Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
budi diperiksa


__ADS_3

Di tempat lain, Budi sedang duduk berhadapan dengan dua orang penyidik. Satu orang perempuan dan satu lagi laki-laki. Kalau melihat gestur tubuh dan raut wajah mereka, tampaknya mereka berdua cukup menaruh hormat pada Budi.


“Selamat siang mas” sapa penyidik wanita itu.


“Siang, bu” jawab Budi.


“Karena hanya ada kita bertiga, jadi nggak usah terlalu formal” kata penyidik wanita itu.


Budi tersenyum mendengar ucapan itu. Dia tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan penyidik wanita itu. Karena di belakangnya ada sebuah kaca yang cukup gelap. Dan dia menduga kalau kaca itu adalah one way mirror.


“Mas Budi pasti masih inget sama rekan saya yang satu ini, kan?” tanya penyidik wanita itu.


“Iya. Beliau yang mengantarkan saya sampai ke kantor ini, tempo hari” jawab Budi.


“Beliau adalah pak Fatoni. Bisa dipanggil pak Toni” kata penyidik wanita itu. Budi tersenyum.


“Dan mas Budi bisa panggil saya, Salma” lanjut penyidik wanita itu. senyum Budi semakin melebar, mendengar kelanjutan kalimat itu.


“Kita langsung ke inti masalahnya ya, mas? Kami ingin tahu, ada siapa saja yang mas Budi lihat diatas yacht Sandi, kemarin” kata Salma.


“Eem. Yang pertama saya lihat, pastinya tiga orang preman yang saya tidak kenal siapa mereka, lalu ada Sephia, ada Sandi, dan yang mereka panggil bos Daniel” jawab Budi.


“Siapa bos Daniel itu?” tanya Fatoni.


“Mana saya tahu?” jawab Budi.


“Anda sama sekali belum pernah melihatnya?"


“Di dunia gangster? Belum”


“Apa menurut anda, bos Daniel inilah yang mengirim orang untuk datang kepada saudari Stevani?”


“Saya tidak tahu. Dan saya tidak berani menduga-duga”


“Lalu bagaimana anda bisa sampai di kapal mereka, kalau anda tidak punya dugaan?”


Budi sempat terdiam mendapat pertanyaan spesifik itu.


“Katakan, mas! Kita di pihak yang sama” pinta Salma.


“Saya hanya mengikuti dongle yang mereka ambil dari Stevani” kata Budi menjawab pertanyaan Fatoni.


“Donglenya berupa apa?” tanya Fatoni.


“Ponsel” jawab Budi.


“Dari mana anda tahu, kalau dongle itu berupa ponsel?”


“Kan mereka yang ambil. Saya cuman ngikutin”


“Untuk apa diikuti?” tanya Fatoni.


Budi mengernyitkan keningnya. Dia berusaha memancing Fatoni agar memberikan penjelasan lebih lanjut.


“Kalau mereka sampai tahu, pasti urusan anda dengan mereka akan jadi panjang. Dan pasti keluarga anda tidak menginginkan itu. Saya yakin anda sudah tahu hal itu. Jadi, pasti ada alasan kuat, mengapa anda mengikuti mereka sampai ke atas yacht itu” lanjut Fatoni.


Budi terdiam beberapa saat. Tampak dia memikirkan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.


“Kalau pertanyaan itu saya jawab, pasti akan muncul pertanyaan baru. Dan jawaban dari pertanyaan itu, akan terdengar tidak logis. Nah, saya belum tahu bagaimana menjelaskan pada anda, akan jawaban tersebut” jawab Budi.


Kedua penyidik itu saling memandang. Mereka tampak berpikir beberapa saat.


“Katakan, mas! Memang banyak yang tidak logis dalam dunia narkotika” pinta Salma.


Budi tersenyum. Dia masih merasa, kalau mereka salah memahami apa yang dia maksudkan. Dia menghela nafas berat, lalu bersiap untuk menjawab.


“Awalnya, saya sama sekali tidak tahu, dongle itu berupa apa. jangankan saya, Vani sendiri saja tidak tahu” kata Budi mengawali jawabannya. Kedua penyidik itu fokus mendengarkannya.


