
EXTRA PART
Di pagi yang berkabut, Budi sedang merenung di depan bengkel kayu EFA Meubel. Ya, sudah seminggu dia tinggal di rumah Adel, istrinya. Sebagaimana yang diminta bu Lusi. Bu Lusi ingin ada sosok pemimpin di rumah ini, sekaligus pelindung untuknya dan juga Madina. Walau bu Ratih juga butuh sosok pelindung, tapi dia rela, anak laki-lakinya, tinggal di rumah bu Lusi.
“Bram”
Budi menoleh ke kanan. Sang istri sudah berada di sebelahnya, membawakan secangkir kopi, dengan beberapa potong gorengan sebagai teman.
“Sssssspppp, fuuuuuuuhhhh”
Asap putih mengepul dari mulut Budi, seiring dengan hembusan nafasnya. Adel tidak berkomentar, sekalipun sebenarnya dia ingin protes.
“Abram mikirin apa? Galeri?”
Adel mencoba membuka pembicaraan. Dia merasa, suaminya sedang memikirkan sesuatu yang berat. Baru pertama kalinya dia melihat Budi merokok. Tebakannya, tidak hanya pusing di pikiran saja, namun juga ada pergulatan batin, sampai harus lari pada rokok. Namun Budi menggelengkan kepalanya. Adel jadi bingung dibuatnya.
“Tentang Ibu?” tanya Adel lagi.
Budi menoleh dan menatap Adel. Beberapa saat mereka saling menatap tanpa ada kata. Budipun hanya menganggukkan kepalanya, setelah sekian lama hening.
“Abram belum dapet kemantapan hati?”
Adel bertanya lagi, namun nada bicaranya seperti tidak butuh jawaban, alias berkomentar. Budi tidak menjawab. Dia hanya kembali menghembuskan nafas panjang. Dari mulutnya muncul asap seperti kenalpot RX King.
“Emangnya ibu minta di jawab sekarang, Bram?”
Budi menggelengkan kepalanya lagi. membuat Adel mengernyitkan keningnya.
“Terus, kenapa sampe pusing gitu, Bram?”
Adel mulai jengkel dengan sikap Budi. Ditanya baik-baik dari tadi, yang dia dapatkan hanya gelengan kepala.
“Kalo aja, bapakku bukan sosok yang bertanggung jawab, Abram nggak akan sepusing ini, Ta” jawab Budi. Adel terkesiap. Walau sudah menebak akan jawaban itu, namun ekspresi Budi membuatnya gentar.
“Udah nggak keitung berapa kali Abram nemuin bapak kerja serabutan di luar jam kerja kantor kecamatan, demi bisa makan, aku bisa sekolah, bisa punya rumah” lanjut Budi. Adel diam memperhatikan.
“Sekarang, apa lagi yang ibu cari? Tinggal duduk manis di rumah, insyaAlloh Abram sanggup penuhi semua kebutuhan ibu”
“Tapi ada yang Abram nggak bisa kasih” sahut Adel.
“Ya. Itu. Itu Ta, yang bikin Abram pusing” komentar Budi.
Adel tidak menjawab. sekalipun sebenarnya dia ingin mengomentari ucapan Budi. Namun sengaja dia urungkan, karena emosi Budi mulai meninggi.
Bang-bang wes rahino...
Ponsel Adel terdengar berdering dari dalam rumah. Adelpun beranjak setelah memberikan isyarat pada Budi. Terpampang nama Putri di layar ponselnya.
“Assalamu’alaikum” sapa Adel.
“Wa’alaikum salam” jawab Putri.
Tampak di layar, Putri sedang memegang sapu lidi, sedangkan di belakangnya, Stevani sedang menyapu teras.
“Ada apa Put?” tanya Adel.
“Mas Budi kemana, mbak? Putri telepon kok nggak diangkat?” Putri balik bertanya.
“Oh. Hapenya di cas di atas. Ini hape embak juga lagi di cas di ruang tivi” jawab Adel.
“Mau ngomong sama mas Budi?” tanya Adel.
“Iya, mbak. Tolong” jawab Putri.
Adelpun kembali keluar lewat pintu samping. Budi sudah menoleh padanya sekalipun dia belum menyapanya.
“Putri, mas” kata Adel sambil mengacungkan ponselnya.
“Ada apa?” tanya Budi sambil menerima ponsel itu. Adel mengangkat kedua bahunya.
