
Sesampainya di kantor, Budi langsung mengajak Erika meneruskan pembahasan yang tertunda tadi. Agak terkejut Erika mendengar ajakan Budi. Tapi dia juga senang, melihat Budi masih tetap semangat setelah kejadian kemarin.
“Mas”panggil Erika, saat laporan yang mereka kerjakan sudah selesai.
“Ya?” sahut Budi.
“Tadi, yang pas aku datang, kan ada mobil keluar tuh, dari halaman galeri. Itu mobilnya Adel, bukan?” tanya Erika.
“Heeh” jawab Budi pendek.
“Kenapa, emang?” Budi ganti bertanya.
“Ngapain? Nggak diomelin gitu, sama suaminya?” jawab Erika dengan pertanyaan.
“Mana aku tahu? Kan kita lagi diskusi, tadi. Tahu-tahu udah di depan aku. Kalo Putri nggak ketawa kenceng juga, aku nggak tahu” jawab Budi.
“Nganterin bu Lusi doang, apa ada agenda lain?” tanya Erika lagi.
Disini Budi tersenyum. Dia tahu, kalau sejak kemarin itu Erika menyimpan rasa cemburu. Dan kedatangannya tadi pagi juga, sudah terkonfirmasi, karena rasa cemburunya.
“Agenda lainnya, ya jemput Madina, lah. Kan dia nggak bawa motor”
“Hemh” Erika mendengus. Budi tergelak melihat ekspresinya.
“Ngapain cemburu sama dia?” tanya Budi, sambil tersenyum.
“Ya pastilah cemburu, mas”
“Kan kita udah buat komitmen, kemarin. Apa masih kurang kata-kataku sebagai bukti keseriusanku?”
“Cukup, sih” jawab Erika. Tapi suaranya seperti menggantung.
“Kalo misalkan kamu ngeliat ada yang berbeda dari ekspresiku, ya aku minta maaf. Bukan mau aku buat ngerasain itu. Ibarat orang patah tulang, terus dikasih pin. Kalo lagi ujan kan suka kerasa ngilu. Emang maunya orang yang di pin itu buat ngerasain ngilu? Kan enggak. Tugasmu Ka, buat bikin ukiran baru, sampai ukiran lama ini nggak terlihat bentuk aslinya.”
“Iya, mas. Maaf. Udah lama aku nggak ngerasain cemburu. Jadi suka berlebihan mengekspresiinnya” sahut Erika.
“Iya, nggak papa. Kita sama-sama belajar, ya? Kita tutup lembaran lama, kita mulai lembaran baru. Yang baik kita terusin, yang nggak baik kita tinggal. Dan saling mengingatkan”
“Iya, mas” jawab Erika. Dia mendekati Budi, lalu salim.
*Glodek*
“Upps”
Saat masih salim dan cium tangan, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Riki tiba-tiba muncul di ambang pintu. Melihat Erika mencium tangan Budi, Riki sontak menarik diri. Budipun tertawa.
*Tok tok tok*
“Assalamu’alaikum”
__ADS_1
Suara Riki terdengar, mengucapkan salam.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa terlebih dahulu.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi dan Erika, masih dengan tergelak.
“Kirain aku paling pagi. Ternyata udah keduluan” komentar Riki saat masuk ke dalam kantor.
“Harusnya dari awal Ki, ketuk pintunya” seru Erika.
“Mana aku tahu, kalo embak udah dateng. Mobilnya juga nggak ada” jawab Riki.
“Oh iya. Mobilku di belakang, sih”
“Ya udah. Aku mau sarapan dulu. Silakan dilanjut!” kata Riki setelah meletakkan tasnya.
“Dilanjut apanya?” seru Erika.
“Ya tadi, gini-gini” jawab Riki, sambil memperagakan gerakan salim Erika.
“Tenang. Nggak ada yang berani nggosipin, kok” lanjut Riki, sambil keluar dan menutup pintu.
“Ha ha ha ha”
Budi tertawa melihat ekspresi Erika menahan malu. Dia tahu, Erika sedang memikirkan pamornya, setelah ketahuan sama Riki, kalau dia sudah berubah menjadi melo, kalau berhadapan dengan Budi.
