
Sore harinya, Budi langsung pulang begitu bel pulang berbunyi. Segala hal yang membutuhkan kehadirannya sudah dia selesaikan. Tinggal hal-hal yang masih membutuhkan proses bertahap yang belum dia selesaikan. Tujuannya juga bukan langsung ke rumah, melainkan ke bengkel kayu.
Di sana juga ternyata sudah ada ibu dan adiknya. Ternyata semenjak pagi tadi bu Ratih tidak nyaman berada di rumah. Masih ada saja yang mengganggunya dengan sindiran-sindiran dan juga omongan-omongan tidak enak.
Seolah-olah penjelasan Budi yang panjang lebar mengenai kejadian bersimpuhnya Adel di kaki bu Ratih belum cukup memuaskan penasaran mereka. Budi hanya bisa menghela nafas berat, dan mencium pipi bu Ratih. Dia tahu, ibunya hanya butuh di dengarkan, bukan dinasehati.
“Alhamdulillah. Seneng kita liatnya, bos Budi udah sehat lagi seperti sediakala” seseorang berseru dari arah pintu galeri. Membuat Budi menoeh padanya.
“Kang Supri. Sehat, kang?” tanya Budi sambil menyalaminya.
“Alhamdulillah. Sehat”
“Yang lain, mana?”
“Ada, bos”
Suara kang Mangil menyahut dari dalam galeri. Tak lama kemudian dia muncul diiringi kang Bejo. Mereka bersalaman dan berbincang mengenai kasus kemarin. Asyik sekali mereka berbincangnya, sampai tidak sadar kalau hari sudah mulai gelap.
“Aduh bos, maaf nih. Saya pamit dulu. Tadi sudah ijin sama ibu, saya ada perlu sama istri” kata kang Supri.
“Kang Mangil sama kang Bejo juga ada perlu sama istri?” tanya Budi.
“Ngeledek, nih. Terus aku kalo ada perlu, sama siapa, dong?” lanjut Budi.
“Hempf” kang Bejo tergelak, tapi dia tahan.
“Ha ha ha ha ha” akhirnya jebol juga pertahanannya, setelah kang Mangil berbisik padanya.
“Kalo saya sih emang udah janji, mau anter istri ke rumah sodara. Nggak tahu deh, si Bejo sama Mangil” kilah kang Supri.
“Kalo saya sih, ngaku aja. Emang perlunya itu” kata kang Bejo.
“Sama” sahut kang Mangil.
“Ha ha ha haha” kang Bejo tertawa lagi. membuat semua orang ikut tertawa.
“Ya udah nggak papa. Mebel, udah sampe mana?”
“Udah kelar, Bos” jawab kang Mangil.
“Serius?”
“We he he, si bos ketinggalan. Kita kasih tunjuk, Jo” ajak kang mangil.
Merekapun masuk kembali ke dalam galeri, dan langsung menuju bengkel. Dan terlihatlah satu set mebel yang sudah jadi. Terdiri dari sebuah meja, yang berbentuk kapal yang terbelah. Seperti kapal jung jawa, yang tinggal setengah bagian terdepannya.
Di kirinya ada kursi berbentuk gurita raksasa yang sedang membuka mulutnya. Gurita vampir yang diantara tentakel-tentakelnya ada selaputnya. Gurita itu solah-olah sedang hendak memakan sebuah pulau. Dimana pulau itulah yang menjadi tempat duduknya.
Di sebelah kanannya, ada kursi berbentuk makluk mitologi Yunani. Makluk mitologi yang berjuluk Hydra. Seekor naga berkepala sembilan. Naga itu digambarkan sedang tiduran, seperti tidurannya sapi.
Ekor panjangnya menghadap ke depan, menjadi sandaran tangan, setelah digulung sekali ke belakang membentuk sebuah lingkaran kecil. Satu kepalanya juga diposisikan menjadi sandaran tangan. Dua kepala menghadap ke arah ekor, menjadi sandaran punggung. Yang lainnya menghadap ke berbagai arah.
Dan kursi utamanya berbentuk seekor naga tanpa kaki, khasnya penggambaran naga dalam kebudayaan jawa. Kyai Nabatnawa, begitu naga itu diberi julukan.
