Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
hanya sang ibu yang selalu membela


__ADS_3

Cukup lama Budi menangis sambil mencium telapak tangan ibunya. Dengan sabar bu Ratih mengelus-elus kepala putra sulungnya itu. Di balik pintu kaca sekat, Sandi hanya bisa menduga-duga apa yang sedang Budi bicarakan bersama ibunya. Untuk sesaat, timbul rasa iri dalam hati Sandi. Dia merasa, betapa beruntungnya Budi, masih mempunyai seorang ibu. Sangat penyayang, lagi.


“Bu, tadi kaya ada suaranya Sandi?” tanya Budi, setelah reda tangisnya.


“Oh, itu” jawab bu Ratih. Dia menggeser posisinya, dan menunjukkan keberadaan Sandi di balik pintu kaca itu.


“Mau bicara sama Sandi?’ tanya bu Ratih.


“Boleh kan, bu?” jawab Budi dengan pertanyaan.


“Ya udah, ibu panggilin, ya? ibu ke depan dulu” jawab bu Ratih.


Bu Ratih pergi ke balik sekat itu. Dia bercakap-cakap sejenak dengan Sandi, lalu pergi keluar dari ruang unit gawat darurat. Sebaliknya, Sandi masuk menemui Budi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Hanya tatapan matanya saja yang beradu dengan tatapan mata Budi.


“Gitu amat lo ngeliatin gua, kenapa?” tanya Budi membuka sura. Sandi tergelak.


“Gua bingung mau ngomong apa. Lo kan nggak suka dikasihani” jawab Sandi.


“Ndi, lo udah denger kan, apa yang terjadi sama gua?” tanya Budi. Sandi diam beberapa saat, tak segera menjawab.


“Tuduhan Adel? Ya, udah” jawab Sandi kemudian.


“Pendapat lo?” tanya Budi langsung pada inti. Sandi terdiam lagi. Cukup berat buat dia mengatakan apa yang ada di hatinya.


“Huuffft” dia menghela nafas berat.


“Udah gua duga” komentar Budi.


“Sorry, Bud. Dua tahun nggak ketemu, lebih dari satu setengah tahun nggak kontek, bikin gua nggak update tentang lo” jawab Sandi.


“Haih, lo mikir gua udah bisa klandestein, ya?” tanya Budi. Sandi terkesiap.


“Buat apa gua susah-susah ngurusin adek lo, kalo tujuan gua sebenernya, pak Fajar. Mending gua manfaatin, lah” lanjut Budi.


“Namanya juga klandestein. Kalo gampang ketebak, itu belum klandestein” jawab Sandi.


Gantian Budi yang terkesiap. Dalam hati dia membenarkan apa yang dibilang Sandi. Dia hanya bisa menghela nafas berat, menyadari dia telah terjebak dalam operasi kilat Stevani. Cepat, senyap, mematikan.


“Sory, Bud. Gua cuman nimpalin pernyataan lo” kata Sandi, melihat wajah pasrah sahabatnya.


“Ambilin pisau, Ndi!” pinta Budi.


“Mau apa?”


“Gua cuman punya darah. Gua nggak punya saksi, gua nggak punya bukti”


“Jangan gila, lo! Lo abis tranfusi”


“Cuman lo sahabat gua, Ndi. Cuman lo yang selalu percaya sama gua. Kalo lo udah nggak percaya sama gua, gua punya siapa?”


“Siapa yang bilang gua nggak percaya sama lo, Bud?”


“Come on, Ndi. Kita kenal bukan cuman sehari-dua hari. Gua hafal nada bicara lo. Ambilin pisaunya!”


“Bud!” tegur Sandi.


“Ambilin!” pinta Budi lagi. Suaranya semakin lirih. Tapi nada bicaranya tegas, setengah marah.


Sandi menuruti permintaan Budi. Dia ambil pisau di meja di balik pintu sekat ruang unit gawat darurat. Dan dia bawa kembali ke Budi bersama sebuah piring. Budi menerima pisau itu. Dia genggam sisi tajamnya dengan telapak tangan kanannya.


“BUDIII”

__ADS_1


*CREEESSS*


Bu ratih yang baru saja masuk kembali ke ruang UGD, terkejut melihat putra sulungnya menggenggam sebuah pisau. Dia berteriak untuk mencegahnya, tapi sayang, dia kalah cepat.


