
Pagi ini, Budi sudah kembali bekerja lagi. Seperti saat dia masuk setelah tragedi itu, banyak karyawan yang menanyakan kondisinya, keluarganya, dan rumahnya.
Budi menceritakan kisahnya, yang banyak dia tambahkan dengan ungkapan rasa syukurnya, atas bantuan dari warga sekitar, dari perusahaan, dan yang spesial, adalah dari kekasihnya tercinta. Mendengar nama terakhir yang disebut Budi, sontak meraka yang bertanya itu riuh mengomentari.
Budi juga tidak lupa menyampaikan secara terbuka, rasa terimakasihnya kepada Erika dan Marsya, yang secara khusus datang langsung ke rumahnya, membawa bantuan dari perusahaan. Dan juga rasa terimakasihnya karena Erika dan Marsya ikut serta membantunya membersihkan rumahnya.
Wajah Marsya bersemu merah, dia tersipu malu mendapat ucapan terimakasih di depan teman-teman kantor. Dia hanya bisa tersenyum, tanpa bisa berkomentar. Hatinya diselimuti rasa haru.
Untuk pertama kalinya setelah peleburan divisi itu, Budi menjalankan tugasnya dari kantor HRD. Ada yang berbeda saat tim marketing memberikan target untuk tim PPIC. Tidak ada lagi Stevani, yang selalu membuat Aldo bersemangat. Kali ini Ratna yang mengantarkan lembaran target itu.
Aldo yang sempat lupa, awalnya bersemangat saat pintu kantor HRD diketuk dari luar. Tapi disaat dia melihat yang muncul adalah Ratna, dia kembali tidak bersemangat. Budi merasa tidak enak hati dengan Aldo. Tapi mau bagaimana, hukum tetaplah hukum. Saat Aldo masih membaca lembaran target itu, Budi merasa mendapatkan sebuah ide.
“Mbak, berkas yang semalem itu, udah bener semua ya?” tanya Budi.
Dia mengalamatkan pertanyaannya kepada Erika, tapi matanya masih fokus menatap layar monitornya. Tak hanya Erika, Ratna, Riki, dan Aldo sendiri juga ikut menoleh ke arahnya.
“Kenapa?” sahut Erika.
“Kaya ada yang aneh” jawab Budi.
Erika menggeser kursinya mendekat ke arah Budi. Melihat Budi bisa mencuri perhatian Erika, timbul rasa cemburu di hati Aldo. Sebagai senior, dia merasa tidak mau dilangkahi dua kali oleh Budi.
“Yang ini, mbak. Ini absen telat karena ada perintah kantor, apa bener masuknya di tugas luar?” tanya Budi.
Aldo semakin tajam menatap Budi. Sekarang ini, Budi sudah melangkahinya di divisi HRD, dengan menjadi asisten Erika.
“Oke, Na. Agak turun, ya?”
Terdengar suara Aldo menggema di ruangan ini. Seolah ingin menunjukkan keberadaannya.
“Ya, kasus Vani sama Dino, cukup bikin repot” jawab Ratna. Budi tersentak.
“Udah bener kok, Bud” gantian suara Erika yang menggema. Walau tidak sekencang suara Aldo sebelumnya.
“Udah bener, ya? Alhamdulillah” sahut Budi.
“Makanya pak Paul lagi ke LN, buat ketemu sama customer ini. Biar nggak kabur lagi. Duitnya gede sih. Mantep buat batu loncatan buat merambah pasar eropa sama amerika” kata Ratna lagi.
“Oke deh. Semoga cepet ada kabar baik, ya. Kita bakal pastiin, target ini kepegang semua” kata Aldo.
“Oke. Good luck” kata Ratna.
“Ayo, mbak!” pamitnya ke Erika.
“Eh, iya Na. Makasih, ya” sahut Erika. Ratna hanya menjawab dengan acungan jempolnya. Lalu pergi meninggalkan bekas kantornya.
“Ki, masih sibuk?” tanya Aldo.
“Udah enggak sih, tinggal nunggu si Budi” jawab Riki.
“Bud, bisa minta waktu sebentar?” tanya Aldo kepada Budi.
Erika yang sudah kembali ke mejanya, menoleh ke arah Aldo. Sesaat kemudian dia menoleh ke arah Budi. Budi tersenyum penuh arti. Membuat Erika bingung dengan makna senyuman itu.
“Oke” jawab Budi.
Aldo merasa harus bisa mempertahankan posisinya sebagai senior di tim PPIC. Agar paling tidak, dia punya kebanggaan bisa memimpin briefing pagi, dan memimpin tim PPIC. Yang berarti juga, dia bisa mengkondisikan Budi di bawah komandonya.
