
“Bram, Abram sebenernya mau ngapain sih?” tanya Adel penasaran.
“Bentar lagi sampe, kok. Nanti abram ceritain” jawab Budi.
Walau tidak puas dengan jawaban itu, tapi Adel mengalah. Dia berpikir sabar sedikit akan jauh lebih baik daripada memaksakan kehendak. Dan benar, hanya hitungan tak sampai dua menit, Mutia sudah memarkir motornya di sebuah lahan kosong. Budipun memarkir motornya tak jauh dari motor Mutia.
“Ini lahannya, mas” kata Mutia.
Sebuah lahan bekas sawah yang lama tak diberdayakan. Berukuran sepuluh kali lima belas meter. Agak terbelakang jika dibanding lahan-lahan lain untuk berdagang dan resort.
“Abram mau beli tanah?” tanya Adel.
“Iya” jawab Budi sambil tersenyum.
“Buat?”
“Masa depan kita” jawab Budi masih sambil cengengesan.
“Bisa diukur lagi, kan?” tanya Budi kepada Mutia.
“Bisa, mas. Jika mas Budi setuju, kami bisa lakukan itu. Kami sudah siapkan semuanya. Dari desa juga sudah kami hubungi. Seperti yang disampaikan mas Sandi” jawab Mutia.
“Sandi?” tanya Adel.
“Ya, Sandi” jawab Budi.
“Kemarin aku abis nengokin dia. Aku cerita kalo aku pengen punya usaha. Bla bla bla bla. Dan dia kasih tahu kalo ada orang yang lagi jual tanah di sekitaran watu karung. Ya follow up dong, langsung”
“Hasta karya? Abram mau bikin workshop hasta karya?”
“Yap”
“Allohu Akbar”
Tenggorokan Adel tercekat. Dia tidak meneruskan ucapannya. Matanya berkaca-kaca. Dia tidak menduga kalau permintaannya dulu benar-benar dipikirkan dalam-dalam oleh kekasihnya itu. Dan dia tidak menyangka kalau Budi akan mewujudkannya secepat ini.
“Kok nangis?” tegur Budi.
“Oh. Ee, eng, enggak. Enggak, kok” kilah Adel. Dia menyeka air matanya.
“Kapan bisa transaksi?” tanya Budi.
“Oh? Alhamdulillah” gumam Mutia. Gantian dia yang matanya berkaca-kaca.
“Kami berharap, secepat mungkin, mas” jawab Mutia.
“Bapak, dimana?” tanya Budi, merujuk pada letak rumah pak Ahmad.
“Di sana mas” jawab Mutia. Dia menunjukkan sebuah arah.
“Yuk!” ajak Budi.
“Monggo, silakan” jawab Mutia.
Mereka berkendara lagi menuju rumah pak Ahmad, pemilik tanah itu. Di sana, terlihat pak Ahmad sedang berbaring di ranjang. Walau dia mencoba menyembunyikan, tapi Budi bisa membaca kalau pak Ahmad sedang merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Hanya dari penjualan tanah itulah, harapan pak Ahmad untuk bisa berobat. Budi tidak pakai menawar, harga yang diajukan langsung dia sepakati.
Mutia langsung keluar rumah sambil menangis. Dia pergi menjemput perangkat desa dan petugas pengukuran tanah. Tanpa membuang waktu, pengukuran tanahpun dilakukan. Setelah didapati hasil pengukuran sesuai dengan yang tertera di sertifikat tanah, Budi menerima hasil pengukuran itu.
Di hadapan perangkat desa dan beberapa orang saksi, Budi melaksanakan akad jual beli. Pihak perangkat desa membuatkan berita acara serah terima secara tertulis. Adel membuat dokumentasi dalam bentuk video. Budi mentransfer uang pembayaran ke nomer rekening pak Ahmad.
Tangis haru Mutia pecah seketika saat melihat laporan uang masuk di rekening bapaknya. Serta merta dia sujud syukur di lantai rumahnya. Begitu juga dengan istri pak Ahmad.
