Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kehadiran sephia


__ADS_3

Budipun melajukan motornya ke jalan besar. Lalu kembali ke kota, melewati jalan lama. Di tengah perjalanan, Erika mengajukan usul untuk pergi ke galeri dulu. Karena pak Paul memberikan kebebasan untuk mereka berdua. Dan dia yakin, kalau pak Paul juga ada di galeri. Budi setuju dengan usul tersebut.


Sesampainya di garasi, ternyata tebakan Erika benar. Ada mobil pak Paul yang terparkir di depan galeri. Ada juga sebuah truk yang terparkir di tempat bongkar muat. Ternyata itu adalah truk yang dibawa oleh si Hind. Apa yang diminta Budi, tampak sudah tersedia di dalam bengkel kayu.


Parit perlindungan sekaligus jalur evakuasi telah selesai dibangun. Sepanjang lintasan parit itu, telah ditutup kembali menggunakan beton precast. Di atas beton penutup itu juga ada tanah yang menutupi. Seperti tidak terlihat kalau ada parit di dalamnya.


Tampak pula beberapa orang sibuk menginstal senapan mesin laras putar. Budi mengapresiasi kerja Hind dan yang lain.


“Jalur evakuasi telah dibuat, bos. Tembus sampai ke tebing laut” kata kang Sukron memberi info.


“Lifeboat capsule juga telah siap. Termasuk tali dan perlengkapan descending” si Cobra ikut menambahi.


“Good. Bisa aku cek?” sahut Budi.


“Silakan!” jawab si Cobra.


Kang Sukron membukakan pintu palka menuju parit. Tampak ada ruangan berbentuk pentagonal, cukup untuk berdiri sepuluh orang. Mereka bertiga menuruni tangga menuju ruangan pentagonal itu. dan pintupun ditutup kembali.


Penerangan di bawah sini hanya sebatas lampu LED panjang, seperti yang biasa ditemukan di jalan tol, saat ada perbaikan.


Menurut penjelasan kang Sukron, beton penutupnya mampu dilewati mobil sampai sekelas MPV.


Tiba di halaman belakang, ada cabang ke kiri. Budi mengajak kang Sukron menuju jalan buntu. Ada pintu palka juga di sana untuk keluar.


Jalan menuju palka itu dibuat seperti tanjakan. Budi paham, jalan itu menjadi akses untuk kursi roda. Begitu di buka, mata Budi langsung bertemu dengan plat nomer mobilnya Adel.


Kang Sukron membuka pintu belakang mobil itu. Dan Budi langsung mengerti. Tempat parkir mobil Adel, sengaja digali terlebih dahulu, agar lantai mobil itu sejajar dengan tanah jalur keluar dari parit. Sehingga kursi roda bisa langsung masuk tanpa mengangkatnya terlebih dahulu.


Ada sedikit modifikasi, untuk menalikan kursi roda itu, ke pengunci rangka jok di lantai mobil. Dengan melepas semua kursi penumpang, dua kursi roda bisa dimuat sekaligus.


“Good job brother” puji Budi.


Kang Sukron dan Cobra tersenyum. Mereka menjelaskan jalur evakuasi menuju jalan besar. Budi memberikan titik tujuan, agar Cobra membuatkan jalur yang lebih aman. Sambil memikirkan itu, Budi mengajak keduanya untuk memeriksa jalur evakuasi melalui laut.


Di ujung jalan, si Cobra menunjukkan tali carmantel, yang akan digunakan untuk turun menuju laut. Harrness, dan peralatan lain juga sudah tersedia di dinding parit. Termasuk juga life boat capsule. Sebuah kapsul seperti tabung gas, yang akan terbelah jika tali pemicunya ditarik. Dan tali pemicu itu terhubung dengan ujung dari tali carmantel.


Setelah kapsul itu terbelah, maka tabung kecil yang berisi udara bertekanan, akan menyembur, dan memompa life boat di dalamnya. Sehingga, setelah terkembang maksimal, bisa dipakai untuk mengambang di atas air.


Puas memeriksa semua perlengkapan, Budi mengajak keduanya kembali ke bengkel kayu. Budi menyalami semua yang ada di dalam galeri.


Sempat dia berhenti dan berjongkok di depan Putri. Dia juga menyempatkan diri mencium tangan Putri, sebagai tanda sayangnya pada sang adik. Putri terkejut, tapi juga senang, mendapat perlakuan istimewa dari sang kakak. Diapun akhirnya bisa tersenyum, ditengah kepedihan yang dia rasakan.

__ADS_1


Bu Ratih yang sedari tadi bingung langsung bertanya pada Budi tanpa basa-basi. Budi sempat memperhatikan, ada raut ketakutan dalam wajah semua penghuni bengkel kayu ini.


