
Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...
Ponsel Budi tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan video dari orang yang sangat dia cintai. Dia lantas pergi ke pojok stand yang tidak ada rekan-rekannya.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Budi.
“Wa’alaikum salam” jawab yang di seberang sana. Adel tersenyum manis dengan balutan baju tidur.
“Loh, Bram. Abram belum pulang?” tanya Adel.
“Abram nginep, ta. Jagain sofanya bapak” jawab Budi.
“Hempf. Ha ha ha ha” Adel malah tertawa lepas.
“Nyindir, nih? Ih, sumpah, malu banget Tata, Bram” lanjut Adel.
“Ha ha ha ha. Tata gimana, sih? Kok nggak ngasih tahu Abram, kalo itu sofanya Bapak?”
“Tata nggak ngeh, Bram. Pikiran Tata tuh, penuh sama Abram” jawab Adel.
“Aseeeek. Penuh sama Abram?” goda Budi.
“Iya lah, Bram” jawab Adel. Raut wajahnya tiba-tiba berubah sendu.
“Kok murung? Kenapa?” tanya Budi.
“Nggak tahu, Bram. Semenjak pertengkaran kita kemarin itu tuh, Tata ngerasa takut banget kehilangan Abram”
“Lah, kan Abram nggak kemana-mana”
“Iya, tahu. Tapi nggak tahu kenapa, rasa bersalah ini tuh, selalu muncul. Ujungnya, Tata ngerasa takut ditinggalin Abram. Makanya, setiap momen yang Tata dapet, Tata manfaatin sebaik-baiknya. Tata udah nggak peduli sama yang lain. Tata pengen menikmati setiap detiknya. Mandangin Abram, dengerin suara Abram, ngerasain sentuhan tangan Abram. Tata nggak pengen semua itu cepet berlalu gitu aja” jawab Adel lirih. Budi tersenyum beberapa saat.
“Ta” panggil Budi lirih. Adel menjawab dengan gestur tubuhnya.
“Makasih ya, Tata tulus banget cinta sama Abram. Abram akan selalu berusaha menjaga cinta Abram, supaya tetap murni cuman buat Tata. Abram akan selalu berusaha menjaga perkataan dan sikap Abram, agar nggak menggoda ataupun kegoda sama yang lain” lanjut Budi.
Air mata Adel meleleh mendengar kata-kata Budi. tapi senyumnya juga mengembang. Menandakan dia sedang terharu dan bahagia. Dia juga menyempatkan diri berdoa. Tidak terdengar doa apa yang dia panjatkan, tapi yang jelas tangannya menengadah ke udara.
“Makasih ya, Bram. Tata akan gunain kesempatan ini sebaik-baiknya. Kalo tata ngambek, please, jangan pergi ya, Bram!” pinta Adel. Budi tergelak.
“Ta. Kamu ngomongnya kaya ngadepin Munkar-Nakir. Namaku Budi. Aku nggak bakal nanya, man Robbuka. Pentunganku juga nggak nyakitin, kok. Jadi nggak usah takut gitu, ya!”kelakar Budi.
“Ha ha ha ha” Adel tertawa mendengar kelakar kekasihnya itu.
“Nah. Gitu, dong! Jangan mikir kaya gitu lagi, ya! Abram malah bakal marah kalo Tata mikir Abram bakal ninggalin Tata. No, itu nggak akan terjadi” komentar Budi.
“Iya, Bram. Tolong ingetin Tata ya, kalo rasa bersalah ini muncul lagi! Bukan maunya tata, Bram. Suka muncul sendiri”
“Iya. Abram akan selalu ingetin” jawab Budi.
Mereka lantas tersenyum menikmati rasa bahagia yang timbul memenuhi hati. Di dalam hati, Budi memuji kecantikan Adel. Walau tanpa saputan riasan, tapi cantiknya tetap terpancar kuat.
“Oh iya. Abram nginep sama siapa?” tanya Adel, beberapa saat kemudian.
“Ada Aldo, Riki, sama dua lagi”
__ADS_1
“Abram kan ketua, kenapa mesti nginep sih? apa nggak cukup mereka berlima?”
“Cieee ada yang hawatir, nih. Aduh senengnya, ada yang ngehawatirin” komentar Budi. Alih-alih menjawab pertanyaan.
“Ya iya, lah. Jelas Tata hawatir. Kan Tata jauh. Kalo Abram sakit, gimana?”
“Ya jangan sampe sakit, lah”
“He he. Iya, maaf. Bukannya Tata ngedoain, Tata hawatir aja”
“Iya. Makasih ya, udah perhatian. Jadi semangat lagi, deh” kata Budi.
