
Hari ini, Budi sudah terlihat tancap gas, bahkan sejak bel berbunyi. Dia sudah kembali menggunakan teknik lamanya. Teknik yang dia pakai sebelum tragedi itu. dia berani menggunakannya kembali, setelah berhari-hari sebelumnya dia menampakkan diri serius mempelajari semua hal. Termasuk sering bertanya kepada semua orang, mengenai semua hal yang berkaitan dengan proses produksi. Maka tidak ada yang heran, kalau hari ini, Budi langsung menggeber mereka.
Mereka juga tidak merasa aneh, saat mereka melihat Budi selalu mengawasi mereka. Mereka hanya tersenyum dan terkadang tergelak, saat Budi menegur salah satu dari mereka. Ada yang berseloroh, kalau amnesia berbeda dengan lupa diri. Walau lupa dengan siapa dirinya yang sebelumnya, tapi Budi masih sama cekatannya dengan sebelumnya. Sangat cepat belajar.
Ada juga yang mengira kalau Budi sudah kembali ingatannya. Tapi tetap, Budi masih menggunakan pakem, kalau dia belum ingat dengan masa lalunya. Dia menggunakan sekian berkas di tangannya sebagai penguat pernyataannya. Bahwasannya, dia bisa secanggih sebelumnya, karena dia membaca berkas-berkas itu, dan mengkalkulasi datanya.
Beberapa kali dia menerima ejekan dari Dino dan kawan-kawannya. Tapi dia hanya tersenyum dan tergelak. Kali ini dia bahkan tidak perduli dengan mereka yang sedang asyik menikmati kopi di luar waktu yang telah ditentukan. Karena sudah ada tim lain yang mengambil alih tugas mereka.
“Bud, kamu nggak papa?”
Suara dari bu Tami sontak menyita perhatian para karyawan departemen anyaman. Budi yang sedang inspeksi ke departemen itu, terlihat oleh bu Tami, jalannya sedikit oleng.
“Oh, enggak. Nggak papa bu” jawab Budi.
“Emang saya kenapa?” lanjutnya.
“Kamu keliatan oleng, jalannya. Kamu pusing?” jawab bu Tami.
“Em. Kadang-kadang, kepala saya emang suka berdenyut, bu” kata Budi.
“Ya, istirahat dulu aja! emang masih belum kekejar apa?”
“Sementara sih, sudah, bu”
“Ya udah. Istirahat dulu. Toh udah hampir waktunya makan siang”
“Iya, bu. makasih” jawab Budi.
Sambil menganggukkan kepala dan tersenyum, Budi berpamitan. Dia terlihat akan menuju ke kantor lagi.
“E, E, E, E, E, Bud, Bud, Bud, Bud, Bud”
Tiba-tiba ibu-ibu di departemen anyaman berseru memanggil Budi. bu Tami sampai berbalik arah karenanya. Ternyata Budi oleng lagi. Bahkan kali ini, tidak hanya oleng saja.
“BUDI JATUH” teriak salah satunya.
Sontak beberapaorag berlari ke arahnya, termasuk bu Tami. Tapi telat, Budi sudah terlebih dahulu jatuh ke lantai.
“Bud, kamu kenapa?” tanya pak Teguh, yang beru datang.
“Bawa ke klinik pak!” seru bu Tami sambil berjalan.
Bersama pak Supri dan satu orang lainya, mereka mengangkat Budi. Untuk beberapa saat, proses produksi terhenti. Ibu-ibu itu masih merasa terkejut dengan kejadian tadi. Di kantor, Erika langsung sigap mempersiapkan ranjang klinik untuk Budi. Bersamanya, ada Stevani yang tak kalah sigapnya.
“Oke, pak. Terimakasih. Saya mohon bapak-bapak semua, kasih ruang buat kita” kata Erika.
“Baik, bu Rika” jawab pak Teguh. Merekapun keluar dari ruang klinik.
Budi tidak sepenuhnya pingsan saat terjatuh tadi. Dia hanya terlihat lemas. Dia memegangi kepalanya terus, bahkan setelah sampai di klinik. Erika dan Stevani segera memberikan pertolongan pertama. Seperti seorang perawat professional, Baik Erika maupun Stevani, kompak melepaskan sepatu, dan mengendurkan sabuk di celana Budi. Termasuk melepaskan beberapa kancing di seragam Budi.
Setelah sekitar sepuluhan menit, Budi menunjukkan perubahan. Dia mulai sadar dengan sekelilingnya. Memang tidak seketika. Butuh beberapa menit untuk sampai dia mengenali lingkungannya.
