Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
marketing masker


__ADS_3

“Gimana Put, udah mendingan kakinya?” tanya Budi. Sambil memperhatikan perban di kaki Putri.


“Masih sakit, mas. Tapi badan udah enakan. Udah nggak sengrentek semalem” jawab Putri.


Budi tidak segera berkomentar. Dia masih melakukan pemindaian pada kaki dan tangan Putri yang terluka. Termasuk pada kening yang juga diperban itu.


“Hemf”


Budi menghela nafas berat. Sama seperti disaat dia melihat luka-luka di tubuh Adel, dia juga berharap kalau luka-luka itu bisa dia pindahkan ketubuhnya.


“Aku bangga sama kamu, Put. Right decision” komentar Budi.


Putri tersenyum mendengar pujian dari kakaknya. Moralnya bertambah tinggi. Dia juga merasa bangga, bisa membuat kakaknya merasa bangga atas dirinya.


“Kamu kenapa, Din?”


Suara Stevani menyita perhatian mereka.


“Ha? Eee, anu. Eee”


Madina tergagap, tertangkap basah oleh Stevani, saat dia sedang menatap lekat wajah Budi.


“Berani lu, sama mbak Rika?” goda Putri.


“Apaan sih, Put?” bantah Madina.


“You should be mentally prepared, to steal my brother from her” komentar Putri.


“Kalo nggak sakit, udah gua tabok panci, lu. Gosip mulu kerjaannya” gerutu Madina.


“Hempf. Ha ha ha. Aduh, jangan bikin gua ketawa dong!”


Putri tertawa mendegar gerutuan Madina. Tapi hanya sebentar, karena kepalanya terasa nyeri, kalau dibuat tertawa. Tapi pada akhirnya, mereka tertawa lagi.


Tak lama kemudian, dokter datang memeriksa Putri dan Stevani. Dan dokter itu menyatakan, kalau mereka berdua sudah cukup sehat untuk bisa diambil keterangannya.


Seperginya dokter itu, ada dua rekan sejawat Zulfikar yang masuk untuk meminta keterangan dari Stevani. Termasuk juga Putri, dan juga Budi. Mereka bertiga menceritakan kronologi kejadian berdasarkan sudut pandang masing-masing.


Inti penuturan Stevani adalah dongel. Yang dia sendiri tidak mengerti, dongel apa yang mereka maksud. Dia juga tidak tahu kalau ada layanan penyimpanan uang dan barang berharga selain bank. Dia tidak pernah tahu kalau bapaknya pernah bertransaksi selain dengan bank. Dan yang aneh, kedua orang itu tidak tahu, dongel itu berupa apa.


***


Saat proses pengambilan keterangan itu telah selesai, Budi mendapat telepon dari Farah. Farah mengatakan kalau supplier yang dimaksud Erika telah datang. Budipun pamit kepada ibunya untuk pergi ke pabrik sebentar.


“Pergilah, ngger! Tugas harus tetap dilaksanakan. Sudah ada Madina yang bantuin ibu” kata bu Ratih, menjawab permintaan ijin Budi.


“Baik, bu” jawab Budi.


Diapun pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Saat dia kembali ke kamar, semua mata lekat menatap kepadanya.


“Ada apa? Ada yang aneh, dari Budi?” tanya Budi bingung.


“Madin sih, jangan ditanya, mas” celetuk Putri.


“Apaan sih?” elak Madina.


Tapi ada senyum malu-malu yang mengembang di bibirnya.


Mereka sempat ceng-cengan sejenak. Sebelum akhirnya Budi benar-benar pergi untuk menjalankan kewajibannya.


Di pabrik, dia langsung dihujani banyak sekali pertanyaan. Setiap orang yang dia temui, punya pertanyaan tersendiri untuknya. Tapi Budi hanya menjawab sekedarnya, dan meminta maaf, karena ada tamu yang sudah menunggunya.


“Selamat pagi” sapa Budi, setibanya di ruang meeting bawah.


“Pagi”


Terdengar ramai sahutan dari salamnya.


“Maaf ya, jadi bikin nunggu” kata Budi sambil menyalami satu per satu semua yang hadir. Ada Farah, Resti, dan kedua tamunya.


“Ini mas Budi, orang kepercayaan dari owner perusahaan ini” kata Farah memperkenalkan Budi.


