
Seratus hari telah berlalu. Budi masih juga merasakan kesedihan yang mendalam. Walau dia sudah kembali bekerja, namun masih sering blank.
Pelimpahan tugas Erika padanya semakin membuatnya berat. Bukan berat karena pekerjaannya, tapi lebih karena kenangan yang terlalu mendalam pada setiap pekerjaan yang dia jalani.
Setiap hari, tak pernah dia lewatkan tanpa mengunjungi taman makam pahlawan. Sedikitnya setengah jam selalu dia habiskan untuk menyapa dan mengirim doa untuk Erika, setiap pagi dan sore. Tak jarang juga, Adel datang menemaninya. Entah itu di pagi atau sorenya.
Selama seratus hari itu juga, Budi disibukkan dengan penyidikan kasus narkoba Respati dan Handono. Dia harus bolak-balik memenuhi panggilan kepolisian untuk pengambilan keterangan.
Di sisi lain, Adel juga sedang pontang-panting mengurusi keuangan keluarga. Ada banyak yang harus dia penuhi, sedangkan bengkelnya masih belum juga berjalan normal. Beruntung Budi mau membantunya.
Adel juga sedang sibuk mengurusi status pernikahannya. Dia sudah tidak sudi lagi menyandang status sebagai istrinya Luki. Dia ingin segera terlepas dari status itu. Meski artinya, dia harus menyandang status sebagai janda. Tepat di hari ke seratus setelah kepergian Erika, status janda itu resmi dia dapatkan dari pengadilan agama.
Malam ini, setelah kemarin di rumahnya, giliran di rumah Adel, dilaksanakan selamatan seratus hari meninggalnya Erika. Aldo dan pak Paul datang menghadiri selamatan itu. Cobra, Hind, Alligator dan Apahe juga hadir.
Mereka memberikan semangat untuk Budi. mereka juga meminta maaf, karena pergi begitu saja setelah pemakaman tempo hari. Itu karena mereka mendapat tugas lain yang mendadak. Budi memaklumi akan hal itu. dia justru sangat berterimakasih, mereka tidak hanya membantunya karena uang yang dia berikan, tapi lebih dari itu, Budi merasa mereka membantunya seperti membantu sesama mereka di baret merah.
Isma juga datang, meski dengan penampilan lain. Bersama Sephia dan Nungki, mereka kompak memakai jilbab. Adel masih saja terkejut dan takut melihat Isma. Dan lagi-lagi Isma mengatakan kepada Adel, kalau dia sama sekali tidak marah padanya.
Bersama Putri dan Stevani yang telah bisa berjalan kembali, mereka membantu tuan rumah melancarkan selamatan malam ini.
“Kita pamit ya, Bud” kata si Cobra, setelah acara selamatan itu selesai.
Mereka menjadi tamu yang masih tinggal di ruang tengah, setelah para tetangga dan kang Sukron CS pulang. Budi tidak menjawab, raut kesedihan kembali terlihat menggelayut di wajahnya.
“Hei. Kita cuman pamit mau balik ke Solo. Kenapa sedih gitu?” lanjut si Cobra.
Budi tergelak dalam sedihnya. Dia manggut-manggut sambil menghela nafas berat.
“Makasih banyak ya guys. Aku nggak tahu harus bales dengan cara apa” sahut Budi.
“Udah tugas kami buat ngamanin NKRI” celetuk si Apache.
“Ngamanin rumah yang dulu itu juga boleh” celetuk si Hind.
*Plakk*
“Yuuh. Tuman” pekik si Hind terkejut.
Semua orang tertawa melihat kembali ekspresi tanpa dosa si Cobra, setelah menampar kepala belakang si Hind.
“Nginep di rumahku dong! Kita bakar ayam” ajak Budi.
“Wah, tawaran yang susah ditolak ini” seru si Hind.
“Mau lu, tidur ama kebo?” sahut Isma.
“Aduh, iya. Nggak jadi deh, Bud. Simpen dulu! Entar kita tagih pas kita cuti” jawab Hind.
Untuk pertama kalinya, setelah seratus hari, Budi bisa tertawa. Membayangkan Hind tidur bersama kerbau, adalah hal yang menggelikan buatnya.
Dia paham, pasti ada tugas yang tidak bisa mereka tinggal. Sudah menjadi tradisi buat mereka, kalau gagal bertugas, maka akan disuruh tidur bersama kerbau.
“Ya udah. Kapan ada cuti, telpon aku, ya? Entar aku siapin mesinnya” kata Budi kemudian.
