
Stevani terlihat mondar-mandir di lorong UGD rumah sakit daerah. Dia tengah gelisah, dan bolak-balik menelepon. Tapi tampaknya yang ditelepon tidak kunjung menerima telepon itu
.
“Dih, malah dimatiin hapenya. Bocah geblek” rutuknya.
Dia tampak berpikir dalam. Sampai tidak menyadari ada seorang perawat melintas di depannya. Pikirannya melayang merangkai kepingan puzzle yang berserakan.
“Dibilang nurut kata gua! Awas aja kalo gua tahu ini semua perbuatan lo”
Dia masih terus mencoba menghubungi nomor yang berbeda berulang kali. Tapi masih juga tidak mendapat jawaban. Beberapa saat kemudian, ponselnya sendiri malah berdering.
“Ish, udah dibilangin juga”
“Halo mbak Farah”
“Van, kamu dimana sih? belum nyampe juga? Ngebut dikit, knapa? Isma udah ngamuk-ngamuk nih” cerocos Farah dari seberang telepon.
“Vani lagi di UGD mbak”
“Ha? Lo kecelakaan? Lok bisa nerima telepon gue? Lo nggak papa kan?”
“Bukan Vani, mbak”
“Siapa? Lo nabrak orang?”
“Bukan juga”
“Terus? Siapa yang sakit?”
“Budi, mbak”
“Ha? Budi kenapa, kok sampe ke UGD segala?”
“Aduh, entar aja deh mbak, ceritanya. Vani lagi panik nih. Keluarganya Budi belum dateng. Mana Vani juga nggak ngerti, gimana ceritanya si Budi bisa jatuh dari motor”
“Astaghfirulloh. Dia kecelakaan? lo ketemu dimana?”
“Mbak, entar aja ya, ceritanya. Kalo mbak Isma nggak sabaran, mending ajakin dia kesini deh! Tolong bawain sekalian memori OTG Vani!”
“Iya udah, entar aja. Nggak etis juga kalo keliatan sama keluarganya Budi. Baik-baik di sana ya! telepon gua kalo butuh bantuan!” pesan Farah.
“Ya, mbak”
Baru saja selesai menerima telepon, dokter yang merawat Budi keluar dari ruang UGD.
“Dokter, gimana kondisi teman saya, dok?” tanya Stevani serta merta. Dokter itu tersenyum.
“Alhamdulillah, pasien tidak apa-apa. Hanya luka-luka biasa” jawab dokter itu.
“Apa dia sudah sadar?”
“Belum. Efek benturan di kepalanya, membuat dia pingsan. Tapi tidak apa-apa. Tinggal nunggu siuman”
“Oh, terimakasih, dok”
“Bisa ikut kami, mbak? Ada administrasi yang harus diselesaikan” tanya suster yang membantu dokter tersebut.
“Oh, baik”jawab Stevani.
Stevanipun berjalan mengikuti kemana perawat itu pergi. Meninggalkan Budi sendiri di ruang UGD tanpa ada yang menunggu. Dalam hati dia berharap, keluarga Budi segera datang.
***
“Eesstt, aduuh”
Seseorang tergolek di ranjang rumah sakit. Dia memegangi kepalanya. Dia merasakan sakit di kepalanya. Perlahan dia mulai membuka mata. Cahaya lampu terasa terlalu menyilaukan.
“Mas? Alhamdulillah”
Seorang wanita, yang semula tidur dengan duduk di samping ranjang itu, terbangun, merasakan ada gerakan yang menyentuh tangannya.
Menyadari orang yang ditunggunya siuman, dia lantas berdiri dan menekan tombol panggilan. Beberapa saat kemudian, ada dokter mendatanginya. Bersamanya ada seorang suster.
“Dok, mas Budi sadar” kata wanita itu.
“Baik, saya periksa dulu ya, mbak Putri” jawab dokter itu. Dia langsung memeriksa tanda-tanda vital pada tubuh pasiennya.
“Bagaimana kondisi kakak saya, dok?” tanya Putri.
“Pasien baik-baik saja. Hanya butuh istirahat. Nanti saya bicarakan sama ibu, ya” jawab dokter itu.
“Tapi dok, itu yang di kepala, luka apa ya? beneran nggak papa? Saya kok hawatir, ya?” tanya Putri lagi.
