
Sepagi ini, Madina sudah bangun. Dia sedang mengulas kembali pelajaran yang dia terima hari kemarin. Beberapa hal yang dia belum pahami, dia catat untuk ditanyakan kepada gurunya. Setelah sekian lama, Madina memutuskan untuk menyudahi belajarnya. Terlebih, waktu subuh tinggal menghitung menit. Dia raih ponselnya yang masih diisi daya.
“Putri?”
Madina sedikit terkejut saat melihat notifikasi ponselnya. Di antara sekian banyak notifikasi yang masuk, ternyata terselip satu pemberitahuan, bahwasannya ada satu pesan dari sahabatnya. Langsung dia buka pesan itu.
“Pisang?”
Itulah pertanyaan yang muncul dari bibirnya. Dia tidak paham, bahkan bingung isi pesan Putri.
“Pisang, pisang, pisang”
Madina berusaha menebak, apa maksud dari kata pisang dalam pesan itu. Karena dia kini menyadari, kalau itu adalah pesan yang disandikan.
“Pisangku pahit. Berarti pisang Putri, manis”
Dia mencoba menghubungkan kata per kata.
“Pisangmu, pisangku. Kalo pisang adalah sesuatu, berarti itu merujuk pada sesuatu yang sama antara aku sama Putri. Tapi apa yang sama? Kelas? Buku? Remidi?”
Madina masih belum menemukan persamaan, yang menurutnya tepat untuk diwakili dengan kata pisang.
“Kita emang sahabatan, tapi kita punya banyak perbedaan. Jenis buku, beda. Jenis tinta pulpen, beda. Jenis Stabilo, beda. Tas, beda. Apa, dong?”
Dia malah pusing sendiri, setelah menyebutkan sekian perbedaan antara mereka.
“Mengenai buah pisangmu yang pahit. Artinya, dia lagi mengklarifikasi sesuatu. Sesuatu yang sifatnya tuduhan. Berarti sebelumnya, aku nuduh dia. Emang aku nuduh apa?”
Sepertinya dia menemukan satu petunjuk lagi. Tapi masih terlalu buram untuk bisa dihubungkan.
“Ternyata bukan bibitnya yang jelek. Kan dari indukan yang sama” dia membaca penggalan selanjutnya.
“Rasanya kok kaya aku beli dari dia, pisang dari jenis yang sama. Kita tanem bareng. Punya Putri buahnya manis, punyaku buahnya pahit. Terus aku nuduh Putri ngasih aku pisang yang jelek. Tapi aku cuman ngomong doang, atau cuman ngasih contoh pisang yang pahit itu. Tapi nggak ngasih bukti, yang nguatin tuduhan aku, kalo pohon pisang yang dia kasih, beda sama punya dia”
Pesan ini tampaknya membuat Madina harus berpikir keras untuk bisa mengerti maksudnya.
“Kayaknya ada konsentrasi kalium tingkat tinggi di bawah pohon pisangmu” dia baca lagi penggalan berikutnya.
“Kayaknya? Berarti dia belum pasti. Tapi dia udah nyebutin kalium. Rasanya kaya dia udah ngeliat sesuatu yang aneh secara fisik tapi belum yakin. Kalium, nggak bisa dilihat dengan mata telanjang. Butuh alat bantu canggih”
Dia mengangan-angan sejenak. Bibirnya berkomat-kamit seperti seorang dukun.
“Aku dan kamu memiliki sesuatu yang sama. Aku nuduh kamu bersalah, atau atas suatu kesalahan. Bukan kesalahan dari sesuatu itu, jika terlihat jelek. Tapi ada sesuatu yang lain, di luar sesuatu yang aku punya, tapi berada di sekitaran sesuatu yang aku punya. Yang sifatnya membuat sesuatu yang aku punya jadi jelek”
Tampaknya Madina sudah mulai mendapatkan bentuk pesan tersembunyi dari pesan yang dikirimkan Putri.
“Kita harus uji lab, untuk mastiin kandungan mineralnya” dia membaca penggalan terakhir.
