Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
utusan khusus dari sang mantan


__ADS_3

Adelpun turun panggung dengan diiringi tepuk tangan riuh dari para pengunjung. Banyak juga yang meminta dia untuk bersalaman. Dengan telaten, dia turuti satu per satu ajakan untuk bersalaman itu. Tanpa dia sadari, seseorang mengikutinya menuju mejanya. Baru juga dia duduk, orang itu menyapanya.


“Maaf mbak Adel, permisi” kata orang itu.


Adel menoleh ke arah orang itu. untuk beberapa saat, dia mengernyitkan dahinya. Dia tampak berusaha keras untuk mengingat, siapa gerangan orang ini.


“Ya Alloh. Mbak Padma, ya?” seru Adel, akhirnya.


“Alhamdulillah” seru orang itu.


Dia tampak senang, Adel sudah mengingatnya. Hal itu membuat Tati sedikit masam mukanya. Dia merasa cemburu, Adel lebih dulu mengingat orang lain daripada dirinya.


“Maaf nih, mbak. Aku nggak ngasih kabar” sahut Adel.


“Iya ih, kenapa nggak bilang-bilang kalo mau dateng? Kan bisa kita jemput”


“Waduh, udah berasa kaya bupati, nih. Pake segala dijemput. He he he”


“Ya, sekali-sekali. Kapan sih kamu mau dijemput?”


“Iya deh, makasih, atas perhatiannya. Entar kalo bener-bener butuh, aku baru ngomong. Btw, aku dapet berapa lagu, mbak?”


“Emang udah mau full? Jangan dulu, deh! Sabtu depan aja!”


“Aku udah sehat kali”


“Iya percaya. Tapi Bian udah bagi tugas buat masing-masing penyanyi. Itu juga, kamu udah ngambil jatah penyanyi baru tuh”


“Oh, mbak Padma ambil penyanyi lagi?”


“Enggak, cuman ada yang magang aja. Sepupuku, itu”


“Oh”


“Eh, Del. Ada yang mau ketemu sama kamu”


“Siapa, mbak?”


“Penggemar kamu. Dia mau diskusi mengenai job, buat kamu”


“Yang mana? Cowok apa cewek?”


“Itu, yang di meja kamu. Cewek”


“Oh, oke”


“Kamu ke sana, ya! kesempatan emas, tuh”


“Kayaknya gitu sih. yang disuruh manggil aku juga, yang punya kafe”


“Ha ha. Udah, buruan!” pinta Padma.


“Aku ke sana dulu, ya?” pamitnya.

__ADS_1


“Oke” jawab Erika.


Adelpun berjalan mendekati meja dimana dia biasa meletakkan tasnya, saat sedang naik pentas.


Seorang wanita, yang memakai gaun hitam ketat selutut, tersenyum melihat Adel menghampirinya. Penampilannya tampak paling elegan diantara pengunjung wanita lainnya.


Segelas minuman, yang tampak tinggal setengah, menghiasi mejanya. Rambut panjang sepungungnya berkibar saat dia berdiri. Angin sepoi-sepoi membelai manja rambut hitam nan berkilau itu.


“Selamat malam” sapa Adel. Dia mengulurkan tangannya.


“Selamat malam, mbak Adel. Saya sephia” jawab wanita itu, menerima uluran tangan Adel.


“Silakan duduk, mbak!” lanjut Sephia.


“Terimakasih, mbak Sephia.


Sephia memanggil salah satu pelayan. Dan meminta daftar menu yang dibawanya. Dia meminta Adel untuk memilih salah satu minuman ataupun makanan yang dia suka.


“Masya Alloh, mbak. Nggak usah repot-repot! Saya sudah minum, di sana” tolak Adel halus.


“Mohon diterima, mbak Adel. Saya yang mengundang embak. Nggak enak kalo nggak menyuguhkan sesuatu. Kalo kata ibu saya, ora becik” pinta Sephia.


“Baiklah, kalo gitu. Saya minta yang ini aja ya, mbak” kata Adel kepada pelayan itu.


Pelayan itu mencatat apa yang ditunjuk Adel, lalu pergi untuk menyiapkan pesanan itu.


“Saya, merasa malam ini beruntung banget, mbak Adel” celetuk Sephia.


“Oh, ya? Kenapa, mbak?” tanya Adel.


“Tadinya saya berpikir, kalo mbak Adel nggak akan dateng. Karena, sampai acara dimulai, saya belum liat mbak Adel datang. Padahal saya sengaja booking meja ini, biar bisa ketemu embak” lanjutnya.


“Ya Alloh. Sampe segitunya, mbak”


“Ya, abisnya, saya ngefans banget sama embak. Sekali denger suara embak, sekalipun cuman di Youtube, rasanya tuh, suka banget”


“Masya Alloh. Alhamdulillah” respon Adel.


