Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bu susan turun tangan


__ADS_3

Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu depan. Bu Lusi yang memang mau ke depan untuk belanja sayur, merasa heran. Siapa kiranya yang bertamu sepagi ini.


“Mbak Susan? Ya Alloh. Jam segini sudah sampai di sini, dari solo jam berapa?”


“Aku nggak bisa tidur Lus, mikirin pertengkaran Luki sama Adel. Pasti Luki salah ambil contoh dari papanya” jawab bu Susan.


“Masuk dulu, mbak!” kata bu Lusi mempersilakan tamunya untuk masuk.


“Adel masih di rumah, kan?” tanya bu Susan sambil duduk.


“Masih. Baru abis mandi. Aku panggilin dulu, ya?”


“Makasih ya, Lus”


Bu Lusipun pergi ke kamarnya untuk memberitahu Adel. Dia juga menelepon Luki yang tidur di atas. Dan hampir bersamaan mereka bertiga tiba di ruang tamu.


“Ma” sapa Luki ke bu Susan sambil salim.


“Ki. Kalo kamu mau ngambil contoh dari papa, baiknya kamu tanya dulu sama mama” kata bu Susan, langsung pada inti. Luki tertegun. Adelpun tak kalah tertegun.


“Assalamu’alaikum, ma” sapa Adel, beberapa saat kemudian.


“Wa’alaikum salam, sayang. Maaf ya, mama langsung to the point” jawab bu Susan.


“Iya, ma” sahut Adel.


Diapun duduk di sebelah kiri suaminya.


“Pastinya, kamu belum mikirin yang namanya rumah tangga, waktu kamu liat papa begini dan begitu” lanjut bu Susan. Matanya lurus menatap putranya. Luki diam tak menjawab.


“Jangan ulangi kesalahan papamu, sayang! Papamu salah kaprah karena salah pergaulan. Dulu papamu nggak kaya gitu. Papamu memang tegas, tapi nggak egois. Tapi semenjak kamu usia sekolah, papamu berubah. Dan itu yang mama sesalkan” lanjut bu Susan.


Luki mengernyitkan keningnya. Sepertinya dia belum menangkap benang merah antara cerita mamanya itu dengan pertengkarannya dengan Adel.


“Adel itu istrimu, bukan karyawanmu. Kamu boleh memaksakan kehendakmu sama karyawanmu. Tapi jangan semua keinginanmu kamu paksakan sama istrimu! Bisa berantakan rumah tanggamu” lanjut bu Susan lagi.


Masih tidak ada yang berani menyela. Seorang Luki sekalipun. Dia tidak berani membantah perkataan ibunya tadi.


“Tidak ada salahnya kamu diskusi sama ibu mertuamu. Mama juga selalu terbuka buat kamu curhatin. Semua hal yang bersifat teknis, bisa dibicarakan”


Adel melirik ke arah Luki. Dia melihat raut bersalah di wajah suaminya itu. Tapi dia masih bertahan dengan kemarahannya.


“Mengenai mbok Yem. Mama udah putusin buat bawa mbok Yem ke solo”


“Apa mama sudah pikirkan mengenai wasiat papa?” tanya Luki.


Adel terperanjat mendengar pertanyaan itu. Dan dia tidak bisa menyembunyikan kemarahannya dari raut wajahnya.


“Wasiat apa, sayang? Papa nggak pernah kasih wasiat. Abis kecelakaan itu kan, papa koma. Itu cuman akal-akalan tantemu aja, biar mbok Yem pergi dari rumah. Dia kan juga nggak suka sama mbok Yem. Mbok Yem kan suka bilang ke papa sama mama soal kelakuan tantemu, yang sukanya hura-hura, pergi pagi pulang malem segala macem. Kamu kan juga udah hafal tabiat tantemu”


“Astaga, tante. Bener-bener kamu, ya” keluh Luki.


“Ya udah. Sekarang kasih tahu mbok Yem! Suruh dia beres-beres pakaian, hari ini juga mbok Yem ikut mama ke solo!” perintah bu Susan.


“Huuuuffftt. Iya, ma” jawab Luki.


Diapun beranjak menuju dapur. Entah apa yang dilakukannya di sana. Tapi yang jelas, di ruang tamu itu, sekarang Adel merasa lega. Ternyata ibu mertuanya justru tidak membela anaknya sendiri. dia kagum dengan sikap mertuanya itu.