“Perkenalkan, saya Sumarni, dan ini technical asisten saya, Zulfiana. Panggil saja saya Marni, dan dia, Ina”


“Zulfiana. Ina? Kok melenceng?” gumam Budi.


Kedua tamunya tertawa, karena gumaman Budi masih bisa mereka dengar.


“Iya. Pada suka melesetin sih, mas. Harusnya kan, Ana. Cuman karena ada kembarannya yang bernama Ana, jadi deh aku dipanggil Ina. Karena udah dari TK, jadi ya, sudahlah. Ha ha ha” kata Zulfiana menjelaskan.


“Sama” sahut Budi. Sontak semua orang menunggu kelanjutannya.

__ADS_1


“Nama saya Budi. Eh, dipanggil Dylan. Berasa ganteng kan, saya” lanjut Budi.


“Hempf” Farah dan Resti tergelak mendengar ucapan Budi.


“Eh tapi related lho” seru Ina. Farah sampai terhenti tertawanya.


“Dylan Carr. Mirip, kan?” lanjut Ina.


“Jangan bilang, mbak Ina ngeliatnya dari sedotan!” kata Budi, sambil menunjuk ke arah Farah.


“Hempf. Ha ha ha ha” Farah malah tertawa lepas, mendengar gerutuan Budi.


“Udah deh, mas Bud. Deretan cewek kamu udah banyak. Nggak usah tepe tepe sama mbak Ina! Entar sore juga berubah, kamu” goda Resti.


“Dylan-da amukan Erika” sahut Farah.


“Ha ha ha” mereka berdua tertawa lepas.


“Wah. Farah, lu” komentar Budi.


“Hempf”


Ina dan Marni tergelak. Sekuat tenaga mereka menahan tawa, karena takut dianggap tidak sopan.


“Udah ah. Yuk kita mulai meetingnya!” ajak Farah.


Merekapun beralih ke mode serius. Dimana Marni memaparkan produk-produk perusahaannya. Dan Budi bertanya sehubungan dengan visi yang dia punya.


Budi merasa kagum pada Ina, yang dengan lihainya menjelaskan proses produksi menggunakan bahasa teknik, tanpa ada keraguan. Bahkan ilmu lintas disiplin juga dia paham.


Ditanya tentang molding, dia paham. Ditanya tentang surface threathment, dia paham. Sampai laser welding dia juga paham.


Tanpa terasa, sampai menjelang waktu makan siang, mereka masih serius berdiskusi. Ada banyak catatan yang dibuat Budi. Dan tepat pada waktu makan siang, mereka telah selesai berdiskusi.


“Bagaimana kalau kita makan siang dahulu?” tanya Marni. Ajakan yang bernada traktiran.


“Eem. Inget makan jadi inget ibu saya” jawab Budi.


“Mungkin sama mbak Farah sama mbak Resti aja, mbak Marni. Saya mesti kembali ke rumah sakit. ibu saya kayaknya juga belum makan” lanjut Budi.


“Oh iya. Adiknya mas Budi lagi dirawat, ya?” sahut Zulfiana.


“Iya, mbak. Makanya, saya harus segera balik ke sana” jawab Budi.


“Mohon maaf, kami hanya bisa bantu doa, semoga adiknya mas Budi segera diberikan kesembuhan” lanjut Sumarni.


“Terimakasih mbak Marni, atas doanya. Saya duluan, ya?” pamit Budi.


“Oh. Silakan, mas” jawab Marni.


Budipun meninggalkan ruang meeting. Saat dia akan mengambil minum di dispenser, dia melihat Erika sudah datang. Dia sendang berbincang dengan pak Supri.


“Udah kelar, mbak?” tanya Budi.


Sontak pertanyaan Budi menyita perhatian para karyawan kantor. Sapaan Budi terdengar aneh. Karena rumor tentang Budi yang telah jadian dengan Erika, membuat Budi tidak harus memanggil Erika dengan sebutan mbak. Begitu pikir mereka.


“Udah, mas” jawab Erika.


Nah, kalau jawaban Erika, baru terdengar masuk akal.


“Gimana meetingnya?” tanya Erika. Dia meminta ijin pada pak Supri untuk mendekati Budi.


“Baru aja kelar” jawab Budi.


