
Malam masih belum usai, rintik hujan masih terdengar sayup – sayup di keheningan malam. Budi masih asyik dengan sholatnya. Entah sudah berapa rokaat dia dirikan malam ini.
Jarum panjang jam dinding sudah bergerak satu putaran penuh. Tapi Budi masih nambah dan nambah lagi. Saat jarum pendek jam itu sedikit bergeser dari angka dua, Budi menyudahi sholat malamnya.
Semula, dia hendak kembali tidur, sembari menunggu waktu subuh. Tapi melihat ponselnya menyala, dia penasaran, ada pemberitahuan apakah yang masuk. Hanya pemberitahuan standar media sosial. Budi iseng melihat layanan pesan singkat. Belum ada pesan masuk.
Iseng juga dia melihat status dari orang – orang yang nomernya dia simpan. Dia terkejut sampai terbangun saat dia menemukan ada sebuah video pendek dari seseorang yang dekat dengannya akhir – akhir ini. Ya, itu status milik Adel.
Ada sebuah video pendek yang dia bagikan. Video yang bercerita kalau dia dan keluarganya sedang berada di sebuah jalan yang cukup gelap dan jauh dari perkampungan warga. Tampak dalam video itu, seorang laki – laki yang sedang memeriksa mesin mobil. Mesin mobil itu terlihat berasap. Dua orang wanita lain di dekatnya, tampak gelisah. Budi bisa menebak kalau mereka adalah ibu dan adiknya Adel.
TUUUUT
Budi segera saja menghubungi Adel via panggilan video.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Adel dari seberang sana. Tampak di wajahnya guratan rasa gelisah.
“Wa’alaikum salam. Mobilnya kenapa, Del?” tanya Budi tanpa basa – basi.
“Ini Bud, tiba – tiba aja mesinnya ngebul” jawab Adel.
Tampak dalam layar ponsel Budi, laki – laki yang sedang memeriksa mesin itu, hendak membuka tutup radiator.
“Jangan dibuka dulu, pak!” pekik Budi.
Sontak orang itu terkejut dan menghentikan apa yang semula hendak dilakukannya. Dia lalu melihat ke arah ponsel Adel.
“Suhunya masih sangat tinggi pak. Bahaya. Tangan bapak bisa melepuh.” lanjut Budi.
“Terus mesti gimana, Bud?” tanya Adel.
“Coba lihat bawahnya dong, di kolong mobilnya!” pinta Budi.
Adel mengarahkan kamera ponselnya ke kolong mobilnya. Ada tetesan air yang cukup intens di sana.
“Oh, selang radiatornya kendor tuh, yang bawah”kata Budi.
“Terus?” tanya Adel.
“Kamu di mana ini?”
“Karanggede. Di jalan utama”
“Oke. Jauh nggak dari rumah penduduk?”
“Kalo deket sih, udah minta tolong penduduk sini” sahut laki – laki itu.
“Bapak” tegur Adel.
“Air radiatornya pakai apa, pak?” tanya Budi.
“P*****” dia menyebutkan merek.
“Walah, bisa pas banget, ya” seru Budi.
__ADS_1
“Maksudnya?” tanya Adel.
“Ini, air radiatornya mas Eko, masih ada sejerigen di sini. Mereknya sama, tuh” jawab Budi memperlihatkan sebuah jerigen di pojokan kamarnya.
“Kita pinjem dulu, ya. Besok aku ganti, deh” pinta Adel.
“Iya” jawab Budi sambil tergelak.
“Ya udah, tunggu, ya!” pinta Budi. Dia tampak bersiap – siap untuk pergi.
Bu Ratih sempat terkejut melihat anak sulungnya bersiap keluar rumah. Dia pikir, keponakannya membutuhkan tenaga bantuan. Budi menceritakan keadaan yang dialami Adel. Dan Bu Ratih malah berbalik untuk segera menolong Adel dan keluarganya.
Dengan peralatan yang dia prediksi akan diperlukan, Budi meluncur ke tempat Adel berada. Sekitar dua puluh menit kemudian, Budi sampai ke tempat yang dituju.
“Alhamdulillah. Kirain nggak jadi datang” seru Adel.
“Ya kali, udah nongolin muka, nggak jadi dateng” jawab Budi.
“Makasih ya, nang, udah mau repot – repot nolongin” kata bu Lusi.
“Baru juga mau dibantuin, Bu” jawab Budi.
“Terus, ini gimana, ngger?” tanya pak Fajar.
“Em, saya kencengin klem yang sini dulu, pak” jawab Budi.
Dia langsung menuju bagian bawah mobil. Senter kecil dia nyalakan dan dia jepit dengan gigi – giginya. Dia lalu rebahan lalu bergeser masuk ke kolong mobil.