“Sementara ini, pasien tidak mengeluhkan gejala-gejala yang mengarah pada gegar otak. Jadi, sementara ini, kami bisa sampaikan kalau pasien baik-baik saja. mungkin, luka itu bukan sepenuhnya berasal dari benturan keras. Mungkin hanya terserempet aspal. Kan, pasien memakai helm saat kejadian. Semoga kehawatiran mbak Putri tidak terjadi. Kita akan periksa lagi nanti” jawab dokter itu menjelaskan.
“Terimakasih, dok” sahut Putri.
Di luar ruang unit gawat darurat, terdengar dokter itu berbicara kepada bu Ratih. Mungkin penjelasan yang sama dia berikan. Dari ruangan ini, suaranya hanya terdengar sayup-sayup.
“Kamu siapa?” tanya Budi. Putri tergelak ditanya begitu.
“Aku Putri, mas” jawab Putri. Budi mengernyitkan dahinya. Seolah tidak mengenalinya.
“Pangling ya, Putri pake poni?” goda Putri. Dia mainkan poninya.
“Putri? Putri siapa?” tanya Budi lagi. Dia tampak kebingungan.
“Ya Putri. Adikmu. Emang ada berapa Putri, sih? Hayo” jawab Putri dilanjut dengan godaan. Tapi Budi masih saja kebingungan.
__ADS_1
“Emang aku punya adek?”
Putri terkesiap. Dia merasakan ada yang tidak beres dengan diri kakaknya. Bagaimana mungkin seorang Budi tidak mengenalinya.
“Bud, udah siuman. Apa yang kamu rasakan, ngger?” bu Ratih masuk, dan langsung beranya. Budi tidak langsung menjawab. Dia terlihat tambah bingung melihat Bu Ratih datang.
“Ibu, siapa?” tanya Budi.
Bu Ratih terkesiap. Sebuah pertanyaan pendek yang tidak pernah dia sangka akan ditanyakan oleh anaknya sendiri. Dia menatap ke arah Putri. Putri mengangkat bahunya, sebagai isyarat kalau dia juga tidak tahu.
“Bud, ini ibu”
Bu ratih mengenalkan dirinya. Dia masih berharap, kalau itu hanya efek dari kecelakaan yang dia alami. Tapi Budi tak kunjung mengenalinya. Dia malah menggelengkan kepalanya. Seketika, air mata bu Ratih meluncur membasahi pipinya.
“Aku ibumu, Ratih. Ini adikmu, Putri” kata bu Ratih lagi.
“Bu Ratih? Putri?”
Budi masih tetap belum ingat dengan kedua nama itu. Membuat Putri habis kesabaran. Dia menekan lagi tombol panggilan di atas kepala Budi. beberapa saat kemudian, dokter tadi kembali lagi.
“Ada apa, bu?” tanya dokter itu.
“Pak dokter, anak saya kenapa, ya? kok sma ibunya sendiri lupa?” tanya bu Ratih.
“Iya, dok. Sama saya juga tidak ingat” tambah Putri.
“Sebentar” sahut dokter itu.
Dokter itu memeriksa lagi kondisi Budi. Termasuk melakukan wawancara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada Budi. Setelah sekian menit berlalu, dokter itu seperti mendapatkan sebuah kesimpulan.
“Bagaimana, dok?” tanya bu Ratih.
“Maaf bu ratih. Pasien mengalami amnesia ringan” jawab Dokter itu.
“Apa, dok? Amnesia?” potong bu Ratih.
“Betul, bu. Tapi dari gejalanya, amnesia yang diderita pasien, masih bisa disembuhkan. Nanti kita bantu dengan obat”
“Tapi, bakal berapa lama, dok?”
“Bisa cepat, bisa juga lama. Suasana sekitarnya juga bisa mempengaruhi. Kita obati dulu dari segi fisiknya. Kalau luka di kepala pasien sudah sembuh, insyaAlloh, ingatan pasien bisa dipulihkan dalam waktu yang tidak lama”
“Ya Alloh”
“Bu, sabar, bu! Mas Budi pasti sembuh, kok” hibur Putri.
Dokter itupun pamit. Bu Ratih mendekati Budi lagi. Air matanya meluncur lagi. Walau masih lemah, Budi memaksakan untuk mengangkat tangannya, menyeka air mata bu Ratih. Bu ratih langsung menangkap tangan itu, dan menciumnya.
