
Merekapun beranjak untuk masuk ke dalam rumah. Rupanya semuanya telah berkumpul dan lesehan membentuk lingkaran. Budi dan Adel berjalan mendekat dengan raut wajah bingung. Adel duduk di sebelah kiri Madina, dan Budi duduk di sebelah kanan Putri. Setani duduk di sebelah kiri Putri, bu Ratih dan bu Lusi duduk berdampingan di sebelah kiri Stevani. Tepatnya di depan Budi dan Adel.
“Ngger” kata bu Ratih memulai musyawarah.
“Sudah lepas dari seratus hari, mbak Erika pergi” lanjut bu Ratih.
Kalimat itu bu Ratih gantung. Membuat Budi menunggu kelanjutannya.
“Tapi kamu belum sekalipun ngomongin lagi soal wasiat almarhumah” lanjut bu Ratih lagi.
Budi menunjukkan gestur agak terkejut, namun juga mengangguk, sebagai isyarat kalau dia mengerti kemana arah pembicaraan ibunya.
“Bulekmu Lusi, kemarin malem dimimpiin almarhumah”
“Ha?” Budi terkejut mendengar informasi itu.
“Ya. Aku emang abis dimimpiin Erika, Bud” sahut bu Lusi membenarkan perkataan bu Ratih.
“Erika nanyain tentang surat wasiatnya. Dan aku bilang, Budi udah baca surat itu. Tapi pas ditanya soal sikap kamu bagaimana, aku nggak bisa jawab. Dia sedih, Bud. Dia kaya nggak ikhlas, kalo kamu nikahnya sama orang lain” lanjut bu Lusi.
Budi tak bisa berkata-kata. Ingatannya justru melayang pada momen dimana pak Fajar sekarat. Wasiat yang dia berikan, juga tentang pernikahan Adel. Sekarang Erika meminta hal senada. Walaupun wasiat seperti ini sangat dia nantikan, tapi itu dulu. Sekarang dia malah jadi dilema.
“Gimana, ngger?” tanya bu Ratih.
Budi tersentak dari lamunannya. Dia salah tingkah, saat Adel menoleh dan menatapnya. Entah dari mana datangnya, debaran-debaran halus yang dulu pernah dia rasakan, datang kembali. Namun masih seperti bergulat dengan rasa cintanya pada Erika.
“Eeem”
Budi masih bingung harus memulai jawabannya dari mana. Belum ada kata yang terangkai yang siap untuk diucapkan.
“Rasanya, bukan pada Budi, pertanyaan itu ditujukan” kata Budi, memulai jawabannya.
“Maksudnya?” tanya bu Lusi.
“Budi ini laki-laki, bu. Mudah saja menjatuhkan pilihan. Pertanyaannya, apakah Adel mau, menikah dengan Budi, dengan keadaan Budi yang seperti ini, bu?” jawab Budi.
Bu Lusi terkesiap. Tatapannya kini beralih pada Adel. Yang ditatap jadi salah tingkah. Seolah tatapan itu adalah pertanyaan dari seorang jaksa penuntut umum.
“Siapa juga yang nolak nikah sama mas Budi” celetuk Madina. Sontak Adel menoleh dan menatapnya penuh tanda tanya.
“Kalo mbak Adel nggak mau, sama Madin aja” kata Madina, menjawab tatapan Adel. Adel tambah bingung.
“Kan intinya, adeknya mbak Rika. Madin kan juga adiknya mbak Rika. Bukan orang lain, dong?”
“Aduuh”
Madina memekik setelah melanjutkan penjelasannya. Sebuah cubitan dari sang kakak mendarat di pinggangnya. Sontak Putri dan Stevani tergelak melihat tingkah keduanya. Budipun ikut tertawa. Sontak pahanyapun ikut terkena cubitan.
“Jadi gimana, mbak Adel?” tanya bu Ratih. Adel terkesiap.
“Apa menurut mbak Adel, wasiat dari mbakyu Erika perlu kita laksakanan, atau kita abaikan saja?” lanjut bu Ratih. Adel menatap Budi sejenak, lalu kembali menatap bu Ratih.
“Apa mbak Adel bersedia menikah dengan Budi?” tanya bu Ratih lagi.
Kalimat yang secara eksplisit adalah kalimat lamaran.
Adel tidak segera menjawab. Dia menatap ibunya sejenak. Dan dia juga tampak berpikir.
“Apa mas Budi mau menikah dengan janda?” tanya Adel.
Semua yang mendengar terhenyak mendengar pertanyaan Adel. Tak terkecuali dengan Budi. Namun dia tergelak mendengar pertanyaan itu. Adelpun bingung dibuatnya.
“Pertanyaan macam apa, itu?” komentar Budi.