“Bram. Tata mau ngomong sesuatu nih”
“Apa?” tanya Budi.
“Oh, iya. Bapak, gimana jadinya? Masih marah?” lanjutnya.
“Itu dia, Bram. Tata mau ngomongin itu. Pada dasarnya, Bapak masih belum move on dari masalah kemarin. Kaya yang udah pernah Tata bilang” jawab Adel.
“Bukannya udah ada tersangka baru, ya?”
“Iya. Tapi emang bapak kadang gitu. Sekali kemakan hasutan, suka dalem dirasanya, tuh. Jadi masih ada rasa nggak suka sama Abram”
“Oh. I see”
“Makanya, tadi siang, bapak reaktif banget pas liat Abram”
“Terus, sekarang gimana?”
“Lah, gimana? Katanya marah?” goda Budi.
“He he. Terkadang antara kebutuhan sama gengsi nggak sejalan, Bram. Kalo nurutin gengsi, udah kebaca banget kalo bapak tuh gengsi buat ketemu Abram, apalagi minta tolong. Tapi kebutuhan berkata lain. Kalo sampai gagal ke eropa, ya pamornya nggak kedongkrak, kan? Jadinya ya, bakal gini-gini aja” jawab Adel panjang lebar.
“Iya iya iya. Abram ngerti, kok” komentar Budi.
“Terus, gimana, Bram?” tanya Adel berharap.
“Gini. Besok, liat aja di lantai di bawah sofanya. Kalo ada floor marking warna hijau, berarti lolos. Kalo warnanya kuning, berarti gagal” jawab Budi.
“Tapi lolos, kan?” tanya Adel penasaran.
“Belum ada floor markingnya, Ta” jawab Budi sembari mengarahkan kameranya ke sofa milik pak Fajar.
“Aaah, Abram” rengek Adel.
“Ha ha ha. Tata cantik deh, kalo merengek gitu” komentar Budi.
“Ish, malah ngomongin Tata. Udah ah, Tata mau bobok, ngantuk” kata Adel, pura-pura merajuk.
“Ha ha ha ha. Ngam, “
*CEPROOOT*
“Astaghfirulloh” seru Budi kaget.
__ADS_1
“Kenapa, Bram?” tanya Adel bingung.
“HOE, JANGAN LARI ANJ***!” teriak Budi.
*CEPROOOT*
*CEPROOOT*
*CEPROOOT*
Tak hanya sekali, lemparan plastik berwarna gelap itu terjadi beberapa kali. Dan ternyata tidak hanya satu, ada empat orang berlari melintasi stand PT.PRAM, melemparkan bungkusan plastik itu, lalu berlari kabur dengan cepatnya.
“WOE JANGAN LARI LO”
Aldo dan yang lainnya sontak berlari ikut mengejar gerombolan orang itu. Menyisakan Budi sendiri. sebenarnya Budi juga ingin mengejar, tapi karena tidak ada yang menjaga stand, dia pikir bahaya kalau ditinggalkan kosong.
“Bram, kenapa?” tanya Adel. Tapi Budi tidak segera menjawab.
Dia masih tertegun dengan pemandangan di depannya. Aroma menyengat keluar dari kantong-kantong plastik yang dilempar gerombolan tadi. Bercak kuning, hijau, dan kehitaman berserakan di lantai stand. Bahkan ada yang mendarat tepat di sofa miliknya.
“Bram, kenapa? Ada apa?” tanya Adel semakin penasaran.
“Ta. Panggil kang supri sama yang lain! Abram tunggu, ya” pinta Budi.
“Loh. Kenapa sih, Bram?”
TUUUUT
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Untuk beberapa saat lamanya, Budi masih tertegun dengan kondisi sekitarnya. Dia sudah bisa menebak siapa pelakunya. Tapi dia sendiri masih menimbang-nimbang untuk menghakimi orang itu sendiri.
“Halo” sapanya.
“Bud. Itu anak-anak ngejar siapa?” suara Erika terdengar nyaring dari seberang telepon.
“Nggak tahu, mbak. Itu gerombolan, barusan abis lewat stand kita”
“Terus?”
“Mereka ngelemparin kotoran ke stand kita” jawab Budi.
“Astaga? Serius?”
“Ya terus ngapain kalo cuman sekedar lari terus dikejar sama anak-anak?”
“Ya ampun. Oke, gua ke sana, ya?”
Tuuuuut
__ADS_1