
“Nah, sambil nunggu kopinya dateng, saya boleh nanya nggak, bos?”
“Apa tuh, kang?”
“Tadi, bejo nelpon saya, katanya mau ada jaga malam. Apa bener, bos? Bukannya ada si Brandon itu, ya?” tanya kang Sukron.
“Iya, kang. Jujur, saya kurang percaya sama si Brandon. Terlebih, tadi Erika ada temuan soal si Brandon” jawab Budi langsung pada intinya.
“Loh. Dia ngambil sesuatu bos, di galeri?” tanya kang Sukron lirih.
“Bukan di galeri kang, tapi di PRAM”
“Wah, berani bener dia maling di PRAM”
“Bukan maling, sih. Cuman masuk ke kantor kita, terus ngotak-atik komputernya Erika, kang. Jadinya, ada data yang hilang karena dia hapus”
Kang Sukron terkejut mendengar jawaban itu. Setahu dia, Erika itu kan ajudannya yang punya PRAM. Kalau sampai ada data yang hilang, pasti akan jadi ramai. Karena, data Erika pasti data penting. Begitu pikirnya.
“Bentar-bentar. Rumornya kan dia itu mantan pasukan katak, kok masih ketahuan mbak Erika? Beneran pasukan katak apa bukan itu, bos?”
“Bener sih kang, kalo itu. Cuman lagi apes kali, apa ceroboh, karena udah lama nggak latihan”
“Terus, sistem gilirannya gimana, bos?” tanya kang Sukron, kembali pada topik awal.
“Eeem. Gini, kang. Sebenernya ada yang lebih penting yang mau saya obrolin sama kang Sukron. Kebetulan sambil nyari jagung ini”
“Ada apa, bos? Apa yang bisa saya lakukan?” tanya kang Sukron lirih.
“Saya pengen mantau si Brandon, kang. Harusnya dia udah dateng, sih. Telat-telatnya, isya nanti dia udah dateng. Pasti ibu akan minta, jaga malamnya dimulai besok aja. Jadi kan, malam ini masih si Brandon yang jaga malam”
“Iya, iya. Lalu?”
“Kang Sukron masih punya anak buah yang setia sama kang Sukron?” Budi ganti bertanya.
“Kalo cuman satu-dua sih, ada, bos” jawab kang Sukron.
“Kayaknya yang kita adepin ini, banyak duitnya, bos? Apa kejemnya na’udzubillah?” lanjut kang Sukron.
“Antara keduanya, kang. Intinya, saya mengantisipasi dua macam godaan terberat itu. Karena siapa yang kita hadapi juga, saya masih belum tahu. Brandon kerja buat siapa, saya juga belum tahu. Termasuk siapa yang ngeroyok saya sama Adel tadi, saya juga belum tahu. Tapi yang pasti, sepertinya masih terkait dengan narkoba”
“Narkoba, bos? Kan yang main narkoba itu kang Sandi? Apa ini ancaman dari kang Sandi?” tanya kang Sukron kaget.
“Belum tahu, kang. Tapi yang jelas, ada tiga keluarga yang menjadi taruhannya. Yang jelas terhubung langsung, ada Stevani, dan Adel sekeluarga. Nah kita mungkin terseret gara-gara Sandi, maupun karena aksi Putri nolongin Stevani. Makanya mereka saya tempatkan di galeri bersama-sama”
“Oke, oke. Terus, saya harus gimana, bos?”
__ADS_1
“Saya cuman butuh, sekeliling bengkel diawasi. Saya juga akan berusaha tetap terjaga. Kalo keliatan ada pergerakan yang mencurigakan, kasih kode siulan kaya dulu! Semua yang mencurigakan, tolong dilaporkan. Termasuk juga gerak-gerik si Brandon. Kalo memang dia ada maunya, pasti dia akan ngelakuin sesuatu. Tapi yang jelas, bukan penyerangan langsung”
“Kayaknya semacam sirep apa pembiusan gitu, bos. Kaya yang kita lakuin dulu”
“Bisa jadi. Mungkin aja itu terjadi. Buka jalan lah, intinya”
“Lah. Kalo bos Budi sendiri kena sirep, gimana komunikasinya?”