“Ada apa Put?” tanya Budi.
Melihat asap mengepul dari hidung kakaknya, Putri urung bicara. Padahal mulutnya sudah terbuka. Dia menatap kakaknya sambil menghela nafas berat. Mereka saling menatap beberapa saat.
“Kenapa, Put?”
“Ha?”
Putri tersentak setelah Budi menanyainya lagi.
“Oh enggak. Mas Budi disuruh pulang dulu, sama ibu” lanjut Putri, menjawab pertanyaan Budi.
“Ibu kenapa?” tanya Budi dengan ekspresi hawatir.
“Enggak. Nggak papa. Ini, orang tua mas Aldo mau dateng. Nah, sama ibu, mas Budi disuruh jadi wakilnya bapak, gitu”
“Oh”
Budi berkomentar pendek. Putri bingung dengan komentar kakaknya itu. Dia belum bisa menebak apa yang dikomentari itu.
“Mas, ngapain dipikir berat, sih? Toh ibu cuman sekedar nanya” tanya Putri, beberapa saat kemudian.
“Emang kamu oke, ibu nikah lagi?” tanya Budi. Putri terkesiap mendengar pertanyaan itu. Adel juga sampai mengernyitkan keningnya.
“Ya emang kenapa, mas? Putri sih oke-oke aja. Toh pak Paul kan orangnya baik, mas” jawab Putri. Budi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi sambil mencebirkan bibirnya.
“Udah mas, kalo mas Budi belum ikhlas, ibu juga nggak papa, kok. Jangan dibikin pusing! Kasihan mbak Adel” saran Putri. Sontak Budi menoleh ke arah Adel. Adel terkejut ditatap Budi.
__ADS_1
“Jam sembilan ya, mas!” lanjut Putri.
“Oke” jawab Budi singkat.
“Ya udah, gitu aja dulu, mas. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
Tuuut
Sambungan teleponpun terputus. Budi masih tertegun menatap ponsel Adel sekalipun sudah tidak ada gambar Putri di sana.
“Gorengannya, Bram” tegur Adel lembut.
Budi tersentak. Sempat dia tidak tersambung. Namun saat Adel menyobek tempe goreng, Budi lantas mengerti. Dia tidak menolak saat sang istri menyuapkan tempe goreng tadi ke mulutnya. Penerimaan Budi membuat Adel tersenyum.
Saat sedang asyik-asyiknya menikmati gorengan, sebuah mobil terlihat berhenti di depan gerbang. Setelah sebuah motor melintas, mobil tadi berbelok ke halaman rumah Adel. Sempat Adel lupa, mobil siapa itu.
“Walah Bram, Tati” seru Adel, teringat.
“Ya Alloh. Kenapa Tata bisa lupa sama dia sih, Bram?” keluhnya.
Adelpun beranjak untuk menyongsong pemilik mobil itu. Dan memang benar, yang keluar dari mobil itu adalah Tati.
“Tati” seru Adel.
Tati malah berkacak pinggang dengan ekspresi wajah dibuat seolah kesal sekali.
“Gila lu, Del. Nikah nggak bilang-bilang. Beneran udah ngelupain gua lu, ya?” seru Tati.
“Enggak gitu, Ti” jawab Adel sambil mengulurkan tangannya hendak sungkem.
“Eh eh. Gua bukan nenek-nenek, Adel. pake sungkem segala” tolak Tati.
Diapun merentangkan kedua tangannya. Adel yang paham isyarat itu, langsung memeluk sahabatnya itu.
“Kamu kemana aja sih, Ti?” tanya Adel setelah selesai berpelukan.
“Ada di rumah” jawab Tati.
“Kamunya aja yang masih sibuk. Jadi ya, aku menepi dulu. Nggak tahunya, udah sama Abram lagi” lanjut Tati.
“Heei. Cuman aku yang boleh manggil gitu”
“Ha ha ha ha. Iya, iya. Ampuun”
Tati tertawa mendapati Adel termakan godaannya. Sampai sebuh cubitan mendarat di pinggangnya.
“Masuk, yuk!” ajak Adel.
“Bram”
“Eeeh, mas Bud”
Niat hati mau menyapa Budi yang berjalan mendekati mereka, Tati malah salah bicara. Sontak terjadi kehebohan, karena Adel kembali protes. Namun protes itu hanyalah bercanda.