Adel juga tak kuasa menahan harunya. Tapi dia teringat kalau pak Ahmad harus segera mendapatkan perawatan. Sontak para saksi tadi berdiri dari kursi masing-masing. Si perangkat desa itu menawarkan mobilnya untuk membawa pak Ahmad ke rumah sakit.
Mutia meminta ijin kepada Adel dan Budi untuk mengantar bapaknya ke rumah sakit. Sudah barang tentu Adel dan Budi tidak keberatan. Sekalian saja mereka pamit undur diri, setelah membantu memindahkan pak Ahmad ke dalam mobil.
“Ya Alloh, berilah kesembuhan kepada pak Ahmad ya Alloh” pinta Adel dalam doanya. Seiring menjauhnya mobil tadi.
“Amin” sahut Budi.
“Dan lindungilah orang tua kami ya Alloh. Jauhkan mereka dari mara bahaya. Berilah mereka kesehatan ya Alloh” lanjut Adel.
“Amin”
Adel tak kuasa menahan tangisnya. Dia menangis di pelukan Budi. Setelah beberapa saat, Budi mengajak Adel untuk kembali ke lahan yang sekarang resmi menjadi miliknya.
“Bram?” panggil Adel.
“Ya?”
Budi yang sedang membayangkan sebuah bangunan di atas tanahnya ini, tersentak mendapat panggilan itu.
“Tata jadi kepo, nih” kata Adel.
“Apa, uang?” tanya Budi.
“Iya”
“Alhamdulillah, Ta. Abram juga masih nggak nyangka. Berasa kaya mimpi. Padahal baru seminggu abram tahajudan, lanjut sholat hajat. Langsung diijabah sama Gusti Alloh”
“Perantaranya?”
“Kemarin lusa, keluarga dari bapak sepakat untuk menjual tanah warisan simbah. Karena masing-masing sudah punya rumah sendiri-sendiri. Sedangkan bangunan rumah peninggalan mbah buyut, sudah rapuh. mumpung ada yang mau, ya lepas saja. Hasilnya dibagi rata. Dan, sama ibu, bagian almarhum bapak diberikan ke Abram. Kata ibu, masa depan harus diperjuangkan”
“Putri nggak marah, bram?”
“Enggak. Malah ngedukung” jawab Budi.
“Alhamdulillah” kata Adel mengucap syukur.
“Iya, alhamdulillah. Masih kaya mimpi, Ta. Abram yang hina ini, bisa dikabul doanya, sama Gusti Alloh”
“Hei, Bram. Siapa yang bilang Abram hina?” tanya Adel. Budi terkesiap.
“Jangan pernah katakan itu lagi dihadapan manusia, Bram! Jangan merasa hina di hadapan manusia! Cukup katakan itu dalam sujud Abram!” lanjut Adel. Budi tersenyum.
“Iya, sayang” jawab Budi.
“Terus, selanjutnya gimana bram?” lanjut Adel.
“Ya bikin bangunan, lah. Kecil-kecilan aja dulu. Yang penting bisa buat produksi meja, kursi, pernak-pernik”
“Hem, mau nyaingin bapak nih, ceritanya?” goda Adel.
“Ya enggak, lah. Sasaran pasarnya kan beda” kilah Budi.
“Eem. Tata punya kenalan tukang, Bram”
“Siapa?”
“Mantan tukangnya bapak. Ada tiga orang yang keluar, karena nggak betah ngadepin bapak” jawab Adel.
“Mau Tata tanyain?” tawar Adel.
“Boleh” jawab Budi.
“Oke”
__ADS_1
Adel mengambil ponselnya. Dia menghubungi salah satu mantan tukang kayu bapaknya. Raut wajahnya menyiratkan kalau tukang itu tertarik dengan tawaran awal Adel. Dia minta ketemu langsung untuk berbincang-bincang lebih jauh. Adel setuju. Dia juga minta tukang itu menghubungi dua tukang lainnya. Jadi pas nanti terjadi pertemuan, ketiganya sudah ada. Dan tukang itu menyetujuinya.
