
Matahari sudah beranjak menuju ufuk barat. Suasana pasar juga sudah berangsur sepi. Tapi kesibukan masih terlihat di blok ikan laut. Para pedagang masih sibuk mengemasi dagangannya yang belum laku. Tak terkecuali dengan ibunya Budi.
Masih ada beberapa polyfoam yang belum terjual. Budi hanyalah satu – satunya lelaki yang terlihat sejauh ini. Selainnya adalah ibu – ibu. Kalaupun ada yang menjemput mereka, belum ada yang masuk dan membantu. Sehingga ada ibu – ibu yang mengeluh, dan memuji Budi.
“Mbak Ratih, laris kan?”
Sebuah suara menyita perhatian semua yang ada di situ. Seorang laki – laki datang dengan membawa buku. Ada dua orang laki – laki lain yang mengiringinya. Keduanya terlihat seperti buruh ikan.
“Alhamdulillah, pak Gondo. Tapi setengah dulu ya” jawab bu Ratih. Diserahkannya sejumlah uang dalam ikatan karet gelang.
“Setengah gimana? Orang tadi kamu mbungkus banyak, kok cuman setengah. Full dong”
“Ikannya belum habis pak, itu masih setengah lagi”
“Nggak mau tahu, aku butuh duitnya. Punya keponakanmu aja tu, ditunda dulu”
“Jangan dong pak. Kan udah dibagi sendiri – sendiri”
“Kamu tuh ya, jangan mentang – mentang janda terus aku disuruh ngasihanin kamu mulu”
“SRAAANG”
Terdengar suara besi bergesekan keras dengan benda keras lain. Ternyata itu golok untuk memotong ikan besar, yang ditarik Budi.
“Budi, mau ngapain nak?” tanya bu Ratih.
“Jangan mentang – mentang kamu orang kaya, seenaknya bisa menghina ibuku” kata Budi pelan, tapi menggeram.
“Mau apa, ha? Ngajakin ribut? Bisamu apa selain tawuran sama berantem, ha?” sahut si Gondo.
“BAJIN***” Budi berteriak sambil merangsek maju.
“BUDI”
Bu Ratih berteriak menahan tubuh anak sulungnya itu. Sedangkan Gondo mundur agak jauh, dilindungi dua orang pengawalnya.
“JANGAN LARI, BANCI! BISAMU CUMAN NINDAS ORANG KECIL. PUNYA KO**** NGGAK HA?”
“Maju dong, kalian” perintah Gondo pada anak buahnya.
“SRAAANG”
Salah satu dari mereka meraih besi pemecah es, milik teman bu Ratih. Yang satunya lagi mengambil tutup box ikan yang terbuat dari plastik keras, sebagai tameng.
Budi membalik posisi goloknya. Bagian tajamnya dia arahkan ke atas. Budi melemaskan tubuhnya, melepaskan pegangan ibunya, dan berjalan kembali ke polyfoam tempat dia tadi berada.
“Eh, bocah bang***. Kenapa mundur? Udah jadi banci, sekarang?” teriak si Gondo.
“BANG***”
Budi berlari ke arah Gondo. Kedua anak buah Gondo bersiap melindunginya.
“HIAAAAA”
“BUDIIII”
Budi melompat ke udara, seiring teriakan bu Ratih. Dengan sekuat tenaga, dia mengayunkan goloknya. Masih dengan bagian tajamnya mengarah ke atas.
“DAAAANGGGG”
Suara benturan dua benda yang terbuat dari besi itu, terasa memekakkan telinga.
“KRAK”
“DAK”
“AAAH”
Besi pipa yang dipegang anak buah Sugondo, tidak mampu menahan terjangan golok Budi. Pipa besi itu patah menjadi dua. Itu juga belum mampu menghentikan laju ayunan golok itu. Jidatnya masih terjangkau oleh ujung golok itu. Dia berteriak dan terhuyung – huyung ke belakang, dan langsung terjatuh.
“Ampun, ampun, Bud” kata dia sambil berlari sempoyongan, menjauh dari Budi.