Di luar sana, terdengar beberapa orang berbincang. Membuat Putri tertarik untuk melihat siapa yang datang. Karena tadi belum ada siapapun kecuali ibunya.
Ternyata ada mas Eko dan istrinya. Ada juga lek Puji dan suaminya. Putri menyalami mereka satu per satu. Mereka semua kaget, saat Putri mengatakan kalau Budi mengalami amnesia. Lek puji, yang sangat dekat dengan bu Ratih, sampai tak bisa menahan air matanya.
“Assalamu’alaikum”
“Walaikum salam”
“Mas Budi gimana, dek? Udah sadar” tanya orang itu.
“Udah, mbak vani. Tapi, dia lupa ingatan?” jawab Putri.
“Apa?”
“Maaf, embak ini, siapa ya?” tanya mas Eko.
“Oh, saya Stevani, temennya mas Budi” jawab Stevani.
“Dia yang nganterin Budi, waktu bulek dirawat, dulu” tambah istrinya mas Eko.
“Iya, mas. Mbak Vani ini, yang nganterin mas Budi ke sini” imbuh Putri.
“Oh, gitu? Makasih ya mbak, udah nganterin sepupu aku ke sini” kata mas Eko.
“Iya, mas. Sama-sama” jawab Vani.
“Emang, gimana kejadiannya, mbak?” tanya lek Puji.
“Em, saya tidak tahu kejadian sebenarnya. Tadi saya juga tidak menyangka kalau itu adalah mas Budi”
“Loh, emang ketemu di mana?” potong lek Puji.
“Di jalur lintas selatan, bu. Di ujungnya jembatan grindulu JLS. Yang ngarah ke museum seni SBY”
“Oh, yang nggak ada penerangannya itu, ya? emang mbak Vani dari mana, awalnya?”
“Iya, bu. Yang ada angkringan, setelahnya”
“Oh, di situ?”
“Iya” jawab Vani.
“Tadinya, Vani abis ketemu calon pembeli, di pantai soge. Katanya mau bikin guest house, gitu. Dia nanya-nanya, mebel yang tepat yang model gimana. Karena Vani berangkatnya kesorean, pulangnya juga sudah gelap. Isya’ kayaknya, Vani baru pulang dari soge. Nah, pas di jalan itu, Vani liat ada pantulan kaca di pinggir jalan. Tapi kacanya tuh, di bawah banget. Kalo spion motor kan, harusnya tinggi”
“Iya, sedada, lah” sahut lek Puji.
“Betul. Nah, setelah deket, baru keliatan, kalo emang itu pantulan spion motor. Tapi motornya itu, ngejungkir di pinggir jalan”
“Terus?”
“Sekilas, Vani liat ada yang tergeletak nggak jauh dari motor itu. Kurang lebih lima meteran”
__ADS_1
“Pake helm?” potong mas Eko.
“Emm, pas Vani temuin sih, enggak”
“Astaghfrulloh. Kok ngak pake helm sih, bocah” komentar lek Puji.
“Harusnya pake, lek. Jangan-jangan? Ya Alloh” sahut Putri.
“Jangan mikir yang buruk dulu, dek! Kangmasmu selalu pasang strapnya kalo pake helm” pinta Vani.
“Ya terus?”
“Kalo emang sampe lepas, berarti helm itu udah ngejalanin fungsinya sebagai pelindung. Mungkin kalo nggak pake helm, bakal beda ceritanya” jawab Vani pelan.
“Bener juga, sih”
Bu Ratih keluar dari dalam ruang unit gawat darurat. Stevani langsung menyalami dan mencium tangan bu Ratih.
“Beneran, kamu nggak ngeliat ada orang lain, di sana, mbak?” tanya bu Ratih. Stevani terkesiap.
“Kalau ibu masih belum percaya sama Vani, mari bu, Vani antar ke lokasi. Mungkin Vani kelewat, saking paniknya” tawar Stevani.
“Nggak usah, Van!” sahut mas Eko. Semua mata tertuju padanya.
“Anak buahku udah di sana. Dan emang, nggak ada orang lain. Cuman ada motornya Budi, sama helmnya” lanjut mas Eko.
Suasana menjadi hening sesaat. Bu Ratih memandang ke arah Stevani.
