
Di kamar tamu, Adel tertawa mengingat penampilan ibunya. Madina mengingatkannya, kalau ibu mereka bisa begitu, karena reflek. Naluri seorang ibu, yang sayang sekali terhadap dirinya. Tapi Adel masih juga tertawa, membayangkan apa yang sedari tadi ibu mereka lakukan bersama bapak mereka.
“Embak pengen, ya?” goda Madina. Tapi Adel tidak menjawab.
“Makanya, minta mas Budi buat segera ngelamar embak! Biar bisa kaya ibu” lanjut Madina sambil tertawa.
Mendengar nama budi di sebut Madina, mendadak Adel merasa ada yang janggal. Tapi bukan mengenai hubungan mereka. Adel merasa yang janggal itu adalah sesuatu yang lain. Tapi dia belum tahu, apa yang janggal.
“Kenapa sih, mbak? Abis ketawa-ketiwi, langsung tegang gitu?” tanya Madina. Tapi Adel tidak menjawab. Bola matanya bergerak-gerak, ke kiri dan ke kanan.
“Mbak, jangan bikin takut, dong? Ada apa sih?” tanya Madina lagi.
*KLUNG*
Ponnsel Adel berbunyi. Menandakan ada sebuah pesan singkat masuk. Langsung dia raih ponsel itu. Ternyata bukan hanya satu, sudah ada beberapa pesan yang masuk semenjak tadi.
Pesan terakhir, berasal dari temannya, dari hulu sungai grindulu. Sebuah video yang menggambarkan kalau sungai grindulu, sudah mulai meninggi debit airnya. Temannya itu memberi pesan agar hati-hati. Dan kalau sedang berada di bilangan kota, dia diminta untuk pulang terlebih dahulu.
Ada pesan satu lagi, dari temannya yang berada di hulu sungai satunya. Sebuah video yang menceritakan, kalau debit air di bendungan, sudah sanga tinggi. Dan dalam waktu sepulu menit lagi, pintu bendungan akan dibuka penuh, untuk mengurangi debit air yang tersimpan di bendungan. Dan ini sudah lebih dari sepuluh menit.
Adel memastikan lagi kabar itu. dan temannya mengkonfirmasi, kalau pintu bendungan sudah dibuka. Adel berpikir, kalaupun kedua kali itu debit airnya sama-sama tinggi, tidak ada masalah baginya. Kalaupun sampai meluber, dia juga tidak terkena dampaknya. Karena dia sudah berada di rumah.
“Abram?” gumam Adel.
Tapi tidak dengan budi. Dia berada di belakang pertemuan dari dua sungai tersebut. Kalau salah satu sungat debit airnya tinggi, yang lain akan tertahan. Terkadang sampai meluber. Apalagi kalau kedua-duanya sama-sama tinggi, itu akan menjadi bencana.
“Ya Alloh”seru Adel.
“Kenapa, mbak?” tanya Madina. Tapi Adel tidak menjawab.
Adel langsung mencari nomer Budi, dan langsung meneleponnya. Dia merasakan, kalau inilah jawaban dari kegelisahannya sedari siang tadi. Cukup lama, panggilannya tidak segera mendapat jawaban. Sambil berjalan ke sana-ke mari, Adel menelepon Budi lagi.
“Halo, Bram. Lagi dimana?” sapa Adel tanpa salam.
“Lagi di rumah lah, Ta. Di mana lagi?’ jawab Budi sambil tergelak.
“Bram, Abram buruan berkemas deh! Itu kali dua-duanya lagi pada banjir. Tata takut ngeluber” pinta Adel.
“Lah, udah dari kemarin-kemarin itu, sih. Alhamdulillah, nggak ngeluber” jawab Budi kalem.
“Bram, please! Perasaan Tata nggak enak, Bram. Tata punya firasat buruk”
“Aduh, senengnya diperhatiin calon istri. Jadi pengen cepet-cepet ngelamar, deh”
“Bram, please! Tata nggak lagi bercanda. Kan Tata udah bilang, tadi. Dari siang tata ngerasa gelisah, tapi nggak tahu kenapa. Pas dapet kabar dari temen Tata, kalo kali-kali itu banjir, Tata kaya nemu satu kesimpulan. Kayaknya ini, yang bikin Tata gelisah dari siang tadi, Bram”
“Eem”
Budi terdengar seperti orang yang sedang mempertimbangkan sesuatu. Menurut Budi, kalau mengingat kebiasaan yang sudah sering terjadi, seringnya, memang hanya seperti air lewat. Kalaupun meluber, itu hanya sampai dua atau tiga anak tangga saja. Banjir besar, hanya terjadi setiap sekian puluh tahun sekali. Seperti terjadwal.