“Uji lab. Pengujian. Menguji kebenaran dari sebuah rumus. Menyelidiki kebenaran sebuah informasi. Menyelidiki?”
Madina menghela nafas. Dia merasa masih belum mendapatkan bentuk pesan yang ingin disampaikan Putri.
“Sesuatu yang sama antara kita, tuduhan, sesuatu yang kamu lihat tapi kamu belum yakin, penyelidikan. Apa yang kamu maksudkan? Apa sesuatu yang sama di antara kita?”
Tampaknya masih buntu. Dia masih membutuhkan lebih banyak waktu.
“Seingatku, satu-satunya yang sama, dan nggak bisa diubah-ubah di antara kita, adalah kakak-kakak kita. Aku punya embak, kamu punya kangmas. Kebetulan sekali, mereka pacaran. Kalo sampai mereka jadi menikah, artinya kangmasmu akan jadi kakak ipar aku. Embakku, akan jadi kakak ipar kamu”
Sejauh ini, Madina masih mengernyitkan dahinya. Artinya, dia masih bingung.
“Kalo gitu, gini dong? Kamu ngasih sesuatu ke aku, berarti kamu ngasih kakak ipar ke aku. Aku nuduh kamu ngasih bibit pisang yang jelek, berarti aku nuduh kamu ngasih kakak ipar yang jelek”
Madina memonyongkan bibirnya. Dia merasa ada yang aneh, dari kalimat yang dia bangun.
“Kalo tahu jelek, ngapain diterima? Berarti awalnya, dia baik. Baru belakangan aku anggap jelek”
Dia sempat tergelak mendengar ucapannya sendiri.
“Astaghfirulloh”
__ADS_1
Sepertinya dia menemukan sesuatu.
“Kakak ipar, terlihat jelek. Tapi menurut Putri, bukan kakak ipar yang jelek. Dia melihat ada sesuatu yang lain, yang sifatnya jelek, yang berada di sekitaran kakak ipar. Sesuatu yang jelek itulah, yang membuat kakak ipar terlihat jelek. Kalo sesuatu yang sama itu, kakak ipar. Berarti sesuatu yang lain itu, adalah orang lain”
Madina mulai membuat catatan tentang apa yang sudah dia dapatkan.
“Putri menuduh seseorang. Seseorang yang membuat kakak ipar terlihat jelek. Siapa? Dan kejelekan apa?”
Madina menulis lagi. Tulisannya juga dia buat sedemikian rupa, agar tidak bisa dibaca orang lain. Dia menggunakan aksara jawa.
“Kalo kejelekan yang dialamatkan ke kakak ipar, setahuku, tuduhan kalo kakak ipar menghamili perempuan lain. Dan cerita yang sama. Sumbernya dari seorang dokter, yang ngaku ngeliat mbak Adel lagi rebutan mas Budi sama perempuan tersebut”
Madina menuliskan lagi kalimat yang berhasil dia bangun.
“Mas Budi, dituduh atau menghamili orang. Tapi putri menduga kalo itu bukan perbuatan mas Budi. Dia melihat ada orang lain yang membuat mas Budi terlihat seperti yang dituduhkan. Dibawah pohon pisang, berarti kan menempel pada akar. Apa mungkin orang lain itu punya hubungan kekerabatan sama mas Budi? Dia menyebut kalium, padahal kalium nggak bisa diliat. Artinya dia ngeliat atau ngedenger orang lain itu ngaku, atau lagi cerita sama orang lainnya lagi. Orang lain itu siapa, ya?”
Madina mengingat-ingat setiap orang yang dekat sama Budi. Paling tidak dari percakapannya dengan kakaknya, percakapannya dengan Putri, ataupun dari sumber lain.
“Yang paling deket sama mas Budi, kan mbak Adel. Tapi masa mbak Adel? Nggak masuk akal. Jangan-jangan?”
Dia mengeliminasi kakaknya dari daftar pencarian. Menurut cerita Putri, Budi memang supel, dan mudah bergaul. Siapa saja mudah dekat dengannya. Tapi yang terlihat sangat dekat, selain kakaknya,
“Stevani?”
