
Dino sangat marah sepeninggal Budi. Dia mengumpat – umpat dan bersumpah - serapah. Walau Dirman takut pada Dino, tapi dia juga takut pada Budi. Walau Dino masih duduk di depan gelas kopinya, tapi Dirman tidak berani menemaninya.
Dia lebih memilih untuk meneruskan pekerjaannya. Kalau jagoannya saja, tidak bisa menjatuhkan Budi, apalagi dia. Begitulah pikir Dirman. Kalau Dirman yang selevel dengan Dino saja ketakutan, apalagi yang lain. Tanpa bicara, mereka langsung kembali ke pos masing – masing.
Budi berjalan melipir ke ruangan belakang. Tampak para teknisi elektronik sedang memperbaiki berbagai perlengkapan kerja. Disempatkannya untuk menyapa dan berbincang dengan mereka. tak ada yang spesial. Mereka sudah bekerja sesuai peraturan.
Saat masuk ke area anyaman, dia bertemu dengan Riki. Di sana, dia sempat membahas mengenai alur kerja anyaman.
"Oh iya, Bud. Ini bu Tami, kepala departemen anyaman" kata Riki memperkenalkan bu Tami kepada Budi.
"Oh. Salam kenal bu Tami" sapa Budi sambil menyalami bu Tami.
"Salam kenal juga, Bud. Selamat, ya. Selamat bergabung"
"Terimakasih bu Tami"
Bu Tami menjelaskan proses produksi anyaman di bawah kepemimpinannya. Budi memang belum memahami semua yang disampaikan bu Tami. Tapi paling tidak, dia memiliki beberapa catatan penting untuk disampaikan ke management.
Mulai dari penempatan material rotan, yang masih susah diambil, penempatan mesin pengupas yang memakan tempat, sampai ruang gerak untuk manuver dan handling produk, tidak maksimal.
Dari pembicaraan itu juga, Budi menilai kalau bu Tami, belum terpikirkan mengenai pemanfaatan ruang untuk mengefektifkan kinerja anak buahnya.
"Udah jam sepuluh, Bud"
Riki menegur sambil menepuk pundaknya.
"Wah, iya. meeting, ya?" sahut Budi.
"Iya. Yuk!" ajak Riki.
"Bu Tami, saya ijin ke kantor dulu" pamit Budi.
"Silakan" jawab bu Tami.
Banyak pasang mata memperhatikannya saat dia berjalan melewati para karyawati departemen anyaman. Mereka yang semuanya perempuan, sangat wajar kalau memperhatikan dirinya yang ganteng dan gagah. Jangankan yang masih gadis, yang sudah berumur juga tak berkedip memandangnya.
“Ya ampun, itu wajah kenapa?”
Seorang wanita berseru saat Budi memasuki lorong kantor. Sontak, banyak mata memandang ke arahnya.
“Eh, Vani. Emang kenapa? Ada yang lucu ya?” respon Budi balik bertanya.
“Itu ada yang memar” jawab Stevani sambil meunjuk ke pipi kirinya. Tepatnya di rahang atasnya.
“Iya, Bud. Kamu abis ditonjok sama Dino?” sahut Aldo. Tampak Erika berjalan ke arahnya.
“Mana? Liat” tanya Erika.
“Itu, mbak” jawab Stevani.
“Bener – bener itu orang, “ komentar Erika geram.
“Eh, eh. Mau kemana? Keliatannya marah banget?” tanya Budi.
“Nyari si Dino lah, Bud. Dia pikir, selamanya perusahaan nggak akan berani sama dia” jawab Erika.
“Udah, nggak perlu emosi. Tenang, ya. Aku nggak papa kok” kata Budi menenangkan.
“Sekarang kamu, besok siapa lagi, coba?” keluh Erika kesal.
__ADS_1
“Udah, jangan buang waktu mikirin dia. Nggak penting juga” saran Budi. Erika geleng – geleng kepala.
“Ya udah. Van, anter si Budi ke klinik. Tolong bersihin lukanya!” pinta Erika.
“Ya, mbak” jawab Stevani.
“Hmpf. Ha ha ha ha” Budi tertawa.
“Lah, kok malah tertawa?” tanya Aldo.
“Dikata aku anak kecil, timbang lecet doang dibawa ke klinik. Sunat aja rawat jalan” jawab Budi.
“Kena bola, bengkak” celetuk Riki.
“Kok tahu?”
“Hmpf. Ha ha ha ha ha”
Riki dan Aldo tertawa mendengar kelakar Budi. Bahkan seisi ruangan juga ikut tertawa. Suasana yang tadinya tegang, berubah menjadi cair. Dan semua berangsur – angsur kembali ke pekerjaan masing – masing.
“Oke, apa temuan kamu, Bud?” tanya Aldo.
Budi menjelaskan apa yang menjadi temuannya. Pastinya bukan mengenai perubahan signifikan yang nanti akan dia laporkan langsung ke pak Paul.
Dia hanya menyoroti beberapa hal mengenai target hari ini. Paling penting adalah mengenai tim finishing. Mengenai penonjokan dirinya, yang membuat teman – teman Dino keder. Yang tadinya mau malas – malasan, jadi langsung bangkit dan kerja kembali.
Dia juga menceritakan tentang jumlah unit yang sudah tercapai, dan jumlah yang ditargetkan Budi sampai jam empat sore nanti.
“Gila kamu, Bud. Baru kamu yang berani begini” komentar Aldo.
“Namanya juga kerja” jawab Budi.
“Ya udah, kita kembali ke area masing – masing. Tetep ati – ati, Bud. Kita ketemu abis istirahat” pinta Aldo.
