
Di rumah sakit lain, Adel tampak sudah lebih baik. Meski raut syok masih sangat terlihat di wajahnya. Dia sudah bisa diajak berbincang ringan oleh polwan yang berkunjung.
“Ibu Adel. Apa kami boleh mengajukan beberapa pertanyaan?” tanya polwan itu.
“Silakan bu Risa!” jawab Adel.
Nama yang dia sebut itu terpampang jelas di dada polwan itu.
Polwan tadi menanyakan hubungan Adel dengan si Luki. Tidak bisa mengelak, Adel menjawab statusnya sebagai istrinya Luki. Tapi dia juga menjelaskan, kalau dirinya sama sekali tidak tahu tentang hubungan suaminya dengan narkotika.
Adel menjelaskan kalau dirinya hanya tahu kalau suaminya adalah seorang pengusaha. Dia belum tahu secara menyeluruh usaha yang dikelola suaminya.
Ketika ditanya tentang kedatangan Adel ke hotel tempat Luki menginap, Adel mengatakan kalau dia ke kota ini tujuannya adalah untuk mencari keberadaan suaminya.
Dia ceritakan juga bagaimana Luki hilang-hilangan semenjak malam itu. Malam yang sama dengan peristiwa penggerebekan Sandi di tengah laut. Soal pertemuan di hotel itu, dia sama sekali tidak menduga.
“Lalu, apa yang anda ketahui tentang hubungan suami anda dengan wanita bernama Sofia?” tanya polwan itu.
“Yang saya tahu, mereka sempat dijodohkan orang tua mereka. Tapi kepergian pak Imam membuat perjodohan itu bubar. Dan yang saya tahu, mas Luki itu benci sama Sofia. Karena dia pernah cerita, kalau papanya sofia itu mengincar harta papanya mas Luki. Sampai mamanya mas Luki harus kalang kabut ngamanin harta warisan papanya itu”
“Lalu apa yang anda pikirkan saat melihat mereka ada di hotel ini?”
“Ya apa lagi kalo bukan selingkuh?” jawab Adel kesal.
Polwan itu tak segera merespon. Dia tahu, Adel sedang tidak baik-baik saja. Dia berikan jeda waktu beberapa saat agar Adel tenang terlebih dahulu.
“Tapi nggak tahu juga ding, saya ini dianggep apa” lanjut Adel.
“Maksud ibu?”
“Kemarin lusa, siang, ada yang mengirim pesan singkat ke ponsel mas Luki. Mereka seperti janjian, gitu”
“Dari sofia, kah?”
“Pas saya telepon, suaranya sih iya, bu”
“Lalu?”
“Dia malah mempertanyakan status saya. Menertawakan mungkin, tepatnya. Karena saya membalas pesan itu, seolah-olah saya adalah mas Luki”
“Terus?”
“Waktu saya bilang lelaki itu boleh pegang empat, dia malah bertanya dia itu nomer berapa. Seolah-olah dia itu istri pertamanya mas Luki”
“Oke. Lalu?”
“Dia bilang kalau dia membiarkan mas Luki kembali pada saya, itu karena suatu tujuan”
“Apakah percakapan itu masih ada?”
“Entahlah. Saya tidak tahu apakah masuk ke dalam pencadangan apa tidak. Tapi yang diponselnya mas Luki, sudah saya hapus”
__ADS_1
“Apa nomor itu diberi nama?”
“Tidak”
“Apa anda yakin, yang mengirimkan pesan itu adalah sofia?”
Di sini Adel tidak langsung menjawab. Dia bingung bagaimana menyusun kalimat yang mudah dimengerti.
“Saya tidak tahu, bu. Saya pernah diperdaya dengan perangkat lunak mata-mata. Bu Risa pasti tahu sejarah saya”
“Ya. Memang tertulis begitu. Jadi, ibu mengabaikan pesan itu begitu sajakah?"
“Kalo saya punya alat pendeteksi, yang bisa memberitahu saya, apakah pesan itu benar-benar dari Sofia, atau dari orang lain yang menggunakan son of pegassus, mungkin saya bisa bertindak lebih akurat lagi. Saya tidak mungkin menuduh suami saya sendiri berbuat jahat, hanya karena pesan singkat yang tidak jelas dari mana asalnya. Sedangkan saya punya riwayat buruk dengan perangkat lunak mata-mata itu. Dan mas Luki tahu semua yang saya alami waktu itu”
“Tapi, dengan peremuan tak terduga di hotel itu, reaksinya saat ditegur petugas hotel, juga reaksinya saat disergap polisi, apa ibu punya pandangan lain?”
“Nggak tahu, bu. Di Depan saya, dia tidak pernah terlihat seperti jagoan. Berantem sama karyawan saya saja dia kalah. Apalagi sampe tembak-menembak seperti tadi. Saya sama sekali tidak kepikiran, bu”
“Jadi ibu sama sekali tidak tahu, kalo suami ibu adalah seorang bandar besar? Bandar besar yang mengkoordinasikan bandar-bandar kecil di kota ibu?”
“Demi apapun bu, saya tidak tahu. Kalo ibu bisa mendatangkan petir, saya berani disamber petir, kalo saya bohong” jawab Adel tegas.
“Apa selama ini ibu pernah mendengar suami ibu menyebutkan nama-nama rekan bisnisnya? Bejo, Karto Marmo, Indrajid, Sekar, Nandir?”
“Tidak. Dia tidak pernah ngomongin soal urusan kantornya di rumah. Cuman urusan bengkel kayunya bapak saja, yang dia bagi ke saya”
“Nah, bengkel. Mengenai bengkel kayu EFA Mebel, siapa yang memegang kendali semenjak ditinggal bapaknya bu Adel?”