“Apa yang kamu rasain, Bud?” tanya Erika.
Budi tidak segera menjawab. Dia masih mengerjab-ngerjabkan matanya. Beberapa waktu lamanya, dia seperti ingin memastikan dulu, siapa yang berada di dekatnya itu.
“Eh, mbak Erika. Pusing, mbak. Perut juga mual” jawab Budi.
“Kita ke rumah sakit, ya? kamu harus diperiksa” kata Erika.
“Nggak usah! Aku cuman butuh istirahat. Kemarin aku udah kontrol. Cuman tadi pagi, aku lupa minum obat” tolak Budi.
“Hadeh. Obat yang bikin sembuh aja lupa minum. Jangan-jangan kalo lagi sama Vani, kamu lupa nyabut, lagi” komentar Erika.
“Apaan?” tolak Budi.
“Ha ha ha ha. Bercanda. Abisnya konyol banget. Ngapain juga, obat nggak diminum?”
“Kalo sama Vani sih, bukannya aku yang lupa nyabut. Tapi Vaninya yang nggak mau lepas” kata Budi.
“Dih, jangan fitnah, deh!” sahut Stevani, sambil menepuk paha Budi.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa sambil memegangi kepalanya, melihat reaksi Stevani. Erika juga tertawa.
“Beneran, nggak mau diperiksa?”tanya Erika memastikan.
“Enggak. Bentar lagi jam makan siang. Abis minum obat, pasti enakan”
“Yakin?”
“Iya. ini juga udah mendingan kok” Jawab Budi.
“Van, masih ada yang perlu di handle?” tanya Erika ke Stevani.
“Sementara sih, belum, mbak. Nanti jam tiga, baru ada lagi. Ketemu customer” jawab Stevani.
“Ya udah. Kalo gitu, kamu jagain Budi, ya! natu dia, kalo butuh apa-apa!”
“Siap” jawab Stevani pendek.
“Aku tinggal dulu, ya!” pamitnya.
“Makasih, mbak” kata Budi.
“Iya. sama-sama” jawab Erika.
Erikapun berlalu pergi. Untuk sejenak, budi memejamkan matanya. Seolah dia benar-benar merasakan sakit kepala. Stevani memperhatikannya dengan wajah iba. Dia ulurkan tangannya untuk memijat kepala Budi. Budi tersenyum mendapat pijatan lembut di kepalanya. Tak lama kemudian, bel makan siangpun berbunyi.
“Kamu mau makan apa?” tanya Stevani.
“Apa aja” jawab Budi.
“Oke. aku cariin dulu, ya?” kata Stevani.
“Maaf ya, jadi ngerepotin”
“Apaan sih?”
__ADS_1
Stevani keluar meninggalkan Budi. Budi memejamkan matanya. Dia cukup menikmati aroma dari minyak yang dibalurkan ke tubuhnya. Tak lama kemudian, Stevani sudah kembali ke ruang klinik.
“Bud, aku bawain soto, nih. Ya, walaupun bukan soto kesukaan kamu” kata Stevani. Budi memuka matanya. Dia tersenyum saat melihat soto yang diacungkan Stevani.
“Ini juga udah makasih banget, Van” jawab Budi.
Dia bangun dari tidurannya. Kali ini dia sudah bisa bangun tanpa dibantu Stevani. Wajahnya menyiratkan kalau masih ada sisa rasa pusing di kepalanya.
“Kok cuman satu? Buat kamu mana?” tanya Budi.
“Aku lagi diet. Makan seporsi ini sendirian, mana abis?” jawab Stevani.
Budi tersenyum. Dai menerima saat Stevani menyuapkan sesendok nasi dengan kuah soto ke mulutnya. Budi meminta Stevani untuk juga ikut makan. Dengan tersenyum, Stevani menuruti apa yang dimau oleh Budi.
Tiba-tiba, di luar ruangan, terdengar suara orang berdebat. Budi menebak kalau yang sedang berdebat adalah Isma dan Farah. Stevani mengkonfirmasi tebakan Budi. Bukannya mereda, semakin lama, perdebatan mereka malah semakin seru. Bahkan sampai acara makan siang mereka selesaipun, kedua orang manager itu, belum selesai berdebat.
“Mereka kalo udah debat, nggak cukup setengah jam. Bisa dua jam baru kelar” komentar Stevani.