Dia meneggak dulu air yang sudah dia tuang ke dalam gelas.


“Aku udah punya gambaran. Banyak juga yang aku catat. Tinggal lapor ke pak Paul. Kalo pak Paul setuju, tinggak mbak Farah nego harga. Kalo deal, tinggal setting jalur sambil training operator. Bikin masker kan nggak seribet bikin baju. Jadi seminggu harusnya cukup, sih” lanjut Budi.


“Oh. Yang masker kain? Yang medis?” tanya Erika.


“Ya nunggu legalitasnya dulu. Udah dapet belum, ijinnya?” sahut Budi.


“Belum. Ini pak Paul pergi lagi, buat ngelobi dari jalur lain” jawab Erika.


“Nah, itu. Soal mesin dan proses produksi, bahan baku, sampai pemeliharaan mesin, aku udah punya catatannya. Misalnya mau dikomparasikan sama supplier lain, aku udah punya gambaran” kata Budi.


“Oke. Udah makan belum?” tanya Erika.


“Belum. Ini mau nelepon ibu dulu. Kalo belum makan juga, sekalian mau aku bawain” jawab Budi.


“Ya udah yuk! Pake mobilku aja” ajak Erika.

__ADS_1


“Hem?” Budi belum paham.


“Kok bingung?” tanya Erika.


“Sebagai apa, nih?” Budi balik bertanya, sambil menunjuk ke arah Erika.


Erika tersenyum. Dia mengerti apa maksud Budi. Diapun mendekat.


“Sebagai calon menantu, lah” jawabnya lirih.


Budi tersenyum sambil manggut-manggut.


“Oke” kata Budi.


Budipun beranjak mengiringi Erika. Ada beberapa karyawan kantor yang menggoda mereka berdua. Tapi kali ini Erika hanya tersenyum. Sempat juga dia meleletkan lidahnya. Tanda kalau dia welcome dengan candaan mereka.


“Halo, assalamu’alaikum”


Budi menyapa dalam teleponnya.


“Wa’alaikum salam. Udah kelar meetingnya, ngger?” tanya bu Ratih.


“Sudah, bu. Ini mau balik ke rumah sakit” jawab Budi.


“Ibu udah makan?” tanya Budi.


“Udah. Ini bu Lusi dateng bawain makanan” jawab bu Ratih.


“Loh. Emang madina pulang?”


“Enggak. Masih di sini”


“Siapa yang masak?”


“Ya mbak Adel lah, ngger”


“Kamu pikir aku nggak bisa masak?”


Terdengar suara bu Lusi berseru. Budipun tergelak.


“Ya sudah kalo gitu. Berarti Budi nggak bawain ya, bu?” tanya Budi.


“Iya. Kamu aja, makan sendiri. Traktir mbak Rika, ya! Dia udah bantuin kan, dari awal masuk?”


“Siap, bu” jawab Budi.


“Kalo gitu, Budi makan dulu ya, bu?” pamit Budi.


“Ati-ati ya, ngger!”


“Iya, bu. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


*Tuuut*


Saat sambungan telepon diputus, Budi terkejut melihat Erika menatapnya lekat.


“Gimana?” tanya Erika.


“Ibu udah makan. Dibawain sama bu Lusi” jawab Budi.


“Kok nggak malu, sih?” komentar Erika.


“Lah, kenapa malu? Kan mereka sahabatan. Dari kecil, malah”


“Ya. Aku pernah denger, sih”


“Ya udah. Kita makan sendiri, yuk!” ajak Budi.


“Bungkus aja kali, ya? Makan di rumah sakit?”


“Jangan!” tolak Budi.


“Kenapa?” Erika bingung.


“Udah. Makan di tempat aja. Aku juga mau liat motor kemarin. Harus buruan masuk bengkel, kan” jawab Budi.


“Hem. Pasti ada RC cepek, nih.


“Hempf. Ha ha ha” Budi tertawa sambil menarik tangan Erika, untuk beranjak dari depan lobi.

__ADS_1


Merekapun makan soto di tengah kota. Eerika masih terlihat cemberut, mengetahui ada Adel di kamar rawat Putri. Beberapa kali Budi menggodanya. Alhasil, kepalanya mendapatkan sebuah getokan sendok dari Erika. Tapi dia malah tertawa lepas.


__ADS_2