“Bram. Kayaknya yang satu ini tertarik, deh. Kita tunggu konfirmasi kedua tukang lainnya dulu. Kalo yang dua ini mau, kita langsung temuin mereka”
“Alhamdulillah” jawab Budi bersyukur.
“Minum es kelapa lagi yuk, Bram! Seger kayaknya”
“Walah, ketagihan?” sahut Budi. Adel hanya tertawa.
Tapi Budi mengabulkan apa yang menjadi permintaan Adel. Mereka pergi dari lahan itu, dan kembali ke pedagang es kelapa muda tadi. Mereka menikmati es kelapa muda sambil menikmati semilirnya angin pagi ini. Mereka memilih untuk duduk sangat dekat dengan bibir pantai, walau masih tidak terjangkau oleh air laut.
“Mikirin apa, ta?” tanya Budi,membuka suara.
“Eh? Oh, itu tadi. Buat berobat aja sampe harus jual tanah” jawab Adel. Wajahnya tampak sendu.
“Oh” komentar Budi pendek. Dia mengusap-usap rambut Adel.
“Tata takut, kalo nanti bapak ngalamin hal kaya gitu”
“Ya jangan sampe dong. Kan banyak sodara, banyak temen. Tetangga juga banyak, Ta” sahut Budi.
“Ya. Tata juga berdoanya gitu, Bram. Semoga Gusti Alloh selalu kasih mereka kesehatan”
“Amin”
Budi merengkuh bahu Adel, dan ditariknya mendekat. adel menyandarkan kepalanya di pundak Budi. Untuk sejenak, Budi membiarkan Adel mengeluarkan kegundahan di hatinya. Suara isaknya terdengar di telinga Budi walau pelan.
Beberapa saat kemudian, ponsel Adel berdering. Tukang yang tadi dihubngi Adel, menelepon. Tukang itu bilang kalau kedua temannya mau diajak bertemu. Tukang itu mengajukan saran untuk bertemu di rumahnya. Dengan sepersetujuan Budi, Adel mengiyakan. Tukang itu mengatakan kalau kedua temannya itu bisa bertemu di satu jam kedepan. Adel menyetujuinya.
“Ayo, Bram” ajak Adel.
“Kok jadi Tata yang semangat gitu?” goda Budi.
“Biar cepet dihalalin” jawab Adel.
“Ciaaa. Amiin” komentar Budi.
Budi beranjak dari duduknya, mengikuti Adel yang sudah terlebih dahulu melangkah. Dia bersyukur, ternyata Adel sangat mendukungnya. Awalnya dia takut Ade akan merajuk, kalau tahu tujuan utamanya ke sini bukan untuk liburan.
Di sepanjang jalan Adel terus memeluk Budi. Sesekali dia eratkan pelukan itu. Dan Budi selalu tertawa saat pelukan itu dieratkan. Karena terasanya seperti Adel sedang gemas. Seperti anak kecil yang akan diberikan mainan. Dia tidak sabar untuk segera mengambil mainan tersebut.
Setelah melewati kontur jalan yang cukup menantang, sampailah mereka di rumah tukang kayu mantan karyawan pak Fajar. Mereka berdua disambut oleh istri dari tukang itu. Anak tukang itu juga ikut menyambut dan salim pada Adel. Membuat gelak tawa karena kelucuan anak itu.
“Loh, kirain sendiri, mbak” seru tukang kayu itu dari arah belakang rumah.
“Oh, enggak. Ini mas Budi, cowok aku, kang” jawab Adel.
“Iya. Kalo dia sih, siapa yang nggak kenal. Ha ha ha”
“Loh, emang kang Supri kenal mas Budi?” tanya Adel kaget.
“Sesama STM masa nggak kenal? Suka tawuran bareng, juga” sahut istrinya.
Untuk sesaat Adel dan Budi saling pandang. Budi mencoba mengingat-ingat sosok yang ada di depannya itu.
“Oh, Sun Go Kong?” tebak Budi.