“Ya pertanyaan beneran, lah. Kan Adel sekarang statusnya janda. Ya, kalah dong sama Madina” jawab Adel.
“Iya iya iya iya iya” goda Madina sambil cengengesan. Sontak pinggangnya mendapat cubitan lagi. Namun kali ini dia malah tertawa lepas.
“Tapi emang bener sih, kata Erika” komentar Budi.
“Mbak Rika bilang apa?” tanya Adel penasaran.
“Kamu itu RC cepek, dan aku itu TV jadul. Tiap kali RC cepek lewat, gambar TV nya pasti kemresek. Padahal TV nya nggak ngapa-ngapain” jawab Budi sambil tergelak.
“Nggak ngerti” sahut Adel.
“Halah. Anak jaman now” seru Madina.
“Emang kamu anak jaman kapan?” sahut Adel kesal.
“Lah. Tapi Madin ngerti maksudnya”
__ADS_1
“Apa?”
“Ish. Pura-pura”
“Dih, beneran”
“Ya maksudnya mbak Rika tuh, aura mbak Adel tuh tetep bisa mengganggu imannya mas Budi. sekalipun ada mbak Rika di deketnya”
“Ha?”
Sontak Adel menoleh ke arah Budi. budi menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat setuju dengan jawaban Madina.
“Sekuat apapun cinta mas Budi sama mbak Rika, kalo mbak Adel lewat, pasti meleng”
“Hempf. Ha ha ha ha”
Kali ini Putri yang tak kuasa menahan tawanya. Semakin kencang tawanya saat Stevani menepuk pahanya.
“Andai aja perpisahan ini bukan karena kematian, pasti udah dari kemarin-kemarin aku tergoda” kata Budi. Sontak semuanya terdiam. Adel menatap Budi lekat-lekat.
“Aku emang sedih. Karena kematian, selalu ngingetin aku sama bapak” lanjut Budi. Adel mengernyitkan keningnya.
“Mungkin bener kata bapak, yang meninggal hanya butuh doa. Yang hidup, masih punya hak untuk menentukan jalan hidupnya”
Adel terpesona dengan kata-kata Budi. Begitu dalam. Dan tak terlihat kalau Budi sedang mengarang cerita.
“Begitu juga dengan aku” lanjut Budi. Adel memperhatikan dengan seksama.
“Aku punya hak untuk menentukan jalan hidupku. Tapi aku juga punya tanggung jawab moral. Karena yang meninggal, selamanya butuh kiriman doa. Apakah, ?”
“Iya, aku mau” potong Adel. Budi terkejut dibuatnya.
“Bagaimanapun juga, Erika adalah kakakku. Aku juga punya tanggung jawab moral padanya. Berdoalah untuknya, mas! Aku akan aminkan setiap doamu untuknya” lanjut Adel.
Budi tak tahu harus menjawab bagaimana. Dia hanya bisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Apa artinya, kamu mau, menuruti permintaan terakhir Erika?” tanya Budi.
“Iya, mas. Aku mau” jawab Adel mantap.
“Alhamdulillah”
“Kalau begitu, tidak usah ditunda-tunda lagi! Agar Erika bisa secepatnya tenang di alam sana” usul bu Lusi.
“Aku dari pihak laki-laki, pasrah sama kamu, Lus. Kapan waktu yang terbaik menurutmu, aku akan ikut” jawab bu Ratih.
“Malam ini juga ya, mbak?” jawab bu Lusi.
“Ha?” bu Ratih terkejut mendengar jawaban bu Lusi.
“Erika meminta begitu, mbak. Dia minta padaku, di malam yang sama, di waktu selamatan seratus harinya, Budi menikah dengan Adel. Karena menurutnya, dia tidak tahu kapan lagi dia diberikan kesempatan bertemu dengan kita yang masih hidup. Dia juga bilang, di malam ini, dia diberikan kesempatan untuk mendapatkan kabar dari yang masih hidup. Termasuk apakah Budi dan Adel jadi menikah atau tidak” kata bu Lusi menjelaskan.
“Tapi ini udah malem, Lus. Kenapa nggak bilang dari pagi?”
“Maafin aku, mbak. Aku emang nggak bilang, karena aku sendiri tadinya nggak yakin, Budi akan mau nikahin Adel”
“Tapi beneran, Erika bilang gitu?”
“Sumpah demi apapun, mbak. Aku nggak ngarang. Mau disamber gledek aku juga siap”
“Hus. Jangan gitu, ah!” tegur bu Ratih.
“Ya karena emang begitu adanya, mbak. Sama sekali bukan karena faktor keuangan. Sumpah” kata bu Lusi penuh keseriusan.
“Oke, oke. Aku percaya. Terus?” tanya bu Ratih.