Tapi, perasaan seorang wanita, terkadang memang lebih tajam. Budi berpikir, tak ada salahnya untuk bersiap-siap. Barangkali benar-benar terjadi. Sekalian menenangkan hati wanita yang sangat dicintainya itu.
“Iya, deh. Abram siap-siap”jawab Budi, akhirnya.
“Ibu sama Putri juga, ya! terjadi apa nggak terjadi, yang penting siap-siap dulu” pinta Adel.
“Iya, Ta. Makasih ya, udah ngingetin”
“Iya, sama-sama. Buruan ya!”
“Iya. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Madina tidak bertanya, meski dia ingin. Baginya, intinya sudah jelas. Seloah tak ada keraguan di hatinya, tentang firasat kakaknya, dia langsung keluar dari kamar tamu, dan menuju dapur.
Jika firasat kakaknya benar-benar terjadi, maka makanan siap makan, sangatlah diperlukan. Dia mengeluarkan bahan makanan dari tempat penyimpanannya.
Ada bubur instan, mie instan, roti, susu, termos air panas. Semuanya dia masukkan ke dalam plastik kresek berukuran sedang, kecuali termos air panasnya.
Melihat adiknya mempersiapkan logistik, Adel merasa tidak boleh ketinggalan. Dia langsung berjalan ke arah tangga, lalu naik menuju kamarnya. Melihat kakaknya pergi ke kamarnya, Madina juga ikut naik. Karena dia bisa menebak, apa yang akan dilakukan kakaknya. Dia juga merasa, ingin mempersiapkan bantuan lainnya.
Adel menyiapkan selimut kesayangannya. Tak peduli, siapa yang akan memakai selimut itu, jika firasatnya benar-benar terjadi. Ada dua buah selimut dia masukkan ke dalam tas ranselnya.
Lampu darurat, senter, penyimpan daya, adalah perlengkapan pribadi, yang juga dia persiapkan. Ada juga matras sebagai alas istirahat, jika diperlukan. Kompor kecil dan sebuah kaleng berisi gas bakar, ikut dia masukkan.
__ADS_1
Saat sedang sibuk menata barang-barang tadi, Madina datang membawa beberapa stel pakaiannya. Pakaian yang sebenarnya ukurannya tak jauh berbeda dengan miliknya. Dalam hati Adel ingin bertanya.
Tapi melihat pembalut wanita yang juga dia bawakan, sepertinya Adel bisa menebak, untuk siapa pakaian itu Madina tujukan. Ya, semuanya hanya cadangan. Barangkali dibutuhkan. Kalaupun terjadi, pasti Putri juga sudah membawa perbekalan pakaian sendiri. Berdua, proses pengepakan bantuan itu jadi lebih cepat. Tak lupa, mereka melapisi tas ransel itu dengan plastik kresek besar.
“Mbak, kalo emang beneran kejadian, apa mbak Adel akan beneran ke sana?” tanya Madina, saat mereka berdua sudah rebahan di kasur.
“Iya lah, dek. Masa enggak?”
“Terus ibu, bapak, gimana?” tanya Madina lagi.
Adel menoleh dan memandang lekat mata adiknya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Rupanya Madina cukup mengerti suasana hati kakaknya. Dia tidak bertanya lebih jauh, saat kakaknya mengalihkan pandangannya.
Adel kini menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang, memikirkan sikap yang akan dia ambil, jika dia mau ke tempat Budi. Apakah dia akan mengambil jalan frontal, atau sembunyi-sembunyi.
Kalau kedua cara itu tidak bisa dia lakukan, lalu apa yang bisa dia lakukan untuk mengantarkan bantuan itu? Berbagai pilihan yang dia kembangkan itu, tanpa dia sadari, malah membuat matanya berat. Pandangannya perlahan kabur, kabur, kabur, dan gelap.
***
Seusai menerima panggilan dari Adel, Budi langsung kembali ke kamarnya. Tanpa menutup pintu, dia langsung mengambil tas ranselnya. Dia ambil dua stel pakaian, kotak obat-obatan, matras yang dulu suka dia pakai untuk naik gunung juga dia keluarkan. Juga beberapa perlengkapan yang dia pikir akan diperlukan, jika dia harus mengungsi.
“Kamu mau kemana, ngger?”