Budi memainkan alisnya. Dia menunjukkan ekspresi, kalau dia merasa terganggu oleh suara kencang itu. Dia memperlihatkan raut wajah ingin protes, tapi dia juga menyadari kalau kedua manager itu berdebat di dalam kubiknya divisi marketing. Kebetulan posisinya bersebelahan dengan klinik.
“Gimana kalo kita ke kontrakanku aja?” tawar Stevani.
Budi tersita perhatiannya, mendengar tawaran Stevani. Tapi dia juga tidak segera menjawab.
“Kamu pasti bisa beristirahat di sana” lanjut Stevani.
Mendengar perdebatan yang nada bicaranya sama-sama tinggi, membuat Budi merasa tidak nyaman.
“Emang boleh?” tanya Budi.
“Aku bilang mbak Erika dulu ya?” kata Stevani.
“Iya” jawab Budi.
Stevanipun beranjak dari duduknya. Dia meletakkan mangkuk soto itu ke atas meja kecil di sebelah ranjang. Saat ingin membuka pintu, dia terkejut bukan main. Karena pitu itu sudah terbuka dengan sendirinya. Ternyata Erika yang mendorong pintu itu dari luar.
“Bud, kamu terganggu nggak, sama mereka?” tanya Erika pelan.
“Itu dia, mbak. Baru aja vani mau bilang. Terganggu, lah” sahut Stevani.
“Tapi kamu tahu sendiri, kan? Mbak Isma sama Farah, kalo belum sejam/dua jam, belum puas debatnya”kata Erika.
“Nah, itu. Benernya, Vani mau nanya ke mbak Rika. Kalo Budi Vani ajak ke kontrakan Vani, gimana? Pastinya dia bisa istirahat di sana”
“Kenapa nggak anter dia pulang aja?”
“Ya, kalo dia mau, boleh aja”
“Nggak usah, mbak. Aku cuman perlu rehat bentar aja” sahut Budi.
“Ya udah. Nggak papa kan, kita pinjem tempat kamu dulu?” tanya Erika.
“Nggak papa, mbak” jawab Stevani. Ada senyum tesungging di bibirnya.
“Jangan lupa nyabut, ya!” goda Erika.
“Ha ha ha ha” Erika keluar ruang klinik sambil tertawa.
Perlahan, Budi turun dari ranjang klinik. Stevani tampak sabar membantunya. Beberapa orang menanyai mereka saat berpapasan. Dan Stevani hanya menjawab, periksa. Hanya butuh beberapa menit buat mobil Stevani, untuk sampai di kontrakannya.
“Sepi, ya?” komentar Budi, saat sudah turun dari mobil. Dia menyebar pandangan ke seluruh penjuru.
“Iya. Banyak yang lajang. Masuk pagi semua. Ibu-ibunya, paling masih pada masak. Jadi ya, sepi” jawab Stevani.
“Masuk, yuk!” ajak Stevani.
Budi memutar tubuhnya. Ternyata pintu kontrakan sudah dibukakan buatnya. Dia berjalan mendekat, dan ikut masuk ke dalam kontrakan Stevani.
“Hem. Rapi bener. Kalah ini, si Putri” komentar Budi.
“Bentar lagi juga nyusul. Kan udah beranjak dewasa”
“May be”
Klek, klek
“Kenapa dikunci?” tanya Budi.
“Kan kamu mau rehat. Aku mau mandi dulu. Tadi pagi aku nggak mandi” jawab Stevani.
“Busyet, nggak mandi?” tanya Budi kaget. Stevani tersenyum
“Tapi kok nggak bau?” lanjut Budi. dia mengendusi area sekitar dada Stevani.
“Iya dong. Siapa dulu? Stevani, gitu loh” jawab Stevani sambil cekikikan.
“Udah, kamu rehat aja dulu, di dalem! Tuh, kasurnya” lanjut Stevani.
“Bener-bener mantep, ya?” komentar Budi.
“Numpang tidur, ya?” ijin Budi.
“Iya” jawab Stevani.
Budi langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Posisinya menghadap ke belakang. Karena memang bantalnya ada di arah depan. Dan televisi empat puluh inch milik Stevani, menempel di dinding yang membatasi ruangan ini dengan kamar mandi.
Sejenak matanya tertarik dengan tulisan kecil yang ada pada bagian bawah dinding itu. Tepat sekali di bawah televisi. Hanya saja, hampir menyentuh lantai. Karena sudah merasa nyaman, Budi malas bangun lagi.
Dia berusaha membaca tulisan itu dengan posisinya yang sekarang. Sekalian menguji kemampuan matanya.