Mata merah pekat, gigi gemeretak, tangan mengepal keras, menjadi penanda jelas, kalau Budi masih sangat marah. Dia tidak bicara sepatah katapun, hanya terus berjalan mendekati Sugondo yang terus berjalan mundur.
“HIAAAAAAA”
Budi berteriak lagi, dan membuat gerakan mengejutkan. Sontak Sugondo dan anak buahnya juga berteriak ketakutan. Mereka terjatuh berguling – guling di tangga blok ikan laut. Dengan jungkir balik, mereka lari terbirit – birit menghindari amukan Budi.
“Budi, udah!” perintah ibunya.
“KALO LO SOPAN, GUA TAMBAH SEGAN, PAK. TAPI SEKALI LAGI LO HINA IBU GUA, KEPALA LO GUA PECAHIN” teriak Budi lagi.
Mereka berdua keluar dari pasar. Keributan itu ternyata memancing rasa penasaran pedagang dari blok lain. Tanpa Budi sadari, ternyata mereka telah berkumpul di sekitar blok ikan laut untuk menonton. Sebagian dari mereka menyoraki gondo yang kabur keluar dari pasar.
"Ngger, udah! Jangan diterusin!"
Dua orang polisi menegur Budi. Walau begitu, Budi sama sekali tidak menyembunyikan amarahnya .
__ADS_1
"Terlalu berbahaya kalo kamu turuti kemarahanmu. Kalo sampe ada korban, kamu bisa berurusan sama hukum. Kasihan ibumu kalo kamu sampe dipenjara" nasehat polisi itu.
Budi tidak menjawab, hanya anggukan dan senyum kecil yang dia berikan. Polisi itu mengerti dan melanjutkan tujuannya ke pasar ini, membeli ikan laut.
Dengan berkostum kaos oblong dan celana kolor, Budi kembali membantu ibunya. Pikirannya masih berkecamuk. Baru juga kemarin dia mendengar rumpian budenya. Sekarang harus mendengar lagi hinaan yang sama. Dalam hati dia berkata, memang ibunya sekarang adalah seorang janda, tapi dia sama sekali tidak pernah meminta belas kasihan siapapun. Apakah tidak bisa memberikan kesempatan barang sehari atau dua hari lagi?
Budi asyik menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Dia tidak peduli, perbuatannya meimbulkan buah bibir di antara pedagang. Untuk beberapa lama, para pedagang dari blok lain masih berkerumun dan membahas kejadian tadi. Tapi setelah dihimbau polisi tadi, mereka berangsur – angsur membubarkan diri.
Bu ratih hanya bisa menghela nafas, dan menangis, melihat anaknya begitu murka mendengar dirinya dimarahi, diolok – olok.
Dalam hati dia bersyukur, dianugerahi anak yang tegas dan berani membela harga diri ibunya. Tapi dia juga hawatir dengan keselamatan anak itu. Takut kalau Sugondo akan membalas perbuatan Budi di luar sana.
"Udah Tih, Budi udah gede. Pasti dia tahu kapan waktunya marah, kapan waktunya harus sabar" kata senior bu Ratih.
"Iya, mbah. Tapi aku takut, "
"Enggak. Nggak bakalan Gondo berani sama Budi. Anakmu masih punya wibawa, sekalipun udah tobat. Pasti mikir sepuluh kali kalo mau nyolek Budi"
"Iya. Makasih ya mbah, jadi legaan rasanya"
simbah-simbah itupun tersenyum. Dia mengusap-usap punggung bu Ratih.
“Ikannya, bu. Penutupan – penutupan” seru salah seorang pedagang.
“Punya ikan layur besar, bu?” terdengar suara yang berbeda, menyahut.
“Mbak Ratih, layurmu masih?” suara pedagang tadi menggema lagi.
“Masih bu, monggo” jawab ibunya Budi.
Budi masih tenggelam dalam angannya. Tangannya masih sibuk menata ikan panjang berwarna metalik, yang ditanyakan pembeli tadi. Dia tidak memperhatikan percakapan itu.
