Madina tidak bertanya lagi. Dia memandangi pintu ruang unit gawat darurat. Berharap dokter tadi segera keluar dan membawa berita yang melegakan. Dan beruntung, tak lama kemudian, dokter itu keluar.
__ADS_1
“Dokter, gimana kondisi ibu saya?” tanya Madina serta merta. Dokter itu tersenyum.
“Tidak apa-apa, dek. Ibu adek baik-baik aja. Cuman kaget karena sesuatu” jawab dokter itu.
“Alhamdulillah” kata Madina mengucap syukur.
Serta merta dia berlari masuk ke dalam ruang gawat darurat. Dokter itu tersenyum lagi, lalu pamit pergi kembali ke ruangannya. Budi bingung saat mendapati Adel menatapnya dengan lekat. Seolah ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ucapkan.
Mengingat matahari sudah berada di atas ubun-ubun, Budi mengutarakan niatnya untuk mencari makanan. Saat mendengar kata makanan, Adel baru teringat, kalau tadi pagi dia hanya sarapan sepotong roti. Dan rasa laparnya kini mulai terasa. Awalnya dia ingin ikut, tapi Budi menyarankan agar Adel tetap berada di puskesmas. Agar jika sewaktu-waktu dibutuhkan, dia ada.
Walau agak berat dengan keputusan Budi, tapi Adel menyetujuinya. Jadilah Budi berjalan kaki mencari warung makan.
Budi memilih menu terbaik yang ada di warung itu. Walau Adel tidak memesan menu tertentu. Empat bungkus nasi bersama empat bungkus es teh dia bawa kembali ke puskesmas.
Tapi di saat dia sampai di puskesmas, dia bingung, karena Adel tidak terlihat di sana. Untungnya dokter tadi memberitahunya kalau bu Lusi sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Budi lega, akhirnya ibunya Adel kondisinya membaik.
Karena di ruangan itu diperbolehkan menjenguk sampai empat orang sekaligus dalam satu waktu, Budi berinisiatif untuk mendatangi kamar tersebut. Dia bermaksud untuk memberikan nasi bungkus yang dia bawa kepada Adel. Malah dia dipanggil bu Lusi untuk sekalian masuk ke ruang rawat inap itu. Pak Fajar menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
“Bud, apa kamu benci sama ibu?” tanya bu Ratih.
Sontak semua mata tertuju padanya. Adel dan Madina saling menatap. Mereka bingung dengan pertanyaan yang sangat jarang mereka dengar dari ibu mereka itu. Bahkan mereka merasa belum pernah mendengar ibu bertanya pendapat orang tentangnya.
“Kenapa saya harus benci sama ibu?” jawab Budi dengan pertanyaan.
“Nggak usah pura-pura! Jujur aja!” sahut pak Fajar. Budi tersenyum.
“Marah sama benci, adalah dua hal yang berbeda, pak Fajar. Kalau ditanya, apa saya marah? Ya. sempat saya marah sama bu Lusi. Tapi itu juga karena bu Lusi, sempat menunjuk-nunjuk wajah ibu saya” jawab Budi. Bu Lusi terperangah mendengar jawaban itu.
“Terus, kamu nggak benci?” tanya pak Fajar lagi.
“Orang ibu saya saja memaafkan. Lha terus, dasar saya membenci tuh, apa?”
“Tapi kan ibu udah ngata-ngatain kamu sedemikian jeleknya. Bohong kalo nggak benci” komentar pak Fajar. Budi tersenyum lagi.
“Seperti orang kerja, pak. Semakin tinggi gajinya, semakin banyak fasilitasnya, semakin gede juga tuntutannya” jawab Budi. Pak Fajar mengernyitkan keningnya.
“Kemarin saya marah, itu karena baru pertama kenalan sama sejatinya bu Lusi. Tapi kalau saya pikir-pikir, misalkan saya urutkan dari sepuluh orang yang saya kenal, bu Lusi ini masih di urutan ke sepuluh, pak” lanjut Budi.
Pak Fajar semakin tidak mengerti. Bu Lusi juga ikutan bingung. Sekelas dirinya hanya diletakkan di urutan ke sepuluh dari sepuluh orang.
“Nomer sepuluh? Nomer satunya, kayak gimana?” celetuk Madina.
“Semoga Madin nggak pernah dipertemukan sama orang kaya gitu” jawab Budi.
Semua yang melihatnya, merasa heran, mata Budi berubah merah. Adel mendekatinya.
“Bram, kamu kenapa?” tegur Adel. Budi menghela nafas berat sambil istighfar.
“Maaf, Ta” respon Budi pendek.