“Abis istirahat, aku disuruh laporan, sama pak Paul”
“Oh, tulis aja, hasil sampai sebelum istirahat, di papan situ!”
“Oh, oke. Siap” jawab Budi.
Mereka berpisah lagi. Budi sempat berjalan – jalan ke garasi mobil, di belakang. Berkenalan dan berbincang dengan tim di sana.
Dia bertanya banyak hal mengenai departemen logistik, juga dengan departemen maintenance. Hubungannya dengan sejarah perusahaan, penempatan permesinan, sampai pembagian anggota tim logistik.
Banyak sekali informasi dia dapatkan.
Sejenak, dia kembali ke office. Menuangkan apa yang sudah dia dapatkan ke dalam buku catatannya. Dia urutkan hingga menjadi rangkaian informasi yang siap untuk dilaporkan kepada kepala pabrik.
Saking asyiknya, sampai dia tidak menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Dia berkeliling sebentar, meninjau progres produksi. Sejauh ini, teman – teman produksi masih sanggup untuk menghasilkan produk sejumlah yang ditetapkan. Termasuk Dino dan kawan – kawannya.
Tibalah waktu untuk beristirahat. Ternyata di perusahaan ini tidak ada layanan catering. Kalau mau makan, harus keluar dari lokasi pabrik. Memang, di sekitar pabrik terdapat banyak warung makan. Mungkin ini alasan mengapa perusahaan tidak menyediakan jasa catering. Bisa dibilang, corporate social responsibility.
Budi duduk sejenak di office, di ponselnya, sudah masuk beberapa pesan singkat. Ada dari Armita, dari Liza. Dia balas satu per satu. Intinya mereka menanyakan kabar. Dan Budi menyampaikan keberhasilannya mendapatkan pekerjaan di tanah kelahiarannya sendiri.
Walau sedih, baik Armita maupun Liza, memberikan ucapan selamat. Juga doa, agar Budi selalu dilancarkan di dalam semua urusan. Budi sangat berterimakasih atas doa yang diberikan dua orang yang pernah begitu dekat dalam kehidupannya.
Lepas dari pesan singkat itu, Budi iseng melihat – lihat status orang di jejaring pesan singkat yang sama. Ternyata ada status punya Adel di sana. Adel berpose di pinggir jalan, dengan dandanan seperti akan naik pentas.
“Lagi dimana?” tanya Budi mengomentari status itu.
__ADS_1
“Eh, hai Bud. Lagi mau ngejob nih. Aku di sirnoboyo, abis dari rumah Sinta” jawab Adel.
“Oh, lagi nunggu jemputan ya?”
“Enggak juga sih. Aku nggak ikut jemputan”
“Loh, kenapa?”
“Tadinya udah janjian sama tukang ojek, tetangga Sinta. Katanya lagi butuh pemasukan. Ya udah aku order sama dia. Eh, tahunya di cancel. Bilangnya mau nganter mertuanya, nyatanya ngambil penumpang lain”
“Lah, bisa gitu, ya?”
“Tahu, sableng emang. Cewek secantik aku dicancel, coba. Ha ha ha ha”
“Emang ngejob di mana?” tanya Budi penasaran.
Adel membagikan lokasi yang akan ditujunya. Cukup jauh memang. Tapi menurut perhitungan Budi, dia masih sanggup untuk mengantarkan Adel ke tujuan itu.
“Ya udah tunggu, aku anterin. Lima menit lagi aku sampai” balas si Budi.
“Kan kamu lagi kerja. Hari pertama, lho. Jangan aneh – aneh, ah” tolak Adel halus.
“Enggak papa. Masih keburu kok” jawab Budi.
“Seriusan?"
“Serius. OTW nih, lima menit”
Budi langsung ke pos scurity, bilang mau keluar pakai motor. Dan scurity itu mengijinnkannya. Karena memang boleh – boleh saja, makan siang sambil membawa motor. Tanpa membuang waktu lagi, Budi langsung mengarahkan motor matic bongsornya ke tempat Adel berada.
“Ya Alloh, Bud. Kamu ngebut?” tanya Adel sesampainya di depan Adel.
“Enggak, biasa aja” jawab Budi.
“Baru tiga menit”
“Ya berarti emang segitu. Akunya yang kelebihan estimasi. Hehe”
“Oh, penting jangan ngebut! Bahaya”
“He he, iya. yuk!”
“Makasih ya”
Adel pun naik ke atas motor Budi. Dia tersenyum, saat mengingat motor miliknya juga dari merek yang sama. Warnanya juga sama pula.
Dia yang sudah mengenakan kebaya, mau – tidak mau, harus duduk menyamping. Dia berpegangan pada perut Budi agar tidak terjatuh.
Sempat Budi berdebar – debar jantungnya, merasakan tangan Adel ada di perutnya. Dia juga sempat melirik Adel dari kaca spionnya. Di saat yang sama, Adel juga sedang meliriknya. Seketika Adel membuang muka karena malu, ketauan sedang mencuri pandang.
Walau cuaca panas dan perut belum diisi, tapi Budi merasa senang sekali bisa berdua dalam satu motor dengan gadis yang memikat hatinya itu. Akhirnya, tiba juga mereka di tujuan.
“Makasih ya, Bud” kata Adel setelah turun dari motor.
“Sama – sama. Aku seneng, bisa ngelakuin sesuatu buat kamu”
“Ya udah, ati – ati baliknya ya”
“Oke. Assalamu’alaikum”
__ADS_1
“Wa’alaikum salam