Konsentrasinya terpecah menjadi dua. Di satu sisi dia fokus dengan ikan bergigi tajam itu,di sisi lain, dia dia masih berpikir, bagaimana caranya membalikkan keadaan.
Karena dia mengakui, kalau yang dikatakan polisi tadi benar. Dia tidak mungkin menggunakan kekerasan untuk melawan setiap hinaan. Dia harus memberikan pembuktian, kalau dia dan keluarganya, bukanlah kumpulan orang yang bisanya menyusahkan orang lain.
“Monggo nduk, cah ayu. Monggo dilihat dulu, layurnya” kata bu Ratih memanggil calon pembelinya.
Budi masih termenung sambil menata ikan layur di hadapannya, bahkan ketika pembelinya sudah berdiri di belakangnya.
“Ngger, minggir dulu. Ini embaknya mau beli” tebur ibunya.
“Eh, ada yang beli?” tanya Budi tergagap. Dia lalu bergeser ke kiri.
“Loh, Adel?” seru Budi, saat dia mendongakkan kepalanya ke atas.
“Iya” jawab Budi.
“sendirian?” lanjutnya.
“Iya. Abis dari kampus. Terus ibu minta dibeliin layur” jawab Adel.
“Oh, monggo, silakan” kata Budi mempersilakan.
“Kamu mbok ya minggir dulu to, ngger” tegur ibunya.
“Oh, sempit ya?” sahut Budi sambil tergelak.
Dia berdiri dan berpindah ke deretan ikan yang baru turun dari mobil. Tanpa malu, dia langsung mengemasi ikan tuna yang belum dikemas.
Alih – alih langsung memilih ikannya, Adel malah terpaku dengan Budi yang cuek dengan keberadaanya. Cowok lain, belum pernah ada yang seperti ini.
Rata – rata malu dan jaim. Inginnya terlihat yang baiknya saja. Walaupun kemungkinan untuk mendapatkan hatinya Adel juga kecil. Tapi pamernya itu, luar biasa.
“Kok malah bengong, nduk?” tegur bu Ratih pelan.
“Ah, ee, ma, maaf, bu” jawab Adel tergagap.
“Memangnya embak ini, kenal sama dia?” tanya bu ratih.
“He he, iya bu” jawab Adel, masih dengan perasaan malu.
“Semalam, tidak sengaja kita ketemu di kafe fishbed, tempat saya nyanyi” lanjut Adel.
“Oh, embak ini penyanyi? Eh, dia nggak godain embak, kan?” selidik bu Ratih.
“Oh, enggak bu. Malah, dia menginspirasi saya, untuk membawakan sebuah lagu, yang bisa nyatuin perasaan banyak orang”
“Oh ya?”
“Iya bu” jawab Adel sambil tergelak.
“lagu penyemangat buat mereka yang sedang galau” lanjut Adel.
“Hem, kaya dia banget sih. Memang lagi galau, dia” kata bu Ratih.
“Maaf, mas Budi ini, kerja sama ibu ya?” tanya Adel hati – hati.
__ADS_1
“Iya” jawab bu Ratih.
Adel jadi berpikir aneh. Dia merasa ada yang tidak tersambung di sini. Kira – kira, cerita Budi semalam, benar atau juga hanya rekayasa?
“Lebih tepatnya, berbakti” lanjut bu Ratih. Adel tersentak dari lamunannya.
“Berbakti?” Adel belum menangkap maksud bu Ratih.
“Oh, ibu ini, ibunya mas budi to?” lanjut Adel. Bu ratih mengangguk sambil tersenyum.
“Aduh, maaf bu. Adel nggak tahu” kata Adel. Dia mengulurkan tangannya untuk menyalami Bu Ratih.
Semua mata tertuju pada mereka. Candaan dan godaan juga bertebaran seiring tawa mereka. Seolah bukan baru terjadi peritiwa yang menegangkan.