Belum juga dia bisa membaca tulisan itu, mendadak perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang lebih menarik.
Tanpa permisi, dan tanpa memberi tahu, tiba-tiba Stevani melepas blous warna hijaunya. Blous berkerah V itu dia gantungkan di tembok sebelah kiri. Ternyata eh ternyata, dia tidak memakai kutang. Tapi itu yang menjadi pertanyaan di benak Budi. Kok berani sekali? Dan mengapa tidak ada ceplakan? Ternyata eh ternyata, dia memakai plaster khusus. Dialepaskan paster itu, lalu dia buang ke tempat sampah.
Bukan untuk pertama kalinya, Budi melihat keindahan dari yang Stevani sembunyikan di balik blousenya. Tapi tetap saja, keduanya sanggup menarik sepenuh perhatian Budi. dan yang lebih mengejutkan lagi, Stevani melepaskan celana kulot merah mudanya, seolah tidak ada siapapun di kamar ini, selain dirinya. Dalam hati Budi bertanya, apakah mungkin dia mengira kalau dirinya sudah tertidur pulas. Padahal dirinya merem saja, belum.
Posisinya yang membelakangi Budi, sontak memamerkan keindahan yang lebih menakjubkan, kali ini Budi benar-benar terbelalak. Karena pemandangan itu sempat hilang dari ingatannya.
__ADS_1
Lagi-lagi, walau pernah mencicipi rasanya, tapi pemandangan itu masih saja menggoda bagi dirinya.
Aih, udah berapa minggu nggak cukur itu? Coba aja yang di sana udah aku halalin. Pulang dari sini, langsung aku lucutin. Tapi sayang, belum halal. Terus, aku ngelucutin siapa? Masa harus terjadi lagi, sih?
Suara gemericik air menandai dimulai prosesi mandinya Stevani. Fantasi Budi langsung melayang membayangkan bagaimana asyiknya mandi bersama Stevani. Tapi bayangan Adel seketika berkelebat. Menawarkan keindahan yang serupa. Hanya saja dengan detail ukuran yang berbeda. Budi tergelak.
TIT TUT
Terdengar suara pesan masuk dari ponsel Budi. Suara itu cukup kencang. Sehingga Stevanipun bisa mendengar suara itu. Dia sempat mematikan keran airnya. Dia mengira kalau ada panggilan masuk. Dan dia merasa yakin kalau itu adalah suara dari ponsel milik Budi, bukan ponselnya.
“JAN***, BANG***”
Sedang asyik-asyiknya menyabuni bagian tubuhnya yang paling menggoda iman, Stevani terkejut mendengar suara Budi mengumpat dan marah-marah. Sontak dia buru-buru mengambil handuk, tanpa peduli sabun yang masih menempel di sekujur tubuhnya.
“Kenapa, Bud? kok tiba-tiba marah-marah?” tanya Stevani.
Untuk sesaat, Budi terpana dengan pemandangan di depan matanya. Handuk merah muda itu terlihat sangat kekecilan. Sangat tidak sesuai jika harus digunakan untuk menutupi tubuh yang serba menonjol itu.
“Ini, si Borokokok keparat. Makin ngelunjak aja” jawab Budi.
“Borokokok siapa?” tanya Stevani. Dia melangkah mendekatinya.
Paha jenjang yang berbalut busa sabun itu, bergantian menggoda matanya. Hampir keseluruhan paha itu tak tertutupi handuk.
“Juragan ikan” jawab Budi singkat.
Dada yang membusung itu, nyaris tak ada yang bisa disembunyikan oleh handuknya. Mungkin saking paniknya, Stevani tidak sadar, kalau puncak dari dadanya sendiri sebenarnya tidak tertutup oleh handuknya, terpampang dengan jelasnya, dan hanya sedikit tersamarkan oleh busa sabun saja.
“Abis ngatain ibu gua janda. Sekarang Putri juga dia deketin. Nggak punya otak banget itu orang” lanjut Budi. Stevani tidak tahu harus berkomentar apa.
“Aku pamit, ya?” kata Budi mengagetkan Stevani.
“Mau kemana?”
“Mau nonjokin si bang*** itu” jawab Budi penuh amarah. Dia memutar tubuhnya hendak pergi.
“Jangan, Bud!” cegah Stevani. Dia menarik tangan Budi agar dia memutar tubuhnya kembali.