Pencariannya mengerucut kepada satu nama. Tapi Madina tampaknya tidak berani buru-buru mengangkat satu nama untuk dimasukkan ke kata ‘orang lain’.
“Kata Putri, dia orangnya baik. Suka bantuin mas Budi. terus, tujuannya apa?”
Dia masih memikirkan banyak hal, sebelum memberikan tuduhan.
“Eh, kan dia mulai intens mendekat ke keluarga Putri, setelah mas Budi jatuh, dan lupa ingatan. Sebelumnya kan nggak pernah sedeket itu”
Madina menyadari ada yang terlewat dari perhatiannya.
“Pengujian. Penyelidikan. Konsentrasi tinggi” Madina bergumam.
Madina mencatat lagi temuan barunya.
“Konsentrasi sangat tinggi, artinya lebih dari biasa. Kalo di substitusikan ke kasus sekarang, berarti lebih dari sekedar kecelakaan. lebih dari sekedar pembegalan biasa? Emang aku nggak percaya cerita tentang pembegalan itu. Kalo Putri mengatakan konsentrasi tinggi, berarti, pembegalan itu, sudah direncanakan”
Mata Madina menerawang jauh menembus kaca jendelanya. Seolah menatap bintang nan jauh di sana.
“Apa mungkin, pembegalan itu memang terjadi, tapi kejadiannya setelah maghrib? Dari pembegalan itu, entah gimana caranya, mas Budi sama mbak Adel nggak sadarkan diri. Abis itu, mereka dipisahkan ke dua tempat yang berbeda. Dan, dengan suatu cara, mereka dibikin lupa ingatan”
“Astaghfirulloh. Klop lho, sama yang dikasak-kusukin dokter jogja itu”
Madina menuliskan beberapa kronologi pendukung narasinya.
“Kata dokter jogja itu, luka mbak Adel sangat tidak mungkin bikin mbak adel sampai lupa jati diri. Mereka mencurigai ada sesuatu yang lain. Sayang aku nggak denger kelanjutannya. Mereka ngomongin apa, ya? obat atau apa?” keluhnya.
“Kalo aku urutin. Mbak Adel masih sama mas Budi sampai lepas maghrib. Pas jalan mau pulang, mereka dibegal. Some how, mereka tidak sadarkan diri. Mereka dipisahkan ke dua tempat yang berbeda. Dan Some how, mereka dibuat lupa ingatan”
Madina berhenti sebentar.
“Dari sisi mas Budi. Mas Budi diceritakan jatuh dari motor di ujung jembatan grindulu. Mau ngapain, ke sana? Kalo mau pulang, kan bisa lewat jalur lama? Lewat situ kan malah muter?”
Madina menggigit pulpennya. Ekspresi bingung yang terlihat jelas.
“Abis jatuh, ditemuin Vani. Dianter ke rumah sakit. Dia ngasih tahu bu Ratih, terus dapet apresiasi. Suka nengokin, kasih perhatian, bu Ratih seneng. Dia mulai dapet tempat di hati bu Ratih. Apalagi mas Budi nggak kunjung balik, ingatannya. Kalo yang jatuh cuman mas Budi, pasti mbak Adel yang akan ngerawat mas Budi. Vani, nggak akan dapet kesempatan buat deket-deket sama mas Budi. Dengan sakitnya mbak Adel diwaktu yang sama, maka nggak ada lagi yang ngehalangin dia, buat deket-deket sama mas Budi. kalo diliat dari sudut pandang ini, jelas banget dia dapet keuntungan dari tragedi ini”
“Lalu mbak Adel dibuatkan skenario bertengkar sama mas Budi, karena ada cewek lain, yang ngaku-ngaku hamil oleh mas Budi. Dia dibuatkan cerita, kalo dia nyetop tukang ojol. Lalu naik, tanpa pake aplikasi. Setting waktunya masih sore hari. Mbak Adel diceritakan mampir masjid agung, lalu minta dianter ke watu karung, tapi nggak jadi. Dia minta dianter pulang. Ojolnya ngajak muter lewat jalur sedeng, tapi mbak Adel nggak mau. Akhirnya mereka dibegal, dan jatuh ke parit di bawah. Datanglah mas Dino nolongin”
Madina menarik nafas dulu, sebelum meneruskan analisisnya.