Erika menghentikan sementara pekerjaannya. Dia memperhatikan bagaimana Aldo memimpin briefing pagi ini. Menurutnya ada kecemburuan dalam diri Aldo terhadap Budi, dan Budi mengetahui itu.
Erika tersenyum saat menyadari kalau pertanyaan Budi kepadanya tadi hanyalah akal-akalan Budi saja, agar Aldo terpancing rasa cemburunya. Dengan begitu, akan timbul rasa semangat dalam diri Aldo, untuk menunjukkan kalau dirinya masih senior.
Budi sengaja memposisikan diri sebagai junior yang berada di bawah komando Aldo, agar Aldo tetap fokus pada pekerjaan, dan tidak menjadi lemah karena tidak ada Stevani di sekitarnya. Erika tersenyum lagi saat Budi kembali ke mejanya, untuk mengambil peralatan yang biasa dia gunakan sewaktu di lapangan.
__ADS_1
***
Seorang lelaki berjalan menyusuri lorong antar kamar. Tempat itu adalah sebuah hotel sederhana kelas melati, yang terpencil di pinggiran kota. Dia tampak mencocokkan gambar di layar ponselnya dengan nomor-nomor yang tertempel pada pintu. Setelah menemukan nomor yang sama, dia mengetuk pintunya. Dan seorang wanita paruh baya keluar menyambutnya. Langsung saja mereka masuk ke dalam kamar hotel itu.
“Tumben banget ibu ngajakin siang-siang begini?” tanya lelaki itu.
“Mumpung bapakmu lagi keluar kota” jawab wanita itu.
“Ya, tapi dalam rangka apa, bu? Perasaan, belum ada kejadian istimewa”
“Ha ha ha ha. Emang, nggak seistimewa waktu dia disiram eek orang. Tapi ini juga istimewa” jawab wanita itu sambil tertawa.
“Hem? Adi nggak ngerti, deh”
“Ha ha ha ha. Ya wajar, sih. kan abis banjir kemarin, kamu langsung pergi gitu aja. coba kalo mau diem di rumah. Uuh, rame, Di”
“Ada apa emangnya, Bu?”
“Ha ha ha ha. Si Ratih, dimaki-maki orang tuanya si Adel” jawab wanita itu.
“Masa sih? kok bisa?”
“Nih liat sendiri!”
Wanita itu memberikan ponselnya, dimana sebuah video bermain di layarnya. Adi tampak serius menonton video itu. Sesekali dia tertawa geli mendengar umpatan dan hinaan yang keluar dari video itu.
“Ha ha ha ha. Asli keren ini, bu. ibu bilang apa sama ibunya Adel, kok dia bisa sampe semangat gitu ngumpatnya.?”
“Ada deh” jawab wanita itu.
“Asli, Adi seneng banget liat wajahnya bulek Ratih. Kaya kepiting rebus. Hi hi hi. Apalagi si Budi. ha ha ha ha”
“Seneng kan, kamu? Itu makanya kenapa ibu seneng banget dari kemarin”
“Makanya, ibu pengen ngerayain momen menyenangkan ini. Mumpung bapak juga lagi pergi. Kamu tahu kan, maksud ibu?”
“Pasti tahu dong, bu. Kebetulan banget, Adi juga lagi kentang banget” jawab Adi.
“Is is is. Anak ibu dibikin kentang lagi? Bisa apa sih itu cewek?”
“Sebenernya sih bisa semuanya, bu. Cuman belum mau lepas kaya ibu. Muka lagi, muka lagi”
“Ha ha ha ha. Oh, gitu? Ya udah sini! Ibu kasih apa yang cewekmu belum bisa kasih. Ibu kasih bonus deh. Mumpung ibu lagi berbahagia, nih”
“Serius, bu?”
“Bener”
“Asyik”
Hal yang selanjutnya terjadi, sangat tidak pantas untuk diceritakan. Bahkan untuk komunitas paling bar-bar sekalipun, di luar negeri sana, apa yang mereka lakukan masih tergolong tabu. Don’t try this at home!
***
Budi masih fokus dengan operator-operator mesin preparation. Seperti biasa, dengan stopwatch di tangannya, dia menghitung waktu yang dibutuhkan dalam sekali putaran. Budi tampak berbincang dengan operator yang sedang dia perhatikan.
Terjadi diskusi di sana. Dia tampak memberikan masukan agar waktu yang dibutuhkan bisa lebih sedikit. Pak Teguh yang berada di sampingnya menyambut baik ide Budi. dan mereka mencoba ide tersebut. Ternyata benar, proses itu bisa memangkas waktu hingga dua detik.