“Mesin buat apa?” tanya Hind bingung.
“Kebo guling” jawab Budi setengah tergelak.
“Hempf. Lha ini kebonya” sahut Apache, menunjuk pada Hind.
“Emmooh” seru Hind, yang artinya tidak mau.
“Nah kan, persis” kata Apache.
“Persis, gundulmu pithak kui” seru si Hind sambil menjitak kepala Apache.
Sontak semuanya tertawa. Termasuk bu Lusi. Dia juga akhirnya terbawa suasana ceria yang diciptakan Hind dan kawan-kawan.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya benar-benar pergi. Membawa serta si Isma. Sephia dan Nungki juga pamitan.
Secara pribadi, Sephia meminta maaf kepada Adel, atas peristiwa son of pegassus dulu. Dia mengatakan, kalau semua itu dilakukan, untuk menghindarkan Adel dari jerat muslihat si Bejo. Adelpun maklum dan memaafkan.
__ADS_1
Dan keduanya menyatakan pamit. Karena Sephia akan ditarik ke markas besar, dan Nungki akan kembali ditarik ke densus delapan-delapan. Mungkin mereka akan jarang bertemu lagi. Baik Adel maupun Budi sendiri, hanya bisa mengiyakan saja.
sekali lagi, Budi mengucapkan terimakasih atas perlindungan yang mereka berikan selama ini. Perlindungan yang bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.
Setelah kepergian mereka, Adel dipanggil ibunya ke rumah. Dia ijin pada Budi untuk masuk. Budi mengijinkan.
Dia sendiri duduk di kursi panjang di halaman rumah. Kursi yang pernah dia duduki bersama Adel, sebelum pergi ke Jerman.
Semua ingatan tentang Erika kembali berputar di kepalanya. Terlebih saat dia memejamkan mata. Semakin jelas ingatan saat Erika menemaninya inspeksi ke bengkel ini. Teringat jelas juga bagaimana Erika marah besar dan menurunkannya di pinggir jalan. Tanpa sadar Budi merasakan mengantuk. Dan tanpa sadar, dia sudah terlelap.
Tiba-tiba dia merasakan kalau dirinya terjatuh dari kursi. Tapi di saat dia membuka matanya, bukan halaman rumah Adel yang dia lihat, melainkan sebuah tempat yang dia masih asing. Dan ini bukan malam, melainkan siang.
Taman-taman yang indah, mengingatkannya pada peristirahatan bapaknya. Tapi bukan seperti ini bentuknya. Ini lebih feminin.
“Assalamu’alaikum”
Terdengar sapaan dari arah belakang.
“Wa’alaikum salam”
Budi menjawab sambil memutar tubuhnya ke belakang. Dan betapa terkejutnya dia, mendapati siapa yang baru saja mengucapkan salam.
Seorang wanita, yang kini jauh lebih cantik, dengan gamis hijau nan memancarkan cahaya. Jilbab senada yang semakin mempercantik wajah wanita itu.
“Erika?” gumam Budi.
“Apa kabar, mas?”
Budi masih terpaku. Senyum itu membuatnya terpana, namun dia masih tertawan rasa terkejutnya. Perlahan logikanya mulai bekerja. Dia mulai menyadari, kira-kira dimana dia sekarang.
“Erikaa”
Serta-merta Budi berjalan maju dan memeluk Erika.
“Ha?”
Namun pelukannya sama sekali tidak berbalas. Tubuh Erika seperti tidak bisa dia sentuh. Dan Erika tertawa melihat Budi kebingungan.
“Mas. Kita ini belum pernah menikah. Aku masih belum halal buat kamu sentuh” kata Erika masih dengan tersenyum lebar.
“Kita ada di alam mimpi, mas. Alam yang sepenuhnya ada dalam kekuasaan Gusti Alloh” kata Erika menjawab kebingungan Budi.
“Huuufft” Budi menghela nafas sambil menatap ke langit.
“Untung Gusti Alloh nggak langsung marah, pas aku salah pegang perseneleng” celetuk Budi.
“Ha ha ha”
Erika tertawa mendengar ucapannya. Budi terpana melihat tawanya. Sampai Erika menghentikan tawanya, melihat ekspraesi Budi yang berbeda.
“Apa mas udah baca suratku?” tanya Erika.
“Hem?” Budi tersentak dari terpukaunya.
“Oh, udah” jawabnya.
“Terus?”
Di sini Budi merasa aneh. Selama seratus hari ini dia sedih karena merasa kehilangan, tapi Erika malah menanyakan surat itu.