Seekor naga yang kondang dalam wayang kulit, dalam cerita yang asli dibuat oleh pujangga tanah air, tentang air kehidupan, tirto suci perwitosari.
Dimana dalam cerita itu, Bima diperintahkan gurunya untuk mencari air kehidupan. Di tengah samudera, dia dihadang oleh seekor naga yang sangat besar, kyai Nabatnawa.
Terjadi pergulatan hebat diantara keduanya.
Pergulatan hidup dan mati keduanya itulah yang diabadikan dalam kursi utama ini.
Badan naga tanpa kaki itu difungsikan sebagai tempat duduknya. Di sini, seolah kursi ini tidak punya sandaran tangan. Walaupun bisa sebenarnya kalau mau menyandarkan tangan pada badan naga itu. Karena badan naga itu meliuk ke depan, kemudian meliuk lagi ke belakang.
Dan kepalanya menghadap ke sang Bima yang berada di tengah-tengah. Di sebelah kanan, ekor naga itu juga meliuk dengan pola yang sama. Ujungnya sendiri melilit tubuh sang Bima dengan kuatnya.
Memang tidak terlihat kalau sosok sang Bima itu bisa dijadikan sandaran punggung. Tapi masih cukup kuat saat dipakai Budi untuk bersandar.
“Kita sih yakin, bos. Karya kita ini, pasti lolos” celetuk kang Mangil.
“Setuju. Baru juragan yang punya ide konyol begini” sahut kang Bejo.
“Kok konyol?” tanya kang Supri.
“Lain dari yang lain, maksudnya” jawab kang Bejo.
“Makasih ya, kang. Sekalipun saya lagi kacau begini, panjenengan semua masih masih mau kerja dengan baik” kata Budi.
“Bos, sekacau-kacaunya bos Budi, penghasilan di sini masih jauh lebih baik. Mana ibu juga sama baiknya sama kita”
“Iya, gan. Sembako kita di support lho. Gajinya utuh, jadinya” sahut kang Bejo.
Sejenak Budi menoleh ke arah bu Ratih. Beliau yang memperhatikan dari atas balkon, tersenyum dan mengangguk.
“Cuman itu yang kita punya, kang” kata Budi.
“Bos, maaf banget nih, kalo sudah oke, saya mau pamit. Udah ditungguin istri” kata kang Supri.
“Oh. Iya. Silakan. Nanti aku lanjut ceknya. Kalo ada yang menurut aku kurang, aku wa aja, ya?” jawab Budi.
“Bisa, bisa” jawab kang Supri.
“Kita gimana, bos?” tanya kang Mangil.
“Ya kalo mau nginep sih, nggak papa” jawab Budi.
“Lah, nggak jadi ada perlu dong? Ha ha ha ha” komentar kang Mangil.
“Ya udah, silakan, kang” kata Budi.
Merekapun pamitan. Meninggalkan Budi, bu Ratih, dan Putri. Tak terasa maghrib pun tiba. Budi segera mandi dan bersiap untuk sholat maghrib berjamaah.
Setelah sholat maghrib, Budi menyempatkan diri mengirimkan pesan singkat kepada Adel, sembari memeriksa catatan keuangan tempat usahanya ini.
Tata masih di jalan, Bram. Ini baru kelar maghriban
Pesan balasan dari Adel sukses membuat Budi tersenyum. Dia bahagia, akhirnya panggilan itu kembali dia dengar. Walau baru dari tulisan.
Ati-ati, ya! jangan lupa maem, Ta!
Di seberang sana, Adel juga tersenyum membaca balasan dari Budi. Masih terngiang jelas di ingatannya, bagaimana proses dia mendapatkan maaf dari keluarga Budi. Dan dia sangat bersyukur, masih mendapatkan kesempatan memperbaiki sikap.
Iya, Bram. Udah maem, kok. Abram juga, perbanyak istirahat, ya! lemburnya entar-entaran aja, kalo udah fit.
Budi tergelak membaca kata, lembur. Pikiran dia bercabang. Menurutnya, bukan soal kesehatan ini, sih.
__ADS_1
Iya. Abram nggak lembur, kok. Ini lagi di bengkel kayu
Budi masih tergelak saat mengetikan balasan itu.
Bram, Tata masih boleh ke galery nggak sih?
Mendapat pertanyaan seperti itu, kening Budi mengkerut.