“Kalo ojol itu ngarang, terus yang diuntungin, siapa?”
Dia tampak memikirkan siapa yang mendapatkan keuntungan dari celakanya mbak Adel.
“Mas Dino”
__ADS_1
Dia menebak satu nama dengan pasti.
“Ya, dia menjadi bak super hero, malam itu. Nggak henti-hentinya bapak ngucapin terimakasih. Sebaliknya, bapak terus-terusan nyalahin si bapak ojol itu”
Dia menarik nafas lagi. Lebih berat dari sebelumnya.
“Tapi, Dino itu siapa? Mbak Adel nggak pernah cerita tentang dia”
Lagi-lagi dia menarik nafas apanjang. Kali ini dia tahan beberapa saat, baru dihembuskan kembali.
“Tapi apa bener begitu? Namanya kebetulan, kan bisa aja? Putri juga pernah, tiba-tiba lewat, pas aku kehabisan bensin. Kan nggak mungkin dia nyabot motor aku. Sekalipun aku curiga sama dia, mana ngerti dia tentang motor? Aku curiga juga, karena nggak biasanya dia main ke kampungnya mbak Shinta. Usut punya usut, dia lagi jemput ibunya, yang lagi jenguk mbah Juminah. Dan ternyata, emang speedometerku yang rusak”
“Mas Dino kan belum pernah masuk dalam bursanya mbak Adel. Belum pernah pedekate, apalagi ditolak. Apa tujuannya nyelakain mbak Adel? Kayaknya nggak ada, deh. Aku pikir sih, dia memang orang yang kebetulan lewat.
Madina menuliskan, apa saja yang perlu diselidiki kedepannya.
“Kalo Vani? Kalo dia emang cinta sama mas Budi, kayaknya nggak mungkin deh, dia bikin konspirasi kaya gini. Kan lebih gampang kalo mbak Adel aja yang dicelakain? Lebih gampang kalo mbak Adel aja yang dibikin lupa ingatan”
Madina mengembangkan teori lain.
“Kalo mas Budi maksa main ke sini, dan ngenalin diri sebagai pacarnya mbak Adel, pasti bakal dibantah sama bapak. Terburuknya mas Budi bakal diusir dari rumah. Dan mbak Adel bakal diprotek. Abis itu, mas Budi sedih. Ada kesempatan buat masuk, jadi teman curhat, jadi pendengar setia. Kalo mbak Adel nggak juga balik ingatannya, kan mas Budi jadi frustasi. Terburuknya, dia bakal patah hati, dan pergi. Kalo udah sampe tahap itu, kan jadi lebih gampang, buat gantiin posisi mbak Adel?”
Madina tertegun, angannya melayang jauh, menghubungkan semua teori yang sudah dia bangun.
“Kalo dilihat gimana dia getol deketin mas Budi, kayaknya dia emang cinta sama mas Budi. Apalagi Putri sempet muji sikap dia yang nggak mikir pamrih. Bahkan saat bu Ratih bilang kalo mas Budi itu sebenernya punya pacar. Kata Putri, dia hanya bilang seneng, nengokin mas Budi. Kalaupun nanti mas Budi kembali ingatannya, dan balik lagi sama pacarnya, dia nggak akan nyesel”
Dia memajukan bibir bawahnya, mencibir pernyataannya Vani yang baru saja dia sebutkan.