“Apa menurutmu, ibu bukan manusia paling jahat yang pernah kamu kenal, Bud?” tanya Bu Lusi.
Budi tersenyum. Dia tidak menjawab. Hanya gelengan kepalanya yang mewakili jawabannya.
Semua orang bingung, saat bu Lusi memandangi Budi dengan lekatnya. Bahkan sampai cukup lama.
“Dulu, waktu simbahnya Adel masih merantau, ibu masih kecil waktu itu. ibu ngerasa seperti anak paling merana di dunia. Bukan karena simbahnya Adel orang nggak punya, punya. Paling punya, malah” kata bu Lusi membuka suara. Semua mata tertuju padanya. Semua menantikan kelanjutan kalimatnya.
“Tapi lebih karena waktu itu ibu paling kecil, yang lain udah usia TK, bahkan SD. Dan tetangga-tetangga kontrakan dulu, sudah terkontaminasi sama anak-anak setempat yang nakalnya minta ampun. Tiap hari ibu di buli. Nggak ada hari tanpa bikin ibu nangis” lanjut bu Lusi. Semua masih terdiam.
“Dari sekian banyak anak, cuman ada satu anak yang peduli sama ibu. Aku manggil dia, mbak Dewi. Dewi Kamaratih”
“Apa?” pak Fajar, Adel dan Madina berseru bersamaan. Bu Lusi menangis lagi. Pak Fajar mengelus-elus kepala istrinya itu.
“Entah berapa kali dia dicap ibu-ibu warga asli sana sebagai si mulut rusak, karena selalu ngomel-ngomel dan ngamuk-ngamuk sama anak-anak mereka. Dia sama sekali nggak terima saat ibu diledekin sampe nangis”
“Dan entah berapa kali dia pasang badan saat ibu dilempari sendal, mainan, bahkan batu. Selalu punggung dia yang jadi sasaran” bu Lusi menangis lagi.
Tidak ada yang berkomentar. Semua masih terdiam, menunggu kelanjutan cerita bu Lusi.
“Waktu itu, ibu selalu ngerasa nyaman dan aman berada di dekatnya. Sampai-sampai ibu nganggep mbak Dewi itu seperti kakak ibu sendiri. Dia juga udah nganggep ibu seperti adiknya sendiri. Kemana mbak Dewi main, ibu pasti diajak”
“Sampai saat ibu naik ke kelas dua SD, bapaknya mbak Dewi kena PHK. Dan mereka harus pulang kampung” bu Lusi tak kuasa menahan tangisnya lagi.
“Sayangnya, ibu lupa nanya di mana rumahnya di kampung ini”
“Jujur, Bud. Ibu kangen sama dia, Bud”
“Sampai anak ibu segede ini juga, ibu masih pengen banget ketemu sama dia. Ibu masih pengen ketemu sama pelindungnya ibu, Bud”
“Tapi, tapi....Gustiiiiii”
Bu Lusi tidak kuasa meneruskan kalimatnya. Rasa malu dan menyesalnya sangat besar. Tangis pedihnya mampu mengungkapkan lebih banyak dari yang dia ceritakan. Cukup lama waktu yang bu Lusi butuhkan untuk menenangkan diri.
“Bud, sampein ke ibumu, Bud! ibu pengen sowan sama ibumu” pinta bu Lusi.
“Ha?” Adel dan Madina bereaksi bersamaan.
“Emm. Kalo Budi kasih saran, mendingan jangan dulu deh, bu!” jawab Budi.
“Kenapa? Ibumu marah sama ibu, ya? Gustiiiiii”
“Enggak. Bukan gitu, Bu” sahut Budi meralat kalimatnya yang telah salah dipahami bu Lusi.
“Ibu saya nggak marah kok, sama ibu. Tapi ibu kan sedang tidak fit. Akan lebih baik kalau ibu istirahat dulu. Nanti biar saya sama Adel yang mengatur pertemuan ibu dengan ibu saya. Di suatu tempat” lanjut Budi.
__ADS_1
“Ya. Begitu juga boleh. Jangan lama-lama ya, Bud! Ibu nggak kuat lama-lama nanggung malu”
Ya Tuhan, istriku yang terkenal pedas mulutnya, yang dibenci orang karena hobinya menghina orang, tapi ternyata tidak melupakan jasa orang yang pernah melindunginya. Sampai lupa dengan rasa gengsi yang selama ini menjadi tamengnya. Beda banget sama si breng*** Imam. Lima tahun mblangsak, aku terus yang dia mintain tolong. Jasa-jasaku ngasih dia makan, ngasih tumpangan, rokok, sama sekali nggak ada yang dia inget. Malah sekarang berani bilang aku kantong sampah. Kepar**.