“Intinya, lakukan tindak pencegahan! Brandon nggak mungkin bertindak sendirian. Ada CCTV juga di bengkel. Dia pasti tahu itu. Jadi, dia pasti punya teman. Agar, kalo ketahuan, dia bisa playing victim”
“Jadi, apapun agendanya si Brandon, pasti ada orang luar yang akan masuk ya, bos?”
“Yap. Tebakanku gitu. Jadi, pastiin orang itu jangan sampe masuk ke dalam bengkel!”
“Beres, bos. Serigala malamnya tarantula, masih pro sama bos Budi”
“Good” puji Budi.
Fitripun keluar membawa dua cangkir kopi hitam bersama sepiring ceriping pisang. Karena dari dalam dia mendengar pembicaraan suaminya cukup serius, dia lantas pamit masuk ke dalam rumah. dia tidak mau ikut campur apa yang bukan menjadi keahliannya.
“Ngomong-ngomong bos, kalo dari dalem, gimana?” tanya kang Sukron seusai menyeruput kopi buatan istrinya.
“Dari dalem gimana maksudnya, kang?” Budi belum paham.
“Iya sih, kang. Tapi kan yang ada cuman kita-kita. Sama-sama korban”
“Mbak Vani?”
“Vani?”
“Kan sejarahnya buruk, sama bos Budi. Pernah ngebet pengen jadi ceweknya bos Budi. Abis itu, ada peristiwa geger kan, yang bos budi sempet amnesia? Apa bos Budi nggak curiga, kalo datengnya mbak Vani itu, bukan karena suruhan papanya?”
“Huuffft. Terlalu berat kang, kalo semua orang harus saya curigain, kang. Saya lebih milih fokus sama yang udah ada kasusnya aja dulu. Dan keselamatan keluarga saya, termasuk keselamatan Adel sekeluarga, jauh lebih penting”
“Maaf, bos. Cuman sekedar nanya saja”
“Saya jadi kepikiran, kang. Gimana, ya?”
“Mbak Madina, saya rasa bisa diajak kerja sama, bos” usul kang Sukron.
“Iya, sih. Tapi dia belum bisa bela diri”
“Paling tidak, dia bisa kasih peringatan ke kita yang ada di luar. Selebihnya, biar kita yang nanganin”
“Ide bagus itu, kang. Nanti saya siapkan Madinanya. Kang Sukron, siapin orang di sekitar bengkel! Termasuk di depan galeri”
__ADS_1
“Beres, bos”
“Segini cukup, kang?”
Budi mengacungkan ponselnya. Terpampang deretan angka pada aplikasi mobile banking.
“Cukup, bos. Lebih, itu” jawab kang Sukron. Senyumnya lebar mengetahui besaran uang yang akan dia terima dari Budi.
“Sip. Kita coba malam ini. Kalo saya ngerasa perlu, misi ini akan saya perpanjang. Nggak menutup kemungkinan siang hari, dan juga shadowing”
“Jadi bayangan siapa, bos?”
“Adel”
“Oh. Oke”
“Siapkan dulu yang malem ini, sambil siapkan juga untuk yang siang sama yang shadowing”
“Siap, bos. Saya akan carikan yang bener-bener loyal sama kita”
“Kang. Bu Sumini udah pulang, tuh”
Suara Fitri mengalihkan perhatian Budi dan Sukron.
“Nah. Itu bos, udah pulang, yang punya jagung”
“Oke. Yuk!” ajak Budi.
Mereka berdua beranjak menuju rumah di sebelah rumah Sukron. Budi asyik memilih-milih jagung yang besar-besar.
Sekarung kecil dia borong untuk acara bakar-bakar malam ini. Sekarung lagi dia berikan kepada kang Sukron saat pamitan. Sempat ditolak sama kang Sukron, tapi Budi memaksa.
“Waduh, jadi enak nih, kita” komentar kang Sukron.
“Nggak tiap hari ini, kang” jawab Budi sambil tersenyum.
“Kalo gitu, saya langsung pulang ya, kang? Saya tunggu kabarnya” pamit Budi.
“Siap, bos. Segera saya kabari” jawab kang Sukron.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Budipun langsung melajukan motornya kembali ke galeri. Pikirannya mengawang, memikirkan apa yang dikatakan kang Sukron tentang Stevani. Tapi dia tepis dulu pikiran itu. terlalu berat untuknya mencurigai semua orang.
__ADS_1