“Tapi ada seseorang yang menjenguk Putri, tiba-tiba ditelepon anak perempuannya. Panggilan video, tepatnya. Mereka sempat ngobrol, dan si ibu itu sempat bergurau juga dengan ibu saya. Nah, saat anaknya ibu itu bertanya siapa yang sakit, ibu itu mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Putri. Tanpa kita duga, anak perempuan ibu itu kaya kaget gitu, liat si Putri” lanjut Budi.


“Kaget kenapa, mas? Udah kenal gitu, mereka?” tanya Salma.


“Kalo udah saling kenal, pastinya tidak begitu kagetnya” jawab Budi.


“Terus?”


“Dia manggil temennya. Dia kaya nunjukin ke temennya, dan bilang kalo apa yang dia lihat di mimpinya, beneran ada”


“Mimpi?” tanya Salma, dengan sedikit tergelak.


“Ya” jawab Budi singkat.


“Dia juga menunjukkan lukisan yang dia bilang baru dia buat. Dan yang dia gambar itu, memang wajahnya Putri. Padahal Putri tidak kenal sama perempuan itu”


“Bisa saja kan, dia pernah liat Putri di jalan?” tanya Fatoni.


“Eeem. Bisa aja, sih” sahut Budi.


“Nah. Perempuan itu nanya, apa Putri abis kecelakaan karena abis ditembak di lengan kirinya” lanjut Budi.


“Hem?” Fatoni merasa ada yang tidak biasa.

__ADS_1


“Dia juga nunjukin lukisan satunya, sambil bertanya, apa Putri jatuh bersama wanita yang dia lukis itu. Dan memang, yang dia lukis itu, wajahnya Stevani”


“Menarik” komentar Fatoni.


“Dia nunjukin lukisan lagi, sambil bertanya, apa Vani punya ponsel seperti ini. Dan yang dia lukis itu, memang ponselnya Stevani. Tampak depan dan tampak belakangnya, memang sama dengan ponselnya Stevani” lanjut Budi.


“Terus, hubungannya?” tanya Salma.


“Nah. Dia bilang, kalau dongle yang mereka cari itu, adalah ponsel Stevani” jawab Budi.


“Hem? Dari mana dia tahu? dari mimpi?” tanya Fatoni.


“Aku tidak tahu” jawab Budi singkat.


“Kalau anda tidak tahu darimana dia tahu, lalu, bagaimana anda bisa mempercayainya?” tanya Fatoni lagi.


“Saya hanya ingin membuktikan kata-katanya. Bukannya langsung percaya” jawab Budi. Fatoni terdiam.


“Selanjutnya, dia bilang, akan ada yang datang buat ngambil ponsel itu. Dan dia minta agar tidak terjadi keributan”


“Siapa yang dia maksud? Dia lukis juga, kah?” tanya Salma, sambil menyodorkan beberapa foto.


“Ini”


Budi menunjuk salah satu foto laki-laki setengah baya, dengan rambut pendek agak keriting.


“Dia nunjukin lukisan persis seperti foto ini. Maksud aku, angle dan gestur tubuhnya, seperti ini. Tapi latar belakangnya, tidak digambarkan” lanjut Budi.


“Buat apa diikutin, mas? Akan lebih baik kalo mas Budi menjauh dari mereka?” tanya Salma.


Tangan kanannya dia ulurkan ke bawah meja. Budi tersenyum. Dia tahu, apa yang tangan Salma lakukan di bawah meja. Ya, mematikan alat perekam. Budi memberikan isyarat kepada Salma untuk menyalakan kembali alat perekamnya.


“Apa anda curiga dengan perempuan yang memberikan info itu?” tanya Fatoni, setelah Salma memberi kode.


“Saya hanya bingung saja. karena kenyataannya, yang datang malah seorang suster, perempuan” jawab Budi.


“Suster?” tanya Salma.


“Ya, suster. Awalnya aku pikir dia suster yang memang bertugas memeriksa kondisi pasien di malam hari. Tapi dia malah mengambil ponselnya Stevani. Nah, saya kan tidak tahu, dia itu siapa, suruhan siapa. Makanya saya ikuti” kata Budi menjelaskan.


“Lalu?”


“Ternyata mereka bertemu di rumah produksi kelong goreng” jawab Budi.


“Suster inikah?”


