
Di saat Budi pergi, Ratna muncul di ruang meeting itu. Dia memberitahukan kepada Farah, kalau pak Paul menelepon di kantor. Kontan saja Farah langsung pamit dan meminta Ratna untuk menggantikannya menemani Liza. Dengan senang hati pastinya, Ratna menerima perintah itu. Dia juga diminta Farah untuk menunjukkan jalur produksi pada Liza, dengan harapan ada order lain di kemudian hari. Ratna menyanggupi.
“Cie ciee. Yang ketemu mantan. Sumringah banget” goda Ratna.
Liza hanya tersenyum tersipu mendapat godaan dari sepupunya.
“Udah makan belum, mbak?” tanya Ratna.
“Udah. Tadi sebelum ke sini, makan dulu” jawab Liza.
“Oh”
“Eh, Na. Pengen lihat mas Budi, dong” pinta Liza lirih.
“Jangan dulu, mbak”
“Kenapa?”
“Lagi disiapin jalurnya buat produksi pesanan embak. Belum mulai” jawab Ratna.
“Oh”
“Mendingan kita keluar dulu, mbak. Ke kafe favoritnya mas Budi, yuk!” ajak Ratna.
“Favoritnya yang mana? Yang ada live musicnya?”
“Lah. Udah tahu aja, embak”
“Ya kan udah kemana-mana, beritanya. Yang dipacarin mas Budi kan si itu.
“Siapa?” goda Ratna.
“Aduh. Jealous aku nyebut namanya” jawab Liza.
“Hempf. Ha ha ha” Ratna tergelak mendengar jawaban itu.
“Kantin sini kurang jos, mbak. Ya, kelasnya kita-kita”
“Emang mau nyari apa sih, Na? Embak juga udah minum, tuh. Kalo cuman buat nunggu mas Budi sih, nggak papa”
“Seriusan nggak papa?”
“Ya nggak papa, lah. Daripada ke sono-sono lama, keburu doi ngurusin yang lain”
“Cie. Roman-romannya pengen balikan, nih” goda Ratna. Liza hanya tersenyum tersipu.
“Udah, kerja sini aja! Tinggalnya di rumah aku. Bakal ketemu deh, tiap hari” lanjut Ratna.
“Kalo ada yang bisa bawa sih, hayu aja”
“Seriusan?” tanya Ratna lirih.
“Why not?” jawab Liza.
“Ya udah. Kita obrolin sambil nongki di kantin” ajak Ratna.
“Hayu” jawab Liza.
Mereka berdua lantas pergi dari ruang meeting itu dan menuju ke kantin. Mereka sempat berpapasan dengan Erika. Erika terkejut karena hampir bertabrakan. Dan dia hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai ganti kata permisi.
Di lapangan, Budi terlihat sibuk berkoordinasi dengan semua pihak terkait. Produksi yang sedang berjalan dihentikan bertahap. Diganti dengan permintaan dadakan itu. Dengan jumlah yang lumayan banyak, Budi benar-benar menekankan pentingnya kerjasama dan loyalitas.
Dia sendiri ikut turun tangan membantu preparation. Tindakannya itu berbuah manis. Pak Teguh dan bahkan pak Supri juga ikut turun tangan. Membuat para operator tidak ada yang berani membuang waktu untuk hal yang tidak perlu.
Di setiap tahapnya, Budi selalu memantau kecepatan para operatornya. Dia sendiri aktif memeriksa ketelitian dan kualitas produksi di setiap tahapnya. Setiap perubahan yang terjadi dia langsung beraksi menyusun rencana. Termasuk meminta penambahan operator dari departemen anyaman. Dia tidak mau ada keterlambatan.
Saking bersemangatnya, Budi sampai tidak sadar kalau dirinya diperhatikan dari depan pintu masuk kantor. Ya, Ratna sudah kembali dari kantin, karena Liza sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana Budi bekerja.
“Masya Alloh. Udah kaya yang punya pabrik aja, semua orang dia perintah” komentar Liza.
“Emang dia diterima buat itu, mbak” jawab Ratna.
“Oh. Sejalur sih. serupa kaya yang dia lakuin di sana” komentar Liza.
“Cuman gajinya aja yang nggak serupa” celetuk Ratna.
“Hempf. Ha ha ha” Liza tergelak mendengar ucapan Ratna.
“Itu yang aku suka dari mas Budi. Aku belum pernah denger dia ngeluh soal apa yang dia dapet dari perusahaan. Yang penting dia penasaran, bakal dia kejar sampe gol. Perkara nggak dapet imbalan, itu urusan belakangan”
“Ya masa gitu, mbak? Enakan atasannya, dong? Dapet nama”
“Mas Budi juga nggak pernah mikirin itu” jawab Liza.
Sejenak percakapan mereka terhenti. Masing-masing sedang memperhatikan jalannya produksi. Beberapa saat kemudian, Ratna melihat Budi sedang senggang.
