
Rumah yang mereka tuju saat ini, rupanya cukup jauh. Dan harus naik turun melewati jalan pegunungan. Beruntung mobilnya Adel transmisinya manual, jadi masih sanggup melahap medan berat.
Berkali-kali dokter Gea bersumpah tidak bohong saat kang Sukron menanyainya. Setelah berjuang sekian lama, akhirnya mereka sampai pada rumah yang mereka tuju. Dan dokter Gea, diposisikan paling depan. Anak buah kang Sukron langsung menyebar ke sekeliling rumah.
*Tok tok tok*
Dokter Gea mengetuk pintu. Dan keluarlah seorang laki-laki seumuran Budi. Melihat dokter Gea dibopong dua orang tak dikenal, laki-laki itu langsung menutup pintu kembali, dan bermaksud kabur lewat pintu belakang.
Tapi dia justru langsung disambut acungan golok oleh anak buah kang Sukron. Istri dan anak-anaknya yang masih kecil menjerit ketakutan. Mereka dikumpulkan di ruang tengah.
“Langsung saja ya? Aku cuman mau nanya, dari mana kamu dapet obat-obatan ini?” tanya Budi. dia mengacungkan onat-obatan tadi.
“Ya dari pabriknya, lah. Dari mana lagi? Kamu pikir itu apa?” jawab laki-laki itu.
“Oke. Obat pusing sih” sahut Budi, sambil pura-pura membaca tulisan di kemasan obat itu.
Dia membuka salah satu obat itu, lalu mengacungkan ke istri dari laki-laki itu. tampak ketegangan di raut wajah laki-laki itu.
“Cuman obat pusing, bu. Minum!” kata Budi menjawab keraguan di wajah istri laki-laki itu.
“Jangan sembarangan kamu!” hardik laki-laki itu. Sontak anak buah kang Sukron mengacungkan goloknya.
“Orang sehat kok dikasih obat. Maksudmu apa?” lanjut laki-laki itu.
“Ya nggak papa kan, nggak bakal jadi racun. Toh obat biasa kan?” sahut Budi.
“Minum bu!” perintah Budi pada istri laki-laki itu.
“Jangan gila, kamu!” hardik laki-laki itu lagi.
“Loh. Kenapa marah-marah?” tanya Budi.
“Ini obat yang dijual sama suami ibu. Di jual ke dokter Gea. Dokter Gea jual lagi ke laki-laki yang di pintu itu. Barusan, laki-laki itu nyusup ke bengkel kayu saya untuk naruh obat ini ke tumpukan kayu. Kalo saya nggak kebangun, mungkin akan ada yanga ambil obat ini. Unik ya, cara jualannya” lanjut Budi.
__ADS_1
“Ya Alloh. Ayah jualan narkoba?” tanya istri laki-laki itu?”
“Bukan, bukan. Itu obat biasa, bu” sahut laki-laki itu.
“Obat biasa, bu. Sama aja kaya bodrek. Di iklan kan diminum beneran, padahal artisnya lagi nggak pusing. nggak kenapa-kenapa, tuh” kata Budi, menyindir.
Istri laki-laki itu ternyata menerima obat yang diacungkan Budi. Tampak laki-laki itu ketakutan.
*Daakkk*
Tanpa Budi duga, laki-laki itu menendang meja di depannya hingga membentur kaki istrinya. Sontak obat itu jatuh dari tangan sang istri.
“Ayah? Kamu?” tanya wanita itu lirih.
Air matanya mengembang dan jatuh dengan cepatnya. Sedangkan laki-laki itu hanya bisa diam menunduk.
“Aku ke sini bukan mau bahas urusan kalian. Aku cuman mau nanya, dari mana kamu dapet obat-obatan ini” kata Budi.
Laki-laki itu tidak segera menjawab. Mungkin dia terpikirkan bagaimana kelanjutan rumah tangganya.
Budi menghunuskan pisaunya ke arah leher istri laki-laki itu.
“Sumpah. Aku nggak boong” seru laki-laki itu, histeris.
“Tunjukin!” perintah Budi.
Anak buah kang Sukron membawa laki-laki itu keluar menuju mobil.
“Ibu jangan bilang-bilang, kalo pengen suami ibu selamat!” perintah Budi. wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.