“Maafin Ibu ya, nduk. Ibu cuman hawatir aja. Soalnya, sore tadi, pamitnya mau jemput seseorang. Harusnya sih barengan” kata bu Ratih.
*Emang iya sih, tadi sore juga bilangnya mau jemput pacarnya. Tapi kan di deket klenteng. Harusnya cepet dong. Dan ngapain juga pulang dari arah klenteng, bisa nyasar ke sana*?
“Iya, bu. Vani ngerti kok” jawab Stevani.
“Kamu mau lihat Budi?” tawar bu Ratih.
“Kalo diijinkan” jawab Stevani.
“Silakan!”
Stevani masuk ke dalam ruang unit gawat darurat. Matanya langsung bersambut dengan mata Budi. Tapi tatapan Budi kali ini mengandung beribu pertanyaan. Dia lemparkan senyum padanya. Dan Budipun menyambut senyum itu. walau terlihat agak dipaksakan.
“Hai, Bud. Tumben nyusruk?” sapa Stevani. Budi tergelak mendapat sapaan seperti itu.
“Emang, aku pembalap, gitu? Dan nyusruk dimana?” respon Budi.
“Bukan, sih. Kamu temen kantor aku”
“Aku lagi ngapain sih, tadi?”
“Ya mana aku tahu. Aku cuman nemuin kamu ngegeletak di pinggir jalan. Emang kamu nggak inget?”
“Enggak”
Budi menjawab sambil menggelengkan kepalanya. Stevani tampak terdiam. Cukup lama dia memandangi Budi, tanpa berkomentar apapun.
Di luar ruang unit gawat darurat, tampak bu Ratih sedang memakan sepotong roti pemberian lek Puji. Karena dari sore tadi, memang dia belum makan apapun. Begitu juga dengan Putri. Tapi dia lebih memilih untuk memakan apel, yang sedianya diberikan untuk Budi.
“Nduk, belum ada kabar dari Madina?” tanya bu Ratih.
“Belum, bu. Putri juga bingung. Tumben amat anak itu nggak bisa dihubungi” jawab Putri.
“Kalo temen yang lain? Kali tahu ada kabar apa dari Dina”
“Em, bentar”
Putri mencoba menghubungi teman yang lain. Semalam ini, pasti sudah pada tidur. Tapi Putri tidak menyerah. Dia menghubungi lagi, lagi dan lagi. Tak kunjung mendapat jawaban, dia ganti menelepon teman yang lain. Tapi tidak juga kunjung mendapat respon.
Di dalam ruang unit gawat darurat, Budi menunjukkan lengan dan kakinya yang terluka. Seperti luka parut. Stevani manggut-manggut. Dia sampaikan rasa salutnya, karena Budi tidak mengeluh, walaupun luka-lukanya pasti terasa menyakitkan. Budi tersenyum.
“Kalo boleh jujur, siapa kamu aja, aku nggak inget” celetuk Budi.
“Hem? Cewek secantik dan seseksi ini, kamu lupain?” respon Stevani. Ada senyum merekah di bibir Budi. Dia menggelengkan kepalanya lagi.
“Sungguh terlalu” lanjut Stevani.
“Kalo logat itu aku ingat” komentar Budi sambil tertawa kecil.
“Logat siapa?”
“Bang Haji Roma Irama” jawab Budi, masih sambil tertawa.
“Busyet, aku kalah telak sama bang haji” komentar Stevani. Budi sempat tertawa sejenak.
“Nama kamu Stevani, ya?” tanya Budi.
“Iya” jawab Stevani. Sudah dijawab begitu, tapi Budi masih terlihat mengingat-ingat.
“Udah, nggak usah maksa, kalo emang belum inget! Daripada pusing” saran Stevani. Budi tersenyum.
“Ya udah, kamu istirahat dulu aja! aku mau ke depan lagi” pamit Stevani.
“Iya” jawab Budi.
Stevani beranjak berdiri dari duduknya. Matanya seolah enggan untuk melepas wajah tampan itu dari pengamatannya. Tapi tubuhnya sudah berputar arah.
“Hei” panggil Budi.
Stevani menghentikan langkahnya, lalu berbalik kembali menghadap Budi.
__ADS_1
“Makasih ya, udah bawa aku ke sini” kata Budi. Stevani tersenyum.
“Iya, sama-sama” jawabnya.