“Kalo emang sudah rejeki, pasti bakal nyampe, ya mbak? Ha ha ha” komentar Adel.


“Iya. Alhamdulillah. Makanya, saya ngerasa beruntung banget malam ini”


“Saya ikut seneng, dengernya, mbak”


“Sebenernya, selain secara pribadi, saya pengen ketemu sama mbak Adel, saya juga ada agenda lain. Saya pengen diskusi sama mbak Adel, mengenai ulang tahun sahabat saya”


“Oh, oke. Jadi keinget sahabat saya juga. Sebentar lagi juga ulang tahun. He he he”


“Oh, ya? sudah ada rencana?”


“Belum sih”


“Menurut mbak Adel, surprize ulang tahun yang mantep buat ulang tahun sahabat itu, kaya gimana, ya?”

__ADS_1


“Eem”


“Dia juga ngefans sama mbak Adel. Dia pengen banget main ke sini, tapi belum kesampaian”


“Oh, wow. Bener-bener sahabat seserver, ya? Ha ha ha ha”


“Ha ha ha. Iya. Berawal dari idola yang sama itulah, saya pengen kasih kejutan sama dia. Makanya, saya bela-belain begadang, cuman buat dapetin link orang dalam, yang bisa temuin aku sama mbak Adel. Alhamdulillah, dapet”


“Em, langsung dapet nomernya mbak Padma? Serius, mbak?”


“Oh, enggak sih. Aku malah baru tadi, ketemu sama owner kafe ini”


“Terus, orang dalemnya, siapa? Mas Bian?” tanya Adel penasaran.


“Cheguefara” jawab Shepia.


Seketika senyum di wajah Adel menghilang. Tapi melihat Shepia mengedipkan mata, Adel lantas tersenyum lagi. Tapi tidak bisa dipungkiri, senyumnya kini terlihat dipaksakan.


Ya, karena pikirannya sedang melayang terbang jauh mengenang masa yang telah hilang. Dimana dulu, nama itu pernah disebutkan beberapa orang yang datang menemuinya.


Bukan nama orang dalam kafe ini, pastinya. Bukan juga julukan dari karyawan di kafe ini. Tapi nama itu, adalah nama lain dari mantan kekasihnya, Sandi. Biasanya nama itu dipakai di saat-saat genting. Disaat mantannya menyampaikan pesan khusus, hanya untuknya.


Setiap orang yang diberikan tugas untuk menyampaikan pesan itu, akan menyebutkan nama Cheguefara, sebagai kata kunci, untuk menjelaskan identitasnya. Terlepas sebagai apa perannya saat menemuinya. Dan itu berarti, Sephia adalah orang yang dikirim Sandi, untuk menyampaikan pesan khusus padanya.


“Oke. Terus, mbak Sephia pengennya kejutan seperti apa? Seperti tadi, kah?” tanya Adel, mulai mengikuti alur cerita yang dibawakan Sephia.


“Em, rasanya di sini kurang nyaman, mbak. Kalo boleh, saya mau mengundang mbak Adel ke hotel tempat saya menginap”


“Oh, emang mbak Sephia asli mana? Kok nginep di hotel?”


“Saya dari jakarta, mbak”


“Oh, wow. Orang Jakarta ada yang kenal saya? Masya Alloh” komentar Adel.


“Iya. Namanya internet, mbak. Nggak kenal jarak”


“Iya, bener”


“Besok malam, mbak Adel bisa?” tanya Sephia, masih dengan senyum merekahnya.


“Oh, Insya Alloh, bisa” jawab Adel.


“Alhamdulillah. Kalo gitu, ini hotel tempat saya menginap. Dan ini kartu nama saya” kata Sephia memberikan dua kartu nama.


“Oh, baik. Saya akan hubungi mbak Sephia, nanti”


“Terimakasih, mbak Adel. Ini beneran cuman minum aja, mbak? Makan, Yuk!” tawar Sephia.


“Eeem, kalo tawaran ini saya terima dua jam yang lalu, pasti nggak akan saya tolak. Sayangnya saya sudah makan, mbak Sephia. Jadi, maaf banget” jawab Adel.


“Oh, ha ha ha. Iya, deh. Makasih banyak, mbak Adel. Udah berkenan nerima undangan saya”


“Sama-sama mbak Sephia. Saya ijin, balik sama temen-temen saya, ya?” pamit Adel.

__ADS_1


“Baik,mbak. Silakan” jawab Sephia.


Merekapun berjabat tangan, seolah tidak ada sesuatu yang mengejutkan dalam pembicaraan mereka.


__ADS_2