“Bocah biadap”


*BRUKK*



*PRAANG*


Bu Ratih mendorong tubuh Sandi sampai terhuyung-huyung ke belakang. Piring yang dipegang Sandi sampai terjatuh ke lantai, pecah berkeping-keping.


“Tega kamu, ya? Bilangnya sodara, sodara macam apa itu?” teriak bu Ratih lagi.


“Bu, bukan Sandi yang minta. Budi yang minta” kata Budi berusaha menengahi.


“Kalo kamu nggak percaya sama Budi, ngapain kamu di sini? Pergi sana!” hardik bu Ratih.


Tangannya sigap hendak melepas bajunya untuk membekap telapak tangan Budi.


“Punya saya aja, bu” sahut Sandi sambil melepas kaosnya.


“Nggak perlu. Pergi kamu!” hardik bu Ratih lagi.


“Bu. jangan kasar sama Sandi. Ini maunya Budi, bu. Budi yang pengen nunjukin keseriusan ucapan Budi. Sandi nggak salah, Bu” kata Budi, dengan suara lemas. Bu Ratih merebut kaos Sandi dengan kasarnya.


“Kamu nggak perlu ngorbanin darah kamu sendiri, ngger! Seribu orang kaya dia nggak percaya sama kamu, kamu masih punya ibu. Ibu bakal bela kamu sampe mati, ngger.” kata bu Ratih.


Tangannya cekatan membalut luka sayat di tangan Budi dengan kaos Sandi.


Sosok ibunya dulu juga seperti bu Ratih. Sosok yang tegas, keras, tapi juga sangat sayang padanya. Satu-satunya orang yang masih tetap sayang padanya sekalipun nakalnya sudah kelewat batas.


Sandi hanya bisa bersimpuh memohon ampun kepada bu Ratih. Dengan bantuan Budi juga, akhirnya bu Ratih luluh juga. Dia mau memaafkan Sandi. Sekaligus dia juga meminta maaf atas kesalah pahamannya tadi. Sandi justru merasa senang mendapat marah yang selama ini dia rindukan.


***


Pagi ini sandi pergi ke rumah Adel. Dia ingin memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi antara Adel dengan sahabatnya, Budi. Dia datang sendiri, tanpa ditemani seorang anak buahpun. Bahkan Sephiapun tidak tampak mendampinginya.


Sesampainya di halaman rumah Adel, Sandi sangat terkejut melihat mesin-mesin penggarap kayu teronggok di dekat tempat sampah. Hatinya seketika marah, karena mesin-mesin itu adalah pemberian Budi. Tanpa memperjelas duduk masalah yang ada, dengan seenak jidat pak Fajar menghancurkan mesin-mesin itu.


“Ngapain kamu ke sini? Kurang puas itu temen kamu, ngancurin kami?”


Sebuah hardikan menyentakkan lamunannya. Dengan sigap dan tenang Sandi turun dari motornya. Dengan perasaan marah dia berjalan mendekati pak Fajar.


“Apa liat-liat?” bentak pak Fajar lagi, saat Sandi mendekatinya.


“Pak, jangan asal nyentak! Itu mas Sandi”


Adel muncul dari dalam rumah, menegur bapaknya yang kumat kasarnya.


“Biarin aja! Kamu pikir bapak takut sama dia? Enggak” jawab pak Fajar, masih dengan berteriak.


“Saya kesini mau membicarakan kejadian yang menimpa Budi, sahabat saya. Kenapa?” tanya Sandi masih kalem.


“Kamu masih nanya, kenapa? Maling emang nggak akan pernah ngaku maling” ejek pak Fajar.


“Dari mana anda tahu kalo Budi itu maling?” tanya Sandi pelan tapi dengan tatapan mengintimidasi.


“Dari Adel, lah” jawab pak Fajar masih percaya diri.

__ADS_1


“Dari mana kamu tahu kalo Budi dalang dari semua ini?” tanya Sandi kepada Adel.


“Dari WA nya Vani” jawab Adel.


“Dari mana kamu tahu itu Vani?”


“Kan jelas dari namanya juga. Goblok banget sih kamu?” potong pak Fajar.


“Vani kan ditahan. Hapenya jua dipegang penyidik. Mana bisa dia pegang hape?” tanya Sandi menjurus.


“Kalo penahanan Vani itu ternyata cuman sandiwara, apa yang nggak bisa?”


“Dari mana kamu tahu kalo penahanan Vani cuman sandiwara?”