Ya boleh, lah. Kenapa nggak boleh?
Di seberang sana, Adel tersenyum mendapat jawaban itu.
Alhamdulillah. Ya, kan kita abis kena fitnah, Bram. Kita abis hadap-hadapan di ranah hukum. Tata masih ragu kalau mau mampir. Kalo ibu belum kasih ijin, ya Tata nggak mampir dulu. Sumpah, sedih banget rasanya kalo sampe dibenci sama ibu. Tata jadi benci sama diri Tata sendiri, Bram. Bego banget, gitu. Kaya yang di bilang ibu. Udah sekolah tinggi-tinggi, tapi otaknya nggak tahu kemana
Budi jadi bertambah bingung dengan jawaban Adel. Tapi dia paham, tidak mudah memang, menerima kenyataan seperti itu. Dan rasa bersalahnya itulah yang Budi suka.
Hei, hei, hei. Jangan ngomong gitu, ah! Di atas langit, masih ada langit. Sepintar-pintarnya kita, masih ada yang jauh lebih pintar. Tapi meski begitu, masih ada yang lebih tinggi sebenernya daripada ilmu, yaitu akhlak. Manusia berakhlak lebih mulia daripada manusia berilmu. Dan akhlak Tata, yang dengan berani meminta maaf, jauh lebih Abram hargai. Dan Abram bangga sama akhlak Tata itu.
Di seberang sana, Adel tersenyum lebar. Tapi malah mengundang tanda tanya. Karena bersamaan dengan senyum lebarnya, ada air mata yang meleleh.
Makasih ya, Bram. Tata akan selalu inget kejadian kemarin. Akan selalu Tata jadikan pelajaran. Dan Tata janji, Tata akan berusaha lebih sabar dan lebih bijak dalam menghadapi segala sesuatu.
Budi ikut tersenyum. Sampai tidak sadar kalau ibunya sudah berdiri di belakangnya, memperhatikannya.
Makasih ya, Ta
Kalimat itu terputus. Suara tawa ibunya yang ditahan itu, mengejutkannya. Reflek, Budi menekan tombol kirim. Antara malu dan takut, Budi jadi tertegun mengetahui kalau ibunya mengetahui percakapannya dengan Adel.
Tapi bu Ratih tidak marah. Dia malah mendoakan Adel supaya bisa lebih dewasa lagi ke depannya. Hanya Putri yang tampaknya belum bisa menerima kehadiaran Adel kembali.
Budi tidak berkomentar. Dia hanya tersenyum dan mengelus-elus kepala Putri. Dia bisa maklum dengan perasaan adiknya itu.
Budipun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan soal penjualan. Sedang asyik-asyiknya berbincang soal penjualan, terdengar ada mobil yang masuk ke halaman bengkel kayu. Putri menawarkan diri untuk menyambut tamu yang datang. Sedangkan Budi melanjutkan perbincangan mengenai penjualan.
Beberapa saat lamanya, tamu itu tidak kunjung masuk. Membuat Budi bertanya-tanya. Diapun meminta ijin untuk melihat siapa yang datang. Tapi baru saja mau berdiri, Putri sudah kembali masuk.
“Siapa, nduk?” tanya bu Ratih.
“Mbak Erika, bu” jawab Putri.
“Kok nggak disuruh masuk?”
“Pengen ketemu mas Budi. Urusan kantor, katanya”
“Ya disuruh masuk, dong!”
“Lagi videoin LED tuh, di tangga”
“Oh” komentar bu Ratih pendek.
“Samperin gih, ngger!” perintah bu Ratih pada Budi.
“Ya, bu” jawab Budi.
Budipun akhirnya berdiri juga. Dia langsung keluar dari galeri. Didapatinya Erika sedang duduk di kap mesin mobilnya, dan memegang ponsel. Dari arah ponselnya, memang benar kalau Eria sedang memvideokan tarian LED yang terpasang pada tangga masuk.
“Ha ha ha ha”
Erika tertawa saat di layar ponselnya muncul Budi yang tiba-tiba duduk di tegah-tengah tangga, dan berpose layaknya foto model. Erikapun mengakhiri aktivitas videonya.
“Ada yang belum bener, mbak?” tanya Budi langsung pada inti. Dia turun mendekati Erika.
“Lah, kan mbak Erika punya semua dataku?”