Merekapun berjalan ke teras.
Di teras rumah, mereka berbincang mengenai banyak hal. Tentang Luki, tentang geger di galeri, tentang Stevani, Erika, sarang narkoba, sampai pernikahan Adel yang kedua ini. Adel menceritakan semuanya dari sudut pandangnya. Dan Budi menambahkan dari apa yang dia alami.
Tati sendiri mengatakan, kalau dirinya sedang menyiapkan sebuah proyek bersama grup musik mereka. Tati ingin membuat konser daring berkolaborasi dengan fishbed cafe. Adel menilai ide yang dimiliki Tati cukup menarik. Prospek pasarnya juga cukup menjanjikan, mengingat nama mereka yang sudah cukup melejit.
“Eh. Ibu sama Madin kemana?” tanya Tati kemudian.
“Ada di dalem. Lagi di dapur kayaknya” jawab Adel.
“Boleh masuk?”
“Boleh. Pake ijin segala, Ti” jawab Adel.
“Kan udah ada mas ganteng, Del. Nggak mungkin dong aku asal nyelonong aja. Entar kalo mas gantengnya baru abis mandi, wah, bisa khilaf aku” komentar Tati sambil beranjak dari duduknya.
“Heh. Kumat” seru Adel.
“Ha ha ha ha” Tati berlalu sambil tertawa, mendapati godaannya mengena.
“Mandi gih, Bram! Biar entar nggak buru-buru ke Arjosarinya” saran Adel.
“Nggak barengan?” goda Budi.
“Ada Tati, Bram” jawab Adel.
“Ya biarin”
“Nakal ih. Mandi, gih!” seru Adel sambil menepuk paha Budi.
“Hi hi hi”
Budipun beranjak masuk ke dalam rumah. Terlihat Tati sedang berbincang dengan bu Lusi di ruang tivi. Budi langsung menuju lantai dua tanpa menyapa keduanya.
Setelah selesai mandi, Budi belum melihat sang istri di dalam kamar. Tanpa banyak berpikur, Budi langsung berpakaian dan turun ke lantai dasar. Rupanya ada tamu lain. Dari suaranya hanya ada suara Adel dan suara seorang wanita lain. Budi mendekat ke teras.
“Nah, ini mas Budinya” kata Adel seraya menunjuk padanya.
“Eh. Ibu temennya Nungki, kan?” sahut Budi. Dia mengulurkan tangannya.
“Loh. Abram kenal?” tanya Adel, saat keduanya bersalaman.
__ADS_1
“Kenal nama sih, belum. Ibunya jual mahal, sih. Ha ha ha” jawab Budi setengah bercanda.
“Cuman emang barengan sama Nungki, waktu di tangerang” lanjut Budi.
“Oh iya, ya. Nangkep bu Susan, ibu ada ya?” sahut Adel.
“Iya, betul” jawab tamu itu.
“Gini, Bram” kata Adel memulai penjelasannya.
“Beliau namanya bu Tiwi. Kedatangan bu Tiwi ini, mau ngasihin titipannya Nungki” lanjut Adel.
“Apa?” tanya Budi.
“Nggak tahu. Buat Abram, sih”
“Tumben” komentar Budi sambil tersenyum menggoda Adel.
“Jangan godain, deh! Beneran curiga nih, jadinya” jawab Adel, sambil menyerahkan amplop coklat besar pada suaminya. Polwan temannya Nungki itu tergelak mendengar percakapan mereka.
“Hem?”
Budi tak mengerti dengan apa yang dia dapatkan dari dalam amplop itu. Sebuah surat berkop satuan reserse narkoba.
Sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa kakak sepupunya dinyatakan tidak bersalah atas keterlibatan tak disadari dengan jaringan narkotika melalui kelopoknya Sandi. Dan sepupunya itu dinyatakan bebas dari penahanan terhitung di hari ini juga.
“Ini serius?” tanya Budi.
“Iya. Itu dari pusat. Pak Iwan” jawab Tiwi.
“Oh” respon Budi pendek.
“Terus, ini gimana? Harus dikasihin siapa?”
“Itu hanya control copy. Di polres sudah ada yang aslinya. Rencananya, jam delapan nanti sepupu mas Budi akan dibebaskan. Masih ada waktu kalau mau jemput” jawab Tiwi.
“Alhamdulillah” kata Budi mengucapkan syukur.
“Masih ada lagi, Bram” tegur Adel.