Budi terkejut mendapat teguran itu. Saking fokusnya memasukkan barang-barang tadi ke dalam tas, sampai tidak mendengar ada langkah kaki memasuki kamarnya.
“Oh, enggak. Nggak kemana-mana kok, bu” jawab Budi.
“Kok itu ngemas-ngemas barang?” tanya bu Ratih lagi. Dia tampak hawatir.
“Oh. Ini bu, barusan Adel telepon. Dia minta Budi buat siap-siap. Dia bilang, kedua kali di deket kita ini, banjir semua. Dia takut kalo ngeluber” jawab Budi.
“Astaghfirulloh” respon bu Ratih. Beliau tampak semakin hawatir.
“Kenapa, bu?” tanya Budi.
“Mbak Adel tahu dari mana, ngger?”
“Aduh, Budi lupa nanya, bu. Paling juga dari penggemarnya”
Bu Ratih tidak segera merespon. Beliau tampak berpikir. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang kebenaran dari apa yang disampaikan Adel.
“Ibu juga mau siap-siap” lanjut bu Ratih, sambil berbalik arah.
“Putri mana? Kasih tahu dia, Ngger!” perintah bu Ratih sambil keluar kamar Budi.
Putri keluar dari kamarnya saat bu Ratih sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia bertanya kepada Budi, apa yang sedang terjadi.
Budi menceritakan apa yang dikatakan Adel, dan perintah ibunya. Putri langsung kembali ke kamarnya, dan ikut mempersiapkan perlengkapan pribadinya. Tak sampai satu jam kemudian, ketiganya sudah selesai mempersiapkan perlengkapan untuk mengungsi.
Budi menghubungi seseorang. Seorang pemilik toko yang tokonya berada di sebelah pasar. Dia menyampaikan maksudnya. Kalau benar-benar terjadi banjir, dia minta ijin untuk mengungsi di emperan tokonya.
Dan gayungpun bersambut. Pemilik toko itu mempersilakan Budi untuk menggunakan teras tokonya untuk mengungsi.
Putri tak mau tinggal diam. Dia memeriksa setiap media sosial yang dia punya. Berbagai informasi dia gali dan teliti. Setiap teman yang lokasinya di daerah hulu sungai, dia hubungi. Tak lupa dia juga menghubungi Madina, sahabatnya.
Madina menceritakan asal dari berita yang disampaikan kakaknya. Dia juga membagi video yang didapatkan kakaknya. Seolah menjadi penguat berita dari Madina, setiap teman yang dia kirimi pesan singkat, menjawab dengan berita senada.
Beberapa video yang mereka kirimkan juga memperlihatkan bagaimana debit air di kedua sungai itu sangat tinggi. Beberapa lainnya, justru terang-terangan memperingatkan kepada semua warga di pinggiran sungai untuk waspada.
“Put, siapin juga terpalnya ibu! Kalo ujannya nggak berenti, kita perlu itu. Dua-duanya ya!” pinta Budi.
“Kenapa Kita nggak ngungsi di rumah pak RW aja, mas?” tanya Putri. Budi tersenyum.
“Lingkungan kita ini, lebih rendah dari lingkungan di utara maupun di barat. Sekali air sudah sedada, akan sulit buat kita keluar tanpa alat bantu. Apalagi kalo dari depan, air dari sungai sana, ikutan luber. Arusnya pasti ke sini. Dan nggak tanggung-tanggung, orang dewasa juga, belum tentu bisa keluar dari sini. Bisanya, nunggu arusnya redaan. Sedangkan kapan datengnya dan kapan redanya, kita belum bisa memprediksi”
“Kenapa nggak numpang di rumah salah satu warga sana? Kasihan ibu, kalo harus kedinginan di teras toko” tanya Putri lagi. Budi tampak berpikir sejenak.
“Tanya ibu gih, maunya ngungsi di rumah siapa! Nanti mas Budi yang mintain ijin” pinta Budi.
“Udah, nggak usah”
Mereka berdua menengok ke belakang, saat mendengar suara ibunya menyahut.
“Kalo emang harus ngungsi, ibu lebih suka ngugsi di teras toko. Ibu nggak pengen timbul fitnah” lanjut bu Ratih.
“Fitnah?” tanya Putri bingung.
__ADS_1
“Ibu masih cantik, Putri” jawab Budi.
“Ya terus? Bakal tergoda, gitu? Kan anak-anaknya juga udah segede gini, mas Bud” tanya Putri, belum mengerti.