“Ukuran celanamu kan aku nggak punya. Apalagi yang dalam”
“Ngaco. Mana ada bikin paspor pake ukuran celana segala?”komentar Budi.
“Ha ha ha ha” Erika tertawa lepas, mengetahui kelakarnya mengena telak.
“Sengaja sih, pengen mampir. Boleh, nggak?” lanjut Erika.
“Lah. Udah nyampe sini baru nanya, boleh apa enggak” komentar Budi.
“Ha ha ha ha” Erika tertawa lagi.
“Ya udah, masuk yuk!” ajak Budi.
“Di teras aja, Bud” jawab Erika.
“Loh, kenapa?”
“Kan aku ke sini cuman mau maen, bukannya mau belanja. Nggak enak sama ibu”
“Ya nggak papa, kali. Tenang aja, ada micin”
“Suek. Lu kata gua semur hambar?”
“Ha ha ha ha”
Mereka berduapun naik ke teras. Bu Ratih sempat menyapa, dan mempersilakan masuk. Tapi lagi-lagi Erika mengatakan kalau dia ingin di teras saja. Bu Ratihpun mengalah. Dia meminta Putri untuk membuatkan minum.
“Ini harus aku isi semua, mbak?” tanya Budi.
“Iya” jawab Erika pendek.
Budi meminta ijin masuk sebentar. Dia kembali lagi dengan membawa sebuah meja kecil serupa dengan yang diberikan kepada Katya, dulu.
“Wow, itu hasil karyamu, Bud? kok aku baru liat?”
“Bukan. Itu bikinan anak buahku”
“Ya maksudnya gitu, Bud. Bagus banget” puji Erika.
“Unit pertama udah terbang ke Rusia, lho” kata Budi.
“Oh, ya? serius lu?”
“Bener. Pembeli pertamaku kan turis dari Rusia”
“Gokil lu, Bud. Bener-bener kaya sukhoi lu, nggak bisa ditinggal ngedip” puji Erika.
“Alhamdulillah. Gusti Alloh kasih aku jalan” jawab Budi. Mengembalikan pujian itu kepada yang berhak untuk menerimanya.
Diapun langsung fokus menuliskan data dirinya. Dia biarkan Erika membuat video lagi tentang kondisi sekitar bengkel kayunya. Dia juga tidak keberatan saat wajahnya juga disorot sama Erika. Dia terus mengisi formulir pengajuan paspor itu.
__ADS_1
Bu Ratih sempat mengajak Erika berbincang. Budi tidak memperhatikan perbincangan itu, walaupun sepertinya seru. Bu Ratih juga mengajak Erika buat masuk, dan melihat-lihat hasil produksi bengkel kayu ini.
Walau awalnya dia malu, karena tidak punya niatan berbelanja, tapi akhirnya mau juga diajak masuk.
Cukup lama mereka di dalam, sampai Budi selesai mengisi keseluruhan formulir itu, mereka baru keluar lagi.
Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...
Saat Erika kembali duduk di sebelah Budi, tiba-tiba saja ponsel Budi berdering. Budi tersenyum melihat siapa yang menelepon. Bukan panggilan biasa, lagi.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi. terlihat seorang wanita di seberang sana.
“Wa’alikum salam” jawab wanita itu.
“Loh, udah nyampe rumah aja?” tanya Budi.
“Iya, Bram. Maaf ya, tata nggak jadi mampir. Ditodong bapak, tadi”
“Ditodong gimana?”
“Itu, bapak nyamper ke sanggar. Langsung deh, Tata digiring pulang. Pak tuan kalo udah beraksi, hemm”
“Pak tuan?” budi bingung.
“Oh. Ha ha ha” sedetik kemudian dia langsung paham.
Pak tuan, dalam bahasa inggris british style disebutnya Sir. Sedangkan dalam dunia militer, SIR merupakan akronim dari surveilance, intelegent, reconissense. Yang artinya merujuk pada tindak mata-mata atau pengumpulan data secara rahasia. Itu kodenya dengan Sandi, dulu.
Tapi kalimat yang dilontarkan Adel terdengar ambigu. Kalau orang yang tidak mengerti pasti akan mengiranya yang disebut pak tuan adalah bapaknya.
“Ya udah. Masih banyak waktu, kok. Istirahat aja, ya!” saran Budi.