Salma menyodorkan sebuah foto. Budi mengernyitkan keningnya, sambil meneleng-nelengkan kepalanya.


“Tapi motornya ini, dan mengarah ke sini?” tanya Fatoni.


Dia menyodorkan beberapa buah foto.


“Ya, bener. Motornya ini, dan dia menuju ke rumah produksi kelong goreng ini” jawab Budi.


Fatoni dan Salma saling memandang sambil menganggukk-anggukkan kepala.


“Mereka berempat bertemu di bagian belakang rumah itu. Tepatnya di dalam bangunan semi permanen ini” lanjut Budi.


“Anda melihat dengan mata kepala anda sendiri?” tanya Fatoni.


“Iya. Saya ngintip dari dinding seng yang berlubang” jawab Budi.


“Lalu anda mengikuti mereka bertiga sampai ke dermaga? Lewat mana anda bisa tidak ketahuan?”


Budi tergelak. Di telinganya, pertanyaan Fatoni terdengar merendahkan. Tapi dia memilih untuk menahan diri, tidak menanggapi remehan itu.


“Ya lewat tebing dong pak, masa lewat depan?” jawab Budi.


“Oh” komentar Fatoni pendek.


Dari senyumnya, tampak dia masih meremehkan Budi. Dia hanya mencatat, seolah hanya menjalankan tugas saja, bukannya percaya dengan jawaban Budi.


“Penyergapan yang bagus. Penyamaran yang bagus juga. Kenapa nggak masuk kepolisian aja?” tanya Fatoni.


“Maaf, apa pertanyaan itu masih berkaitan dengan kasus ini?” Budi balik bertanya.


“Oh, tidak. Hanya sekedar memuji saja” jawab Fatoni, masih dengan gaya cengengesan.


“Siapa yang mengajak mas Budi untuk ikut ke atas kapal?” tanya Salma, mengalihkan perhatian Budi.


“Sephia” jawab Budi lugas.


“Sebagai Budi, atau sebagai scurity?”


“Scurity”


“Berarti, dia belum tahu kalau yang memakai seragam scurity itu sebenarnya adalah seorang Budi Utomo?”


“Belum”


“Lalu, apa yang terjadi di atas kapal, sampai anda bisa terlempar keluar dari atas kapal itu?” tanya Fatoni. Kali ini Budi mulai muak dengan penyidik satu ini.

__ADS_1


“Ditendang Sephia” jawab Budi malas-malasan.


“Loh. Bagaimana dia bisa tahu kalau itu mas Budi?” tanya Salma.


“Karena dia berhasil membuka masker buff saya” jawab Budi.


“Berarti dia udah curiga dari sebelumnya, dong?” sahut Fatoni. Budi tidak merespon.


“Apa yang mas Budi lakukan, sehingga dia menaruh curiga sama mas Budi?” potong Salma.


“Eem. Mungkin karena saya merhatiin orang yang mereka panggil bos Daniel itu” jawab Budi.


“I’m listening” sahut Salma.


“Mungkin tampak aneh bagi Sephia, seorang scurity, bukannya fokus jaga bagian belakang, tapi malah menatap ke dalam terus. Tapi memang saya terlalu penasaran sama orang itu. Saya mencoba mengingat-ingat, tapi tetap saja, asing banget buat saya” lanjut Budi.


“Tapi kenapa malah ditendang keluar? Kenapa nggak dilaporin aja sama Sandi. Kan malah dapet untung, mereka? mereka bisa maksa anda buat ikut kelompok mereka. Keuntungan besar lho itu” tanya Fatoni.


“Jangankan bapak, saya sendiri juga nggak habis pikir. Harusnya kan, begitu. Seorang sephia juga tahulah, itu” sahut Budi.


“Tidak perlu berkelit, mas Budi! Kooperatif saja! Beri kami informasi, dan kami akan urus sisanya!” kata Fatoni.


Budi terkejut mendengar perkataan Fatoni. Dia sempat menoleh ke arah Salma. Tapi Salma juga sama terkejutnya dengan Budi. seolah, apa yang dikatakan Fatoni itu bukanlah bagian dari apa yang mereka sepakati. Budi berusaha tenang. Dia berpikir, jawaban apa yang paling cocok untuk Fatoni.