“Nah, itu inget” seru kang Supri.
“Walah, ketemu master” komentar Budi. Untuk sekali lagi Budi menyalami kang Supri. Adel dan istrinya kang Supri hanya tergelak dan geleng-geleng kepala.
“Gimana kabarnya, Kang? Lama banget nggak ketemu” tanya Budi.
“Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri, kemana aja setelah pensiun? Nangis noh, si Sandi, kamu tinggalin”
“Assalamu’alaikum”
Terdengar salam dari dua orang sekaligus. Sontak perhatian mereka teralihkan.
“Wa’alaikum salam” jawab mereka.
“Kang Bejo, kang Mangil, lihat siapa tamu kita” kata kang Supri sambil menyalami kedua tamunya itu.
“Wuih, si Setan” komentar kang Bejo.
“Siapa yang mau kita datengin?” lanjutnya.
“Hempf. Ha ha ha” kang Supri tertawa.
“Kan ia udah pensiun, kang. Dia ke sini mau minta bantu kita buka usaha”
“Huh, kirain sampeyan mau ngelabrak si Brewok. Udah semangat aja, tadi” komentar kang Bejo. Kang Supri tergelak lagi. mereka berduapun salaman dengan Budi dan Adel.
“Dunia emang susah ditebak ya, kang” celetuk kang Mangil. Sambil melirik ke arah Adel.
“Iya. dulu pacar siapa, sekarang pacar siapa” timpal kang Bejo.
“Aduuh”
Budi kaget mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya. Sontak perbuatan Adel mengundang gelak tawa dari semua yang ada di ruangan itu.
“Oke, oke. Nah, kan udah pada ngumpul nih, sekarang coba katakan apa yang bisa kami bantu” kata kang Supri. Budi tersenyum.
“Begini, kang” kata Budi menawali penjelasannya.
“Saya pengen bikin usaha kerajinan tangan. Seperti souvenir yang menggambarkan banget tentang pantai Watu Karung. Bukan sekedar gelang manik-manik, topi atau semacamnya. Tapi yang lebih menarik dari itu”
“Misalnya?” potong kang Bejo.
“Semacam gelang ukir berbentuk kepiting. Strapnya sendiri dari kaki-kaki kepitingnya. Sejenis itu, bisa bentuk tarantula, atau bintang laut. Bisa juga meja belajar, berukir landscape pantai watu karung, atasnya dilapis akrilik. Hard cover untuk buku, tempat pulpen berbentuk pantai, pulpennya sendiri berbentuk pohon kelapa. Semacam itu”
“Wow” komentar kang Mangil.
“Bikin mebel aja sekalian! Nuansa hutan bakau sama pantai” lanjutnya.
“Kaki kursinya berbentuk akar bakau, gitu? Ngelilit-ngelilit dari bawah sampai atas?” tanya kang Bejo.
“Iya. Atasnya kasih siluet dedemit. Ha ha ha” jawab kang Mangil.
“Boleh juga tuh” sahut istrinya kang Supri. Budi tersenyum senang.
“Tapi ngomong-ngomong, bangunan bengkelnya udah ada belum?” tanya kang Supri.
“Itu dia, kang” sahut Adel. Semua mata tertuju padanya.
“Kita juga mau nanya, ada nggak tukang bangunan yang kerjanya bagus, tapi upahnya masih bisa kami jangkau” lanjut Adel.
“Oh, si Sukron aja, kang” sahut kang Mangil.
“Iya, bener. Sukron kerjanya bagus. Sama mbak Adel pasti bisalah, nego dikit. Toh dulu awal mulanya juga dari pak Fajar, dia bisa nukang” sahut kang Bejo.
“Aku sih, yes” jawab kang Supri.
“Kapan mau dimulai?”
“Kalo harga sudah deal, langsung kita mulai rancang bangun sama estimasi biayanya. Kalo masih kejangkau, pengennya hari ini juga dimulai” jawab Budi.
“Wah, jadi curiga, aku”celetuk kang supri.
