
Di tempat lain, Hendra sedang asyik berbincang-bincang dengan tetangga kontrakannya. Posisinya ada tepat di sebelah kanan kamar Stevani. Ada yang lagi pamer active speaker baru. Lumayan besar, delapan selas inch. Suaranya seperti orang mau hajatan. Dari pertama dibunyikan, lagu-lagu yang diputar hanyalah lagu pop dan dangdut. Hendra merasa penasaran dengan suara speaker itu jika diputarkan musik DJ. Apakah suara yang dihasilkan sesuai dengan nama besar mereknya, atau biasa saja.
“Coba aja mas Hend!” kata yang punya spraker.
“Boleh nih, mas Gito?” tanya Hendra memastikan.
“Boleh. Buktikan keraguanmu, mas!” jawab Gito mantap.
Merasa tertantang, Budi segera melakukan pairing dari perangkat bluetooth di ponselnya dengan active speaker itu. dia sudah menyiapkan musik-musik yang memang diperuntukkan bagi soundman saat melakukan sound check.
“Loh, kok bunyinya gitu?” tanya Hendra bingung.
“Iya. kok malah kecil gitu? Musiknya apa?” timpal Yusuf.
“Musik DJ kok” jawab Hendra.
“Kok cempreng?” tanya Burhan.
“Bluetoothnya apa, mas?” tanya Gito dari dalam kamarnya.
“Ini, mas” jawab Hendra. Dia kasih tunjuk layarnya kepada Gito.
“Bukan itu. Yang bawahnya” seru Gito mengoreksi Hendra.
“Walah. Lha ini tadi speaker siapa, dong?” tanya Hendra sambil tergelak.
“Eh eh eh” Yusuf berseru saat Hendra hedak mengubah pairing.
“Coba kencengin lagi, mas! Kok kaya dari dalem kamarnya Vani, ya?” lanjut Yusuf.
Hendra tersentak. Dia berdiri lalu menghampiri Yusuf. Dia kencangkan volume di ponselnya. Dan hasilnya, musik yang sedang dia mainkan itu terdengar berbunyi dari dalam kamar Stevani.
“Eh, iya. Emang itu musik yang aku puter” komentar Hendra.
“Perasaan Vani nggak pernah musikan pake speaker, deh” kata Yusuf.
“Emang dia nggak punya speaker, kan? Ada juga head set, seingetku” sahut Burhan.
“Loh, jadi itu?” tanya Hendra.
“Panggil Zulfikar aja!” saran Gito.
“Boleh juga itu idenya” sahut Yusuf.
“Eh, mas. Kalo kata saya sih, mending bikin bukti dulu, deh” kata Hendra mencegah Yusuf menelepon Zulfikar.
“Bukti gimana? Video?” tanya Yusuf
“Yap. Begitulah. Akan lebih meyakinkan” jawab Hendra.
“Wah, boleh juga tuh. Hayu, aku rekam, ya” seru Yusuf.
__ADS_1
Merekapun sepakat membuat video temuan mereka. Hendra masih tetap bertindak sebagai operator musik. Yusuf merekam kejadian itu mulai dari pairing sampai musik diputar. Dari volume kecil sampai volume suara puncak. Dan jelas sekali terdengar suara speaker dari dalam kamar Stevani. Setelah itu, Yusuf mengirimkan video itu kepada Zulfikar.
Di tanah calon bengkel kayu Budi, Zulfikar tampak gesit membantu kang Sukron dan para kulinya untuk membuat Pondasi. Budi sendiri juga sibuk mengaduk semen. Hanya tinggal Adel dan Putri yang tidak bekerja. Mereka berteduh di bangunan darurat dari triplek yang sengaja dibangun sebagai tempat menyimpan peralatan dan juga tempat menginap, jika diperlukan.
Bukannya tidak tahu, Putri melihat ada seseorang mengirimkan pesan singat kepada Zulfikar. Dari namanya, dia menduga kalau yang mengirim pesan itu adalah tetangga kontrakannya. Karena ada kode TTG di belakang nama pemilik nomer itu. Kode itu pernah dibilang Zulfikar sebagai tetangga. Karena Zulfikar masih sibuk dan sedang bersemangat membantu calon kakak iparnya, Putri mendiamkan saja pesan itu. Toh bukan tentang kerjaan, begitu pikirnya.