“Ya nyatanya, setiap kejadian yang nimpa aku dan keluarga aku, selalu terhubung sama Vani. Dan pelakunya udah ditangkep. Terlalu gampang, gitu. Kaya supir truk, biar nggak kena tilang, beli aja surat tilang. Lolos deh sampe mana juga” jawab Adel berapi-api.


“Pikiran lo picik, ternyata. Itu asumsi, bukan bukti” komentar Sandi.


“Maksud kamu apa?” sentak pak Fajar sambil mendorong tubuh Sandi. Tapi Sandi hanya mundur selangkah saja.


“Sama kaya dulu, waktu lo nuduh gua yang nganiaya sepupu lo. Lo percaya gitu aja sama tulisan yang nggak jelas dari mana asalnya” kata Sandi.


Adel terkesiap. Perasaannya bercampur antara marah karena teringat tragedi itu, dan tanda tanya.


“Eh, udah, udah, udah! Mending kamu pulang aja deh! Bilang sama sahabat kamu itu, penjara udah nunggu dia. Bentar lagi, pasti dia akan ngandang bareng gendakannya itu” kata pak Fajar mengusir Sandi.


“Jaman makin canggih, Del. Lo nggak bisa pake pemikiran jaman prasejarah gitu”


“Mas, kamu nggak nyadar apa sama keberadaan Zulfikar? Apa kamu pikir keberadaan dia nggak ada andilnya?” tanya Adel.


“Zulfikar udah kenal Putri sejak lo masih sama gua, Del”


“Ya kan bisa aja. Kan ceritanya Budi dendam sama bapak. Dia nggak terima bapaknya dimaki-maki sama bapak Adel”


“Kapan kejadiannya, Adel?” tanya Sandi. Adel terkesiap.


“Jaman sama lo, gua tiap hari sowan sama bu Ratih di pasar. Tiap hari gua ketemu Putri. Dia cerita banyak hal sama gua. Tapi nggak pernah sekalipun dia cerita tentang bapaknya dimaki-maki sama orang dari desa lain. Kalo sama budenya, sering. Hampir tiap hari Putri cerita tentang kelakuan bu Kusno. Hayo, bilang! Kapan?” lanjut Sandi. Adel masih terdiam, belum bisa menjawab.


“Pak Rouf almarhum, nggak pernah bikin masalah sama orang. Sekampung hormat semua sama beliau. Bupati aja lho, segen sama pak Rouf. Terus kalopun ketemu pak Fajar, masalahnya apa kok sampe pak Fajar maki-maki pak Rouf? Emang pak Fajar ingat pernah maki-maki pegawai kecamatan?” lanjut Sandi lagi. Pak Fajar juga sama terdiamnya.


“Bisa aja di jalan. Senggolan barang kali” sahut Adel.


“Ya udah. Sebut satu kejadian, dan butikan! Kapan pak Fajar ketemu pak Rouf dan maki-maki almarhum?” pinta Sandi. Adel terdiam.


“Terus terang, saya nggak terima sama perlakuan anda sama Budi. Kalo sampe kebukti semua ini fitnah, saya akan tuntut anda atas penganiayaan yang Budi terima” ancam Sandi.


“Kamu ngancam aku?” bentak pak Fajar masih sok berkuasa.


“Sama itu” kata Sandi tanpa menghiraukan bentakan pak Fajar.


“Itu semua tabungan Budi. Anda nggak benerin mesin-mesin itu lagi, anda berhadapan sama saya” lanjut Budi.


“Lo pikir gua takut? Bocah ingusan aja, sok” teriak pak Fajar.


Sandi tersenyum sinis. Dia beranjak meninggalkan Adel dan pak Fajar. Kembali menuju motornya. Dia kembali mendekat saat hendak melajukan motornya keluar halaman.


“Del, jangan paksa gua jadi nggak sopan sama orang tua lo! Think smart!” kata Sandi.


“Oh, ya. Satu lagi. Motor Budi ada dalam pengawasanku. Entar aku ambil. Jangan dirusak!” lanjut Sandi.


Tanpa menunggu jawaban, dia lajukan motornya keluar dari halaman rumah Adel. Meninggalkan Adel yang mulai bimbang. Tapi berbeda dengan pak Fajar, dia masih merasa marah dan sok terluka harga dirinya. Padahal di otaknya dia ingat betul, bagaimana Sandi bekerja menangkap pembakar bengkel kayunya.

__ADS_1


__ADS_2