“Mas Budi senggang, tuh. Mau kesana?” tanya Ratna.
__ADS_1
“Emang boleh?” Liza ganti bertanya.
“Boleh, dong. Yuk!” jawab Ratna.
Merekapun berjalan mendekati posisi Budi. Beberapa operator sempat menyapa Liza, dan Liza menyambut sapaan itu dengan ramah.
“Gimana, mas?”
Sebuah teguran membuat Budi menoleh.
“Aman?”
Teguran kedua itu membuat Budi tersenyum.
“Aman” jawab Budi.
Untuk beberapa saat, mata Budi beradu pandang dengan mata Liza. Budi masih terpesona dengan wajah cantik itu. Terasa adem di hatinya.
“Kekejar nggak mas, jam lima entar?”
Suara Ratna menyentakkan Budi. Dia butuh dua detik untuk kembali menguasai keadaan.
“Di atas kertas, kekejar. Semoga temen-temen konsisten, kecepatannya” jawab Budi.
“Kualitas jangan lupa!” celetuk Liza lirih.
“Sudah pasti itu, bu Liza” jawab Budi.
Jawaban Formal itu malah memuat Ratna tergelak. Terdengar aneh di telinganya.
“Mau keliling?” tawar Budi.
Sontak tawa Ratna terhenti. Itu karena pertanyaan yang dilontarkan Budi, seharusnya menjadi pertanyaan yang keluar dari bibirnya.
“Boleh” jawab Liza.
Budipun menjelaskan proses produksi di pabrik ini, mulai dari persiapan, pengelasan, pengecatan, sampai selesai.
Budi mempromosikan tempat kerjanya tanpa sekalipun mempromosikan keberhasilannya kepada mantan kekasihnya itu.
Mereka tidak menyadari kalau ada yang memperhatikan mereka dari jauh.semua gerak-gerik mereka mendapat perhatian penuh.
Saat berada di area anyaman, saat berbincang dengan bu Tami juga, seseorang datang menuju ke arah mereka. Karena posisi mereka membelakangi orang yang datang itu, mereka terus saja asyik berbincang. Sampai orang itu ada di dekat mereka, bu Tami menyadari kehadirannya.
“Ada yang bisa saya bantu, mbak Rika?” tanya bu Tami kepada orang yang datang itu.
Budi terkesiap mendengar berita dari Erika. Agak janggal menurutnya. Biasanya pak paul telepon langsung padanya. Tapi dia tidak mau berburuk sangka. Mungkin sebelumnya habis berbicara dengan Erika lalu mencari dirinya.
“Bu Liza, mohon maaf. Saya harus ke kantor dulu. Kalo ada apa-apa, tabok aja si Ratna!” kata Budi meminta ijin.
“Hempf. Ha ha ha” Liza tergelak mendengar kelakar Budi.
“Silakan!” kata Liza, menjawab permintaan ijin dari Budi.
Masih ada gelak tawa saat Budi pergi meninggalkan mereka. Budipun tertawa. Bukan karena kelakarnya tadi sebenarnya, tapi lebih karena dia melihat ada raut cemburu di wajah Erika.
*Ceklek*
“Loh. Udah ditutup, tuh?” seru Budi, saat melihat telepon di meja Erika tidak dalam kondisi stand by.
“Laporan harian udah kelar?”
Erika bertanya tanpa mempedulikan pertanyaan Budi. Budipun tersenyum. Pertanyaan itu adalah sebuah konfirmasi baginya, kalau sebenarnya, Erika hanya ingin menjauhkannya dari tamu besar saat ini.
“Ditanya tuh, jawab!” seru Erika sewot.
“Lah, embak aja ditanya nggak jawab” kilah Budi, sambil berjalan menuju mejanya.
“Buruan kelarin! Gua mau pulang cepet” perintah Erika.
Budi menoleh mendengar perintah itu. Dia semat tertegun dan menatap wajah Erika.
*Mau kemana dia, ya? Mencurigakan. Jangan-jangan? Haih, ngapain juga mikirin dia*?
“Ya, mbak” jawab Budi, sambil beranjak duduk.
Gantian Erika yang menatap Budi. Tapi budi tidak mempedulikannya. Dia mulai mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.
*Sikap kamu tuh susah banget di baca sih, mas? Masa liat doang? Itu juga nggak jelas. Kaya jealous, tapi juga kaya enggak. Tapi, ya sudahlah. Yang penting kamu nggak deket-deket sama mantanmu itu. Keliatan banget kalo dia masih berharap kamu bakal balik sama dia*.
***
Siang ini, Madina tampak uring-uringan. Sedari pagi dia merasa kesal. Kakaknya, semenjak menikah dengan Luki, jadi terasa menjauh darinya.
Walaupun kamarnya bersebelahan. Tapi bersama suaminya, kakaknya jadi bertambah sibuk. Dia hampir tidak punya waktu untuknya. Sudah hampir sebulan terakhir tidak ada perbincangan menarik selain tegur sapa dan basa-basi.