Tetapi beberapa pesan datang dan datang lagi. Sedikit yang muncul di layar, terbaca oleh Putri seperti ada sesuatu yang penting. Terutama yang terakhir, meminta Zulfikar untuk segera merespon.
Putri masih mendiamkannya. Dia teringat cerita kekasihnya itu kalau tetangga-tetangga kontrakannya sangat peduli dengan Stevani. Karena Stevani juga peduli dengan mereka. Putri menduga kalau tetangga-tetangga kontrakan kekasihnya itu ingin melakukan sesuatu yang meringankan hukuman Stevani. Atau bahkan membebaskannya. Dan itu Putri tidak suka.
Yang selanjutnya tidak hanya pesan singkat. Kini nomer yang sama sampai menelepon. Putri biarkan saja, hanya dia tekan tombol kunci, agar suara deringnya mati. Tak hanya sekali. Berkali-kali nomor itu menelepon. Membuat Adel yang sedari tadi acuh, menjadi penasaran.
“Put, kamu nggak boleh gitu! Siapa tahu itu penting” tegur Adel.
“Enggak. Ini dari tetangga kontrakan Stevani. Pasti mereka bikin intrik buat bebasin Stevani. Secara kan kata mas Zul, mereka care banget sama Stevani” jawab Putri, tanpa menutupi kekesalannya. Adel tersenyum.
“Kamu harus mulai belajar bedain Put, mana perasaan, mana pekerjaan” kata Adel. Putri menatap dengan perasaan kurang suka. Adel tersenyum lagi.
“Pekerjaan cowokmu itu berkaitan sama hukum, nggak kenal hari, nggak kenal siapa. Jangan sampai kamu ngalangin penegakan hukum cuman karena perasaan! Bisa bahaya” lanjut Adel.
“Huufftt” Putri menghela nafas berat. Lalu pergi membawa ponsel Zulfikar mendekati pemiliknya.
“Mas, ada pesen nih. Kayaknya urgent” kata Putri.
Zulfikar yang mau mengantarkan ember adonan semen, teralihkan perhatiannya. Dia menerima ponsel yang diberikan Putri. Lalu dia buka pesan yang masuk berentengan.
Zul, ini kita mau ngasih tahu aja, kita nemuin sesuatu dari dalem kamar Vani
Kalimat pembuka dari pesan video itu memikat perhatiannya. Dia kenal suara yang ada di video itu. dan dia juga mengenali, lelaki yang memegang ponsel di sebelah active speaker di dalam video itu, tetangga barunya. Dia mengeraskan suara ponselnya, dan mengajak Budi untuk bergabung.
Kalimat selanjutnya dari video itu membuat Budi juga terfokus menatap layar ponsel Zulfikar. Membuat Adel mendekat karena penasaran. Dalam video itu terlihat si Hendra memilih nama bluetooth yang atas untuk di pairing.
“Haa?”
Putri memekik pelan. Dia terkejut bukan main. Terdengar suara kencang yang berasal dari dalam sebuah ruangan.
Kita keliling ya? Nih, kita ke kamarnya Gito. Suara masih kedengeran, dan sama sekali nggak ada speaker lain di dalam kamarnya. masih kedengeran jauh, ya?
Dalam video itu, Yusuf mengarahkan kameranya menyisir setiap sudut kamar kontrakan Gito. Sama sekali tidak terlihat adanya speaker. Bahkan sampai ke langit-langit segala. Lubang plafon juga dia masuki.
Kita ke belakang kontrakan, ya?
Kali ini Yusuf mengarahkan kameranya menyisir bagian belakang kontrakan. Dan sama sekali tidak ada speaker ataupun benda asing di sepanjang tembok belakang kontrakan. Tapi yang jelas, mendekati kamar Stevani, suara itu semakin jelas. Dan menjauh dari kamar Stevani, suara itu semakin lemah.
Nggak ada kan, ya? Kita masih penasaran nih, apakan speaker yang bunyi ini punya kamu apa bukan. Kalo punya kamu, tolong dijawab. Kalo bukan, coba tuh dicek, kamarnya si Vani. Bukannya ngebelain si Vani. Kali aja ada hubungannya. Tolong direspon, ya! Makasih.
Pesan video itu berakhir sampai di situ. Semua mata kini tertuju pada Zulfikar yang sedang termenung. Dia tampak memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan penemuan baru itu.