“Kita sudah siapkan skenario jika hal buruk terjadi, bu. InsyaAlloh kita akan baik-baik saja” kata Budi, menjawab pertanyaan ibunya.


Bu Ratih hanya bisa menatap lekat wajah Budi. Dia merasa ada jiwa suaminya di dalam tubuh Budi. Dia seperti sedang menatap wajah Abdul Rouf diawal jumpa dulu. Abdul Rouf yang tampan, terkadang caper, terkadang cuek, suka bercanda tapi juga misterius.


“Bu?” tegur Budi. bu Ratih tersentak.


“Gitu amat ngeliatinnya? Ada lipstick nempel ya, bu?” tanya Budi, sambil meraba-raba wajahnya.


“Hempf” bu Ratih tergelak.


“Hayo, abis ngapain?” goda bu Ratih. Dia tahu, Budi hanya pura-pura saja.


“He he”


Budi hanya nyengir saja. Dia senang, bisa membuat ibunya tergelak. Ketegangan di wajah ibunya telah mereda.


“Bos”


Terdengar panggilan dari arah tengah bengkel. Budi menoleh ke arah suara itu. Terlihat si Alligator mengangkat tangannya, memberitahukan Budi, kalau dirinyalah yang memanggil.


Di kursi naga, masterpiecenya yang baru saja jadi, duduk seorang wanita yang sudah tidak asing lagi bagi Budi. Tapi bukan orang yang ikut tinggal di bengkel kayu ini.


“Apa kabar Nat?” sapa Budi pada wanita itu.


Budi mengulurkan tangannya. Tapi tidak disambut oleh wanita itu. Tampak wanita itu mendelik, menatapnya tajam. Budipun tertawa.


“Dia kaget, bos”


Kang Sukron mendekat dan angkat biacara.


“Dia tidak tahu, kalo bos Budi punya tim yang Sandi tidak tahu” lanjut kang Sukron. Budi tertawa.


“Udah pada makan, belum?” tanya Budi.


“Udah, bos” jawab kang Sukron.


“Natasya?”


“Udah juga. Bu Ratih yang ngajakin”

__ADS_1


“Good” komentar Budi singkat.


“Aku cuman punya makanan, Nat. Makasih, udah mau makan di tempatku” kata Budi merendah, kepada Sephia.


Mendengar ucapan lembut Budi, tatapan tajam sephia berangsur mengendur. Berganti tatapan penuh arti, yang belum bisa Budi tebak apa maknanya.


“Sebelumnya, “


Budi menggantung ucapannya. Dia menarik ‘hydra’, kursi pendek berbentuk ular naga berkepala sembilan. Pasangan dari naga tanpa kaki, yang diduduki Sephia.


“Aku mau ucapin terimakasih” lanjut Budi lirih. Sephia mengernyitkan keningnya.


“Aku nggak tahu sih, apa maksud kamu ngelakuin itu sama aku, di kapal itu. But, thanks” lanjut Budi lagi.


Sephia masih berdiam diri. Dia tidak berkomentar apapun. Dan mereka berdua hanya saling menatap untuk beberapa lama.


“Aku tahu, kamu ada sesuatu sama Erika” kata Budi lirih.


Mata Sephia tampak melebar, terkejut. Namun dia masih bersikap biasa.


Kok dia kaget, ya? Ada apa nih, antara mereka?


“Erika, sekarang sama aku. Dia akan jadi menantu ibuku” lanjut Budi.


Dia menunggu respon Sephia beberapa saat, namun Sephia masih tak bergeming.


“Setelah aku dan Erika menikah, kamu juga akan menjadi bagian dari keluargaku. Terlepas, apakah kamu masih sama Sandi atau enggak, kamu tetap akan jadi bagian dari keluargaku”


Ada keharuan di wajah Sephia. Budi masih bertanya-tanya. Tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan si Sephia ini. Bisa langsung sendu, mendengar ucapannya. Padahal dia hanya mengarang bebas.


“Ya, maaf aja, kalo aku jemput kamu dengan cara yang kasar” kata Budi sambil tersenyum, dan menoleh ke arah Alligator.


Kang Sukron mencandai Alligator, dan keduanya sama-sama tertawa. Ternyata tawa mereka sukses menular pada Sephia. Dia mulai tersenyum.


“Aku butuh alat”


Suara sephia mengalihkan perhatian mereka. Budi menatap lekat wajah Sephia. Dia tidak percaya, Sephia akan luluh secepat itu. Tapi apapun itu, Budi senang mendengarnya.


“Kang?” panggil Budi.


“Siap, bos” jawab kang Sukron.

__ADS_1


__ADS_2