Selain itu, pembantu yang dibawa Luki dari rumah di solo, juga membuatnya gerah. Di satu sisi, dia mengakui semangat kerja wanita paruh baya itu. Tapi di sisi lain, dia tidak suka dengan sikap pembantunya itu. Dia sama sekali dilarang untuk melakukan pekerjaan rumah yang biasa dia kerjakan. Padahal baginya itu adalah kesenangannya.
__ADS_1
Sudah dibuat kesal oleh kakaknya, tidak dibela oleh ibunya, ditambah sikap pembantunya yang sok melarang-larang, membuat emosinya semakin meninggi. Bahkan dia sudah merasa tidak kerasan berada di rumahnya sendiri.
“Mau apa, non?”
Sebuah teguran menggema di seantero dapur. Tapi Madina cuek saja.
“Non, mau apa?”
“Apa sih bi, nanya-nanya mulu?” Madina mulai naik pitam.
“Ya kan tugas bibi di sini buat bantuin enon. Kalo enon butuh sesuatu, bilang aja sama bibi!” jawab pembantunya.
“Bi. Aku tuh nggak biasa gaya hidup hedon kaya gitu. Aku biasa ngerjain semuanya sendiri. Dan ini rumah aku. Kamu dibayar buat bantuin nyonya kamu, bukan buat ngerecokin aku. Jadi nggak usah sok, deh!”
“Kalo mau sekarang, biar bibi bikinin. Kalo mau bikin sendiri, ya non tunggu dulu sampe saya kelar masak. Non liat kan, banyak bahan makanan”
“Masak ya masak aja! Ngapain aku harus nungguin kamu?”
“Tapi bibi ngak bisa masak kalo ada orang lain di dapur bibi”
“Ini dapur gua, bukan dapur lu”
“ADEK”
Terdengar teguran keras dari arah ruang keluarga.
“APA?” Madina tidak kalah kencang suaranya.
“Astaghfirulloh, adek. Ngomong sama orang yang lebih tua kok suaranya ampek kedenger dari bengkel”
“Embak mau nyalahin Madin? Embak masih ngebelain pembantu ini? Oke. Fine” tanya Madina setengah berteriak. Adel terkesiap.
“Madin benci sama embak” lanjut Madina.
Dia beranjak keluar dari dapur.
“Astaghfirulloh”
Adel terhuyung-huyung ditabrak Madina. Sampai berputar tubuh dia. Beruntung dia tidak jatuh. Madina pergi ke atas. Tak lama kemudian dia turun kembali sambil membawa tas ranselnya. Adel yang sedang duduk di ruang tamu terkejut melihatnya.
“Mau kemana, dek?” tanya Adel.
“Tumben peduli?”
“Ya kamu bawa bawa ransel segala”
“Dek?”
Adel memanggil setengah berteriak, karena Madina malah melangkah pergi keluar rumah.
“Kamu mau kemana, sih?” tanya Adel sambil menghalangi jalan Madina.
“Apa pentingnya sama embak? Bukannya nggak ada bedanya, Madin di rumah apa enggak?”
“Ya kalo ibu nyariin gimana?”
“Itu urusan Madin, bukan urusan embak”
“Ya nggak bisa gitulah, dek”
“Udah, deh! Embak nikmatin aja hidup embak dengan suami super protektif embak, sama pembantu super sigap embak! Nggak usah mikirin Madin! Madin udah gede”
Madina merangsek menerobos barikade badan kakaknya. Dia menuju tempat dimana motornya diparkirkan. Dia memakai helm dan bersiap untuk melajukan motornya.
“Embak nggak ijinin kamu pergi, dek. Embak gantinya bapak, di sini” kata Adel sambil menghalangi laju motor Madina.
Madina melotot melihat kakaknya kekeh menghadangnya.
“Madin juga nggak ngijinin pembantu itu ngacak-ngacak dapur Madin” jawab Madina.
Mereka saling menatap beradu nyali. Sebenarnya Adel agak ciut nyalinya. Baru kali ini dia melihat adiknya murka begini.
“Kalo embak nggak ngijinin Madin pergi, pecat dia sekarang juga!” kata Madina beberapa saat kemudian.
“Embak nggak bisa pecat dia, dek. Harus mas Luki yang melakukannya”
“Kalo embak nggak bisa pecat dia, minggir! Jangan halangin Madin!” perintah Madin dengan suara lirih, tapi penuh penegasan.
Madin tidak sadar kalau di belakangnya ada Luki. Dia yang sedari tadi sibuk menelepon, terkejut melihat istri dan adik iparnya bertengkar.
“Ya tapi kamu mau kemana?”
*Breeeemmm*
“AWAS”
Luki menarik tubuh Adel, tepat sesaat sebelum tersentuh roda depan motor Madina.
__ADS_1
Akhirnya Adel hanya bisa memijat-mijat kepala melihat adiknya pergi tanpa dia ketahui tujuannya.