“Gimana, Bud?” tanya Adel.
“Tinggal isi air radiatornya” jawab Budi.
Dia menyentuh perlahan tutup radiator itu. Memastikan kalau suhu tutup itu sudah cukup dingin untuk bisa dia pegang. Dirasa sudah dingin, Budi segera membuka tutup itu. Dia isikan perlahan air radiator baru dari dalam jerigen yang dia bawa.
“Coba dinyalakan, pak!” pinta Budi.
“Oh, oke” jawab pak Fajar.
*Creeeng.... breeeemmm*
Mesin mobilpun menyala. Budi memeriksa bagian bawah mesin. Dia memperhatikan selang yang tadi dia perbaiki. Sejauh ini tidak ada lagi tetesan yang terlihat. Dan mesin terdengar berputar dengan normal.
“Coba di gas, pak!”pinta Budi. dia agak menjauh dari mesin.
*BREEEEEMMM, BREEEEEMM*
Pak fajar menginjak pedal gas beberapa kali. Dan masih tidak ada tetesan yang terlihat. Itu tandanya, kebocoran tadi sudah teratasi.
Budi melakukan bleeding pada katup khusus. Dengan tujuan, agar udara yang terjebak, bisa keluar dari jalur radiator. Budi meminta pak Fajar untuk mematikan mesin mobilnya. Budi membuka kembali penutup tanki radiator itu. Dan menambahkan lagi air radiatornya, karena dia menilai ada pengurangan volume air radiator pada tankinya. Sekaligus dia isi tangki cadangannya.
“Seharusnya, sudah teratasi masalahnya, pak. Tapi ada baiknya, besok bapak periksakan lagi, jalur radiatornya ke bengkel. Saya khawatir masih ada kebocoran lain yang belum terlihat” saran Budi.
“Ya, besok emang aku punya rencana begitu” jawab pak Fajar.
__ADS_1
“Kalau begitu, silakan lanjutkan perjalannya, Pak” kata Budi.
“Ini buat ganti Air Radiatornya” kata pak Fajar.
“Oh, nggak usah, pak. Nggak papa” tolak Budi, halus.
“Terus, kalo masmu nanya, gimana?”
“Nggak papa, pak. Aman, kok”
“Ya udah, buat kamu aja. kan kamu udah capek – capek datang kemari” sahut bu Lusi. Budi tersenyum.
“Terimakasih, bu” tolak budi lagi.
“Saya iklas kok, bu. Itung – itung sebagai wujud rasa syukur saya, karena dulu pernah ditolong orang disaat genting seperti ini” lanjut Budi.
“Bukan karena Adel, kan?” tanya Pak Fajar.
“Bapak, apaan sih?” tegur Adel.
“Jangan dimasukin hati ya, Bud!” pinta Adel lirih. Budi tersenyum.
“Jangan gadaikan iklasmu hanya demi perhatian dari seorang wanita. Kamu bakal dapet capek doang” kata pak Fajar.
“Bapak!” tegur Adel lagi. Budi masih tersenyum lagi.
“Baik, pak. Kalo gitu, saya permisi dulu” pamit Budi.
“Bud, jangan masukin hati, ya!” pinta Adel lagi.
“Iya” jawab Budi.
Adel melepas kepergian Budi dengan perasaan malu. Bukannya berterimakasih, bapaknya malah berprasangka buruk pada Budi. Kalaupun prasangkanya benar, apa salahnya mengucapkan terimakasih?
“Adel, maafin bapak, nduk” kata pak Fajar di dalam mobil. Adel tidak menjawab.
“Apa yang dikatakan bapak kan, benar” sahut bu Lusi.
“Ya tapi nggak gitu juga, Bu. Kalaupun begitu, salahnya apa?”
“Bapak cuman nggak suka, ada cowok sok baik sama bapak, cuman buat dapetin perhatian anak gadis Bapak” jawab Pak Fajar.
“Sok baik? itu tadi bapak bilang sok baik?” tanya Adel bingung.
“Ini tadi jam dua pagi, pak. Dari sekian banyak cowok yang liat status Adel, cowok yang suka caper sama Adel, yang suka caper sama bapak juga, cuman liat doang. Komen aja enggak. Cuman Budi yang ngerespon” lanjut Adel.
“Mbak, udah, mbak. Sabar!” pinta adeknya pelan.
Adel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tidak habis pikir, mengapa bapaknya masih saja tidak bisa menghargai kebaikan orang.
Harus dengan musibah seperti apa lagi, sampai dia bisa menghargai ketulusan orang? Adel memutuskan untuk diam di sepanjang perjalanan. Walau ibunya beberapa kali mengajaknya bicara.
****
__ADS_1