Budi yang tadinya acuh, jadi penasaran, ada apa apa gerangan. Dia terkesiap saat melihat ibunya sudah bercanda dengan Adel. Artinya sudah terjadi perkenalan di antara keduanya. Selanjutnya, terlihat adel sedang berjongkok, memilih – milih ikan layur yang masih segar itu. Terdengar juga tawar menawar harga di antara keduanya.
“Bud, besok ada acara, nggak?”
Sebuah suara kencang menyita perhatian semua orang. Seorang laki – laki usia tiga puluhan tahun berjalan mendekati Budi.
“Enggak, pak Janto. Ada apa?” jawab Budi.
“Gini bud, besok kan aku ada perlu. Jadi aku nggak bisa kerja. Kalo kamu nggak ada acara, aku mau minta tolong kamu buat gantiin aku, nyopirin masmu” jawab pak Janto.
Budi tak langsung menjawab. Dia menimang – nimang dulu baik dan buruknya. Dia tidak mau ibunya di hina lagi. Tapi sepertinya, bukan ibunya yang akan ditertawakan, kalau dia kerja dengan sepupunya, melainkan dirinya sendri.
“Ya bayarannya buat kamu, lah. Ini soal kerja, bukan minta tolong doang” lanjutnya.
“Iya, aku tahu, pak”
“Terus?”
“Iya deh, aku mau” jawab Budi.
“Alhamdulillah. Tenang deh, akhirnya. Makasih ya” seru pak Janto
“Iya, pak. Sama – sama” jawab Budi.
Pak Jantopun langsung pergi lagi. Budi memutar tubuhnya, niat hati ingin melihat ke arah ibunya. Tapi, tatapan mata Budi beradu dengan tatapan mata Adel. Adel langsung putar badan, malu dirinya ketahuan memperhatikan.
Bu ratih tersenyum melihat Adel malu – malu kucing. Budi melanjutkan pekerjaannya, sembari berharap, Adel akan melewatinya, dan berpamitan dengannya.
“Bud, aku pulang, ya”
Suara lembut nan merdu mengagetkannya. Sebuah senyum manis menghias indah, saat dia mendongakkan kepalanya. Wajah ayu itu semakin cantik saat tersenyum.
“Loh, udah dapet, layurnya?” tanya Budi. Pertanyaan yang aneh.
“Udah” jawab Adel sambil tergelak.
Wajar kalau Adel tertawa. Orang dia yang jualan ikan, kok bertanya, sudah dapat apa belum. Ya, pastinya sudah. Malah masih sisa satu polyfoam.
“Eh, kamu pulangnya kemana” tanya Budi.
“Ke Gulang” jawab Adel singkat.
“Loh, Mlati?”
“Iya desa Mlati” jawab Adel
“Eh iya. rumah kamu dimana?” tanya Adel dengan suara lirih.
“Arjosari” jawab Budi.
“Loh, di situ?” tanya Adel kaget.
“Iya. Deket ya?”
“Tahu gitu, semalam bareng"
“Kan kamu masih lama”
“Kata siapa? Abis lagu yang itu juga, udahan kali, jatahku”
“Masa? Yah, emang belum rejeki. Sabtu depan kali”
“Ha ha ha. Ya udah, aku duluan, ya. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Budi mengiringi kepergian Adel dengan tatapan lekat. Adelpun begitu. Saat naik motornya, dia berikan senyum manisnya menjelang pergi.
Sepeninggal Adel, sontak Budi menjadi bahan godaan para ibu – ibu pedagang ikan laut. Budi hanya bisa tersenyum menanggapi godaan itu. Ibunyalah yang menanggapi.
Makin lama godaan itu semakin menjadi. Itu juga karena Budi malah semakin sering termenung daripada bekerja. Tapi ibunya juga tidak marah. Bu Ratih bisa memahami apa yang sedang terjadi dengan anak sulungnya itu.
Walau begitu, duet Budi dengan ibunya, termasuk yang paling cepat kerjanya. Dengan perbandingan jumlah ikan berkali – kali lipat yang harus dikemasi, mereka bisa selesai nyaris bersamaan dengan yang lainnya.
__ADS_1