“Kalopun itu cuman manis-manisnya bibir, kan wajar aja? sebelumnya, dia hanya bisa ngagumin dari jauh. Sekarang, dia punya kesempatan buat masuk”
“Terus, dia kan emang dalam posisi kerja. Abis dari soge, ketemu calon pelanggan. Kata Putri juga, calon pelanggan yang dimaksud Vani, emang ada. Dan orang itu mengiyakan apa yang dikatakan Vani. Jadi kalaupun dia nemuin mas Budi di pinggir jalan, ya itu cuman kebetulan aja”
“Kenapa nggak orang lain? Kenapa orang-orang di angkringan nggak tahu ada yang kecelakaan di deket mereka?”
“Kalo kata temen-temen yang rumahnya deket situ, malem itu emang lagi ujan gede. Jalanan sepi banget. Masih wajar sih, kalo cuman Vani yang nemuin. Secara, cuman dia yang lewat”
“Tapi kan, kalo menurut cerita si bapak ojol itu, dia ngangkut mbak Adel dari sore. Sore itu, jam berapa? Kan mas Budi pulang jam lima. Jarak antara mas Budi sama mbak Adel juga jauh. Kalo aku yang bawa motornya, bisa sejam baru nyampe. Sekenceng-kencengnya orang bawa motor di jalan umum, setengah jam juga baru nyampe. Katakanlah bertengkarnya di setengah perjalanan menuju pulang, berarti kan tiga puluh menit ditambah lima belas menit. Udah hampir sejam itu juga kalo bawa motornya ngebut terus. Kalo emang mas Budi keluar pabrik lewat jam lima, harusnya waktu mbak Adel numpang ojol itu, udah jam enam petang. Sedagkan magrib, diceritakan udah di masjid agung. Padahal magrib itu jam enam lewat lima. Lima menitan udah nyampe? Sekenceng apa, bapak ojol itu bawa motornya? Kok mbak Adel masih mau make jasa dia? Mbak Adel kan paling anti, naik ojek terus dibawa ngebut. Pasti langsung ngamuk-ngamuk, dia”
“Terus, kalo Dino cuman kebetulan lewat, Vani juga kebetulan lewat, tapi ojolnya ngarang cerita, lalu dia kerja buat siapa?”
“Apa jangan-jangan, Adi? Sepupunya Mas Budi?”
“Ya, bisa jadi. Putri sering cerita tentang orang itu. Mbak Adel juga pernah cerita. Emang baj***** sih orang itu. Masuk akal, kalo ini. Dia punya banyak teman. Kata Putri, hampir setiap kali ngajak mas Budi ribut, temen-temennya berbeda-beda"
“Emang nggak dapet apa-apa, sih. Tapi kalo namanya nggak suka, apalagi benci, emang suka nggak pake perhitungan. Nggak peduli untung rugi. Yang penting puas. Puas liat orang yang dibenci itu, menderita”
“Tapi apa bener dia? Kalo emang kawanan begal itu temen-temen dia, dan ojol itu temen dia, kenapa nggak sekalian bawa mobil sendiri buat angkut mbak Adel sampai ke puskesmas? Kenapa harus nungguin kendaraan lain yang lewat? Apa jangan-jangan, Dino juga orang suruhan dia? Ini yang perlu diselidiki”
*Tok tok tok*
“Dek, udah bangun, belum?”
Terdengar suara ketukan di pintu, dan suara Adel menyapa.
“Udah, mbak” jawab Madina. Dia berjalan menuju pintu, dan membukakannya untuk kakaknya.
“Kok kamu keringetan gitu? Kamu sakit?” tanya Adel.
Ditanya begitu, Madina malah tengok kanan-tengok kiri. Membuat Adel keheranan.
“Masuk, mbak!” pintanya dengan suara lirih.
“Ada apa sih, dek?” tanya Adel semakin bingung.
Madina menceritakan pesan dari Putri. Dan dia membeberkan asumsinya, mengenai isi pesan yang dimaksudkan oleh Putri.
Adel tercengang mendengar penjelasan Madina. Emosinya meledak-ledak membayangkan, ada manusia yang segitu teganya kepada orang lain. Tega menyakiti, bahkan menghilangkan ingatan orang lain hanya demi memuaskan rasa bencinya kepada orang itu. Terlebih orang yang dibencinya itu masih sepupunya sendiri.
***
__ADS_1