“Jangankan cuman itu, Put. Orang masih ada Bapak aja, sampe geger rumah tangga orang”
“Ha?”
“Eh tapi, dulu ibu emang lagi cantik-cantiknya sih, ya? Wajar aja kalo pak RT sampe nggak ngedip. Sekalipun ada bapak di sebelah ibu” lanjut Budi. Bu Ratih tersenyum tersipu, mendengar pujian dari putranya.
“Kapan sih? Kok Putri nggak tahu?”
“Ye, kamu sih, masih di dalem perut ibu, Put”
“Oh, ya?”
“Iya. Pas banjir sebelumnya. Nggak lama kemudian, kamu lahir”
“Oh. Pantes mas Budi tahu banget. Pernah ngalamin to?”
“Itu dia, Put. Wah, geger bener waktu itu. Mana bude Kusno pake ngompor-ngomporin, lagi. Wah, kalo aja mas Budi udah bisa berantem, mas Budi tabok itu mulut”
“Kan udah” sahut bu Ratih.
“Itunya. Ha ha ha ha”
“Dih, mas Budi porno”
“Mana aku ngerti? Orang cuman ngasal. Ha ha ha”
“Ibu trauma, ya?” tanya Putri lirih, kepada ibunya.
“Iya, Put. Nggak ada tempat yang lebih bikin ibu ngerasa aman dan nyaman, selain rumah kita sendiri. Kalopun nanti kita harus ngungsi, jangan di rumah orang! Kalo cuman dicela karena ibu miskin, nggak berpendidikan, ibu bisa terima. Tapi kalo udah menyangkut rumah tangga orang, ibu nggak kuat, nduk” jawab bu Ratih.
“Kalo itu sampe terjadi lagi sih, mata cowoknya aja yang jelalatan. Apa bedanya sama yang di rumah? Seumuran, juga” komentar Putri.
“Namanya juga hati, Put. Siapa yang bisa nebak” jawab bu Ratih.
“Dengerin tuh, mas! Jangan jelalatan! Kalo udah sama mbak Adel, nggak usah lirik sana lirik sini! Kasihan kalo orang lain jadi tersangka” kata Putri dengan nada kesal.
“Kok jadi mas Budi yang disalahin?”
“Kesel, Putri”
“Hempf. Ha ha ha ha”
Bu ratih tertawa mendengar anak bungsunya kesal. Dia memeluk Putri lalu menciuminya. Sejenak, ingatannya melayang kepada almarhum suaminya. Hampir dalam setiap hal, suaminya selalu sigap. Termasuk dalam hal bencana alam.
Malam itu, dia juga sudah berkemas, sebelum orang lain sadar. Bahkan dia sendiri juga bertanya-tanya, darimana suaminya bisa memastikan kalau banjir itu akan datang. Suaminya hanya bilang, kalau ada yang memberitahunya.
Bedanya, kalau Budi dikasih peringatan oleh Adel, tapi suaminya, tidak jelas siapa yang memperingatkannya. Tapi yang jelas, bencana itu benar-benar terjadi.
Menjelang pukul dua belas malam, terdengar suara kentongan dipukul seseorang. Ritmenya yang rapat dan terus menerus, membuat Budi waspada. Dia langsung keluar dari rumah, hendak bertanya kepada yang memukul kentongan itu. Tapi belum juga sampai ke pos ronda, dia melihat jalan di depan pos ronda berubah menjadi kecoklatan. Dan warna coklat itu bergerak dengan cepatnya. Dia kembali ke dalam rumah.
“Ada apa ngger?” tanya bu Ratih.
“Banjir, bu”
“Terus kita gimana, mas?” tanya Putri.
“Kita bawa motor kita ke depan, dek. Sama perbekalan tadi. Aku bawa perbekalannya, kamu bawa ibu, ya!” jawab Budi.
“Harus langsung ke depan toko sana, mas?”
“Maksud kamu?”
“Aduh, jam segini, si Adi pasti masih nongkrong deh. Mana temen-temennya nggak jelas dari mana. Pasti pada jahil deh”
“Emm”
Budi tampak berpikir. Dia menganggap apa yang dikatakan adiknya itu adalah sesuatu yang patut untuk dipertimbangkan.
“Kalo gitu, kita ke balai desa aja, gimana?” tanya Budi.
“Ide bagus. Tapi kita di teras gedung serba gunanya aja, mas, jangan di pendopo! Terlalu mencolok”
__ADS_1
“Deal” jawab Budi.