__ADS_1
“Curiga kenapa, kang?” tanya Adel.
“Kayaknya pak Fajar udah ngasih tenggat waktu, nih. Kalo nggak terwujud, hemm” jawab kang Supri sambil tersenyum menggoda. Sontak mata Adel melirik ke arah Budi. Budi tersenyum.
“Saya yang ngebet, kang. Takut keduluan mbadol” jawab Budi.
“Mbadol? Apaan tuh?” tanya kang Bejo sambil tergelak.
“Tikus prematur” jawab Budi sambil tergelak juga.
“Hempf”
“Adoow”
“Ha ha ha ha ha”
Mereka tertawa melihat Adel tergelak dan mencubit pinggang Budi, sebagai ekspresi gemas. Mereka bertiga juga tertawa saat mengomentari kata tikus prematur. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya di benak mereka.
Selanjutnya, mereka membicarakan tentang kerjasama. Tentang upah yang kang Supri dan kawa-kawan jika bergabung dengan bengkel Budi. Setelah bernegosiasi beberapa lama, tercapailah kesepakatan antara mereka. Selanjutnya mereka bertiga ikut pergi mengiringi Budi dan Adel menuju ke rumah kang Sukron.
“Assalamu’alaikum” seru kang Supri memberi salam.
Kang Sukron yang sedang memperbaiki atap rumahnya sendiri terkejut melihat kedatangan kang Supri, kang Bejo dan kang Mangil.
“Wa’alikum salam” jawab kang Sukron, yang masih duduk di atap terasnya. Dia beranjak turun untuk menyambut para tamunya.
“Tumben banget. Ada apa kok rame-rame ini?” tanya kang Sukron. Dia menyalami satu per satu para tamunya.
“Loh, ini putrinya pak Fajar kan, kang?” tanya kang Sukron lagi, kepada kang Supri.
“Iya, mbak Adel” jawab kang Supri.
“Loh, ini kan?”
“Budi, kang” jawab Budi.
“Lah, kok bisa?” tanya kang Sukron sambil tergelak.
“Dunia emang penuh rahasia, kang” sahut Adel.
“Ha ha ha ha. Monggo, monggo. Silakan masuk!” kata kang Sukron mempersilakan tamunya masuk, setelah tertawa. Merekapun masuk.
“Silakan duduk, maaf-maaf aja ndan, rumah saja jelek” kata kang Sukron. Terkhusus kepada Budi.
“Kang Sukron ini merendah” komentar Budi.
“Maaf nih ndan. Sambil nunggu kopi, inijin saya bertanya! Ini ceritanya komandan mau ambil alih komandonya kang Sandi?” tanya kang Sukron. Adel tersentak, dia menoleh ke arah Budi. Budi tersenyum, sedangkan yang lain tergelak.
“Bukan, kang Sukron. Saya udah mantep buat pensiun” jawab Budi.
“Oh. Terus, ini bisa barengan sama kang Supri, kang Bejo, sama mangil, ada apa?” tanya kang Sukron semakin penasaran.
“Begini kang. Saya pengen bikin bangunan buat usaha bengkel kerajinan kayu yang mau saya bentuk” jawab Budi, langsung pada inti.
“Oalah. Ngerti, ngerti, ngerti. Pantesan, bisa barengan. Kirain buat urusan lama yang belum kelar”
“Urusan apa, kang?” sahut Adel.
“Nggak tahu. Kali aja, ini sih” jawab kang Sukron.
“Oh” komentar Adel pendek.
“Nah, mas Budi ini mau minta bantu kang Sukron buat bikinin bangunan bengkelnya. Mau nego-nego gitu. Kalo deal, hari ini juga mau dimulai pengerjaannya” kata kang Supri.
“Wuih, ngebet amat, kang? Itu syarat lamaran apa gimana?” goda kang Sukron”
“Ha ha ha, bukan aku aja berarti yang mikir begitu” celetuk kang Supri.
“Takut keduluan Mbadol” sahut kang Mangil.