Merkapun pergi menuju outlet yang dimaksud laki-laki itu. Sambil berjalan, Budi menanyai dokter Gea, tentang siapa saja yang mengambil obat-obatan terlarang darinya, dan siapa saja yang suka menyusup ke bengkel kayunya.
Dokter Gea menyebutkan para langganannya. Mulai dari sesama dokter, orang yang berpura-pura sebagai pasien, maupun yang berpura-pura sebagai keluarga pasien. Tapi untuk yang menyusup, dia tidak tahu.
__ADS_1
Laki-laki yang menyusup tadi menambahkan, beberapa nama yang ikut mengedarkan narkoba itu dengan menyusup ke bengkel kayu Budi. Dan Budi langsung memerintahkan kang Sukron untuk mengeksekusi nama-nama yang disebutkan laki-laki tadi. Dalam artian dibuat menjadi gila. Hal yang pernah mereka lakukan dulu.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya mereka sampai di dekat outlet obat yang mereka tuju. Tampak lengang dan tanpa penjagaan ideal. Hanya ada dua orang scurity. Budi memerintahkan kang Sukron untuk mengirim anak buahnya untuk mengintai dari dekat. Bisa jadi, ada pabrik narkotika di bawah tanah.
Kang Sukron memenuhi perintah itu.
Beberapa saat menunggu, anak buah kang Sukron kembali.
Dia melaporkan kalau di sana tidak ada pabrik obat. Hanya ada ruangan khusus yang terpisah di belakang. Dan isinya juga hanya obat-obatan dengan kemasan yang sama dengan yang di depan.
Budi dan kang Sukron menduga kalau obat-obatan yang disimpan di belakang itulah, narkobanya.
Mereka menyusun siasat. Budi ingin, outlet itu dibakar dengan skenario konsleting listrik. Anak buah kang Sukron yang ahli kelistrikan, pergi menjalankan perintah itu. Sedangkan mereka semua menunggu dari kejauhan.
Tak sampai setengah jam, terlihat ada konsleting listrik. Tepat saat salah seorang scurity di outlet itu mencolokkan charger ponsel. Dan muncul api dari tengah-tengah ruangan.
Kedua scurity itu tampak panik. Mereka mencoba memadamkan api itu, namun banyaknya kotak karton, membuat api dengan cepat membesar.
Budi mengajak semuanya untuk kembali. Budi mengembalikan sales obat dan dokter Gea. Dengan ancaman, kalau masih bermain-main dengannya, maka mereka dan keluarga mereka akan Budi habisi satu per satu. Keduanya setuju.
Untuk si penyusup, Budi memerintahkan kang Supri untuk membuatnya menjadi gila. Diam-diam, kang Supri ini punya ilmu supranatural. Dulu sering dia gunakan waktu masih beraksi bersama Budi.
ilmu memanipulasi pikiran, membuat gila, sirep, dan beberapa kemampuan lain, dia miliki. Patuhnya kang Sukron, membuat Budi merasa sedikit lega. Dia menaruh harapan besar, kang Sukron adalah orang yang tepat untuk dia percayai.
Setelah membuat orang itu kebingungan alias linglung di hutan barat kota, Budi mengajak kang Sukron untuk kembali ke bengkel kayu.
Tiba di bengkel kayu, keadaan sudah ramai. Rupanya semuanya sudah bangun. Mereka menunggu di depan galeri. Ada Erika dan juga Aldo. Bahkan pak Paul juga sudah hadir. Padahal adzan subuh belum lagi berkumandang.
Budi mengajak semuanya ke dalam. Dan dia terpaksa menceritakan lagi apa yang baru saja terjadi.
Mereka semua terkejut. Bahkan Erika sekalipun ikut terkejut. Terlebih saat kang Sukron menambahkan apa yang belum disampaikan Budi. Walau keterlibatannya pada aksi tadi, tidak diceritakan oleh kang Sukron.
Budi meminta semua orang untuk lebih waspada dan hati-hati, dimanapun berada. Rencana pengamanan malam maupun siang, dilanjutkan oleh Budi.
__ADS_1
Secara terpisah, dia membahas detilnya bersama kang Sukron. Hanya berdua saja, tanpa melibatkan Erika. Dan Erika, dia tidak berani protes dengan apa yang dilakukan Budi. Dia hanya diam memperhatikan dari tempatnya berdiri.