“Bagaimana kalau saya tawarkan yang lebih baik?” tanya Budi.


“Maksud anda?” sahut Fatoni.


“Kasih saya informasi, dan saya akan bawakan yang kabur kemarin ke hadapan bapak! Tunggu saja di kantor! Dan bersiap saja untuk upacara kenaikan pangkat!” jawab Budi.


Fatoni terdiam. Tampak dia tidak suka dengan jawaban Budi. Tapi dia juga seperti tidak bisa membalas kata-kata Budi. Dia hanya mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam map.


“Ini yang namanya mister Daniel. Dan ini mister Bejo” kata Fatoni.


Budi mengernyitkan keningnya. Dia tampak bingung setelah melihat Foto yang ditunjuk Fatoni sebagai mister Daniel. Karena wajah orang di dalam foto itu sangat berbeda dengan orang yang dia lihat di kapal.


*Apa mungkin ada dua orang yang dikasih callsign Mr. Daniel? Apa dia nyamar pake wajah karet? Kalo pake wajah karet, kok kaya asli banget*?


“Ada yang aneh?” tanya Fatoni.


“Ya. Ini foto kapan?” sahut Budi.


Fatoni tidak segera menjawab. Dia menatap Salma. Seolah dia bertanya soal waktu pengambilan foto itu.


“Itu foto dua tahun lalu, mas Bud” kata Salma, membantu Fatoni menjawab.


“Oh. Kayaknya dia abis perawatan wajah. Karena yang aku liat, kaya pemuda seumuran aku. Under twenty five” komentar Budi.


Mereka kembali beradu pandang. Mereka tampak bingung dengan jawaban Budi.


“Mas Budi nggak salah liat?” tanya Salma.


“Enggak” jawab Budi singkat.


“Operasi plastik kayaknya, dia” komentar Fatoni.


Salma tidak menyahut. Dia hanya menatapnya saja, dan tampak sedang berpikir keras.


“Kalo mister Bejo ini, siapa? Perannya apa?” tanya Budi. Sontak keduanya menoleh.


“Dia dikenal sebagai pengusaha gas masak portable. Sampingannya, dia jualan mebel” jawab Fatoni.


“Mebel?”


“intelegent kami pernah menangkap basah dia sedang bertransaksi narkotika. Tapi sayangnya, intel kami dihabisi orang tak dikenal. Dan semua bukti yang memberatkan si Bejo itu, hangus bersama rumah intel kami. Selanjutnya, dia seperti menjadi jauh lebih canggih. Belum ada lagi satu buktipun yang mengarah pada keterlibatannya. Hanya kesaksian beberapa orang yang mengaku pernah melihatnya terlibat transaksi narkotika sekala besar. Dibilang kalau mister Bejo ini adalah anak buah utama dari bos yang lebih besar lagi.Tapi yang bicara itu, pengedar kelas teri. Dengan tanpa adanya alat bukti yang valid, di hadapan hukum, kita hanya bisa bilang kalau mereka itu hanya mencari kambing hitam. Terutama sekali karena tercium aroma persaingan usaha gas portable, antara mister Bejo ini dengan perusahaan plat merah” sahut Salma.


“Wow. Plat merah?” komentar Budi.


“Iya” jawab Salma.


“Sudah aku duga, kamu pasti tidak tahu apa-apa tentang mereka. Bagaimana aku bisa naik pangkat?” komentar Fatoni, merendahkan Budi.


“Oke-oke, sori” jawab Budi mengalah.


“Kabar terbaru, dia sedang berada di jawa. Misalkan mas Budi bertemu dia, apalagi melihat aktifitas dia yang mencurigakan, tolong hubungi kami ya, mas!” pinta Salma.


“Baik” jawab Budi.


“Anggap anda tidak pernah melihat foto-foto yang barusan saya tunjukin! Paham maksud saya, kan?” kata Fatoni.


“Baik, pak” jawab Budi mengalah.


“Terimakasih atas waktunya, mas Budi” kata Salma, sembari membereskan berkas-berkasnya.


“Sama-sama bu Salma, pak Fatoni” jawab Budi.


“Mari, saya antar ke depan” kata Salma.


Budipun hanya mengangguk, lalu beranjak pergi mengikuti langkah kaki Salma.


***

__ADS_1


__ADS_2