“Mas. Kita udah nggak mungkin bersatu. Kalaupun kemarin kita gugur bareng, kita juga nggak akan bisa bersama. Maqom kita kurang tinggi, mas. Kita pasti akan terpisah” kata Erika menanggapi keterdiaman Budi.
“Tapi aku belum bisa ngelupain kamu, sayang” sahut Budi. Erika tersenyum dipanggil sayang.
“Yang nyuruh mas Budi ngelupain aku, siapa?”
“Ya gimana mau nikahin orang lain, kalo hatiku masih kebawa sama kamu?” Budi balik bertanya. Erika masih tersenyum.
“Dan juga, mana ada cewek yang mau aku nikahin, sedangkan hatiku masih dimiliki kamu, Ka?” lanjut Budi.
“Adel, mas” jawab Erika.
__ADS_1
“Excuse me?”
“Gusti Alloh udah nemuin aku sama Adel, mas. Dan dia bilang, dia mau nerusin perjuanganku buat jadi pendamping mas”
Budi tak bisa berkomentar, dia hanya menunjukkan gestur belum mengerti.
“Aku baru akan tenang, setelah mas menikah dengan Adel. Cuman dengan dia aku iklas menitipkan cinta di hatiku buat kamu, mas. Aku nggak iklas mas, kalo kamu nikah sama wanita lain” lanjut Erika. Budi semakin tidak bisa berkata-kata.
“Kembalilah, mas! Aku harap, mas mau memenuhi permintaan terakhirku” pinta Erika.
“Assalamu’alaikum” Erika mengucapkan salam.
“Wa, wa, wa, “
“AAAAAA”
Budi merasa seperti ditarik paksa, menuju lorong yang gelap sama sekali.
“Mas, mas Budi”
“Haaa” Budi terbangun dari tidurnya.
“Mas Budi nggak papa?”
Budi menoleh ke sumber suara. Adel, dia sedang berjongkok di depannya, dengan raut wajah khawatir.
“Mas, kamu kenapa sih? Kamu nggak papa, kan?” tanya Adel lagi.
“Emang aku kenapa, Del?” Budi balik bertanya.
“Ih, mas Budi dari tadi Adel bangunin nggak bangun-bangun. Udah Adel cubitin juga, pipinya. Masih nggak bangun aja. Kan takut Adel jadinya” jawab Adel.
Budi tak bisa menjawab. Dia malah menatap sekitarnya. Kali ini dia sudah yakin, kalau tadi itu dia terbawa ke alam lain, dan kini dia sudah kembali ke alam nyata.
“Waalaikum salam” gumam Budi, menjawab salam Erika yang belum sempat dia jawab.
Gumaman Budi sontak membuat Erika menoleh ke arah yang ditatap Budi. Dia menjadi takut.
“Mas. Ada siapa?” tanya Adel.
“Hem?” Budi malah bingung, ditanya demikian.
“Itu, mas Budi ngejawab salamnya siapa? Jangan bikin parno, deh!”
“Hempf”
Budi malah tergelak. Ingatannya malah melayang pada momen Adel dikejutkan oleh ular, saat dia antar pulang.
“Enggak. Tadi aku mimpi ada yang ngucap salam sama aku, belum sempet aku jawab”
“Siapa?” tanya Adel penasaran.
Seperti ingin mengonvirmasi. Budi menantap Adel beberapa saat.
“Erika” jawab Budi kemudian.
Adel menutupi mulutnya yang ternganga.
“Mas Budi abis ketemu mbak Rika?” tanya Adel.
Budi mengangguk. Mereka saling menatap lagi untuk beberapa saat.
“Bud!” terdengar ada yang memanggil. Merekapun menoleh.
“Sini dulu, dong! Mbak Adel juga” Ternyata bu Ratih yang memanggil.
“Iya, bu” jawab Budi.
“Dipanggil tuh” kata Budi pada Adel.
“Iya. Yuk!” jawab Adel.
__ADS_1
Merekapun beranjak untuk masuk ke dalam rumah. Rupanya semuanya telah berkumpul dan lesehan membentuk lingkaran. Budi dan Adel berjalan mendekat dengan raut wajah bingung.
Adel duduk di sebelah kiri Madina, dan Budi duduk di sebelah kanan Putri. Setani duduk di sebelah kiri Putri, bu Ratih dan bu Lusi duduk berdampingan di sebelah kiri Stevani. Tepatnya di depan Budi dan Adel.