Setelah itu, dia beralih ke area welding dan juga finishing. Sempat dia bertegur sapa dengan operator yang sedang memindahkan barang. Sampai beberapa lama dia berdiri di situ, dia belum melihat apa yang bisa dipacu lagi. Semua sudah berjalan dengan optimal. Justru dia tertarik dengan seorang wanita, pindahan dari departemen anyaman.
Dia dipindahkan ke departemen frame untuk masuk ke tim finishing. Dia bertindak sebagai tukang cat. Dari gaya dia meletakkan frame ke atas gantungan, cara dia menyemprotkan catnya, terlihat berbeda daripada yang lain. Lebih sensual jika ditijau dari segi visual. Budi berpikir, itu akan menarik untuk dijadikan media promosi.
“Lu mantengin kerjanya apa orangnya?”
__ADS_1
Sebuah suara mengejutkannya. Saking terkejutnya, dia sampai melompat satu langkah ke kanan. Tentu saja orang yang menegurnya tertawa cekikikan, melihatnya terkejut bukan kepalang.
“Kaya kunti aja, mbak. Nggak kedengeran datengnya. Tahu-tahu udah di deket kuping aja” komentar Budi.
“Ha ha ha ha. Elu sih, ngelamun. Mantengin orang sampe nggak denger orang jalan” kilahnya.
“He he. Abisnya ada yang menarik, sih” kata Budi.
“Iya sih. cakep banget, dia. Alamat kegeser deh, si Adel”
“Astaghfirulloh, mbak Rika. Jauh amat mikirnya” seru Budi.
“Ya terus?”
“Hadeeh. Itu, mbak. Cara dia mainin spray gun tuh, sensual banget”
“Terus?”
“Buat bikin klip promosi, bagus tuh” jawab Budi.
“Eh?”
Erika tersentak mendengar jawaban Budi. Matanya langsung fokus ke wanita yang diperhatikan Budi.
“Bener juga kata kamu, Bud. Kamu ada ide apa, buat klipny?” komentar Erika.
“Ya belum kepikiran, mbak. Baru juga selintas lewat, udah dikagetin aja, tadi”
“Ha ha ha ha. Ya udah. Dipikir sambil jalan Yuk!” ajak Erika.
Mereka berjalan lagi. Eika mengajak Budi menuju area anyaman. Erika juga tampak mengamati satu per satu karyawan di departemen ini.
Tapi tidak dengan Budi. Dia langsung beraksi saat dia menyadari ada yang peralatan yang tergeletak di jalur lalu-lalang orang dan barang, yang berpotensi menjadi sumber bahaya. Dia langsung meminta bu Tami untuk membereskan peralatan tersebut. Seseorang mendekat dengan membawakan sebuah box dari plastik. Dan dengan box itu, bu Tami menyimpan peralatan yang sejatinya masih belum selesai dipakai.
Erika hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Di dalam hatinya dia memuji ketegasan Budi, yang tidak mau ambil resiko. Dia acungkan dua jempol saat dia kembali ke arahnya. Budi menuliskan apa yang baru saja menjadi temuannya.
“Gimana kasusmu sama Vani?” tanya Erika, membuka keterdiaman. Budi terkesiap.
“Eem. Masih dalam penyelidikan, sih”
“Putri, udah diperiksa?”
“Udah. Putri, ibu, aku. Adel juga udah"
“Terus, sejauh ini apa kata polisi?”
“Eeem. Belum ada sih. Secara alat bukti, laporanku udah kuat. Semua berkas, barang-barang, udah aku serahin semua ke penyidik. Bolanya ada di Vani”
“Dia sih, tetep aja bakal nyangkal, Bud. Mana ada orang yang mau ngakuin kejahatannya?”
“Ya, urusan itu, aku nggak tahu. Kalo dia bilang di fitnah, ya dia harus buktiin kalo dirinya emang di fitnah”
“Oh. Udah cari pengacara?”
“Belum. Adel sih, yang udah”
“Kalo emang butuh, jangan sungkan buat bilang sama aku. Aku bakal bantu, kok”
“Makasih ya, mbak”
“Entar aja makasihnya, kalo aku udah bantu. He he”
Budi tergelak. Erika pamit untuk kembali ke kantornya. Saat dia mengajak Budi untuk sama-sama kembali ke kantor, Budi menolak. Dia beralasan masih ada yang harus kondisikan. Karena target hari ini, masih di kisaran sembilan puluh lima persen dari target sebelumnya. Artinya tidak boleh lengah juga. Erika mengerti, dan dia kembali ke kantornya sendirian.
__ADS_1