Bu Ratih menatap bu Lusi sesaat, lalu menatap Adel, Budi, lalu ke yang lain.
“Madin panggilin penghulunya” celetuk Madina. Semua mata tertuju padanya.
“Jangan!” sahut bu Ratih. Madina urung berdiri.
“Biar aku aja, sama ibumu” kata bu Ratih, menjelaskan alasannya.
“Kamu ajak aja beberapa tetangga buat jadi saksi!” perintah bu Ratih.
“Siap, bude” jawab Madina.
Budi dan Adel tertegun melihat keluarga mereka bergerak cepat. Seperti masih antara yakin dan tidak, kalau semua ini adalah nyata.
“Kamu kasih tahu pakdemu Kusno! Bilang ke pakde, ibu mina bantuan, buat cariin saksi, minimal dua orang!” perintah bu Ratih.
__ADS_1
“Nggak ke pakde Karwo, bu?” tanya Putri.
“Ha?” semua orang bingung dengan pertanyaan Putri.
“Selepet nih!” seru Madina.
“Orang lagi serius, malah bercanda” lanjutnya.
“Hi hi hi” Putripun tertawa lirih. Stevani ikut tertawa.
“Sekarang sih bu Khofifah, Putri” seru Stevani.
“Ha ha ha ha” Putri semakin kencang tertawanya, karena Stevani berseru sambil menepuk pahanya.
“Siap komandan” kata Putri, menjawab perintah ibunya.
“Vani ngapain, bu?” tanya Stevani.
“Jongkok di pojokan sambil tepok jidat. Pait pait pait pait pait pait” sahut Putri.
“Apa sih?” seru Stevani.
“Hempf. Ha ha ha ha ha”
Madina, bu Lusi, bu Ratih, bahkan Budi dan Adel tertawa mendengar kelakar Putri.
“Toko emas yang mau buka pintu dimana, ya?” celetuk Budi. Semuanya berhenti tertawa.
“Eeem. Berapa gram?” tanya Stevani.
“Lima puluh, cukup?” tanya Budi pada Adel.
Adel terbelalak mendengar pertanyaan Budi. Jumlah yang cukup banyak menurutnya.
“Mbak Rita. Pasar tengah. Cingcay kalo sama aku” kata Stevani, menjawab pertanyaan Budi.
“Ya udah, yuk!” ajak Budi pada Adel.
“Eh eh eh eh. Kalian jangan kemana-mana!” larang bu Lusi.
“Iya. Kalian nggak boleh kenapa-kenapa. Biar mbakyumu yang belikan” timpal bu Ratih.
“Setuju” sahut bu Lusi.
“Kalo nggak cocok sama bentuknya, tinggal dituker, besok” lanjut bu Lusi.
Budi menatap Adel. meminta pendapat. Sempat Adel terdiam. Tapi dia tidak punya pilihan lain selain menurut. Diapun mengangguk setuju.
“Nih, mbak. Jari mbak Adel sepantar sama jariku” kata Madina, sambil mengacungkan cicinnya pada Stevani.
“Bisa non tunai kan, mbak?” tanya Budi. Dia menyodorkan kartu ATMnya pada Stevani.
“Sate maranggi juga masih buka, mbak” goda Putri.
“Cocok. Pesen lima puluh porsi sama lontongnya!” sahut bu Ratih.
“Ha?” Putri malah tertegun sendiri.
“Sekalian kang Supri CS suruh ke sini lagi! Hanin juga!” lanjut bu Ratih. Putri tersenyum.
“Mas Aldo sama pak Paul, nggak usah ya, bu?” goda Putri.
“Heh. Sembarangan”
“Ha ha ha ha”
Lagi-lagi Putri tertawa lepas, mendapati kelakarnya mengena. Sebuah tabokan di pundaknya dan pelototan mata ibunya, membuatnya geli. Apalagi setelah ibunya juga ikut tertawa, menyadari telah termakan godaannya.
Semuanya segera bergerak. Meninggalkan Budi dan Adel berdua saja di rumah. budi tertawa, mendapati Adel tertegun, bingung mau berbuat apa.
“Ke teras aja, yuk!” ajak Budi.
“Nggak ke kamar aja?” goda Adel. Budi sempat tertegun.
“Yuk” jawab Budi, sambil beranjak.
“Hempf. Ha ha ha ha. Toloong”
Adel tertawa sambil berlari ke depan rumah. Budi tertawa saja melihat tingkah kocak calon istrinya. Dia mengikuti Adel ke depan rumah.
Namun sesampainya di depan rumah, bayangan Erika kembali menggelayut di pelupuk matanya. Seketikan kesedihan kembali bertahta di hatinya.
__ADS_1