“Kamu harus inget sama karir kamu! Saat ini bukan waktu yang tepat buat kamu berantem. Soalnya, setiap kamu berantem, pasti makan korban. Dan itu bakal panjang urusannya” lanjut Stevani.
“Ya masa gua diem aja, Van?”
“Bud, belum ada karyawan yang dapet perhatian dari pak Paul, sebesar kamu. Karyawan lain sakit, didiemin aja sama dia. Mau opname seminggu juga, nggak ditengokin. Apalagi sampe dikasih kesempatan buat duduk diposisi yang sama. Belum ada yang dapet, selain kamu, Bud”
“Aah, persetan sama kerjaan” jawab Budi. Dia memutar tubuhnya lagi, dan berjalan menuju pintu depan.
“Bud, please!”
Stevani menyalip Budi, dan memasang badannya untuk menghalangi pintu kontrakannya.
“Kalo kamu emang sayang sama ibu, sayang sama Putri, Please! Jangan lakuin itu! kamu harus tetep kerja! Udah waktunya bagi ibu buat istirahat. Udah waktunya beliau nimang cucu. Bukan di pasar terus” lanjut Stevani.
“Heefffftt”
Budi menghela nafas berat. Serta merta Stevani maju dan memeluknya. Budi tertegun, saat merasakan si kembar nakal itu tertekan lembut di dadanya.
“Kamu harus sabar, Bud! kamu harus pake logika! Kamu nggak bisa ngelarin masalah ini pake emosi” kata Stevani.
Budi masih berdiri tanpa menyentuhkan tangannya ke tubuh Stevani. Dia masih mempertahankan ekspresi marah di wajahnya. Walau dia merasakan, kalau handuk yang membalut tubuh Stevani, mulai mengendur.
“Terus gua harus gimana, Van?” tanya Budi dengan suara masih menggeram.
“Selalu ada cara lain, buat ngelarin sebuah masalah” jawab Stevani.
“Cara apa?”
“Nabok, nyilih tangan” jawab Stevani. Budi terkejut mendengarnya.
“Kamu ngerti peribahasa itu?”
“Yap. Nggak perlu kamu turun tangan sendiri, kalo cuman mau nonjokin orang nggak berguna itu. Biar bodyguard suruhan papaku aja yang ngelakuinnya buat kamu” jawab Stevani.
“Kamu, punya bodyguard? Buat apa?” tanya Budi. Stevani tergelak. Dia melepaskan pelukannya dan mundur selangkah.
“Aku kan lagi mekar-mekarnya” jawab Stevani.
“Emh”
Budi memutar tubuhnya, seolah dia malu melihat tubuh telanjang Stevani.
“Astaga” seru Stevani.
Dia pura-pura terkejut dengan tubuhnya yang kini telanjang itu. Tapi sebenarnya, itu trik dia saja, untuk meluluhkan hati Budi.
“Udah”
Dia berkata demikian, sambil memeluk Budi dari belakang. Tapi Budi tidak menjawab.
“He he. Bagi papaku, aku itu layaknya mawar yang lagi mekar-mekarnya. Bayangin aja kalo mawar, nggak punya duri. Sapipun kayaknya berani makan, deh. Tapi karena berduri, cuman kumbang dan sejenisnya yang berani deket-deket” lanjut Stevani.
“Bener juga sih. Tapi kok nggak pernah keliatan?” respon Budi.
“Dari jauh, lah. Kalo kamu kan udah terdaftar. Kalopun kita bertengkar, mereka akan anggap itu bukan ancaman”
“Wow, pantes. Terus?”
“Kamu share aja, foto orang itu! Biar bodyguard papaku yang ngatasin” jawab Stevani.
Budi mengirimkan foto Sugondo kepada Stevani. Hanya itu saja. tidak ada informasi lainnya.
“Udah aku share” kata Budi.
“Oke. Kamu istirahat lagi aja! Entar harus balik kerja lagi, kan?” saran Stevani. Dia melepaskan pelukannya.
“Iya. Makasih ya, Van? Kamu baik banget sama aku” kata Budi. Dia menatap lekat mata Stevani. Membuat Stevani tersenyum kegirangan, merasa sudah mendapatkan hatinya Budi.
“Sama-sama. Aku jamin, besok pagi, kita udah dapet kabar gembira” jawab Stevani.
__ADS_1
Budi mengangguk. Dia tidak menolak saat diajak Stevani kembali ke ruang dalam. Dia kembali rebahan di atas kasur, sedangkan Stevani mengambil ponselnya. Dia mainkan ponsel itu, sambil kembali masuk ke kamar mandi.