“Speaker kamu pake bluetooth kan, mas?” tanya Putri.
“Ha?” Zulfikar terkejut.
__ADS_1
“Ya enggak. Kan pake kabel USB, dek” jawab Zulfikar.
“Lah, terus?” tanya Putri.
Zulfikar kembali termenung. Dia tampak sedang merangkai beberapa informasi menjadi sebuah rangkaian kejadian berdasarkan waktu terjadinya. Sedangkan Putri, dia tampak merasa takut. Takut kalau laporan kepolisian itu berbalik kepadanya.
Enggak, nggak mungkin. Aku kan dengernya jelas sekali. Masa itu suara speaker? Nggak mungkin. Ini pasti akal-akalan tetangga-tetangganya Vani aja.
“Put, tenang!” hibur Adel. Dia merengkuh pundak Putri, dan membawa Putri ke pelukannya.
“Pulang dulu aja, Zul! Urus dulu kerjaanmu!” pinta Budi. zulfikar tersentak dari angan-angannya. Dia menatap Budi.
“Mas?” sepertinya dia hendak menanyakan sesuatu ke Budi, tapi dia merasa tidak enak hati.
“Ya, aku tahu. Kalo bener suara itu adalah speaker, bukan beneran Vani sama Dino, berarti ada orang lain yang bermain dibalik ini semua” kata Budi menebak arah pertanyaan Zulfikar.
“Itu dia, mas”
“Cari dan temukan! Kalo orang itu berasal dari salah satu geng di kota ini, aku sendiri yang akan bikin perhitungan” lanjut Budi.
“Baik, mas” jawab Zulfikar.
“Anter Putri ke pasar, ya! Harus ketemu ibu!” pinta Budi.
“Baik, mas” jawab Zulfikar.
Putri yang masih merasa takut, tak berani menolak keputusan kakaknya. Dia pamit untuk pulang lebih dulu. Kang Sukron dan yang lain melambaikan tangan sambil berseru saat Zulfikar membunyikan klakson motornya.
“Ta?”
Budi bingung, melihat Adel tiba-tiba melirik tajam padanya, lalu melengos dan berlalu pergi. Dia masuk ke dalam rumah-rumahan triplek itu dan duduk memunggungi pintu masuk.
“Kamu kenapa, Ta? Kok tiba-tiba ngambek gitu?” tanya Budi, sesampainya di belakang Adel. Dia berjongkok di depan Adel.
“Enggak. Nggak papa” jawab Adel.
Budi tersenyum. Dia menduga, kalau kekasihnya itu cemburu mendengar berita tentang speaker di kamar Stevani.
“Ta. Cintanya Abram itu, cuman buat Tata seorang. Apapun yang terjadi” kata Budi mencoba menenangkan Adel.
“Ya. Itu saat sama Tata. Nggak tahu deh entar, kalo beneran dia dinyatain nggak bersalah. Pasti Abram bakal ngerasa bersalah sama dia” jawab Adel. Lirikan matanya masih setajam tadi. Budi tersenyum.
“Mengakui kesalahan adalah sikap yang harus dimiliki seorang ksatria. Dan seorang ksatria juga harus teguh dalam memegang janjinya. Seberapapun kuatnya godaan yang datang” kata Budi. kalimat yang indah itu sukses membuat Adel melirik lagi. Walau masih dengan tatapan tajam.
“Bakal selalu ada wanita semacam dia yang datang buat menggoda. Tapi Abram janji, Abram akan selalu menjaga hati Abram, cuman buat Tata seorang” lanjut Budi.
“Gombal” sahut Adel sambil melengos. Ada senyum tipis yang berusaha dia sembunyikan.
“Ya, memang. Jujur sama gombal emang beda tipis” komentar Budi. Adel tersenyum lagi.
“Pak Fajar pasti juga ngegombal sama ibu. Nggak mungkin nyatain keseriusan pake palu sama tatah. Yang ada pak Fajarnya dipangur sama ibu” lanjut Budi.
__ADS_1
“Ha ha ha ha”
Budi tertawa sambil menghindar, saat tiba-tiba Adel memutar tubuh dan bersiap mencubit pinggangnya. Walau akhirnya beberapa cubitan sukses juga mendarat di pinggangnya. Sengaja Budi mengalah, agar Adel bisa melampiaskan kecemburuannya.