“Ma. Maafin Adel ya, ma? Adel udah kasar sama mas Luki”


Adel bersimpuh dan sungkem, seraya meminta maaf pada ibu mertuanya.


“Mama yang minta maaf ya, nduk. Mama pikir Luki udah bisa berpikir dewasa, ternyata belum. Yang sabar ya, nduk! Bilang aja sama mama, kalo Luki masih egois! Tabiat memang tidak bisa berubah seketika. Mama akan selalu siap membimbing Luki, agar bisa menjadi suami yang bisa Adel banggain”


“Adel juga mohon bimbingan ya, ma? Adel masih perlu banyak masukan dan arahan, agar bisa menjadi istri dan menantu yang bisa dibanggakan”


“Iya, sayang” jawab bu Susan. Adelpun menegakkan kepalanya.


“Oh ya” bu Susan seperti hendak bertanya. Adel menatap mata mertuanya, menanti kelanjutan kalimatnya.


“Kalo nanti mbok Yem udah mama bawa ke solo, dan Madina udah mau pulang ke rumah, Adel mau kan baikan sama Luki?” tanya bu Susan hati-hati.


“Ya Alloh, ma. Kalo mama ngomongnya halus begini, Adel malah jadi takut, ih” komentar Adel. ada senyum di bibir bu Susan.

__ADS_1


“Udah pastilah ma, Adel mau baikan sama mas Luki. Kalo dari awal mas Luki langsung nelpon mama, pastinya Adel nggak sempet marah. Yang penting buat Adel kan, solusi” lanjut Adel.


“Iya, betul. Masalah itu emang harus dicari solusinya, bukan jadi ajang debat kusir” komentar bu Susan.


“Adel takut dibenci Madin, ma. Cuman Madin sodara Adel”


“Iya. Mama tahu kok apa yang Adel rasakan. Abis ini, buruan jemput Madin, ya!”


“Iya, ma”


***


Pagi ini, rumah bu Ratih kembali ramai. Beberapa tetangga yang sudah berjanji untuk membantu memasak, sudah berdatangan. Tanpa diminta, mereka langsung sigap mengambil bagian.


Saat sedang asyiknya memasak sambil berbincang, perhatian mereka tersita oleh kedatangan sebuah mobil yang berhenti di depan rumah. Awalnya bu Ratih cuek, karena dia pikir itu adalah kerabat dari tetangga depan rumah. Tapi kedua wanita yang turun dari mobil itu ternyata berjalan menuju rumahnya. Sontak saja bu Ratih langsung ke belakang untuk mencuci tangannya, bersiap menyambut tamunya.


“Assalamu’alaikum” sapa mereka berdua.


“Wa’alikum salam” jawab semua yang ada di dalam rumah.


“Eh. Mbak Ratna, mbak Liza” seru Putri. Diapun keluar menyambut keduanya.


“Fist bump aja! Tangan saya belepotan” kata Putri, saat Ratna mengulurkan tangannya.


“Oh. Oke” jawab Ratna.


Merekapun melakukan fist bump bergantian. Saat itulah bu Ratih muncul.


“Monggo, silakan!” seru bu Ratih ramah.


“Loh. Mbak Liza?” lanjut bu Ratih, terkejut.


“Iya, bu. Apa kabar?” sahut Liza. Merekapun bersalaman.


“Alhamdulillah. Sehat. Mbak Liza sendiri apa kabar?” jawab bu Ratih.


“Alhamdulillah, bu. Sehat juga” jawab Liza.


“Ini?”


“Mbak Ratna, bu” sahut Putri.


“Nggak papa, bu. Kan ibu liat Ratna juga hanya sekilas saja, pas video call”


“He he. Sehat, mbak Ratna?"


“Alhamdulillah bu Ratih, sehat” jawab Ratna.


“Monggo, silakan duduk! Kita di teras saja ya, mbak? Di dalem lagi dipake masak” kata bu Ratih mempersilakan.


“Nggak papa, bu” jawab Liza.


“Put. Ini ada sedikit. Semoga bermanfaat” kata Ratna sambil menyerahkan bawaannya.


“Ya Alloh mbak, kok repot-repot segala. Makasih” komentar Putri sambil menerima pemberian Ratna.


“Sama-sama” jawab Ratna.


Diapun kemudian bergabung dengan Liza dan bu Ratih.


“Ini ceritanya mbak Liza cuti?” tanya bu Ratih.


“Iya, bu. Kemarin saya diutus papa buat belanja meubel di PT.PRAM” jawab Liza.