“Ibu tahu betul dong, tentang pemesan, tender, supplier, sampai alur produksinya?”
“Ya, tahu”
“Berarti ibu tahu juga dong, kalau bengkel ibu juga dipakai tersangka LP sebagai basis mengedarkan narkoba?”
“Apa? Basis mengedarkan narkoba?”
Adel terkejut bukan main. Mengenai isu perselingkuhan saja dia masih ragu, apalagi sampai ada narkoba di bengkelnya. Sama sekali tidak terpikirkan olehnya.
“Narkoba model apa, bu? Selama saya ada di bengkel, selama jam kerja, saya tidak pernah menemukan adanya barang-barang mencurigakan. Tapi kalo malam emang sepi. Dan saya nggak pernah merhatiin sekitaran bengkel kalo malem. Karena saya nggak pernah kepikiran soal narkoba” lanjut Adel.
“Ada dua jenis, bu. Yang pertama, narkotika konvensional. Sabu, ekstasi, dan beberapa jenis lainnya. Ibu tidak pernah melihat gelagat aneh suami ibu ketika malam?”
“Tidak, bu. Baru kemarin aja dia pergi nggak masuk akal alasannya”
“Lalu bagaimana dengan mebel pesanan PT. PRAM?”
“PRAM? Apa polisi ada temuan pada mebel bikinan kami?”
“Ya. Utamanya di periode setelah ibu menikah dengan tersangka LP”
“Astaghfirulloh. Beneran, bu? Saya, saya, saya, Beneran tidak tahu soal hal itu. Mebel itu untuk pasaran ekspor, bu. Tapi kita kirimnya ke PT. PRAM. Dari PRAM dikirim ke pelabuhan peti kemas. Tapi saya belum pernah dapet laporan dari PRAM, bu”
__ADS_1
“Apa ibu paham betul dengan desain yang ibu produksi itu?”
“Iya, bu. Mebel kita mebel kayu asli, bu. Bukan bahan daur ulang atau rangka aluminium. Kalau memang ada space khusus yang menyalahi desain, harusnya PRAM komplain”
“Kalo pelanggan lain? Dari jalur tersangka LP?”
Di sini Adel tambah terkejut. Dia baru menyadari kalau dia tidak mengenal pelanggan yang dibawa Luki. Di dalam hati dia mengakui, kalau untuk pelanggan domestik,dia tidak melakukan pengawasan seketat pesanan dari PRAM. Jadi sangat mungkin untuk melakukan penambahan ruangan khusus yang tidak ada dalam desain awal.
“Saya tidak begitu mengenal orang-orangnya, bu. Mereka semua dari luar kota”
Penyidik itu manggut-manggut sambil menuliskan catatan. Dari situ Adel sudah mulai khawatir. Urusannya bisa jadi akan lebih panjang.
“Ibu paham betul dari mana saja bahan baku mebel ibu berasal? Dari yang besar sampai yang sangat kecil sekalipun”
“Iya, bu. Saya yang ngurusin pengadaan, pembayaran, penerimaan juga”
“Apa ibu juga paham, part-part apa saja yang bisa diganti menggunakan bahan alternatif?”
“Alternatif?” Adel tampak berpikir terlebih dahulu.
“Paling juga pasaknya, bu. Kalo bahan aslinya kebetulan habis, kita ganti sama bahan yang gradenya sedikit dibawahnya. Tapi nggak pake pil ekstasi juga, bu. Mana kuat?” lanjut Adel menjawab pertanyaan itu.
“Eh, tunggu! Ibu mau bilang kalau lubang pasaknya dibikin karyawan saya jadi lebih dalem gitu, bu?” tanya Adel. Polwan itu hanya tersenyum, tapi tidak menjawab.
“Astaghfirullohal’adzim” keluh Adel. Dia memijat-mijat keningnya yang terasa semakin berdenyut-denyut.
“Tentang pasak itu. Apa ibu pernah lihat, karyawan ibu mengganti bahan aslinya menggunakan bahan yang sama sekali berbeda?”
“Berbeda? Semacam pipa besi gitu, bu?”
“Ya”
“Astaghfirullohal’adzim” keluh Adel.
“Saya tidak tahu, bu. Saya memang tidak setiap saat mantengin mereka” jawab Adel lemas.
Tiga jenis keteledoran yang tidak terpikirkan olehnya, sudah cukup membuatnya pasrah, kalau dia akan terseret kasusnya Luki.
“Baik, bu. ibu sudah tahu kondisinya sekarang seperti ini. Setelah suami ibu kondisinya memungkinkan, kami akan memindahkannya ke rutan brimob. Proses hukum akan terus berlanjut, karena suami ibu terlibat jaringan narkotika lintas negara. Kami berharap kondisi ini tidak mempengaruhi kondisi kesehatan ibu”
“Baik, bu. Lakukan apa yang harus ibu lakukan! Saya sudah tidak peduli lagi dengannya. Bahkan kalau benar bengkel saya dijadikan basis peredaran narkoba, saya sendiri juga pasti akan menuntut dia”
“Baik. Untuk sementara, cukup. Ibu bisa beristirahat kembali”
“Terimakasih”
“Selamat malam”
“Malam”
Sepeninggal polwan tadi, Adel kembali berurai air mata. Hatinya sangat terpukul mengetaui kalau ternyata Luki hanya memanfaatkannya. Dalam hati dia ingin teriak dan mengadu pada bapaknya, tapi itu tidak mungkin. Andai bapaknya tahu, pasti bapaknya akan bertindak brutal pada Luki. Begitu pikirnya.
__ADS_1