“Silakan, mbak. Seadanya, ya?” terdengar suara Putri menyapa.
“Waduh, kok semuanya dikeluarin, Put?” sahut Erika.
“Apa sih, mbak. Cuman air sama jajanan pasar” jawab Putri.
“Silakan, mbak Erika” kata bu Ratih.
Saat budi memperhatikan Putri, dia tidak sadar kalau sambungan telepon telah terputus. Saat mengetahuinya, Budi jadi bingung sendiri.
Ada ibu ya, Bram?
Tanya Adel dalam pesan singkat.
Iya
Balas budi singkat.
Siapa tamunya? Kok kaya deket banget?
Budi tersenyum. Dia merasa kalau Adel merasa cemburu.
Erika
Panas hati Adel membaca balasan dari Budi. Tapi dia juga sadar, posisinya sekarang belum kembali sekuat dulu. Dia menghela nafas panjang sambil beristighfar.
Tumben malem-malem, Bram?
Adel berharap tidak akan mendapat jawaban yang akan semakin memanaskan hatinya.
Ini, dia nganterin formulir pengajuan pembuatan paspor
Cukup lega hatinya mendapat jawaban itu. Walau dia merasa kalau itu hanya akal-akalan Erika saja.
Kok mendadak banget? Nggak bisa besok aja ya, di kantor?”
Adel masih mencoba memastikan.
Iya. Besok mau dibawa pak Paul ke kedutaan Jerman. Tadi sore baru dikasihin berkasnya. Abram udah pulang, kata Erika.
Adel mengangguk-anggukkan kepalanya. Walau secara logika jawaban itu tergolong wajar dan dapat diterima, tapi hatinya mengatakan sebaliknya.Dia masih merasakan kalau apa yang dilakukan Erika itu hanyalah siasat dia saja.
Dia menghela nafas panjang lagi. Dia beristighfar lagi. Dia merasa kalau inilah momen pertama untuk dia belajar dari kesalahan kemarin. Pelajaran praktek langsung untuk belajar menahan kecemburuan, menahan rasa curiga berlebihan, juga belajar memupuk rasa percaya terhadap pasangannya.
Ada bapak, ya?
Lama tidak mendapat jawaban membuat Budi berspekulasi.
Oh, enggak kok, Bram. Bapak lagi di bawah
Jawaban itu membuat Budi tersenyum.
Tata nggak kena marah kan, tadi?
Ditanya begitu, Adel malah tersenyum. Itu karena dia merasa dipikiran oleh Budi. sekalipun ada Erika di dekatnya.
Enggak kok, Bram. Cuman digiring doang kaya anak kecil.
Budi tergelak membaca balasan Adel. Sampai ibunya menegur.
Abram cari waktu dulu ya, buat sowan sama bapak
Kali ini Adel melotot membaca balasan Budi.
Jangan dulu deh, Bram. Tata takut. Cukup sekali aja pertumpahan darahnya. Tata nggak sanggup nahan rasa bersalah lagi, Bram. Bapak tu orangnya suka nekat. Channel orang bayarannya banyak. kita tunggu sampe adem dulu ya Bram, suasananya.
Budi tertegun membaca balasan Adel. Tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk-angguk.
Iya deh, sayangku. Kalo emang harus begitu. Met istirahat aja
Adel mendengus membaca kalimat terakhirnya Budi. Kalimat itu berarti salam perpisahan. Ya, Adel menyadari kalau bagaimanapun Erika tetaplah tamunya Budi. Tetap harus dihormati selayaknya tamu. Termasuk menemani si tamu itu berbincang-bincang.
Abram juga jangan malem-malem istirahatnya, ya! Usir aja tamunya, kalo modus! Apalagi nggak belanja
“Hempf” Budi tergelak.
“Kenapa, ngger?” tanya bu Ratih bingung.
“Ee, enggak. Nggak papa, bu” jawab Budi masih dengan tergelak.
Iya. Met malem, masa depanku. Assalamu’alaikum
Membaca kata masa depanku, seulas senyum tipis tersungging di bibir Adel.
__ADS_1
Met malem juga, calon imamku. Wa’alaikum salam.
Budi tersenyum lagi membaca kata calon imamku. Setelah itu dia meletakkan ponselnya, dan fokus untuk menghormati tamunya.