“Mbadol? Apaan tuh?” tanya kang Sukron.
“Tikus prematur” jawab kang Bejo.
“Ha ha ha ha ha”
Mereka bertiga tertawa lepas. Kang Sukron juga ikut tertawa. Lagi-lagi Adel gemas dan mencubit pinggang Budi. Mau tak mau Budi juga ikut tertawa.
“Seru banget kayaknya” tegur seseorang.
Dari arah belakang rumah, keluar seorang wanita seumuran Budi. Dia datang membawa nampan penuh gelas berisi wedang kopi. Budi tertegun melihat wanita Itu.
“Fitri?” tegur Budi.
“Apa kabar, mas?” sapa wanita itu, sambil menghidangkan gelas-gelas berisi wedang kopi itu.
“Jangan marah ya, ndan. Fitrinya saya minta” kata Kang Supri, mengalihkan perhatian Budi.
“Ah, apaan sih, kang” jawab Budi.
“Ini Fitri, istri saya, mbak Adel. Dulu juga anggotanya kang Sandi. Dan pensiun bareng saya” kata kang Sukron memperkenalkan istrinya.
“Oh. Salam kenal, mbak. Jatuhnya, saya junior, dong?” sahut Adel.
“He he. Monggo, silakan diminum! Seadanya ya, mbak Adel. Kang” jawab Ftri, mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh. Iya, makasih. Ya Alloh, segala jajanan lebaran dikeluarin” jawab Adel.
“Apa sih, mbak. Cuman engkong gua, ini sih” sahut Fitri.
“Palsu lagi” timpal kang Sukron.
“Hempf” Budi tergelak mendengar kelakar suami-istri itu.
“Ha ha ha ha” mereka semua tertawa dengan kelucuan yang terjadi.
Selanjutnya, terjadilah perbincangan yang serius antara Budi dan kang Sukron. Mulai dari upah desain, bahan bangunan, jumlah tukang, upah nukang dan juga tentang kulinya.
Kang Sukron menjelaskan secara detail. Dia memberikan beberapa gambaran desain bengkel yang bisa dibangun dalam waktu singkat, namun tetap kokoh dan aman. Dia memberikan referensi toko bangunan yang murah, juga referensi kuli-kuli yang yang upahnya masih terjangkau di kantong Budi, tapi kerjanya juga sigap. Setelah sekian lama berdiskusi, akhirnya dicapailah kesepakatan mengenai upah dan lain sebagainya.
“Langsung bergerak, ini?” tanya kang Sukron.
“Kalo kang Sukron bisa” jawab Budi.
“Monggo” jawab kang Sukron.
Merekapun langsung beranjak dari tempat duduk masing-masing. Sebelum memulai pekerjaan, Budi terlebih dahulu memberian uang muka atas upah mereka berempat. Sontak kang Sukron berseru mengucap hamdalah. Dia tampak senang sekali atas rejeki yang datang lewat Budi. Dia langsung memberikan uang itu pada istrinya.
“Hayu bos! Nanti kulinya saya yang jemput. Mumpung belum siang” kata kang Sukron bersemangat.
Semua orang tersenyum melihat semangat yang terpancar dari wajah kang Sukron. Budi sempat merangkul pundak kang Sukron saat berjalan menuju motornya. Sedangkan Fitri, tampak berterimakasih kepada Adel. Dia sama terharunya dengan suaminya. Adel menjawab dengan bijak, kalau itu adalah rejeki dari Alloh.
“Semoga langgeng ya, mbak” doa Fitri.
“Amin. Makasih, mbak Fitri” jawab Adel.
Merekapun berkendara keluar pekarangan rumah. Meninggalkan Fitri sendiri melambaikan tangan.
Berada di posisi paling belakang, membuat Adel tak segan untuk memeluk tubuh Budi. Dia terharu lagi. di dalam hati dia mengucap syukur atas segala nikmat yang telah dia terima. Pagi ini sudah dua kali dia diperlihatkan pada orang-orang yang tidak seberuntung dirinya.
__ADS_1