“Oh. Ketemu Budi, dong?” sahut bu Ratih, sambil tersenyum lebar.


“Iya, bu” jawab Liza dengan senyum tak kalah lebarnya.


“Dia nggak usil, kan?”


“Oh, enggak. Cekatan, malah”


“Syukurlah, kalo Budi nggak usil. Takutnya, dia lupa, kalo mbak Liza itu datang sebagai customer”


“Saya malah berharapnya gitu, bu”

__ADS_1


“Lah. Kenapa?”


“Ha ha. Abisnya mas Budi keliatan aneh bu, kalo formal begitu. Segala saya saya dipanggil, bu”


“Hempf. Ha ha ha”


“Tuh. Ratna saja sampe ketawa lepas begitu, bu”


“Maaf, bu” kata Ratna masih sambil tertawa.


“Tapi memang bener sih, bu. Kita yang sudah biasa ngobrol santai sama mas Budi tuh, ngerasa aneh kalau mas Budi bicara formal”


“Mas Budi sih cocoknya selengehan” sahut Putri. Semuanya menoleh padanya.


“Bikin baper, pinter” lanjut Putri.


“Iya. sampe bengong mbak Liza, liat kangmasmu kerja” sahut Ratna.


“Ih, enggak gitu” kilah Liza.


“Bukan begitu, bu” lanjut Liza. Wajahnya bersemu merah. Bu Ratih hanya tersenyum.


“Saya cuman kagum saja. Kok bisa ya, semua orang patuh sama ucapannya? Minta begini, jalan. minta begitu, jalan. sampe yang terakhir tu bu, Liza sampe kaget banget” lanjut Liza menjelaskan.


“Ada apa memangnya, mbak Liza?” tanya bu Ratih.


“Saya pikir ada kebakaran atau apa gitu, bu. Abisnya, karyawan cewek yang tadinya nganyam, tiba-tiba pada berhamburan ke sebelah, di tempat mesin-mesin. Kan ngeri saya, bu”


“Terus?” tanya bu Ratih penasaran.


“Nggak tahunya memang diperbantukan ke jalur persiapan. Mas Budi bu, yang merintahin”


“Alhamdulillah” kata bu Ratih bersyukur.


“Orang kalo masih cinta, yang dilihat yang baiknya aja, Put” kata Ratna kepada Putri. dengan telapak tangannya dia pakai untuk menutupi bibirnya dari pandangan Liza.


“Hem?”


“Yang pas kangmasmu ngupil, pasti nggak diomong nih, entar” lanjut Ratna.


“Ih, Ratna”


“Hempf. Ha ha ha ha”


Putri tertawa lepas mendengar kelakar Ratna. Sekaligus tertawa karena kaki Ratna terkena injakan kaki Liza. Bu Ratih juga ikut tertawa.


“Monggo!”


“Eh, loh?”


Ratna terkejut saat Madina muncul dari dalam rumah sambil menurunkan nampan yang ia bawa ke atas meja. Dia memperhatikan tubuh Madina dari ujung kepala sampai ke kaki.


“Ini Madina mbak, sahabat Putri” kata Putri memperkenalkan Madina.


“Oh. Kok, mirip?” tanya Ratna.


“Iya, mbak. Madina ini adiknya mbak Adel”


“Ha?”


Hanya itu yang keluar dari mulut Ratna. Pikirannya masih sibuk menganalisa berbagai hal.


“Silakan, mbak!” kata Madina sambil tersenyum.


Liza tersenyum saat Madina menatapnya sambil tersenyum. Lalu Madina mengangguk sebagai permintaan ijin undur diri. Sampai Madina hilang di balik tembok, Ratna masih terlihat syok.


“Na?” tegur Liza.


“Hem? Oh, ee, ee” Ratna tergagap.


“Dunia itu sempit ya, mbak?” komentar Putri. Ratna memainkan bibir dan alisnya sebagai ganti kata, setuju.


“Kalian hebat. Masih sahabatan, setelah semua kejadian itu” komentar Ratna.


“Mereka sahabatan jauh sebelum kakak-kakak mereka saling mengenal” sahut bu Ratih. Ratna dan Liza tidak menjawab.

__ADS_1


“Dan ya, harus ibu syukuri, mereka masih bersahabat meskipun takdir kakak-kakak mereka berkata lain” lanjut bu Ratih.


Terjadi keheningan beberapa saat, karena keduanya tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2