“Apa tuh?” lanjutnya.
Budi segera meletakkan surat pernyataan kebebasan sepupunya di meja. Lalu dia membuka map berwarna kuning di tangannya.
“Hem?”
Budi terkejut sekali melihat kumpulan foto yang ditata rapi dalam sebuah kertas laporan. Subyek dalam foto itu tak lain dan tak bukan adalah Zulfikar. Orang yang selama seratus hari terakhir belum terdengar kabarnya, ternyata telah tewas dengan tubuh bagian depannya terkoyak. Tulang rusuknya hampir semuanya patah, seperti diterjang sesuatu yang punya tenaga kinetik sangat besar.
“Kalo dari arahnya, kok kaya ngadep gazeebo, ya?” gumamnya.
Di lembar setelahnya, pertanyaan Budi seperti mendapatkan jawaban. Dimana ada sebuah foto ukuran sepuluh er, menggambarkan posisi Zulfikar. Dia seperti hanya terpental ke belakang, namun masih menghadap arah yang sama, gazeebo.
“Maaf, apa ini real?” tanya Budi. si Tiwi tersenyum. Seolah sudah menduga kalau Budi akan bertanya begitu.
“Saya juga sama gedegnya sama si Panjul itu. Dia pernah bikin saya dalam masalah. Sama seperti mbak Salma alias Nungki. Selametnya si Panjul, musibah buat kami. Ngeliat dia mati mengenaskan kaya gini, adalah sebuah kebahagiaan buat kami” jawab si Tiwi.
Jawaban yang mengisyaratkan kalau apa yang ada di dalam laporan itu, adalah fakta, bukan rekayasa.
“Saya saksinya. Leher saja jaminannya” lanjutnya.
Budi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menoleh ke arah Adel.
“Tapi gimana ceritanya dia bisa bawa machine gun?” tanya Budi. si Tiwi tergelak.
“Orang-orangnya dia kesusupan orang-orangnya si bule. Cuman dia belum yakin orang itu yang mana. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Sembari mencoba mendapatkan kepercayaan mas Budi lagi, sembari dia bersih-bersih jaringan. Seolah-olah dia ngebantai orang-orangnya si Bejo. Tapi sebenernya, dia juga ngebantai orang-orangnya sendiri. Setengah dari yang dia bawa, numpuk di sisi kanan rumah. Dia sendiri yang ngabisin” jawab Tiwi.
“Oh?” respon Budi terkejut.
“Dari CCTV yang tersisa, dia ngebantai orang-orangnya sendiri, lima menitan sebelum terkena peluru sniper” lanjut Tiwi. Budi hanya terdiam mengernyitkan keningnya.
“Setengahnya lagi jadi tumbal di ruang bawah tanah” lanjut Tiwi lagi.
“Itu artinya, dia masih setia sama si Bejo, dan berpikir dia bisa bikin jaringan baru. Apa dia sebegitu yakinnya aku bakal mati di sana?” tanya Budi. Si Tiwi mengangkat kedua bahunya.
“Belum terkonfirmasi. Tapi dugaan kami, begitu”
“Oh. Licik bener jadi orang” komentar Budi.
“Untungnya udah mati” sahut Tiwi.
“Ya. Untungnya udah mati” jawab Budi.
Untuk beberapa saat, Budi tenggelam dalam pikirannya sendiri. Membuat Adel dan tamunya ikut terdiam. Tak berapa lama kemudian, si Tiwi pamitan untuk kembali bertugas. Baik Budi maupun Adel sama-sama mengucapkan terimakasih atas kabar yang diberikan. Tiwipun pergi.
“Gimana, mas?” tanya Adel, setelah mobil Tiwi tak terlihat.
“Kasih tahu istrinya mas Eko! Kita jemput. Tapi nanti tunggu aja di parkiran! Sebagai kejutan” jawab Budi.
“Oke. Tata mandi dulu kalo gitu”
“Mandi sendiri?” goda Budi.
“Nakal” komentar Adel.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa mendapatkan cubitan di pinggangnya.
Budi pergi ke bengkel kayu, memeriksa kopi yang tadi dia tinggalkan. Rupanya sudah dibereskan sama si Madina. Tapi Madina bilang, kalau dia membuatkan kopi baru di dapur, karena kopi tadi sudah disemutin. Dengan tertawa Budi pergi ke dapur.
__ADS_1