Setelah bel tanda dimulainya pekerjaan berbunyi, Riki kembali masuk ke kantor. Di belakangnya ada Aldo dan Ratna. Tampaknya mereka baru saja kasak-kusuk. Terlihat dari senyum keduanya yang tampak seperti ingin tergelak, saat mereka melihat Erika. Di sini Erika tampak tidak memperhatikan, dan sibuk menatap laptopnya. Walaupun sebenarnya itu hanya pura-pura saja.
“Modifikasi?” respon Budi.
“Seperti ini” kata Aldo sambil menempelkan gambar desain kursi malas itu di papan.
“Oh. Bisa direbahin, ya?” tanya Budi.
“Yes. Bisa dilipet juga, jadi ringkas kaya koper” jawab Aldo.
“Detil per itemnya, ada di map ini”lanjut Aldo.
Dia mengacungkan map berisi sekian lembar desain part pembentuk kursi malas itu. Tapi Budi malah tidak memperhatikan. Pandangannya lekat menatap gambar di papan itu.
“Kenapa, Bud?” tanya Riki.
“Dijual kemana ya, sama Mr.Isaac?” sahut Budi.
“Dia punya koneksi dengan palang merah di beberapa negara” Ratna angkat bicara. Budi menoleh ke arahnya.
“Dia juga punya koneksi ke lembaga-lembaga semacam basarnas, maupun LSM semacam tagana” lanjut Ratna.
“Ini kita bikin sample dulu kan, ya?” tanya Budi.
__ADS_1
“Iya”jawab Ratna.
“Kok kamu kaya ragu gitu, sama produk sendiri?” tanya Aldo.
Budi tak langsung menjawab. Dia menatap lagi gambar desain di papan itu. Di saat itu, Erika tertarik untuk melihat diskusi mereka.
“Bukannya aku nggak bangga sama produk sendiri. Tapi emang aku ngerasa aneh” jawab Budi kemudian.
“Aneh gimana?” tanya Aldo.
“Kalo tujuannya untuk ranjang darurat, bukannya udah biasa pake yang dari kain?” Budi ganti bertanya. Aldo mengernyitkan keningnya.
“Harusnya lebih murah dari produk kita ini” lanjut Budi.
“Kita juga sudah menawarkan desain yang hanya menggunakan kain, dengan sabuk karet di bawahnya sebagai penguat. Tapi Mr. Isaac malah milih yang pake anyaman rotan. Katanya kalo pake kain, lama-lama melar. Dan itu nyusahin pasien. Kalo pake anyaman rotan, nggak melar”
“Lama-lama sakit juga, Na. Nyeplak di kulit” potong Budi.
“Kan bisa dialasin sama busa. Meskipun mungkin pesennya nggak di kita” jawab Ratna.
“Dan yang pasti, desain kita punya keunggulan tentang penyimpanan dan penggelaran. Ringkes, cuman segede koper jumbo. Tapi enteng” lanjut Ratna. Budi manggut-manggut mengerti.
“Dan penggelarannya juga nggak lebih lambat dari yang model militer, yang pake kain itu” tambah Aldo.
“Heem. Oke” Budi masih terus manggut-manggut.
“Kalian optimis sekali keliatannya” komentar Budi sambil tersenyum.
“Ya emang harus optimis, lah”
Seruan dari ujung jauh kantor ini mengalihkan perhatian mereka.
“Nggak ada kesuksesan tanpa optimisme. Kamu pikir, pertempuran surabaya, seimbang? Cuman modal bambu runcing sama senapan rampasan, mau ngelawan jawara perang dunia? Senjatanya aja beda kelas. Belum kalo ketemu artileri medan, belum kalo ketemu tank. But, they were known, that they made surabaya, just like hell for allied troops” lanjut Erika. Semuanya terpukau dengan kata-katanya.
“Can’t you make it cheaper?” tanya Erika.
Budi tersenyum. Lalu menoleh ke arah Aldo.
“Let’s make it real!” kata Budi.
“Go go go go go!” sahut Aldo, sambil meninju telapak tangan kirinya.
Mereka semua tertawa melihat kelakuan Aldo. Tapi mereka segera bergerak, setelah informasi spesifikasi dan jumlah telah tuntas dibahas.
“Nice speach, dear” puji Budi.
*Plaak*
Merekapun melakukan tos. Erika tersanjung mendapat pujian dari Budi.
__ADS_1
“Make it happen, baby! Never under estimate our product! And our team!”
“Aye-aye chief” jawab Budi. Dia berikan hormat militer sebelum keluar kantor. Membuat Erika tergelak.